
Sudah berminggu-minggu lamanya aku memohon kepada Rey untuk pergi berbulan madu ke luar kota. Namun, jawabannya sama. Pekerjaan yang tak bisa ia tinggal. Padahal, dokter kandungan tempat kami datang, menyarankan untuk kami lebih serius menjalani program hamil di antaranya adalah berbulan madu.
Mempererat hubungan suami istri itu perlu. Diingat, sudah enam bulan lamanya kami menikah. Tanda-tanda hamil belum juga muncul.
"Buat apa bulan madu. Toh dilakukan di rumah juga sama saja." Begitu jawabnya.
Aku akui, sangat jarang lelaki yang memikirkan hal indah seperti pergi ke luar kota. Menikmati keindahan alam berdua dengan pasangan. Ia menilai, berhubungan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumah.
Tak salah memang Rey berkata demikian, tetapi apa salahnya bila seorang istri meminta ketenangan tanpa ada gangguan pekerjaan atau semacamnya? Meski hanya menikmati jus jeruk di bawah terik matahari pantai. Aku sudah melakukan apa yang kubisa. Bahkan mengunci kamar ketika malam selama seminggu lamanya. Menolak ajakannya.
Aku tahu, hal yang aku lakukan adalah dosa. Namun, harapanku sia-sia. Rey tetap tak memikirkannya. Bahkan ia tetap tenang tidur seperti biasa di kamarnya. Aku berharap dia akan datang memohon untuk membukakan pintu, tapi aku salah. Selama seminggu, ia tahan gejolak itu. Entah bagaimana rasanya. Dan bisa ditebak, akulah yang pertama kali datang menemuinya. Aku mengaku kalah.
Niat hati ingin benar-benar marah, tapi tetap saja aku tak tahan melihat Rey.
"Maaf, ya, Rey," ucapku lirih sambil merangkul lengannya. Ia masih acuh dan sibuk memandang televisi. Hal yang selalu ia lakukan ketika selesai dengan pekerjaannya.
Kadang, ia hingga tertidur di sofa panjang tepat di depan televisi. Aku yang membawakannya selimut dan mematikan televisi. Aku bukanlah tipe wanita yang acuh, meski aku membenci seseorang.
Suatu ketika, Dara pernah berbuat salah denganku. Ia tak sengaja menghilangkan pulpen kesayanganku. Pulpen berbentuk kipas dengan gambar drama Korea favoritku di sana. Meski awalnya ia mengaku tidak sengaja, tapi akhirnya ia mengaku telah membuangnya di sungai saat sepulang sekolah.
Aku marah besar waktu itu. Tapi, hanya sehari. Ketika aku dibelikan lagi kipas baru oleh Ibu, justru aku yang menghampiri Dara terlebih dulu. Lantas hubungan kami membaik hingga sekarang. Kisah masa sekolah kami memang lucu. Bahkan kami sering marah karena hal kecil saja.
**
"Rey." Aku memandangnya lekat. Bibirku nyaris menyentuh pipinya.
"Hem."
"Bulan madu?" Aku menaikkan kedua alis bersamaan ketika mata Rey melirikku.
"Sekarang?"
Aku mencubit perutnya hingga ia mengeram kesakitan.
"Di luar kota, sekalian liburan."
Rey menarik lengannya dari cengkraman lenganku. Pertanda bahwa ia masih menolak. Aku melipat kedua lenganku di depan dada. Tak lupa juga meruncingkan bibir.
"Katanya maaf."
Aku menoleh dan menyipitkan mata melihatnya.
"Kan, masih usaha."
"Kamu kemarin kan, sudah ke luar kota."
"Beda, Rey. Inikan aku pinginnya sama kamu." Aku kembali merangkul lengan Rey. Kedipan mata berulang kali kulakulan. Namun, Rey tetap tak bergeming.
__ADS_1
"Kamu seperti anak kecil." Dia mencubit hidungku.
"Rey. Bulan madu itu dilakuin buat pengantin baru."
"Tidak semua."
"Rey." Aku masih merengek.
Rey bangkit dari sofa dan mematikan televisi. Ia lantas berjalan ke kamar. Dengan cepat aku menyusulnya. Namun, terlambat. Ia sudah menutup pintu dan menguncinya.
"Rey, buka pintunya." Dan kini aku yang memohon dibukakan pintu olehnya.
"Apalagi?" Hanya kepala Rey yang terlihat.
Sekarang justru aku bingung mau berkata apa. Setelah beberapa menit saling menatap, Rey menutup pintunya kembali. Angin menghempaskan wajahku.
