My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Meski malas melanda, aku harus tetap pergi ke kantor. Badan ini sedikit terasa tak nyaman karena kemarin malam kehujanan cukup lama. Setelah meminum obat penurun panas, aku lantas diantar Rey seperti biasa ke kantor.


"Kamu beneran sehat?" tanya Rey.


"Iya. Kalo aku sakit, kamu jemput aku, ya."


Rey mengangguk. "Jangan memaksakan diri."


"Hem."


Aku lantas keluar dari mobil setelah mencium punggung tangan suamiku. Pekerjaan menanti. Aku harus siap menghadapi tantangan di kantor hari ini. Meski badan tak terlalu mendukung, inilah risiko yang harus aku hadapi sebagai karyawan.


Setumpuk berkas sudah tertata indah di atas mejaku. Map berwarna-warni bak pelangi, tersusun setinggi langit menjulang. Aku mengulum senyum mengawali hari ini. Di meja inilah aku berjuang. Dengan dibantu layar datar sumber informasi, aku memulai menghabiskan satu demi satu lembaran berkas ini.


Semua sibuk saat ini. Telepon silih berganti berdering menambah ribut suasana. Tak ada obrolan, tak ada candaan. Empat jam menjelang makan siang adalah jam-jam tersibuk. Ketika azan berkumandang. Beberapa rekan kerja terdengar keras menghela napas dibalik bilik penutup meja kerja mereka.


"Makan siang, I'm comeing." Begitulah salah satu kalimat yang kudengar.


Setengah dari gundukan berkas di meja telah selesai kukerjakan. Setengahnya lagi akan aku habiskan setelah makan siang usai. Dona mendekat dengan suara decit sepatu yang beradu dengan debu. Aku mengenali betul suara sepatu berhak tingginya itu.


"Alma. Makan siang, yuk," ajaknya. Ia masih berdiri di depanku sembari memandangi kuku yang terlihat cetar. Dona lalu mengkibaskan sedikit jemarinya itu. Bak penari yang tengah pentas.


"Cie, warna baru," ledekku sambil masih melihat layar komputer.


"Iya dong. Aku baru ganti warna cat. Biar terlihat segar." Ia kembali memandangi kukunya.


"Masih lama nggak. Kaki aku pegel, nih. Kalo lama-lama berdiri."


"Enggak. Ini aku simpan dulu file-nya." Aku berdiri dan menghampiri Dona.


Kami turun ke lantai dasar dengan sesekali mengobrol. Beberapa obrolan hanya membahas pekerjaan yang cukup membuat kepala nyut-nyutan. Sebagian obrolan lagi membicarakan tentang kunjungan kami ke luar kota. Ia masih belum bisa move on rupanya dengan keindahan alam yang memang jarang sekali kami temui.


"Alma, kalau kita liburan bolehlah kita pergi sama-sama ke sana," ajaknya.


Aku hanya diam tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


"Ayolah." Kali ini ia merayu sambil memaksa.


"Insya Allah, ya. Aku nggak bisa janji. Kamu tau sendiri suami aku super sibuk."


Wajah Dona tertekuk. Mau bagaiamana lagi. Aku tak bisa berjanji dengannya.


Setelah selesai dengan nasi padang, kami lantas kembali ke kantor. Sebelum itu, aku dan Dona duduk di halaman kantor. Di sana ada tempat duduk. Sementara di depannya ada air mancur. Hal ini mengingatkan suasana luar kota yang indah. Meski tak sama, tapi, cukup untuk mengobati rindu Dona.


"Kita duduk di sini dulu, ya. Aku masih mau santai. Kita masih ada waktu sekitar sepuluh menit."


"Oke."


Sambil menyeruput es capucino, kami menikmati taman kecil di halaman kantor ini. Sebuah mobil masuk ke halaman parkir. Aku cukup terkejut karena mobil itu sama dengan mobil yang aku pilih malam pada saat Rey memberiku mobil. Mobil yang tipe-nya sama dengan Rey. Namun, berwarna merah.


Aku dan Dona melihat mobil itu berjalan hingga sampai di tepat parkir. Pintu depan terbuka. Saat sesosok wanita keluar dengan baju merahnya pula. Rambutnya panjang dan sedikit ikal. Perawakannya tinggi dan langsing bak model catwalk.


