
Setelah merasakan indahnya menjadi ibu selama empat bulan ini, aku kini mengerti bagaimana susah senangnya mengurus anak. Apalagi saat anak menangis. Tak tahu apa yang ia inginkan itu adalah hal yang membuatku bingung sekaligus marah. Tapi, seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai mengerti kemauan si kecil.
Pagi itu Bi Ningsih dan Inem tengah mengobrol di dekat pos satpam. Sesekali Bi Ningsih menunjuk rumah tepat di sebelah rumahku. Aku yang merasa penasaran menghampiri mereka sambil menggendong si kecil.
"Bi, kenapa?"
Mereka berdua menoleh ketika mendengar suaraku.
"Itu, Bu. Di rumah sebelah ada yang nempati. Itu mobil barangnya baru aja datang."
"Bagus, dong. Jadi rame."
"Iya, bagus, Bu. Tapi, saya kurang suka sama pemilik rumahnya."
"Kenapa Bibi kurang suka?"
"Itu, Bu. Kan, barusan kan, saya lewat depan rumahnya terus saya dipanggil. Saya kira cuma mau tanya gitu, eh, saya malah disuruh bantuin ngangkuti barang. Saya kan, sebel. Emang saya kuli angkut," gerutu Bi Ningsih. Wajahnya tampak kesal dengan bibir yang sedikit meruncing.
"Bi Ningsih salahnya mau disuruh. Ya, kalo aku tak bilang aja. Wani piro, terus ditinggal kabur," cetus Inem."
Aku tersenyum tipis mendengar mereka berbincang.
"La gimana mau kabur wong saya dibilang, 'kamu pembantu kan, ya, udah sekalian bantuin saya.' La gimana saya mau ngelak."
"La itu turunin barangnya belum selesai, Bi. Kok sampean ndak bantuin lagi? Nanti Nyonya itu nyariin sampean, lho." Inem kembali menggoda Bi Ningsih.
"Terserah. Wong dibayar enggak, kok, nyuruh-nyuruh orang. Pas dia masuk, ya, tak tinggal pergi."
"Pinter kamu, Bi."
Aku kembali tersenyum. "Oh, ya, Nem. Nih, Rendra mau tidur. Kamu gendongin, ya."
"Iya, Bu."
Aku lantas memberikan Rendra pada Inem. Sedangkan Bi Ningsih masuk ke dalam. Ia masih saja merasa kesal karena sudah dikerjai oleh calon tetangga baru kami.
**
"Bi, tukang urut sudah datang belum?"
__ADS_1
"Belum, Bu. Apa minta dijemput mungkin."
"Oh, betul juga. Ya, udah Bibi sekarang tolong suruh Pak Joni jemput tukang urutnya, ya."
"Baik, Bu."
Badan ini rasanya sudah rindu sentuhan jemari tukang urut. Berat badan Rendra yang setiap bulannya naik rupanya membuatku cukup kelelahan. Apalagi, anakku sekarang sedikit manja. Kalau ingin tidur pasti dia minta digendong. Sedikit mengeluh pada suamiku tak ada gunanya. Ia hanya berkata," Nikmati saja. Toh anak kita kecil itu gak selamanya. Nanti kalo udah tua kaya kita, gak bisa lagi ditimang-timang."
Memang apa yang dikatakan dia itu benar. Tapi, kenapa seakan dia tak memikirkanku?
Rasa bosan menunggu tukang urut membuatku iseng membuka ponsel. Aplikasi berinisial F adalah tujuan utamaku. Selain meng-update tumbuh kembang si kecil, aku juga masih saling bertanya kabar dengan Vina.
Ia sempat bercerita bahwa menemukan tambatan hati itu tak semudah mengedipkan mata. Banyak yang dekat dengannya, namun takut untuk berhubungan serius. Sebagai teman, aku hanya bisa memberi semangat dan motivasi saja agar ia tak menyerah dan berputus asa. Untunglah gadis itu mengerti.
Tak lama berselang, terdengar seseorang mengucapkan salam. Terlihat Pak Joni membawa seseorang yang aku tunggu dari pagi tadi.
"Mari, Mbok kita ke kamar saya saja." Aku menyuruhnya masuk ke kamar.
Sengaja aku menggelar karpet di lantai agar Mbok tukang urut ini lebih mudah mengerjakan tugasnya.
