
Tak terasa, enam hari telah berlalu.
Tanganku bergetar saat memegang surat izin yang ditujukkan kepada wali yang tengah kupegang. Kurang lebih sudah sepuluh kali aku membaca isinya. Hampir kuhafal setiap kalimat bahkan kata-kata di dalamnya. Apalagi setelah mendengar mobil Rey masuk ke garasi. Rasanya lutut ini lemas tak bertulang.
Kertas yang kupegang bahkan sudah sedikit kusut karena terlalu sering mampir di tanganku. Detak jantung ini naik tat kala mendengar Rey mengetuk pintu. Aku segera berlari ke depan dan membukakan pintu untuknya. Kertas itu sementara aku taruh di ranjang kamarku.
"Sudah pulang, Rey?"
"Hem." Ia meregangkan dasi sambil berjalan masuk ke kamar miliknya.
Aku mengikuinya dari belakang sambil meletakkan tas kerja yang aku bawa dari depan.
"Mau kopi, Rey?" tanyaku basa basi.
"Boleh. Gulanya sedikit saja."
Tanpa memberi jawaban, aku berjalan ke arah dapur dan menyiapkan kopi. Biasanya Rey selalu membuat kopi sendiri. Aku pernah memergokinya membuat kopi tengah malam pada saat ia lembur menyelesaikan tugas kantor.
Ketika aku bertanya kenapa tak menyuruhku? Ia hanya menjawab aku tak tau seleranya. Benar saja ketika kucoba membuat kopi untuknya, Rey hanya minum sedikit saja. Karena terlalu manis.
Kopi sudah selesai kuseduh. Aku berjalan perlahan ke depan. Kebetulan Rey kini ada di ruang tengah. Tivi sudah menyala cukup lama. Cangkir itu bergetar seiring getaran di tanganku yang tak kunjung hilang.
"Rey. Mau aku pijitin?"
"Boleh."
"Tapi, ada syaratnya, ya."
Rey melihatku.
"Mau lagi?"
"Bukan itu." Aku bergegas berlari ke arah kamar dan mengambil secarik kertas yang cukup kusut ini.
Dengan rasa cemas dan takut, akhirnya aku memberikan kertas itu kepada Rey. Mata sengaja kututup sebelah. Takut melihat ekspresi Rey saat ia selesai membaca.
"Ha." Rey membuang nafas cukup panjang. Ia lalu menyeruput kopi yang masih cukup panas perlahan, lalu meletakkan kertas itu di atas meja.
Rey kini kembali memandang layar tivi sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Gimana, Rey?"
"Terserah."
"Itu kan, minta tanda tanganmu, Rey."
"Mana penanya."
Untung saja, aku juga membawa pena. Berjaga-jaga apabila aku menang berdebat, terpaksa Rey menuruti kemauanku.
"Ini."
Rey menandatangani surat itu dengan yakin tanpa berkata apapun.
"Jadi, boleh, Rey?" tanyaku heran.
"Sudah kubilang terserah. Toh kalau aku melarangmu, tetap kamu akan pergi juga."
Rey memandangku yang masih berdiri tepat di sebelahnya. Sungguh di luar dugaan. Aku merasa gemetar takut apabila ia tak mengizinkan. Ternyata hanya butuh waktu beberapa menit untuk mendapatkan tanda tangannya.
"Kamu tidak cemas denganku Rey?" Aku justru yang merasa tidak enak hati dengannya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku tak khawatir kamu pergi dengan Rian. Duda kaya dan keren itu."
"Tapi, kan, rame-rame." Aku mencoba meyakinkannya agar ia tak lagi merasa cemas.
Dada suamiku terlihat bergerak tanda bahwa ia sedang menarik nafas.
"Kamu sudah dewasa. Aku ingin memberimu kepercayaan. Tentunya kamu juga tau mana yang baik dan mana yang tidak baik. Itu pun kalau kamu benar-benar menginginkanku."
Untuk beberapa menit sekarang, aku terhanyut oleh perkataan Rey. Ya, benar. Aku sudah dewasa, sudah sepantasnya aku bisa menunjukkan kepada Rey, bahwa aku adalah orang yang bertanggung jawab. Meski tanda tangan ini adalah bukti bahwa ia setuju, tetapi sejatinya, Rey ingin melihat seberapa bertanggung jawabnya aku ini.
Beban yang kupikul kini cukuplah berat. Aku harus menjaga kepercayaan yang diberikan suami.
Tiada rasa bahagia sebenarnya. Apa mungkin semua yang kulakuakan ini adalah sebuah kesalahan?
"Makasih, Rey. Kamu udah izinin aku pergi. Sebisa mungkin aku jaga kepercayaanmu."
Rey menepuk sofa di sebelahnya memberi tanda agar aku duduk di sana.
"Katanya mau pijitin?"
"Hem, iya."
"Tapi, sebelum kamu pergi, aku minta hakku dulu, ya."
Aku menusuk telunjukku di perut bagian samping Rey hingga membuatnya terkejut.
"Kenapa harus izin dulu?" Kami lantas tertawa bersama.
Tak berselang lama, aku dan Rey berjalan ke kamarku dan mengunci pintu.
**
Pukul empat pagi aku sudah terbangun. Beberapa pakaian sudah kumasukkan ke dalam koper kecil. Tak lupa beberapa perlengkapan kantor. Juga ada perlengkapan mandi dan makanan kecil.
