My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Tante Mirna


__ADS_3

Usai melahirkan ternyata cukup membuat badan ini terasa nyeri. Bahu, lengan, dan punggungku mulai nyeri hari ini. Terlebih aku harus tidur dengan bersandar pada bantal. Tak boleh miring ke sana dan hanya boleh tidur terlentang.


Siapa lagi kalau bukan Ibuku yang melakukan ini semua. Ia berkata kalau dulu pada waktu ia baru melahirkanku, bahkan kakinya harus dipasung pada saat malam hari. Sungguh menyiksa. Tapi, aku tetap menurutinya. Walau bagaimanapun perkataan baik dan buruk Ibuku akan menjadi kenyataan. Katanya ini demi kebaikanku. Aku tidak bisa melakukan apa pun selain menuruti segala perkataannya.


Jamu usai melahirkan. Ya, minuman wajib selain air putih adalah jamu. Bahan-bahan yang entah apa saja tercampur rata di dalamnya. Aku bahkan harus minum jamu dua kali sehari. Pagi dan malam. Aku juga harus pandai mengatur waktu dengan meminum obat. Belum lagi suntikan yang masih harus masuk ke dalam tubuhku.


Menyiksa? Ya, bagiku lumayan. Tapi, semua ini tak ada apa-apanya saat aku melihat wajah mungil malaikatku. Saat aku mulai mengelus pipinya, semua rasa sakit ini hilang. Apalagi saat ia mulai menyusu padaku. Kebahagiaan yang tak terkira ini tak mungkin aku sesali meski harus merasakan sakit.


"Alma. Ini, makan dulu." Ibu datang membawakan nasi. Nasi yang setengah porsi dan dipenuhi dengan sayuran hijau sampai pinggiran piringnya tak terlihat.


"Bu. Apa gak boleh makan pake sambel?"


"Gak boleh, Alma. Kasian anak kamu nanti."


Sudah ke dua kalinya aku merengek meminta sambal. Bayangkan saja, aku harus memakan sayur ini hanya berbumbukan bawang merah dan putih.


"Kamu harus banyak makan sayur. Anak kamu itu laki-laki. Biasanya anak laki-laki menyusunya kuat."


"Ibu tahu dari mana?"


"Anak Tante Mirna kan, empat laki-laki semua."


"Tante Mirna. Tante yang menikah lebih dari lima kali."


"Hus. Udah, makan aja."


"Assallamualaikum." Terdengar seseorang mengucap salam di luar.


"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


"Siapa, Bu?" tanyaku.


"Biar Ibu lihat."


Ibu berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Terdengar ramai sekali di luar.


"Alma." Suara melengking cukup mengejutkanku.

__ADS_1


"Tante Mirna?"


Panjang umur.


"Kamu baik?" tanya Tante Mirna sambil mencium ke dua pipiku.


Suara yang melengking itu kini memenuhi ruangan ini. Suara itu bahkan membuat telingaku berdenging.


"Ini cucu oma. Uh, gantengnya." Ia melihat anakku yang masih tidur.


"Maaf, ya, Alma. Pas kamu nikah, tante gak bisa temenin kamu sampai selesai. Tante banyak kerjaan. Sekarang saja tante juga gak bisa lama-lama."


"Iya, Tante gak papa. Tante udah sempetin ke sini aja, Alma udah seneng."


"Mana suami kamu? Dia udah kerja? Ya ampun, padahal kan, baru lahiran dua hari."


"Lagi keluar sebentar. Katanya mau ke super market."


"Dia pergi sendiri? Pengusaha kaya pergi beli sayur sendiri?"


"Enggak. dia pergi sama Bi Ningsih."


"Ya, ampun. Siapa ini?"


Iyem yang tengah membawa minum di atas nampan bahkan hampir menjatuhkannya.


"Saya temannya Bi Ningsih, Bu. Bukan setan," katanya dengan logat jawa.


"Kamu ngagetin. Aku kira siapa."


"Minumnya ditaruh di mana, Bu. Kalo sampean mau keluar, apa saya taruh di luar aja?"


"Terserah deh."


Tante Miran berjalan kembali ke arahku. Sedangkan Iyem melangkah ke ruang depan. Ia juga hendak menyuguhkan minuman kepada anak Tante Mirana yang menunggu di sana.