"Uratnya kaku, ya, Mbak," kata wanita paruh baya ini. Ibu jarinya mulai menyusuri tiap bait tubuhku. Mulai dari punggung, kaki, dan tempat lainnya.
"Iya, kalo bisa, Mbok. Sakit, tapi ini."
Beberapa puluh menit berlalu, rasanya tubuhku mulai melemas. Beberapa menit memperjuangkan menahan sakit. Tapi, bagiku ini belum ada apa-apanya daripada saat melahirkan.
"Sudah. Mbaknya jangan suka angkat berat-benart. Nanti takutnya perutnya turun. Itu tadi untung belum turun beneran. Kalo udah turun sakit benerinnya."
"Iya, Mbok. Ini aja tadi udah sakit. Tapi, gimana, ya. Anak saya lagi manja. Tiap hari minta gendong. Kalo diturunin suka nangis."
"Gantian aja sama Mbak yang di depan tadi. Itu baby sitter-nya to?"
"Iya, Mbok."
Setelah pakaian sudah lengkap aku pakai, Mbok tukang urut pun keluar untuk sekedar menyeruput teh yang sudah dibuatkan Bi Ningsih.
"Ini, Mbok. Maaf kalo saya ngerepotin."
"Gak apa-apa, Mbak. Saya malah senang sudah dijemput. Kalo orang sini biasanya cuek aja. Kadang saya pulang pergi jalan kaki."
__ADS_1
Kasian. Usia senja seperti beliau masih bekerja. Apalagi kalau ia harus berjalan kaki.
"Kadang disuruh datang siang. Satu keluarga minta diurut. Pulang malam, sendirian." Begitu curhatan Mbok padaku.
"Kenapa Mbok gak nyuruh anterin aja orang yang manggil Mbok itu?"
"Saya gak mau kalau gak ditawarin, Mbak. Takutnya kalau ngerepotin. Jatuhnya saya yang ngemis-ngemis. Saya gak mau. Jadilah uang yang dikasih bisa saya pake buat ongkos angkot. Kalo gak ketemu angkot, ya, terpaksa jalan kaki."
**
Mbok tukang urut pun naik ke mobil. Wajahnya tampak sumringah setelah ia menutup pintu mobil.
Nasib manusia memang tak ada yang tahu. Di usia Mbok yang mulai senja, bahkan ia masih bekerja. Sebenarnya aku tak ingin bertanya lebih jauh. Kadang setiap orang ada yang tak suka bila kita terlalu ingin tahu hal pribadi. Kalau ia tak berkata apa-apa pun, aku tak akan bertanya.
**
Kulihat wajah imut anakku. Ketika matanya terpejam, saat inilah dunia benar-benar aman. Mungkin begitulah pikiran ibu baru sepertiku bila melihat anaknya terlelap.
"Nem. Saya mau tidur sebentar. Kalau Rendra bangun, tolong kamu gendong sebentar, ya. Kalau dia haus, baru kamu bangunin saya. Saya ngantuk sekali."
"Baik, Bu."
Mata ini rasanya sudah sangat sulit untuk terbuka. Badan yang terasa nyaman ini membuatku semakin mengantuk. Hingga aku sampai di ranjang dan menjatuhkan tubuh ini, aku tak ingat apa-apa lagi. Sampai aku bangun satu jam kemudian. Siapa lagi kalau bukan si kecil Rendra. Tangisannya yang melengking membangunkanku.
"Maaf, Bu. Mas Rendra sudah bangun. Tapi, dia nangis terus."
"Iya. Saya tahu, Nem. Udah, biar saya susuin aja. Mungkin dia haus."
Inem memberikan Rendra padaku. Benar saja, saat ia mulai menyusu tangisnya berhenti. Beginilah setiap hari aku melewati hari-hatiku. Kadang rasa bosan melanda saat si kecil sulit untuk diajak kompromi. Seperti mengerti perasaanku, Rey berinisiatif mengajakku piknik. Bukan piknik sungguhan. Hanya makan bersama di mall dan pergi ke taman.
Hal yang cukup mujarab untuk mengobati kebosanan ibu baru.
"Bu, tetangga baru datang." Bi Ningsih masuk ke kamar dengan wajah yang kurang enak dipandang.
"Kenapa dia ke sini, Bi?"
"Saya kurang tahu, Bu."
Bersambung.....
__ADS_1
jangan lupa like dan vote ya. 😊😊😊😊