My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Keterpaksaan


__ADS_3

Setelah beberapa hari aku terus meyakinkan Rey, akhirnya ia mengizinkanku bekerja. Tentu saja diikuti dengan perintah dari Papa. Papa memberi syarat agar aku menjaga selalu kesehatan, makan makanan bergizi, dan rajin meminum vitamin.


Tentu aku menyetujuinya, karena aku ingin segera menambah pengalaman dan teman baru.


[Assalamualaikum] Aku mengirim pesan kepada Dara.


[Waalaikumsalam. Ada apa, nih. Sudah dapat lampu hujaukah atau lampu merah?]


Temanku satu ini memang bisa menebak isi hatiku meski ia di kejauhan sana.


[Alhamdulillah, hijau]


[Mau segera dikenalkan dengan bosku?]


[Boleh]


Sebenarnya Papa merekomendasikanku di kantor Rey bahkan di kantor cabang bila memang di kantor pusat sudah penuh, tapi, aku sudah terlanjur membuat janji dengan Dara. Tak enak juga harus membatalkannya.


Lagipula, aku tak ingin sekantor dengan Rey. Siapa tau saja, dengan kami berpisah seharian, ia bisa merasakan rindu terhadapku. Namun, bila memang tidak, aku juga tak bisa memaksakannya karena aku tau keadaannya hatinya terhadapku.


**


Siang ini, setelah seminggu pasca aku masuk klinik karena maag yang kambuh, Dara memperkenalkan bosnya di sebuah cafe. Di sela-sela kesibukannya, ia masih meluangkan waktu untuk keluar dan menemuiku.


"Hai, Assalamualaikim," sapa Dara sambil menggendong buah hatinya yang masih balita.


"Waalaikumsalam." Aku memberikan senyum termanis dengan pandangan mata yang memacu kepada anak mungil di gendongannya.


Sangking gemasnya, pipi bayi mungil itu seperti ingin aku remas-remas.


"Belum datang, ya?" tanya Dara sembari duduk di kursi tepat di sebelahku.


Aku melirik keadaan sekitar.


"Belum. Em, Ra. Biar aku pesenin, ya."


"Oke."


Seorang pelayan datang ke meja kami dan memberikan buku menu. Aku memesan beberapa makanan ringan dan minuman.


"Kantor tempat kamu kerja dulu besar, ya, Ra?"


"Lumayan. Belum bercabang sih. Nggak kaya kantor Papa mertua kamu," sahutnya sambil tersenyum menggoda.


Aku membalas senyumannya.


"Iya itu, kan, punya Papa mertua."


"Kamu kenapa nggak kerja di kantor Rey. Bukannya kantor dia besar?"


"Sebenarnya aku bingung, Ra. Aku mau aja kerja bareng dia, tapi, rekan bisnisnya itu mantan pacarnya dulu."

__ADS_1


"Haaah?" kata Dara terkejut.


Aku melihat kedua tangan yang bergulat. Menggambarkan perasaan yang kini sedang kurasa. Sontak, mata ini memanas kala ingat perkataan wanita cantik berkulit putih itu.


"Kok kamu biarin dia jadi rekan? Kalo kamu kerja bareng Rey, kamu bisa ngawasin mereka, Ma."


Aku diam sejenak. Memang benar apa kata Dara. Namun, alasan yang sebenarnya tak bisa aku katakan. Aib rumah tangga kami, hanya kami berdua, dan Allah saja yang tau.


"Nggak papa. Aku percaya kok sama Rey. Toh dia, kan, udah dewasa. Dia menyadari kalau dia udah berumah tangga." Aku tersenyum kecut. Menahan sakit di dada.


Aku hanya ingin mengatakan aku baik-baik saja, meski setiap waktu rasa cemas sering melanda. Aku juga tak bisa sering menghubungi Rey walau sekedar bertanya sedang apa. Toh aku bukan anak remaja yang selalu memberi tahu kapan waktu makan tiba.


Aku menarik nafas cukup dalam untuk mengontrol emosi ini. Jangan sampai aku menangis di tempat umum.


"Hai," sapa seorang lelaki kepada kami.


Kelopak mata ini melebar seketika saat aku menatap wajah itu. Reflek saja, aku menunjuk dia. Ingin berkata-kata, namun lidahku kelu seketika.


Dia tersenyum manis lebar sekali. Aku tak pernah melupakan senyuman itu. Dia adalah Rian.


