
Siang ini, tiba-tiba mendung menerpa. Awan hitam menggumpal datang terbawa angin dengan cepat. Petir menyambar beberapa kali membuat rekan di ruangan ini terkejut. Aku memandang keluar jendela. Sejenak, tangan kugenggam dan kuletakkan di depan dada.
Suasana tak begitu nyaman siang ini. Angin dingin datang bersama rintikan hujan.
"Dinginnya," kata Dona di balik bilik milikknya. Sementara aku masih sibuk dengan pekerjaanku.
Aku mengirim pesan kepada suamiku. Sekedar berbasa-basi menanyakan keadaan di sana. Karena tiba-tiba saja aku teringat dengannya.
[Sedang apakah gerangan?]
Beberapa menit kemudian pesan pun dibalas.
[Bekerja sayang]
Ah, pasti wajahku memerah disertai senyuman yang mengembang.
[Hujankah di sana?]
[Iya]
[Hati-hati ya.]
[Hati-hati sama hujan atau apa?]
Tak dijelaskan juga dia paham ternyata.
[Sama semuanya]
[Andai hujan ini datang malam nanti, pasti akan lebih indah]
Senyum kembali mengembang. Kali ini disertai dengan degupan aneh, tapi amat aku nikmati. Ini memang bukan Rey yang sebenarnya. Namun, tak apa. Sekali pun ia terpaksa menjadi manis untukku, setidaknya ia sudah berusaha menyenangkan hati seorang Alma.
[Aku kerja lagi, ya. Demi si buah hati] disertai emot dua hati di sana. Mungkin maksudnya untukku dan buah hati yang tengah kami tunggu.
Aku meletakkan ponsel kembali dan menatap hujan yang turun deras sekali. Dengan telapak tangan menopang di dagu. Diam-diam aku mengenang masa indah kala aku masih kecil. Aku sering sekali bermain hujan dengan teman-teman anak tetangga. Selepas itu, pastilah aku demam. Ibu memarahiku habis-habisan. Namun, ketika esok hujan turun lagi, ia tak bisa menolak rengekan anak satu-satunya ini untuk bermain air hujan.
"Alma," sapa Dona.
"Ya."
"Makan siang, yuk."
Aku diam sambil mengerutkan kening.
"Kamu aja, deh. Aku enggak."
"Loh. Gimana sih. Nanti sakit."
"Aku pasti sakit kalau kena air hujan."
"Oke, gimana kalo nanti aku belikan aja," tawar Dona.
"Sekalian Pak Joni, ya. Sama kopi buat dia. Kasian ujan-ujan pasti dia pingin minum kopi."
"Eh elah. Iya deh. Mana uangnya."
"Nih." Aku memberinya uang lima puluh ribu padanya.
__ADS_1
"Kembalinya ambil aja."
"Eh elah, Neng. Ini mah pas," ujar Dona dengan bibir yang sudah sedikit meruncing.
Aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Sambil melamun menunggu Dona, aku melihat orang-orang di jalan. Ada yang memakai payung menerjang hujan yang sangat deras. Beberapa kendaraan bermotor juga memakai mantel plastik.
Jauh di sudut pandangan, aku melihat beberapa anak bermain hujan di balkon rumah. Ada tiga anak di sana. Karena petir sudah berhenti, mereka tampak sangat menikmati air hujan ini. Aku hanya tersenyum memandangi mereka.
"Dor," kejut Dona.
Bahuku sampai naik seketika karena terkejut. Temanku satu ini memang benar-benar.
"Ya Allah aku kaget," ujarku sambil memegangi dada.
"Haha. Nih, makanannya." Ia meletakkan sebungkus nasi di atas mejaku.
"Punya Pak Joni udah?"
"Udah. Tenang aja."
"Eh, gimana kamu sama suami kamu?"
"Gimana apanya?" Aku membuka bungkusan dan mulai melahapnya.
"Ya, itu. Kalian udah baikkan kan?"
"He'em, udah. Eh, aku kemarin malam pergi ke dukun pijat."
"Ngapain?"
Dona terkekeh. "Iya maksud aku ngapain emang. Kamu keseleo atau apa?"
"Perut aku dibenerin biar gak dalem. Kalo udah cetek biar cepat hamil."
"Oh."
