My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Kejadian Tak Menyenangkan


__ADS_3

Kali ini aku merasa murung. Sehabis jalan-jalan dengan suami tampanku dalam rangka menghabiskan waktu libur bersama anak kami tercinta. Rendra Alvaro.


"Kamu kenapa?" tanya lelaki tampanku. Ia baru menutup pintu kamar dan melihatku melipat kedua lengan di depan dada.


"Kamu lupa apa kejadian tadi siang?"


Dia mulai terkekeh. Dengan santainya, perlahan ia duduk di sampingku.


"Kamu sakit hati? Baper? Sudah berapa lama jadi istri Reyhan Mahendra? Pengusaha tampan ini?"


Ia malah menyanjungkan diri. Semakin sakit saja kala aku ingat kejadian tadi siang. Karena malas berdebat, aku menggeser tubuhku dan menutupinya dengan selimut.


"Kamu marah?" Rey membuka selimut.


"Tauk ah," jawabku singkat.


Tak kusangka, lelaki ini menyusul dan memelukku dari belakang. Ia terus mengelus rambut dan sesekali meniup telingaku dari belakang. Aku sedikit merasa risih dan geli, tapi aku sebisa mungkin untuk menahan ini karena aku tengah marah padanya.


"Kamu marah sama aku?" bisik Rey.


"Coba aja kamu di luar kaya gini. Aku gak perlu marah sama kamu."


"Apa kamu mau aku peluk kamu di muka umum? Gak malu?"


Aku diam sejenak. Betul juga apa katanya. Buat apa? Toh setiap hari kami selalu bermesraan di rumah.


"Malu, sih."


"Kamu harus tebalkan telinga buat denger ocehan orang." Rey semakin erat memelukku.


"Cemoohan juga. Tau gak waktu perempuan yang ketemu kita di mall tadi bilang kalo aku ini tante kamu. Pengen aku cakar-cakar tuh mukanya. Kalo gak aku sobek itu mulutnya."


"Wihh, sadis."


"Apa mentang-mentang aku gendut terus aku gak pantes gitu sama kamu?"

__ADS_1


"Untung kamu gak dikira nenek aku, ya," sahut Rey cepat.


Aku menarik lengannya dan mengigitnya dengan keras karena gemas. Teriakan tak bisa terelakan.


"Yah, aku yang kena gigit."


"Emang enak! Aku lagi ngomong malah becanda."


"Cie, marah."


Ya tuhan. Suamiku satu ini benar-benar. Untung ganteng. Kalo enggak, mungkin sudah habis denganku.


Aku hanya bisa berbalik badan dan meliriknya tajam. Dengan cara inilah ia bisa berhenti bercanda.


"Apa aku harus diet?"


"Jangan. Kamu gak kasihan sama Rendra? Dia, kan, masih nyusu."


Kulihat wajah polos anakku yang tertidur di ranjang kecil diseberang ranjang kami. Ia tengah tertidur pulas di sana. Kegalauan tentu saja melanda hatiku. Anakku yang tak kalah tampan itu tak menyukai susu formula. Perut kecilnya hanya ingin susu dariku. Diet akan menganggu ASI tentunya.


"Bukannya menyusui itu diet alami? Secara, apa yang kamu makan, akan dimakan juga sama anak kita. Gak semua kecerna sama kamu kan?"


"Apa kamu udah tahu berapa berat badan kamu bulan ini?"


Aku menggeleng pelan.


"Coba kamu cek setiap bulannya. Kali memang belum turun, ya, sabar aja. Kamu kan, baru melahirkan. Pasti butuh waktu buat turunin berat badan."


"Kalau bulan kemarin turun empat kilo. Aku gak heran sih. Karna si Dede kan, udah lahir. Tapi, bagi aku itu masih kurang banget. Minimal sepuluh kilo lagi."


"Sabar. Aku yakin kamu bisa turunin lagi kok berat badannya."


Aku memeluk badan suamiku dari samping. Ternyata dia mendukungku penuh. Walau mungkin sebenarnya ia tak tahu bagaimana rasanya menjadi cemoohan orang. Setidaknya, sedikit dukungan saat ini sangat aku butuhkan.


