
"Rey. Kenapa kamu cuek banget sama aku?"
Aku menatap matanya dari arah yang sangat dekat.
"Siapa yang cuek?"
"Kamu Rey."
Tanpa jawaban, Rey hanya tersenyum dan membelai rambutku. Ia pun mendekat dengan perlahan dan memiringkan kepalanya sambil melihat ke arah bibirku lalu mengecupnya dengan hangat. Aku merasa bahagia saat ini. Jantungku berdebar bagai genderang perang yang sedang ditabuh. Hatiku berbunga-bunga seperti taman bunga yang sedang bermekaran di musim semi.
"Rey, apa kamu cinta denganku?" tanyaku pada Rey sambil memeluk dan meletakkan pipiku di dadanya.
"Rey, kenapa kau diam, Rey. Rey, Rey?"
"Haaaah?" Aku terbangun dari tidur siang.
"Haah? Cuma mimpi? Tapi, kenapa seperti nyata?" Aku duduk dan menyentuh bibirku.
"Ahh, konyol. Mana mungkin, sih Rey nyium aku. Senyum aja dia nggak mau.
"Oh, ya. Rey mana?" Aku segera bangkit dari ranjang Rey dan mencarinya. Rupanya ia sedang tidur pulas di sofa depan dengan buku di dadanya.
Aku menghela nafas sambil memandangnya dan mengambil buku yang berada di dadanya dalam keadaan terbuka.
Andai aja mimpiku itu nyata Rey. Pasti aku termasuk wanita yang beruntung dan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Aku memandangi wajah suamiku dari jarak yang dekat. Aku duduk di lantai agar aku puas melihatnya. Walaupun dalam keadaan dia sedang tidur. Dalam keadaan seperti ini jiwa isengku muncul. Aku menempelkan kepalaku di atas dadanya untuk mendengar detak jantungnya.
Perlahan, aku lebih dekat dan menempelkan kepalaku di sana.
"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba ia bersuara.
Aku terkejut dan mencoba menjauhkan kepalaku dari dada Rey. Namun, ia justru menarik kepalaku dan benar-benar bersandar di dadanya.
"Apa ini yang akan kau lakukan?" tanya Rey santai.
Aku terburu-buru menarik diri dan bangkit dari sana.
"Maaf, Rey. Aku nggak bermaksud ganggu kamu tidur. Emm, aku, aku mau lanjut sapu kamar aku. Maaf, ya." Aku langsung berlari meninggalkannya begitu saja.
Deg. deg. deg.
Aku memegang dadaku dengan tangan yang masih gemetaran.
Hah, ini gila. Kenapa aku begitu terbawa perasaan dengan mimpiku itu? Dasar gila. Ini gilaaa...
Aku menyibukkan diri karena terus menerus memikirkan hal itu. Setelah acara bersih-bersih selesai, aku mandi dan memakai piyama yang di belikan Papa mertua.
Karena rasa malas melanda sejak kejadian siang tadi, aku memutuskan memesan makanan online untuk makan malam. Aku keluar kamar bersamaan dengan Rey.
__ADS_1
"Haa? Sama. Sepertinya kita benar-benar jodoh, Rey," kataku setelah melihatnya. Rupanya Rey memakai baju yang sama denganku. Namun, Rey hanya diam dan melihat ke arahku. Ke arah belahan dada yang terlihat jelas akibat piyama dalam yang hampir sama seperti daster bertali kecil di kedua pundaknya.
Aku buru-buru menutupnya dengan kedua tanganku.
"Kamu lihat apa?"
Dia tersenyum sebelah sambil berkata, "Dada kecil aja gaya." Lalu melenggang pergi ke dapur.
Aku benar-benar tak berkutik dengan perkataannya, hanya bisa meruncingkan bibir dan mengepalkan tangan ke arahnya.
Aku menyusulnya ke dapur. Tak lama berselang, kurir makanan sampai.
"Pakett!" teriak kurir dari luar.
Aku hendak keluar dan mengambilnya. Namun, lenganku lekas dipegang oleh Rey.
Aku memandangnya sejenak.
"Kenapa? Aku mau ambil paket?"
"Aku aja," katanya datar.
"Aku aja, Rey."
Rey memandangku tajam. "Apa kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu?" Aku terdiam sampai dia berada di depan.
Aku mengikat rambutku setelah duduk di hadapannya.
