My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Menuju Pesta Pernikahan Sahabat Rey


__ADS_3

Aku tertidur setelah rasa sakit ini mereda. Sekitar jam dua siang aku terbangun, mulailah dengan rutinitas biasa. Mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan menyetrika baju Rey.


Aku melangkahkan kaki ke laundry di rumah ini. Di sana ada mesin cuci, tempat menjemur baju, dan tempat untuk menyetrika. Di sana ada bekas setrika yang telah dipakai. Mungkin tadi, Rey menyetrika bajunya sendiri di sini.


Aku berjalan perlahan dan masih memegangi perut bawahku. Aku memang selalu begini kalau sedang datang bulan. Cukup menguras tenaga. Untung saja Rey sedikit mengerti dan tak banyak menuntut.


Setiap aku melihat baju, Rey, wanginya selalu membuatku bahagia. Bahagia karena parfum yang ia gunakan tak berganti dari ia masih SMA. Aku sangat menyukai wangi ini. Mengingatkanku ketika aku berpapasan dengannya di sekolah.


Memang sejak dari dulu, ia sudah acuh. Aku memang tak terlalu terkejut. Mungkin aku memang harus beradaptasi dengan sikap acuhnya.


Aku selalu bahagia bila memegang baju milik suamiku ini. Ketika membersihkan dan membereskan kamarnya. Wangi tubuhnya yang khas membuatku betah berlama-lama berada di sana. Namun, ketika sang empunya berada di rumah, aku tak berani berlama-lama. Karena kamar sekaligus tempat bekerjanya itu selalu merindukan sang empunya. Tak enak kalau aku sengaja melakukan itu.


Sering sekali aku tertidur di ranjang Rey pada siang hari. Meski begitu, aku selalu bermimpi dia. Mungkin alam bawah sadarku ini sudah dipenuhi dengan Rey. Rey ada di mana-mana bagiku.


Ting... Tung...


Bel berbunyi. Aku melirik jam dinding dan melangkah ke depan.


Siapa yang bertamu? pikirku.


Sesaat sebelum aku sampai di pintu depan, pintu sudah dibuka. Pria tampan dengan jas hitam masuk ke rumah. Siapa lagi kalau bukan Rey.


"Sudah pulang, Rey?" tanyaku sambil berjalan ke arahnya.


"Kamu sudah sembuh?" Dia bertanya balik.


"Sudah lumayan." Aku masih memegangi perut bawahku. Rupanya hal ini membuatnya mengerutkan kening.


"Baru jam empat, tumben udah pulang?" tanyaku lagi sambil mengambil jas dan tas jinjingnya. Aku menatap wajahnya yang cukup lelah.


"Tadi Papa tanya, kenapa aku berangkat telat. Aku bilang kalau kamu sakit. Terus dia suruh aku pulang cepat," jawabnya sambil melepas dasi dan membuka baju.


Ternyata, Papa yang udah khawatir denganku. Bukan Rey sendiri. Sabar Alma, akan ada saatnya suamimu ini akan benar-benar mengkhawatirkanmu. Seperti apa yang kamu harapkan.


Aku meletakkan tas di kamarnya dan kembali ke tempat laundry untuk mengambil beberapa potong baju Rey yang sudah disetrika. Aku lantas memasukkan baju-baju itu ke dalam lemari Rey.


"Udah disetrika?" tanya Rey.


"Udah barusan."


"Jangan kerja berat. Nanti kalau ada apa-apa, aku yang dimarahi Papa," ucapnya.


Aku menutup lemari dengan cukup keras dan berbalik untuk melihat Rey.


"Kamu pikir aku anak kecil. Dikit-dikit takut dimarah Papa. Apa nggak ada secuil rasa khawatir kamu, sedikit saja Rey. Rasa empati kamu terhadapku?" Aku menatap matanya.


"Sebenarnya kamu anggap aku ini apa, Rey?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Disertai air yang mulai menetes membasahi pipiku.


Aku berjalan cukup cepat ke kamarku. Aku berharap Rey menyusul. Namun, nyatanya tidak. Dia masih sibuk dengan urusannya sendiri. Aku masih terisak di sini, tanpa siapa pun yang menemani. Harus bagaimana aku menghadapi Rey. Aku, sama sekali tak mengerti jalan pikirannya.

__ADS_1


Apa sebegitu acuhnya padaku. Aku gampang sekali tertipu dengan sikapnya. Sesaat dia memberi perhatian, tapi beberapa saat lagi dia kembali acuh. Aku benar-benar bingung menghadapi Rey.


**


Aku tengah menyiapkan makan malam yang Rey beli. Aku tidak boleh memasak karena perut ini masih sedikit sakit. Entah itu memang benar-benar asli dadi mulut Rey atau dia hanya takut dimarahi Papanya aja.


Rey datang membawa secarik kertas berwarna merah muda. Ia letakkan di atas meja makan.


"Apa itu, Rey?" tanyaku.


"Undangan dari teman. Malas sebenarnya, tapi, dia pelanggan setia. Tak enak bila tak hadir."


