My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Bertemu Vina


__ADS_3

"Apa iya, Bi kalo biasanya gak suka jadi suka itu berarti hamil?"


"Bisa jadi, Bu. Ibu bulan ini sudah kedatangan tamu?"


"Kalo tanggal bulan kemarin sih, belum, Bi. Masih satu minggu lagi. Apa udah kelihatan kalau hamil?"


Tapi, karna kejadian itu aku sempat tertinggal program hamil beberapa kali.


**


"Alma." Rey masuk ke kamarku.


"Hem."


"Ini." Dia memberikan ponselnya kepadaku.


"Apa?"


"Vina bilang, dia mau ketemu kamu besok. Lusa dia akan kembali ke Belanda."


Aku diam sejenak. Memikirkan perkataan Rey. Untuk apa wanita itu minta bertemu denganku? Meski begitu, aku tak boleh berfikir buruk tentangnya.


"Apa kamu mau?"


"Gak tahu, Rey. Aku bingung. Setelah apa yang udah dia lakuin sama aku, rasanya bener-bener malas ketemu sama dia."


"Mau aku temani?"


Apa Rey sedang memaksaku?


"Oke, mungkin aja dia cuma mau pamitan sama aku."


Jam berdetak mewarnai malam ini. Pukul sebelas malam aku masih terjaga. Masih bertanya-tanya kenapa Vina tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa dia ingin minta maaf? Terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi lorong otak ini sampai membuatku masih enggan terpejam.


**


"Kamu sudah siap?" tanya Rey yang tengah berdiri di balakangku. Aku menatapnya dari pantulan cermin yang menepel di meja rias.


Aku membuang napas sejenak dan mengangguk. Meski kuakui, jantung ini sedikit menunjukkan peningkatan. Rasanya aku sama sekali belum siap bila harus menerima hinaan Vina lagi. Tapi, tetap saja aku tidak boleh berfikir buruk tentangnya.


Rey memarkirkan mobil di dekat taman.

__ADS_1


"Itu Vina." Dia menunjuk wanita yang tengah duduk sendirian.


Aku menatapnya yang masih memperhatikan keadaan sekitar. Sesekali ia melihat arloji di lengan kanananya. Mungkin ia masih menungguku.


"Apa mau aku ikut ke sana?"


"Jangan, Rey. Vina bilang ingin bertemu denganku, bukan kamu."


Rey tersenyum dan mengelus kepalaku. Ia lantas mencium kening perlahan.


"Aku akan awasi dari sini, hati-hati, ya."


"Ya."


Aku membuka pintu mobil dan keluar. Aku masih menatap Vina dari sini sampai aku berdiri di hadapannya.


Vina ikut berdiri saat ia menyadari kedatanganku.


"Alma." Wajahnya sedikit memelas.


Aku tersenyum. "Ada apa?"


Kami berdua pun duduk bersamaan. Ia masih diam sejenak. Mungkin tengah berpikir.


Jujur saja, aku sudah menyiapkan kata-kata yang indah bila saja ia masih mengejekku. Tapi, kata-kata itu hilang seketika saat ia menceritakan Rey. Mau bagaimana lagi kalau mereka tak berjodoh.


"Asal kamu tahu. Selama berbulan-bulan ini setiap hari aku merayu dan menggoda Rey saat di kantor. Mengajaknya makan siang dan mengajaknya keluar. Tak jarang kami makan malam bersama."


"Tapi, dari itu semua Rey sama sekali tak melihatku. Sikap manis yang biasanya ia tunjukkan saat sebelum kalian menikah, tidak ada sama sekali. Hanya ada hubungan antar rekan bisnis."


Sedikit merasa lega mendengar penjelasan Vina. Meski sebelum itu aku sedikit merasa kesal.


"Rey, adalah laki-laki yang hebat. Dia bisa menahan diri dan menghargaimu sebagai istrinya. Aku benar-benar iri denganmu." Ia tersenyum. Tapi, dapat aku lihat matanya mulai berair.


"Maafin aku, ya, Alma. Sebagai orang yang cukup berpendidikan, sikapku selama ini tidak menunjukkan manusia yang berbudi. Hanya karena aku cinta dengan Rey, berkali-kali aku menyakiti hati kamu."