"Alma. Apa dia kerja di sini?"

__ADS_1


"Iyem?"


"Iya. Cewek medok itu."


"Iya. Dia kerja di sini. Emang kenapa, Tante?"


"Dia itu lumayan cantik. Maksudku, apa kamu gak takut kalau suami kamu ... ?"


Aku hanya tersenyum tipis mendengar omongannya. Agak lucu sih. Wajar saja Tante Mirna berkata begitu karena ia belum mengenal suamiku.


"Rey itu gak mudah suka dengan sembarang orang, Tante. Iyem aja pernah ngomong sama Bi Ningsih kalo majikan gantengannya itu super cuek."


"Eh, jangan salah. Dulu dia juga cuek sama kamu kan, pasti. Ya, secara kalian dijodohin ,kan. Bisa aja lama-lama dia ada rasa dengan si Iyem."


Sebenarnya ada rasa takut juga. Terutama saat Iyem pertama datang ke sini dan dia bilang kalo suamiku itu ganteng. Sejak saat itu ia pasti mengagumi sosok suamiku.


"Enggak, Tante. Iyem anaknya baik, kok. Dia jujur," kilahku.


Untuk sementara ini aku hanya bisa membela gadis medok itu. Tanteku yang satu ini memang sudah beberapa kali dikhianati oleh mantan suaminya, mungkin karena itulah ia menjadi sangat was-was.


"Ngomong-ngomong kapan suami kamu datang? Apa dia juga ada apa-apa dengan pembantu kamu yang satunya itu?"


Oh, dari perkataannya barusan, Tanteku yang satu ini mungkin memang wanita yang selalu merasa curiga.


"Sebentar lagi pulang. Sayuran kami habis. Ibu sengaja menyuruh Bi Ningsih belanja sayuran yang banyak karena aku sekarang menyusui."


Sudah dua kali Tante Mirna menuduh suamiku. Kalau saja saat ini aku masih hamil, aku mungkin akan langsung percaya. Karena tiba-tiba saja aku teringat oleh Nisa. Anak tetangga Ibuku. Tapi, sangat berbeda rasanya bila si jabang bayi sudah tampak keimutannya ini. Aku bahkan merasa geli saat Tante Mirna mencurigai suamiku.


"Mir. Ayo, makan. Ajak Rio juga." Ibu datang dan mengajak sepupunya itu makan.


Saudara lelakiku itu sebenarnya tak jauh beda dengan suamiku. Sama-sama puncak es. Ia juga pemalu. Hari-harinya hanya dihabiskan di kamar saja dan menatap layar monitor dan ponsel. Aku hanya merasa heran, anak kedua Tante Mirna itu bahkan sama sekali tak sama dengan Ibunya.


Karena Ibu terus mendesak sepupunya, akhirnya wanita paruh baya dengan rambut merahnya itu beranjak dan mengikuti Ibu. Dulu, saat rambut Tante Mirna mulai memutih, ia sering sekali mengecatnya dengan warna hitam. Ia tak mau menjadi tua katanya. Tapi, aku cukup terkejut saat ia datang dengan rambut yang berwarna merah.


Tanteku saat itu memang nyentrik. Di umur yang menginjak 45 tahun itu bahkan ia masih asik dengan celana jeansnya, baju ketat dan tak memakai jilbab. Hanya pada acara tertentu saja ia memakai jilbab. Saat terakhir kali aku berkunjung ke rumahnya yang ada di luar kota, ia juga memberiku banyak pakaian. Pakaian yang sedikit kusam sudah tak mau ia pakai lagi. Padahal menurutku semua pakaian yang ia berikan semua masih sangat layak pakai.


Saat itu Tante Mirna memang lebih cukup dari keluargaku. Setiap hari raya ia datang dan memberiku uang. Meskipun aku sudah dewasa. Katanya ia sangat ingin memiliki anak perempuan, tapi sayang. Semua anaknya laki-laki. Anaknya yang bungsu bahkan berparas cantik. Mungkin saat Tante Mirna hamil, ia sangat menginginkan anak perempuan. Oleh sebab itulah anak laki-lakinya berparas cantik.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf ya telat😊😊 yuk jan lupa like dan vote yaa...πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2