Aku mendekat ke meja makan menyusulnya.


"Ya udah datang aja, sih," jawabku.


"Kamu mau nemenin aku?" tanya Rey sambil menatapku. Berharap segera mendapat jawaban atas pertanyaannya.


"Mau aja," jawabku santai. Padahal sebenarnya aku bahagia oleh ajakan Rey. Aku meliriknya yang sedang menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Kapan pestanya, Rey?"


"Tiga hari lagi."


Aku mengangguk sambil menikmati makan malam ini.


"Aku mau nanya, Rey."


"Boleh, ya, aku kerja."


"Kerja? Uang yang aku transfer nggak cukup?"


"Cukup, Rey. Aku, kan, bosen di rumah terus. Mungkin dengan aku kerja, aku bisa dapet temen."


"Gimana kalau pas kerja kamu sakit kaya tadi. Sakit perut aja sampai tiduran di lantai."


Jujur saja, kata-kata Rey barusan cukup membuat hatiku seperti tercabik-cabik. Sakiitt, tapi, tak berdarah. Memang benar adanya, tapi, apa salahnya dia tak bicara sejujur itu. Aku meliriknya tajam. Kali ini aku tak bisa berkata apa-apa. Karena memang yang dia katakan itu benar adanya.


**


Hari ini aku berencana membeli baju. Baju di lemari hanya piama dan beberapa setelah celana. Aku akan membeli baju ke pesta.


"Rey, aku mau beli baju buat ke pasta besok," kataku di ambang pintu.


"Kamu ambil aja baju di butik langganan. Nanti aku yang bayar. Bilang aja baju buat kamu dan aku untuk ke pasta. Nanti biar yang punya butik yang pilihin," sahutnya sambil mengenakan sepatu.


Aku meruncingkan bibir. Bukan apa-apa, butik itu pakaiannya luar biasa mahal. Meski hanya kaos oblong biasa.


"Cepet ganti baju, aku anterin. Tapi, nanti kamu pulang sendiri."

__ADS_1


"Iya, Rey," jawabku malas.


Aku melangkah menuju kamarku dengan menyeret kedua lengan ini seperti tak bertenaga. Membuka lemari dan berganti baju.


"Ayo, nanti aku telat."


"Iya." Memang nggak hobi dandan, sih. Tapi, kenapa cuma berganti baju saja lama minta ampun.


Aku keluar dan menyusul Rey. Mengunci pintu dan masuk ke mobil. Mesinnya sudah dihidupkan sejak beberapa menit yang lalu. Mambuatku semakin tergesa-gesa.


"Nggak sabaran banget, sih."


Rey cuma diam dan menjalankan mobilnya.


"Hem... Hem... Hem... Hem... Hem..."


Aku tak sengaja melihat ke arah Rey. Dia nampak meliriku dan berkata, "Bisa diem ngga? Nganggu aja."


Alisku menyatu sesaat. "Orang lagi nyanyi, dibilang ganggu."


"Iya, tapi aku nggak konsen kalo berisik."


"Jadi suaraku yang merdu ini mengganggu kamu, ya, Rey." Aku tertawa kecil.


Ia hanya menyipitkan matanya sebelah dan bergeleng sedikit.


"Nanti kamu pesen taksi online aja, ya, pas pulang."


"Iya, suamiku teeeeeersayang." Aku melihatnya dan mencubit pipi kirinya, lalu mengambil ponsel di tas dan mengirim pesan hijau kepada supir taksi online langgananku.


Mobil sampai di tempat tujuan. Setelah aku memasukkan ponselku ke tas, aku segera membuka pintu mobil.


"Tunggu," kata Rey membuatku menoleh kepadanya.


"Hem?"


Sontak dia mendekat kepadaku. Membuat telinga ini mendengar dentuman keras dari jantungku. Mataku melirik ke depan untuk menghindari sorot matanya yang masih saja memandangku.


Ia semakin dekat saja hingga membuatku gugup tak karuan. Entah kenapa, tubuhku ikut maju ke arahnya. Mataku terpejam saat kami semakin dekat. Deru nafasnya semakin dekat ku rasakan. Lalu, tiba-tiba saja, Kliikkk...


Hah?


Dia melepaskan sabuk pengaman yang masih terpasang. Aku mundur dengan wajah yang sangat merah mungkin. Aku sudah berfikir sangat jauh dengan tingkahnya. Tapi, kenyataan tak sama dengan khayalanku. Sungguh sangat menyakitkan.


"Kalau mau keluar, sabuknya dilepas dulu."


Aku mengangguk sambil tertunduk lemas. Malu sekali rasanya. Aku membuka pintu mobil agar aku bisa menghindarkan wajahku dari Rey.


Saat kaki ini melangkah turun, tiba-tiba saja lengan kananku ditarik oleh Rey. Dia mengecup pipi kananku dengan cepat. Membuatku semakin malu saja, tapi, kali ini ada secuil rasa bahagia. Diiringi senyum manis Rey dan usapan lembutnya di kepalaku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2