Dia berubah. Seribu persen. Apa kata-kata Rey kemarin yang membuat dia begini?


Vina tiba-tiba saja memelukku. Canggung. Sudah pasti. Aneh, juga menjadi satu. Tapi, karena Vina mulai terisak, aku tak bisa melepasnya paksa. Karena rasa empati ini akhirnya aku mengelus punggungnya. Membiarkan beberapa saat ia melepaskan beban yang menyiksa batin.


**

__ADS_1


"Kamu tahu. Waktu aku baru menikah dengan Rey, aku sempat iri denganmu. Kamu adalah wanita yang selama empat tahun bersama Rey. Sedangkan aku hanya wanita biasa, yang tiba-tiba datang di kehidupannya. Dia acuh. Bahkan untuk tersenyum saja, sulit."


Untuk tidur satu ranjang pun, perlu usaha. Karena sikap Rey yang sulit ditebak.


"Rey juga beruntung mendapatkan wanita yang baik sepertimu, Alma. Kamu sabar dan rela berkorban untuknya. Jujur saja, saat Rey kemarin bilang dia menghargaimu dan belum tentu ada yang mau berkorban demi calon anak, aku malu. Aku malu Alma. Pakaian seksi yang setiap hari aku pakai, yang memperlihatkan lekukan setiap sudut tubuhku seakan tak berarti dihadapan Rey. Karena ia tetap cinta sama kamu walaupun ukuran baju kamu berubah drastis."


Aku tersenyum. Baru aku menyadari kata-kata Rey benar-benar manis. Wanita seksi yang setiap hari dia lihat bahkan tak diliriknya sama sekali. Sampai detik ini, aku masih tak menyangka, bagitu Rey menghargaiku sebagai istri yang akan mengandung anaknya.


"Aku sama sekali belum siap dan mungkin aku menolak bila harus menjalani program kehamilan dan harus merelakan tubuh indahku ini melebar." Ia tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.


Vina membuang napas. Ia juga sudah menghapus air di wajah cantiknya.


"Aku lega, kamu mau ketemu aku hari ini. Aku bisa minta maaf sama kamu sebelum aku berangkat besok. Aku doain kamu selalu bahagia, ya, sama Rey. Kamu bisa cepet-cepet hamil anak yang lucu."


"Aamiin."


Sebenarnya, Vina tidak sejahat yang aku pikirkan. Dia bahkan mau mendoakan aku.


"Ini." Vina mengambil kotak berukuran sedang dari dalam tasnya. Ia memberikan kotak itu kepadaku.


"Apa ini?"


"Boleh kamu buka sekarang."


Dengan antusias aku membuka kotak itu. Aku tersenyum indah dengan mata yang berbinar menatap isinya. Sebuah sepatu bayi berwarna biru muda. Manis sekali.


"Aku belum tahu anak kamu nanti perempuan atau laki-laki, jadi aku putusin beli warna itu aja. Cocok untuk baby boy atau baby girl," jelasnya.


Aku memeluk Vina dengan cepat. Dia tampak sedikit terkejut.


"Makasih, ya. Kamu wanita yang baik, Vina. Mudah-mudahan kamu dapat jodoh yang baik. Sayang sama kamu dan gak maksa kamu jadi gendut kayak aku sekarang." Vina menahan tawa.


Aku jadi ikut sedih. Lebih tepatnya senang dan sedih sekarang bercampur menjadi satu.


**


Aku melambaikan tangan pada Vina. Ia aku biarkan pergi terlebih dulu. Ternyata, hanya karena cinta manusia bisa berbuat di luar batas. Hanya karena cinta, akal menjadi tidak sehat, tapi, karena rasa cinta juga membuat hubungan yang jauh menjadi dekat.


Aku masih tidak menyangka, Reyhan. Lelaki yang acuh tak acuh, ternyata begitu baik dan memperhatikanku. Vina. Wanita yang bermulut tajam, ternyata baik. Ia bahkan memberiku kado, padahal aku juga belum tahu kapan aku akan mengandung.


Manusia itu memang mudah sekali berubah. Sebentar hitam, lalu beberapa saat bisa menjadi putih.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan vote ya. Yuk ajak teman kalian baca novel ini. 😊😊😊


__ADS_2