"Tidur, ya. Nanti malam pasti si Dede bangun minta nyusu."

__ADS_1


"Hem. Makasih, ya, udah dukung aku. Aku bener-bener tersinggung sama omongan perempuan di mall tadi."


"Iya, sama-sama."


Kecupan mesra menjadi penutup obrolan kami. Beban di dada ini cukup berkurang. Meski diselingi canda dan rasa gemas, suamiku ternyata cukup mengerti kegalauan istrinya ini.


Tak dapat dipungkiri, diri yang penuh dosa ini kadang merasa kesal juga karena aku memiliki suami yang begitu tampan. Bukan apa-apa, hal ini pasti akan terjadi di mana pun kami berada. Perempuan terpesona dan sama sekali tak melihatku itu sudah biasa. Beberapa gadis bahkan berani meminta nomor ponsel. Padahal kami sedang makan berdua. Hal yang paling membuatku sakit hati ialah, perempuan yang menganggapku tantenya Rey. Dengan seenaknya mulut itu berucap tanpa tahu kebenarannya.


Rasa sesal itulah yang kadang muncul. Mengapa aku bisa memiliki suami setampan dia? Berulang kali aku marah, tapi berulang kali juga Rey menenangkan hati ini. Mendinginkan kepalaku saat ia rasa sudah mulai berasap.


**


Pukul 02.30. Tangisan yang menggema membangunkan kami. Dengan cekatan, Rey menghampiri sumber suara.


"Bangun, Bunda." Si tampan Rendra sudah berada digendongannya.


Dengan mata yang berat dan seperti kemasukan pasir, aku bangun dan segera menyusui si kecil. Setiap hari kami harus bangun di tengah malam karena si kecil yang merasa haus. Di bulan pertama bahkan bisa sampai tiga atau empat kali terbangun. Di bulan kedua ini untunglah si kecil sudah membiasakan diri. Mungkin ia mengerti bahwa Ayah dan Bundanya ini butuh waktu istirahat lebih.


"Ayah kenapa belum tidur?"


"Aku boleh tidur? Nanti kamu ketiduran."


"Iya, pasti."


"Coba si Dede kamu susuin sambil tidur. Dia kan, udah pakai popok. Jadi, gak khawatir ngompol."


"Tapi, kasihan, Yah. Dia masih dua bulan. Nantilah, mungkin bulan depan aku ajarin susuin sambil tidur."


Sangat menikmati betul hari-hari menjadi ibu. Mulai dari merasakan sakitnya melahirkan, harus begadang bila anak rewel atau sebentar-sebentar harus bangun karena menyusui. Dan kini, aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tak boleh makan malam sembarangan. Mungkin saat aku merasa lapar, hanya buah yang manis atau susu rendah lemak yang boleh masuk ke dalam perutku.


Kenaikan berat badan sejak hamil dan jalan lintas baru yang mengelilingi perut menjadi pemandangan baru ibu muda sepertiku. Bukan tak pernah Ibu memberitahu agar aku tak menggaruk perut, tapi sayangnya jemari ini mencuri waktu kala aku terlelap. Bagaimana bisa itu terjadi aku juga tak terlalu mengerti.


Itu semua tak menjadi masalah untuk lelaki tampanku itu. Pengorbananku itu terbayar lunas dengan kelahiran anak pertama kami. Melihat ia sehat dengan tumbuh kembang yang luar biasa setiap hari, semua beban hidup ini sirna. Aku semestinya mengetahui kalau akan seperti inilah nanti saat aku menjadi ibu, tapi, mendengar cerita dari Ibu dan mengalaminya sendiri itu benar-benar sesuatu yang sangat berbeda.


Terlepas dari sudah siap atau belumnya aku menjadi seorang ibu, pengalaman ini benar-benar luar biasa. Seperti itulah pasti yang dirasakan Ibuku saat ia melahirkan dan membesarkan anaknya ini. Tak ayal, tiga kali lipat penghormatan terhadap seorang ibu memang pantas didapatkan.

__ADS_1


Bersambung...


Like dan vote ya say...........😊😊😊😚😚


__ADS_2