Aku tersentak kaget ketika wanita itu menoleh. Mata ini melotot dan mengalihkan pandangan. Rupanya ia berjalan menghampiri kami yang tengah duduk di taman.


"Alma?" sapanya. Entah kenapa nada bicaranya seperti mengejek. Atau hanya aku yang terbawa perasaan.


"Hai," balasku. Tersenyum kecut lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Kamu kerja di sini?"


"Iya."


Dona ternyata masih tertegun dengan penampilan wanita ini.


"Hai, aku Dona." Dona mengulurkan tangannya.


"Aku Vina."


Seseorang tiba-tiba keluar dari dalam gedung. Setengah berlari sambil memandangi aku dan Dona.


"Dona, Alma, sedang apa kalian? Ini sudah lewat jam makan siang. Ayo, kembali bekerja."

__ADS_1


Aku melirik wajah Vina yang semakin tak enak dipandang. Ia semakin menyejek kami dengan pandangan itu.


"Kasian, ya. Suami punya perusahaan besar dan Show room terbesar di kota ini, tapi, istrinya kerja di kantor lain. Jadi, karyawan biasa pula." Tak lupa bibir dilengkungkan sebelah.


"Eh, Mbak. Jangan ngomong macem-macem, ya, sama teman saya. Dia itu kerja halal dan nggak minta sama Mbak. Datang-datang kok ngejek gak karuan. Situ nggak ada kerjaan, ya?" kata Dona.


Aku diam saja, tapi justru Dona yang membelaku. Dengan segala perkataan Dona, rupanya tak terlalu digubris oleh Vina.


"Oke. Kalau begitu. Saya sibuk mau lanjut dulu." Vina membalik badannya dan berjalan menuju mobil.


"Eh, Mbak. Siapa juga yang nanya sibuk atau enggak." Sekali lagi Dona membalas cibiran Vina.


"Don, udah, deh. Jangan diledenin. Biarin aja."


"Kesel, Al. Dia itu cantik, body bohai seperti model, tapi mulut dia tajam, setajam sulet."


"Udah, toh dia nanti dapat balasan sendiri. Kata Ibu aku itu kita sebagai manusia harus sabar, biar subur. Ejekan gitu mah udah biasa. Waktu aku masih sekolah dulu, lebih parah dari itu."


"Tapi, kenapa dia tahu, ya, suami kamu kerja di show room mobil?"


"Dia itu rekan bisnis Rey. Jelas aja dia tahu."


Aku tak mungkin berkata bahwa ia juga mantan kekasih suamiku saat mereka masih kuliah. Bisa kubayangkan ekspresi yang ditimbulkan Dona saat mendengar kata mantan. Sementara ini saja, ia cukup tersulut emosi.


"Amit-amit, deh. Cantik juga buat apa kalau hatinya busuk. Lidahnya setajam silet."


"Makanya itu. Jangan sampai kita meniru yang tidak baik."


Setelah puas membahas Vina, kami lantas berjalan masuk ke kantor. Menyelesaikan tugas kami. Sakit, memang. Segala perkataan yang Vina ucapkan memang benar. Tapi, teringat saat Rey pernah menawariku pekerjaan di kantornya, rasa sakit ini perlahan mereda. Bukan Rey yang mengacuhkanku. Namun, memang akulah yang lebih memilih bekerja di kantor lain.


Rian keluar dari tempat persembunyianya. Ia tampak acuh dari biasanya. Tak sengaja aku melihatnya. Aku tiba-tiba saja merasa simpati kepada duda keren itu. Kadang, aku juga merasa iba setelah tau nasib yang menimpanya.


Hingga mata ini tak berhenti memandang setiap langkah kakinya hingga ia keluar ruangan ini.


Ponselku bergetar. Pandanganku beralih kepada layar pipih dan segera mengusapnya. Satu pesan dari suamiku. Isinya, cukup membuatku tercengang. Ia didesak Ibu pagi ini untuk pergi ke dokter kandungan bersamaku. Tawa kecil tak bisa kutahan. Ibu bahkan tak memberi tahuku. Mungkin ia malas karena aku selalu bilang "ya" tanpa ada tindakan.

__ADS_1


Bersambung...


like, rate, dan vote ya..


__ADS_2