
Setelah cukup lama mengobrol dengan Dona, akhirnya aku mau diajak makan siang dengannya. Meski perut ini sama sekali tak merasakan lapar. Aku melihat Pak Joni tengah mengobrol dengan security di luar pos keamanan. Mungkin ia cukup bosan menungguku.
"Pak. Nanti saya akan lembur. Kalau Pak Joni mau pulang, saya tidak melarang," kataku saat tiba di dekat Pak Joni.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya tungguin saja. Kemarin saya dimarahi sama Bapak karena Ibu menyuruh saya pulang. Sampai rumah saya diomeli."
Lagi-lagi hal tak terduga dilakukan oleh Rey.
"Tapi, saya akan pulang malam, Pak."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan menunggu saja."
"Baiklah kalau begitu."
Aku dan Dona berlalu untuk segera mengisi ulang perut.
Hatiku semakin kalut mendengar penuturan Pak Joni. Ia sama sekali tak bersalah, tapi ia juga terkena omelan Rey. Hingga kini, tak ada pesan ataupun chat darinya. Entah apa yang dia pikirkan sebenarnya.
"Pak Rian tumben, ya, nggak bareng kita. Biasanya dia pasti muncul kalo kita dah mulai makan."
"Mungkin dia merasa tak enak denganku, Don. Tadi, dia minta maaf. Jelas aja bukan salah dia."
"Salah suami kamu tuh. Dia jalan sama perempuan lain gak mau disalahin. Giliran kamu sama Pak Rian, dimarahin sampai segitunya. Idih."
"Mungkin Rey salah paham aja sama aku, Don."
Rasanya, tak ada guna kata rindu yang pernah Rey ucapkan. Bentakan dan teriakannya seakan mengubur kenangan indah yang mulai ia tampakkan. Senyum itu berubah seketika menjadi kemarahan. Entah bagaimana selanjutnya aku akan menjalani kehidupan ini.
Setelah acara makan-makan selesai, aku dan Dona kembali ke kantor. Dua bungkus nasi aku bawa serta. Untuk Pak Joni dan Pak Beni.
Selangkah sebelum aku menyeberang jalan, tiba-tiba saja ada sebuah tangan menepuk bahuku. Aku menoleh ke samping untuk memastikan itu siapa.
"Hai, Alma," sapa dia.
Vina memandangku seperti biasa. Pandangan meremehkan dengan gaya bicaranya yang centil. Ia juga sengaja memainkan jari-jarinya seakan memberitahuku sesuatu.
"Kamu tambah sehat aja sepertinya, ya." Ia juga melihat tubuhku yang mengalami kenaikan berat badan.
"Ya, iyalah. Emang kamu, tulang berjalan," cibir Dona.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanyaku datar.
"Untuk beli makan siang buat calon suami aku. Oh, ya. Ini cincin aku bagus, kan? Calon suami aku yang belikan. Kalau aku menikah, kamu gak usah dateng deh, ya. Soalnya, postur tubuh kamu itu. Kurang mengenakkan untuk dipandang."
__ADS_1
Aku hanya memandangnya dengan mulut menganga. Seperti tak percaya wanita ini berkata sedemikian kasar.
"Permisi. Model catwalk mau lewat." Ia juga menggeser lengan kiriku dengan tangan kanannya. Lengan Dona dengan tangan kirinya. Lalu, lewat begitu saja di tengah-tengah kami. Tak lupa dengan membuang rambutnya ke belakang bahunya.
Dona tampak kesal dengan tingkah Vina. Hampir saja tangannya sampai kepada rambut bergelombang itu. Hanya saja, aku segera meraih tangannya agar masalah tak menjadi runyam.
"Sabar."
"Al. Kamu sabar banget sih, sama perempuan kaya Vina gitu. Kalo aku udah aku jambak-jambak tu rambut sekalian ama mulutnya."
"Biarin aja. Dia itu sengaja buat aku kesel."
"Udah gitu. Ih, kenapa gak biarin aku jambak rambutnya, sih. Kesel banget sumpah."
"Don. Ingat, kita ini lagi kerja. Kita ini cuma karyawan. Dia jelas jauh lebih tinggi dari kita. Kalau ada apa-apa, jelas kita yang akan masuk bui. Bukan dia. Ya, walaupun kita sebenarnya gak salah."