"Enak, Rey?" tanyaku sambil mengikat rambut.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Dia tiba-tiba saja tersedak. Aku langsung mengambil air putih dan memberikannya.
"Jangan ikat rambut di sini! Rambutmu bisa rontok dan terbang ke makanan!" katanya dengan nada yang cukup tinggi.
Rey pergi dan masuk ke kamarnya.
"Kenapa dia marah? Aku, kan cuma ngikat rambut, apa dia lagi datang bulan? Benar-benar susah ditebak." Aku asik memakan pizza sendiri. Sisa pizza kumasukkan ke dalam lemari pendingin.
"Rey. Pizzanya ada di kulkas," kataku saat lewat di depan kamarnya.
Karena masih sore, aku nonton tivi aja, deh. Daripada suntuk.
Aku melangkahkan kaki ke ruang tengah dan menonton tivi.
Aku menoleh ke arah jam dinding. Sudah jam sembilan malam. Rasa kantuk mulai melanda. Aku masih asik menonton serial movie kesukaanku.
"He, kalo ngantuk, tidur di kamar," kata Rey yang tiba-tiba saja datang.
"Gendong aku, ya, Rey. Aku ngantuk banget. Udah lima watt, nih mata," kataku sambil menguap.
__ADS_1
Ia malah berjalan kembali ke kamar. Aku hanya memonyongkan bibir. Aku beranjak dan mematikan tivi lalu pergi ke kamar. Saat aku membuka pintu, aku menjerit. "Aaaa..."
Rey terdengar membuka pintunya dan berjalanke kamarku.
"Kenapa teriak malam-malam?"
"Aaa... Rey." Aku memeluk lengan Rey.
"Tadi ada kecoa jalan di kaki aku. Aku kaget. Rey boleh, ya aku tidur di kamar kamu, ya, ya, ya."
Rey melepaskan tanganku dari lengannya.
"Nggak!" jawabnya ketus. Ia lalu berjalan kembali ke kamarnya.
"Rey..." Aku mengikutinya berjalan, namun pintu kamarnya sudah tertutup.
"Dasar!" cercaku.
"Apa kamu bilang?" tanya Rey saat ia membuka sedikit pintunya lagi.
"Enggak, Rey." Aku tersenyum kecut memandang Rey dan kembali ke kamar.
Aku merebahkan badanku di ranjang besar ini, sendirian. Walau bagaimanapun, aku harus bersabar. Sejauh ini, Rey sudah ada peningkatan.
Dia itu lelaki, kan. Apa dia bisa tahan dengan godaan? Apalagi serumah dengan seorang wanita? Oke, mulai sekarang aku akan lebih agresif supaya Rey mau menunaikan kewajibannya sebagai suamiku. Walau aku bersabar sampai kapanpun, aku tetap membutuhkan nafkah batin. Oh, ya, tentang mimpi tadi siang, apa mungkin Rey yang menciumku?
**
"Huaaaamm." Aku melirik jam weker di laci sebelah ranjang.
"Jam Lima lewat sepuluh menit, gawat." Dengan terburu-buru aku ke toilet dan mengambil air wudhu.
"Pagi, Rey," sapaku pagi ini.
Sarapan sudah tersaji di meja makan. Dan Rey pun sudah rapi dengan kemeja dan dasinya. Saat melihatnya tengah sibuk dengan ponsel, sebuah ide tercetus di kepalaku. Aku berjalan ke arahnya.
"Hemm, dasimu kurang rapi, Rey." Rey hendak melihatnya, namun dagunya aku tahan dengan jariku agar ia tak melihat dasinya yang memang sudah rapi.
Aku memegang kedua pundaknya dan menghadapkannya kepadaku. Aku memegang dasinya perlahan. Mula-mula Rey biasa saja, namun ia mulai risih saat tubuhku lenggokkan dan mendekat ke arah wajahnya.
Dia duduk di kursi sementara aku sedang berdiri, tentu saja posisi ini membuat ia merasa tidak nyaman. Rey, membuang mukanya dengan nafas sedikit terengah-engah. Sementara aku masih sibuk berpura-pura membetulkan dasinya.
Aku meliriknya yang sedang salah tingkah.
Akan sampai mana kau mampu menahan ini, Rey...
Bersambung.....
Yuk, dukung autor terus.. jangan lupa like-nya ya..
__ADS_1