Setelah berlama-lama memakan nasi bungkus ini sambil berbincang-bincang dengan Dona, kami lantas melanjutkan pekerjaan kami. Berharap hujan reda saat aku melangkah pulang nanti.
**
Hujan reda menjelang petang. Meski mendung masih tampak diiringi dengan pelangi yang menyapa. Sudah lama sekali saat terakhirnya kali aku melihat pelangi. Warnanya membuat hati dan pikiran tenang. Beberapa warna yang beradu membuat indah meski mereka berbeda-beda.
Sambil berjalan dengan sesekali menginjak gubangan air hujan aku masuk ke dalam mobil. Pak Joni siap menghidupkan mesin dan menjalankannya. Rasa bahagia menyelimuti hati karena tak sabar bertemu sang pujaan hati.
Gerimis kembali datang saat aku baru tiba di rumah. Kini hari semakin gelap. Namun, Rey belum juga pulang. Perasaan khawatir mulai melanda. Tak terasa sudah lima pesan dan lima panggilan yang aku luncurkan untuk mengetahui kabar Rey. Mengapa ia belum juga pulang padahal sebentar lagi magrib tiba. Padahal biasanya, kami pulang bersamaan atau paling tidak hanya berjeda waktu sebentar saja.
[Aku ada miting mendadak. Akan pulang terlambat]
Begitu pesan terakhir yang dikirim Rey sebelum ponselnya tak aktif. Mungkin ia sengaja mematikannya karena takut mengganggu rapat atau ponselnya lowbat.
Aku tak tahu Rey akan pulang jam berapa. Nyatanya, sudah pukul sembilan malam ia belum muncul juga. Terpaksalah aku menunggunya sambil menonton tivi. Tak lupa dengan beberapa camilan sebagai makan malam.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum."
Aku terkejut dengan suara pintu diketuk disertai suara salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Aku lantas berjalan cepat untuk membuka pintu. Tas Rey segera aku ambil alih. Tak lupa dengan mencium punggung tangannya. Wajahnya tampak lelah. Aku tak berani bertanya dalam waktu ini. Aku membiarkan ia masuk dan membersihkan diri.
"Rey. Mau aku buatkan kopi?"
"Boleh."
Aku melangkah ke dapur. Mengambil cangkir dan menuang gula dan bubuk kopi. Dengan merasa lega karena suami sudah pulang, aku akan membuat kopi super enak untuknya.
"Ini." Aku meletakkan kopi itu di meja kecil di kamar Rey.
Melihat ia tengah mengeringkan rambutnya, aku merebut handuk kecil itu dan membantunya. Perlahan, aku mengusapkan rambut basahnya pada handuk yang aku pegang.
"Apa kau menungguku?"
"Hem, ya. Dari jam tujuh tadi."
"Maaf, ya. Ponselku tadi mati."
"Gak papa, Rey."
Rey memegang pergelangan tanganku. Seketika saja aku berhenti menggosokkan rambutnya pada handuk. Ia lantas mengarahkan tangan kananku ke sebelah kanan dan tangan kiri ke sebelah kiri. Menjadikan wajahnya muncul di tengah-tengah tanganku.
Wajah itu masih tertutupi dengan helai rambut yang menjuntai di dekat matanya. Aku mengalihkan rambut yang menutupi pandangannya. Ternyata Rey memandangiku sambil tersenyum. Pandangan yang amat berbeda dari beberapa bulan yang lalu. Pandangan yang aku impi-impikan selama ini.
Rey menarik pinggangku seketika. Membuatku kini semakin mendekat dengannya. Aku mengelus kepala itu perlahan.
**
"Rey."
"Hem."
"Apa kamu bahagia kalau aku hamil nanti?"
"Iyalah." Rey menjawab dengan mata terpejam.
Kebiasaan baru kami kini adalah ketika bangun subuh, kami bermalas-malasan di kamar. Hanya untuk sekedar berbincang-bincang atau rebahan manja.
Tangan Rey melingkar di atas perutku.
"Rey."
"Hem."
"Maaf, ya. Penampilanku saat ini sama sekali tak mengimbangi penampilanmu."
Matanya terbuka perlahan. Kali ini ia mengelus dahiku dan perlahan menciumnya.
"Apa aku mempermasalahkannya?"
Kami saling menatap beberapa saat.
Bersambung...
Bantu vote, like, dan rate ya. Yuk ajak teman lainnya baca novel ini ya.. 😊😊
__ADS_1