"Halo, Pak. Udah lama, nih nggak ketemu," kata Dara.


Kini mataku bergeser ke arah Dara. Diikuti jari telunjuk yang mengarah ke sahabatku itu.


"Perkenalkan saya Rian dari perusahaan tekstil."


Rasa sedih dan miris bercampur menjadi satu.


"Ngaaaaaa..."


Anak Dara menangis saat Rian baru saja duduk. Membuat seisi cafe melihatnya. Dara berdiri dan mencoba menengkannya. Ia lantas berjalan menjauh agar suara tangis anaknya tak membuat polusi suara di dalam sini.


"Padahal tadi diem aja," kataku sambil merilik Rian.


Aku ingin membuat kesan buruk padanya. Gila saja bila aku bekerja dengannya. Akan semakin hancur saja nanti hidupku ini.


"Kamu yang direkomendasikan Dara untuk bekerja di kantor saya?"


"Hemm, ya." Aku menjawab santai sambil memperhatikan kuku tangan.


Entah kenapa, penilaian pertamaku soal lelaki dihadapanku ini amat buruk sejak pertama kali bertemu.


"Kamu bawa ijazah terakhir?" tanya dia santai.


Aku memberikan ijazahku pada lelaki ini. Sempat terkejut dia memandanginya dengan saksama.


"Kenapa tidak meneruskan ke jenjang sarjana?"


"Males," jawabku santai.


Aku memang merasa tak enak hati pada Dara, tapi bukan berarti dengan lelaki ini juga.

__ADS_1


"Kamu pernah bekerja sebelumnya?"


"Nggak."


"Bukannya kamu pernah kerja di mini market, Ma?" tanya Dara yang masuk kembali ke cafe.


Niat hati ingin berbohong, tapi gagal.


"Ya, sebentar."


"Oke, lusa kamu sudah bisa bekerja di kantor saya. Selamat."


Mulut menganga dengan ekspresi tak percaya. Bayangan ini berharap kalau aku ditolak, tapi ternyata tidak. Dara merasa bahagia pula. Aku cukup bingung harus berkata apa.


Lelaki itu langsung pergi ketika pelayan belum lama menyajikan pasanan kami.


"Ma, kenapa sedih? Bukannya seneng keterima kerja."


Betul juga. Di luar sana, banyak pelamar yang bersusah payah melamar pekerjaan. Sampai harus mengantri berjam-jam. Lowongan sedikit tetap mereka coba. Sikap ini, mungkin sama sekali tak menghargai mereka sebagai pemburu pekerjaan.


"Iya, aku seneng, Ra," sahutku dengan lemas. Tentu saja, Dara tak percaya melihat tingkahku.


"Yuk ah makan. Daripada manyun aja. Laper kali kamu," kata Dara sembari mengambil segelas jus dan menyeruputnya.


Aku terasa kenyang seketika. Kenapa hidupku begini? Terlalu miris rasanya. Sejenak aku melihat Dara yang sedang menyuapkan anaknya jus sedikit demi sedikit dengan sedotan. Bahagia rasanya menjadi Dara. Meski dia hidup sederhana, tapi, tak kekurangan kasih sayang.


Kami menikmati makanan ini walau aku sedikit tak bersemangat.


"Makasih, ya, Ma. Kamu udah traktir aku."


"Iya sama-sama, aku juga makasih udah dicariin kerjaan sama kamu."


"Aku pulang dulu, ya."


Kami bersalaman dan mencium pipi kanan dan kiri sebagai tanda keakraban.


Dara melambaikan tangan saat dia menaiiki ojol yang sengaja aku pasan. Tinggallah aku sendiri di depan cafe. Menunggu taksi online langganan. Seperti biasa, mungkin dia masih berputar-putar mencari keberadaanku.


Tiiinnn... Kalson mobil mengejutkanku. Membuat kedua pundak ini terangkat cepat dibuatnya.


Aku membuka pintu belakang mobil dan masuk.


"Lama, ya, Mbak?"


"Udah biasa kok telat, Mas."


"Hehe." Dia nyengir kuda.


Mata ini masih mengingat senyum itu. Lelaki yang menyebutku manis. Sejenak kepala kugelengkan dan mata berkedip cepat untuk menyadarkan hayalan ini. Masih berandai-andai bila saja Rey yang mengatakan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2