**
Keadaan semakin terasa karena hari ini adalah hari minggu. Tontonan televisi yang baru aku lihat adalah acara liburan. Beberapa orang yang tengah mengekspos tempat wisata yang belum banyak dikunjungi. Ada pantai pasir putih dengan pulau kecil dan air laut yang sangat jernih. Seorang lelaki dan perempuan tengah menikmati suasana pantai dengan air setinggi paha mereka.
Drone yang mengambil gambar dengan epik. Yang tiba-tiba saja terbang setinggi mungkin dengan memperlihatkan suasana pantai yang sungguh mempesona. Aku terasa ikut bahagia. Seperti benar-benar merasakan perasaan perempuan yang tak henti-hentinya berenang di air laut dangkal dengan ombak yang kecil itu.
Mata tak berkedip kala mereka mencoba menyelam ke dalam laut. Melihat ikan berwarna-warni berenang bersama mereka.
Kala acara itu berganti dengan promosi, aku kembali seperti sedia kala. Diam melamun, sambil memanyunkan bibir. Rey belum juga mengerti. Setelah beberapa saat menikmati kebosanan ini, terdengar pintu depan diketuk.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aku menjawab dengan nada yang amat lemas.
"Kamu kenapa, Alma?" tanya Ibu.
"Gak kenapa-napa, Ibu. Alma cuma butuh piknik."
"Nih, ibu bawa sesuatu untukmu." Ibu menunjukkan kotak kecil berwarna merah muda yang dipegang oleh tangan kanannya.
Ia tersenyum sumringah sebarimemegang kotak itu. Terasa di dalamnya seperti sebuah harta karun. Ibu lantas menggiringku ke dalam kamar dan mengajakku duduk. Ia duduk di kursi, sementara aku duduk di ranjang.
"Ini. Tadi ibu mampir beli ini. Ibu bungkus sekalian." Ibu menyerahkan kotak bertali pita emas kepadaku.
Ia tampak antusias menungguku membukanya. Perlahan aku menarik pita itu dan membuka kotaknya. Aku terkejut bukan main. Karena rasa terkejut itulah aku menutupnya kembali.
"Kenapa ditutup lagi? Ayo dicoba, Alma," titah Ibu.
"Ibu, ini terlalu berlebihan."
"Bukan berlebihan. Itu untuk menyenangkan suami. Menggoda suami itu kan, tidak apa-apa," katanya sambil cekiikan.
__ADS_1
"Tapi, aku tak pernah memakai dengan warna mencolok seperti ini, Bu?"
Aku memegang erat kotak yang masih kupangku.
"Ibu harap, kamu memakainya." Ibu bangkit dan menepuk bahuku.
"Ibu, pulang, ya."
"Ibu tidak menginap?"
"Tidak. Ibu tidak mau menganggu ritual kalian." Ia berjalan dan membuka pintu kamar. Aku mengikutinya sampai ke depan.
Setelah Ibu tak tampak dari pandangan, aku kembali ke kamar untuk melihat kembali isi kotak pemberian Ibu. Kali ini aku melihatnya dengan saksama. Sepasang pakaian dalam ini terlihat begitu cetar. Warna merah menyala semakin membuatnya indah.
Renda yang memenuhi setiap sudutnya membuatku berpikir keras.
Kenapa pakaian ini begitu terbuka dengan renda di mana-mana? Lalu, bila rupanya seperti ini, apa yang ditutupi?
Kreekk...
Derit pintu mengejutkanku. Aku kembali memasukkan benda merah ini ke dalam kotaknya. Sedikit gugup karena Rey membuka pintu dan langsung masuk ke kamar.
Pandangannya langsung tertuju kepada kotak di tanganku.
"Apa itu?" tanya Rey.
Sejak kapan dia jadi kepo?
Aku yang gugup langsung meletakkan kotak di belakang tubuhku.
"Bu-bu-bukan apa-apa?"
Jawaban itu tidak memuaskan Rey. Rupanya, pita emas itu menarik perhatiannya. Nyatanya, kini, Rey berjalan mendekat ke arahku.
"Ap-apa kamu mau tahu, Rey?" Tanganku memegang erat kotak ini.
"Memangnya kenapa?"
Aku menggigit bibir bawahku. Sempat menyesal mengapa aku bertanya demikian.
"Nggak kenapa-kenapa, Rey." Aku bergeser cepat ke arah samping dan bangkit dengan cepat.
Aku berlari ke arah keluar. Namun, sial. Kakiku tersandung kaki lainnya. Hal ini membuatku terjatuh dan menjatuhkan kotak ini. Tentu saja, isi kotak yang kupegang erat keluar seiring tubuhku menyentuh lantai. Rey melihatnya dengan mengerutkan kening. Sementara aku meringis bak kuda betina. Malu sekali rasanya.
Bersambung....
Like, rate, dan vote, yaa. Thanks
__ADS_1