My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Positif? Bagian 3


__ADS_3

"Assalamualaikum." Suara seseorang mengucap salam di depan. Suara yang aku kenal. Siapa lagi kalau bukan suamiku.


"Waalaikumusalam."


Aku melipat selimut yang baru saja kering dan sengaja tidak ke depan menyambut dia. Rupanya hal ini membuat suamiku datang ke kamar dengan segera.


"Lagi ngapain, Bunda?"


"Lipatin selimut. Cepet mandi terus makan. Tumben jam segini udah pulang?" tanyaku sembari melihat tumpukan yang mulai berkurang.


"Iya. Rapat udah selesai. Jadi, langsung pulang aja. Hari ini males banget kerja. Pengen manja-manja aja di rumah sama adek."


Kumat deh lebaynya.


"Iya. Mandi dulu sana."


Setelah Rey melucuti pakaian atasnya, ia langsung melangkah ke toilet. Tak lupa kecupan lembut mendarat indah di keningku hingga membuat bibir ini tersenyum.


"Ha, selesai. Waktunya ditata di lemari." Aku lantas berjalan menuju lemari dan menata selimut itu dengan rapi.


Betapa terkejutnya aku saat melihat lemari baju Rey. Begitu berantakan. Satu lemari dengan beberapa pintu ini terdapat pakaianku dan suamiku tentunya. Karena sejak ia memutuskan tidur di kamar ini, semua pakaian dipindah ke kamar ini juga kecuali barang lain seperti buku dan alat kantor.


"Kenapa?" tanya Rey yang baru saja keluar dari toilet.


"Berantakan banget, nih lemari kamu, Rey."


"Iya abis kalau kamu udah sibuk di dapur, kamu gak sempet ambilin baju, aku sendiri yang ngambil. Jadi, berantakan gitu."


Aku memegang kepala. Rasanya, ada yang mengganjal di lorong kepala ini. Dengan semangat aku lantas mencarikan baju untuk suamiku dan setelah itu, aku segera mengambil tikar. Semua baju aku taruh di tikar yang berada tepat di depan lemari. Aku lantas menyusun kembali pakaian-pakaian itu satu demi satu. Entah kenapa, aku merasa risih saat melihat sesuatu yang berantakan atau pun kotor.


"Biar Bi Ning aja yang beresin," ujar Rey yang tengah duduk bersandar di punggung ranjang.


"Gak papa aku aja. Ini, kan, gak berat."


Lelakiku itu lalu diam dan mengutak-atik ponselnya. Aku sengaja menyamakan lipatan baju yang tak bisa disetrika. Baju yang sudah disetrika pun ikut berantakan.


Baju sudah beres dalam beberapa puluh menit. Kamar juga terlihat bersih dan rapi. Barulah hati ini merasa lega. Saat aku akan melangkah ke dapur, mata ini tersita dengan pemandangan suami yang tengah tertidur. Karena sudah mulai sore, aku lantas menghampirinya dan mencoba membangunkannya.


Lengan kiri aku goyangkan perlahan. Kupandangi wajah itu. Lelah mungkin karena goyangan pada lengannya sama sekali tak terasa.


"Bangun, Ayah. Udah sore."


Hanya bibirnya yang komat-kamit.


Plaakk..


Aku menampar pipinya. Entah kenapa aku merasa kesal melihatnya hanya menggeliat saat aku membangunkannya.

__ADS_1


Rey terbangun dan mengelus pipinya. Wajahnya tentu saja tampak terkejut. Ia melihatku yang menjauh dari ranjang. Bukan hanya dia saja yang terkejut, bahkan aku juga.


"Sakit, Bunda. Kenapa ditampar?"


"Aku gak suka lihat Ayah gitu. Maaf, ya. Entah kenapa aku bener-bener gak suka."


Rey masih memandangiku dengan tatapan aneh.


"Kamu marah gara-gara aku gak langsung bangun?"


"Enggak. Bukan itu. Pas Ayah gerak-gerak dikit tadi tiba-tiba aku gak suka."


Entah dia akan percaya atau tidak. Aneh memang.


"Maafin bunda, ya, Yah." Aku mendekat dan mengelus pipinya. Kasihan sebenarnya, karena tamparan tadi cukup keras sampai suaranya seperti memenuhi ruangan ini.


