
Rasa sakit yang amat sangat ketika seorang ibu melahirkan anaknya ke dunia ini telah aku rasakan. Perjuangan panjang menahan kontraksi selama sepuluh jam pun sudah aku lewati. Tenaga, emosi terkuras habis. Hanya wajah mungil malaikat kecilku yang kini bisa membuatku melupakan segala sakit yang beberapa saat lalu aku rasakan.
"Selamat, ya, Bu Alma. Anak kamu laki-laki," sahut dokter spesialis yang tempo hari aku kunjungi.
Senyum sumringah juga terpancar dari wajah suamiku yang setia menungguku melewati masa-masa sulit. Entah kenapa aku masih sedikit terganggu dengan tawa Ibu di ruang sebelah. Ia masih menggendong cucu pertamanya dan asik mengobrol dengan Papa.
Untunglah tidak ada yang perlu dijahit. Karna menurut penuturan Dara dan beberapa teman di sosmed, jahitan pada **** * itu sangat menyakitkan. Apalagi tanpa bius. Tak bisa aku bayangkan.
"Assalamualaikum." Seseorang mengucap salam. Terdengar ia juga membuka pintu.
"Eh, Dara." Suara Ibu menyambut. Mereka masih terdengar berbincang-bincang di ruang depan. Sementara aku hanya berdua denga suamiku saja di ruang persalinan ini.
"Alma, selamat, ya. Udah jadi ibu. Kamu sehat kan?"
"Alhamdulillah. Ternyata begini, ya, rasanya melahirkan. Benar-benar jauh dari dugaanku."
"Emang kenapa?" tanya Dara. Kakinya juga masih bergoyang pelan karena anak yang ia gendon mulai merengek.
"Ini, Alma. Masa mau melahirkan aja, teriak-teriak," jelas Ibu. Aku tak menyadari tiba-tiba ia muncul dan ke ruangan ini.
"Udah tu, Reyhan dijambak-jambak rambutnya. Sama teriak gini, 'Gara-gara kamu aku hamil dan harus melahirkan.' Gitu," jelas Ibu sekali lagi.
Wajahnya menghangat. Suasana hati menjadi tak karuan. Apa yang aku lakukan mungkin terdengar geli di mata Ibu. Aku juga sedikit merasa kesal dibuatnya.
Dara hanya tersipu sambil menutup mulutnya dengan jemari yang berlapis sarung tangan.
"Sampai segitunya, Al?"
"Aku mengangguk pelan dan membuang pandangan." Malu.
Suami tampanku di samping yang masih duduk hanya diam dan mengelus tanganku.
"Maaf, ya," ucapnya lirih.
Saat aku menoleh, ternyata Dara sudah keluar dan mengobrol dengan Ibu dan yang lainnya.
"Aku yang salah, Yah. Aku udah jambakin kamu dan nyakarin kamu juga."
"Gak ada kata lain yang bisa aku ucapin selain maaf. Karena sampai kapan pun aku gak akan bisa merasakan sakitnya ... ."
__ADS_1
"Aku aja yang lebay. Mungkin cuma aku yang ngelakuin itu."
Hangat. Lengan Rey menelangkup di tubuh ini. Samar-samar aku juga mendengar bahwa ia tengah terisak. Tarikan napas secara cepat masuk dan keluar serta menahan sesak mungkin.
"Kamu nangis?" tanyaku penasaran.
"Mungkin begitulah perjuangan Mamaku dulu melahirkanku." Ia menjauh dan mengusap air yang mengucur cukup deras.
"Kapan terakhir kamu ke makam Mama?"
"Aku lupa. Mungkin aku terlalu sibuk."
"Apa mau kapan-kapan kita ke sana? Kita bawa anak kita." Aku berusaha menghiburnya.
"Hem."
**
Empat jam berbaring di ranjang klinik, akhirnya aku bisa pulang. Bukan perkara mudah, karena harus belajar duduk dan berdiri. Beruntung fisik ini cukup kuat.
"Alma. Dara tadi pesen sebelum pulang. Besok dia mau ke rumah. Gak sengaja dia tadi mampir dari apotek. Dia mampir karna ketemu Ayah kamu di sana. Ternyata dia gak lupa sama Ayah kamu."