"Iya, bener kamu, Al. Jaman sekarang uang adalah segala-galanya. Coba kamu ajarin aku supaya aku sabar kaya kamu, Al. Aku orangnya emosian. Kamu sabar banget udah tau si Vina itu mulutnya tajem."
"Iya. Aku dibesarkan oleh orang tua yang sabar, Don. Ayah dan Ibu nyaris tak pernah ribut di rumah. Mereka cuma bercanda atau paling parah, ya, hanya berbeda pendapat. Aku anak satu-satunya. Otomatis, kasih sayang seutuhnya buatku."
"Enak, ya. Aku empat saudara. Kakak pertama setelah lulus SMA, kerja membantu adik-adik. Orang tua tegas dan disiplin. Jadi, semenjak aku menikah, aku masih disiplin tinggi. Tapi, karena suami aku santai, kaya kebanyakan orang. Jadilah aku juga santai banget."
Aku tersenyum tipis.
"Dari kecil aku selalu dimanja. Tak pernah Ibuku emosi atau memarahiku. Ketika aku bandel, baru dipelototi saja aku sudah nangis."
Aku menggeleng. Aku merasa diri ini pantas dikasihani. Melihatku saat ini, mungkin Ibu tidak akan tega. Aku tak tau dia masih akan membela Rey atau tidak.
Setelah memberi dua bungkus nasi kepada dua orang lelaki yang hampir tertidur, aku dan Dona lantas berjalan kembali ke kantor. Lemas sekali rasanya diri ini. Padahal, satu porsi nasi padang aku lahap habis.
Aku mengambil ponsel dari dalam tasku.
"Kamu mau telepon siapa, Al?"
"Ibu aku. Rasanya aku gak kuat lagi mau cerita sama dia." Akan aku terima apapun komentar Ibu. Aku akan bicara sejujur-jujurnya. Walaupun nanti aku pasti juga akan terkena omelannya karena ketahuan keluar dengan Rian.
"Halo Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Tumben telepon Ibu," kata Ibu diseberang telepon.
"Iya. Alma mau cerita sama Ibu."
"Cerita apa? Kamu ada masalah dengan Reyhan?"
__ADS_1
"Iya." Aku mulai terisak.
"Masalah apa?"
Aku menceritakan sedari awal aku mulai bermasalah dengannya. Sampai terakhir kali Rey memarahiku di depan umum.
"Itu kalian berdua yang salah." Aku jelas terkejut dengan ucapan Ibu.
"Reyhan juga salah. Dia udah nikah, kenapa dia jalan berdua dengan perempuan lain. Kamu juga sama. Udah nikah malah jalan sama laki-laki lain. Kamu malu-maluin, Alma."
"Tapi, Alma gak enak, Bu. Dia kan, atasan Alma. Lagian cuma milihin hadiah aja gak lebih."
"Sama saja!" Ibu mulai berteriak.
"Kalian itu pergi cuma berdua. Di mobil juga berdua. Bukan muhrim, Alma."
Aku terdiam sejenak. Ibu benar. Semua yang Ibu bilang adalah benar. Jadi, solusinya mungkin aku terlebih dulu yang melepas pekerjaan ini. Siapa tahu, Rey juga bisa membuang wanita itu.
"Ibu, bisa marahin Rey juga?"
"Bisa. Besok Ibu dan Ayah akan ke sana. Kalian itu menikah belum lama. Jangan sampai ada apa-apa cuma gara-gara kalian sama-sama egois."
Aku mengangguk mengerti.
"Ngerti, Alma?"
"Iya, Bu."
"Oke. Ibu mau keluar dulu ke warung. Ayah minta kopi. Kopinya habis."
"Bu."
"Apa."
"Makasih, ya."
"Iya."
"Besok Alma akan transfer uang ke rekening Ibu."
"Jangan sedikit, yang banyak. Ibu sama Ayah lagi bokek."
Aku tersenyum mendengar kata-kata Ibu. Dari dulu ia selalu ceplas-ceplos. Berbicara apa adanya bila denganku dan Ayah. Sedikit pembicaraan kami siang ini, bisa mengobati sakit di hatiku. Bebanku juga terasa jauh berkurang.
__ADS_1
Bersambung...
Hai readers. Like dan vote banyak-banyak yuk. Dukung selalu MHIC yaa. Makasih.. 😊