"Iya, gak papa. Lain kali jangan ditampar lagi, ya. Sakit."


**


Setelah makan malam, aku iseng membuka google dan mencari tahu tentang kehamilan. Beberapa argumen membuatku bingung. Perubahan mood bisa terjadi karena hormon. Begitu juga dengan makan porsi banyak dan ngemil. Di sana juga ada foto janin dari umur empat minggu sampai siap lahir. Aku tersenyum memandangi setiap foto. Membayangkan anakku nanti akan cantik atau tampan. Serta menayangkan ia lahir ke dunia adalah kebahagiaan tersendiri yang dirasakan calon ibu.


Beberapa menit berselang, Ibu mengirim pesan. Ia akan datang ke sini besok. Mungkin ia akan memberiku beberapa siraman rohani karena aku tengah hamil.


Aku ingat pada waktu aku belum menikah. Kebiasaan membantu Ibu memasak adalah kebiasaanku. Meski tak setiap hari.


"Itu kalau udah hamil tua gitu. Biar ototnya lemas. Ibu juga dulu begitu. Biar lahirannya lancar."


"Hamil tua itu gimana, Bu? Mbak Sari, kan, masih muda."


"Hamil tua itu umur kehamilannya yang udah tua. Udah sembilan bulan, Alma. Bukan orangnya yang udah tua."


"Oh," kataku sambil nyengir.


"Orang hamil itu ribet, ya, Bu. Kasianlah orang udah bawa beban berat malah disiksa."


"Hus. Bukan gitu. Itu namanya olahraga. Bukan nyiksa. Nanti kalau kamu udah ngerasain sendiri, pasti ngerti."


**


Segala perkataan Ibu masih teringat jelas di memori otakku. Benar apa kata Ibu, tak lama lagi aku akan merasakannya sendiri. Melahirkan anakku dan menjadi seorang ibu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Rey muncul dari luar kamar. Ia masuk dengan sebuah buku di tangannya.


"Aku gak sabar nunggu anak kita lahir."


"Hem. Kalo anak cewek lucu kali, ya. Aku mau. Pasti mirip sama aku. Katanya kalo anak cewek, kan, mirip sama ayahnya," kata Rey.

__ADS_1


"Anak cowok ajalah. Anak pertama bagusnya cowok," sanggahku.


"Baby girl," kekehnya.


"Baby boy."


"Baby girl."


"Mau aku tabok lagi, ya."


Rey diam mendengar ancamanku.


"Iya. Apa ajalah. Baby boy atau baby girl. Toh belum tahu juga, kan."


Akhirnya dia mengalah karena pandanganku dirasa tak enak dipandang.


"Apa aja yang penting sehat, kan, Bunda." Ia sedikit merayu dan mendekatkan kepalanya kepadaku.


"Hem," balasku singkat.


Aku juga mau sebenarnya anak perempuan yang cantik. Beli baju yang lucu, bisa kembar sama aku. Beli jepit rambut, bandana. Namun, aku berfikir anak perempuan baiknya itu sebagai adik saja. Itu menurutku saja.


"Kalo anak kedua baru perempuan, ya," tambah Rey.


Aku menoleh dan meliriknya lalu membuang napas. Rey terkekeh sejenak. Memang semua lelaki hanya bisa bicara. Karena mereka tak mungkin bisa merasakan apa yang dirasakan perempuan.


"Oh, ya. Besok Ibu ke sini."


"Hem. Beresin kamar, tuh buat Ibu. Masa ke sini gak pernah nginap. Kan, kasihan kalau pulang pergi, ya, walaupun gak terlalu jauh."


"Iya. Makasih, ya. Kamu baik banget."


"Aku baik dari dulu, kan."


"Iya. Kamu baik dari sononya. Cuma masih ketutup aja."


"Mau dibuka?"


Aku melirik lalu melotot. Tak lupa satu pukulan mendarat di lengannya.


"Ada aja, ya, perkataan menuju ke sana."


"Itu namanya normal. Gak masalah kan, sama istri sendiri."


"Hem."


Bersambung....

__ADS_1


Adegan selanjutnya bayangin sendiri aja, ya. 😂. Yuk like dan vote. Makasiihh


__ADS_2