"Iya, Bu."
Anakku masih digendongan Ibu. Iyem sibuk membawa masuk tas ke dalam mobil. Sementara Rey, ia menggendongku masuk ke mobil.
Aku sedikit risih. Apalagi saat aku melihat wajah suamiku sedikit menahan beban. Meski ia hanya diam sampai aku berhasil masuk ke dalam mobil dengan aman, tetap saja aku merasa tak enak hati. Berat badan saat terkahir kali sebelum aku melahirkan adalah 73. Hebat sekali lelaki tampanku ini berhasil menggendongku.
Sambil memegang botol infus, Rey tampak kelelahan dan berusaha mengatur napasnya.
"Capek, ya?"
"Enggak kok." Senyum tipis itu terpancar agar aku tak begitu khawatir sepertinya.
"Kalau jalan nanti pelan-pelan, Alma," pesan Ibu yang duduk do kursi depan.
Ayah, Papa, dan Iyem naik mobil Papa. Setelah 30 menit mobil berjalan, akhirnya sampai di rumah. Aku berusaha berjalan sendiri perlahan-lahan. Sambil melatih diri sendiri. Kasihan juga bila Rey menggondongku lagi. Bukan apa-apa, semalam suntuk ia mengelus perutku karna kontraksi. Aku tak mau ia kelelahan karena harus membopongku lagi.
Tangisan bayi menggema memenuhi kamarku. Rupanya ia kehausan setelah tadi Ibu memberinya susu formula saat di klinik. ASI milikku memang belum keluar. Tapi, tak apa. Kata dokter itu hal yang wajar.
__ADS_1
Dengan sigap, Bi Ningsih menyiapkan susu. Ibu sibuk menenangkan bayiku. Aku begitu memperhatikan mereka. Mungkin aku bisa belajar dari Ibuku cara menenangkan bayi sejenak.
"Cup, cup. Ini, mimiknya, Sayang," kata Ibu. Ia lantas duduk di sebelahku. Menampakkan wajah imut nan bersih manusia yang belum berdosa ini.
"Wah, lihat. Anak kamu haus." Air susu di dalam dot kecil seketika hanya tinggal setengah saja.
Aku hanya bisa melihatnya dengan senyum. Masih berkomat-kamit bibir ini mengucap syukur karena telah melahirkan bayi laki-laki yang tampan, sehat, dan sempurna.
Mata yang perlahan terpejam, masih sibuk aku amati. Bulu-bulu halus dan bibir yang merah merona serta pipi yang mengambang serta mengempis karena tengah memompa air masuk ke dalam mulut, menjadi pemandangan indah.
Kulitnya halus dan lembut. Mata coklat tuanya bahkan sama persis dengan Ayahnya. Meski dokter itu menyebut bahwa anak laki-lakiku ini sangat mirip denganku. Begitu juga kata Ibu, Ayah, dan Dara.
**
Bi Ningsih datang dan membawa mangkuk putih. Ternyata bubur ayam kampung.
"Ini, Bu. Bubur spesial pakai ayam kampung. Lebih sehat dan aman." Bubur itu lantas direbut oleh Rey.
"Biar aku makan sendiri."
"Jangan. Biar aku suapin, ya."
"Kamu kan, capek, Yah. Istirahat dulu sana."
"Enggak. Biar aku suapin kamu dulu."
"Jangan ribut. Anaknya mulai tidur!" bentak Ibu. Hal ini membuat kami berdua diam.
Meski aku memaksa untuk makan sendiri, nyatanya hal ini tak membuat Rey menurut. Sampai titik sendok terakhir masih dari tangannya.
"Yah. Mata kamu merah. Istirahat sana," titahku. Entah kali ini ia akan mengikuti kemauanku atau tidak.
"Iya. Aku mau istirahat, ya. Kepalaku pusing."
"Hem. Iya."
Setelah memberikan mangkuk kepada Bi Ningsih, Rey masuk ke kamar kerjanya. Begitulah kata Ibu. Aku juga mulai mengantuk di jam-jam siang ini. Hanya berselang beberapa menit aku pun tertidur.
Bersambung...
__ADS_1
Like dan vote ya.. 😊😊😊