"Kamu sibuk banget?" tanya Rey. Ia masih sedikit terpejam sambil memeluk bantal guling.
"Iya. Kalau tidak disipkan dari sekarang, nanti ada yang lupa."
"Berangkat jam berapa?"
"Jam sembilan."
Tepat saat aku selesai menyiapkan beberapa peralatan, azan subuh pun berkumandang. Aku segera mengambil air wudhu dan dan melaksanakan dua rakaat. Karena setelah aku terbangun aku langsung mandi terlebih dulu.
"Rey. Bangun. Mandi terus salat." Aku menepuk pipi mulusnya perlahan.
Mata indah itu bergerak sedikit diiringi kerutan di keningnya.
"Bangun, Rey."
Karena merasa diacuhkan, aku bangkit dari ranjang hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tiba-tiba saja tanganku ditarik cukup keras hingga aku terjatuh di atas tubuh suamiku.
"Bangun. Matahari udah mau kelihatan tuh."
Rey hanya tersenyum sedikit. Melihat kejadian langka ini, aku benar-benar merasa bahagia. Ditambah aku melihatnya dari jarak yang sangat dekat. Karena merasa gemas, aku lantas mencium Rey berulang kali hingga ia merasa terganggu.
"Bangun." Tanganku merogoh masuk ke dalam selimut dan menggelitiki perutnya. Rey yang merasa geram, akhirnya bangun. Tapi, ia dama sekali tak marah dengan tingkahku.
**
Tin... Tin...
__ADS_1
Sudah berulang kali klakson mobil Rey berbunyi. Hal ini menyebabkanku srmakin gugup saja. Entah apa yang aku lakukan sehingga aku masih kalah cepat dengannya. Meski aku sudah bangun terlebih dulu dibandingkan dirinya.
Aku berlari dengan tas selepang kecil yang menggantung di bahu kananku. Segera aku masuk ke dalam mobil sebelum Rey tancap gas dan meninggalkanku. Ya, meski belum pernah ia lakukan.
"Maaf, ya. Aku udah tiga kali bolak balik ke toilet karena gerogi."
"Kaya mau pentas aja gerogi."
"Iya soalnya aku belum pernah pergi sendiri. Biasanya pasti sama Ibu atau sama Ayah."
Rey tersenyum tipis.
"Kamu bener-bener anak mama."
"Anak Ibu."
"Iya maksudnya kalau kemana-mana sama orang tua."
Aku tersenyum memandang Rey.
"Iyalah. Aku kan, anak rumahan. Nggak salah kamu nikahin aku Rey. Masih segelan tau."
"Sangking rumahannya, dari lulus SMA nggak pernah punya pacar."
Aku ternganga dan refleks tanganku memukuli Rey yang tengah menyetir.
"Eh. Sakit juga tangan kamu."
"Iya bagus dong gak pacaran langsung nikah. Emangnya anak milenial zaman now, kroco-kroco udah pada pacaran. Panggilan mama papa, ayah bunda. Iyuh, jadi mual. Kita aja yang udah nikah aku kamu. Panggil nama."
"Kamu memang nggak romantis." Aku menoleh dan melihat Rey dari jarak yang cukup dekat.
"Jadi, kamu pikir kamu romantis, Rey? Di mana-mana yang lebih dulu romantis itu cowok. Bukan cewek. Banyakin nonton drama asia biar paham."
"Buat apa? Buang-buang waktu."
"Ya, buat nambah pengalaman."
Siiiittt...
Tak terasa mobil sudah sampai di depan gerbang kantor. Aku yang tadinya cukup cerewet, kembali terdiam saat wajah Rey seiring berubah menjadi cukup serius. Ditambah saat mobil Rian melewati kami. Suasana dalam mobil semakin tegang saja.
"Ayo turun," ajak Rey. Ia lantas turun terlebih dulu, lalu disusul denganku.
Rey langsung membuka bagasi mobil di mana koperku berada. Ia tarik gagang koper dan menyeretnya di tanah. Rey juga menarik tanganku dan kami pun berjalan memasuki gerbang.
"Hati-hati, ya." Terenyuh kembali hati ini. Air mataku nyaris jatuh. Untung saja Rey langsung mendekat dan mencium keningku. Membuat rasa tak karuan di hati ini menjadi sedikit tenang.
Aku baru menyadari bila ada orang di halaman parkir yang berteriak saat Rey mencium keningku. Saat aku menoleh, mereka semua ternyata teman kantor dan juga Rian ada di sana.
Aku melihat Rey yang juga tengah melirik Rian sambil berjalan kembali ke mobilnya. Sepertinya setengah sengaja ia melakukan ini. Namun, tak apa. Suasana hatiku menjadi lebih tenang sekarang.
Aku berjalan ke arah teman-teman kantor yang sudah berkumpul. Juga ada bus yang sudah terparkir di sana. Dona menyambutku dengan antusias.
"Alma, itu suami kamu, ya?"
"Iyalah. Masa iya supir main cium-cium aja." Aku tersenyum.
"So sweet. Cakep bener kalo dilihat langsung."
Tak lama kami mengobrol, bus pun berangkat. Riang hati gembira mewarnai perjalanan kami. Kami bernyanyi, bersuka ria, tertawa bersama-sama di dalam bus.
__ADS_1
Bersambung...