My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Aku tengah duduk memakai bedak di depan cermin pagi ini. Menyapu ringan spon ke wajah. Setelah selesai, kemudian aku memakai lip mouse berwarna nude. Hijab berwarna merah marun telah selesai aku pakai.


"Kamu mau kemana?" tanya Rey yang masih berbaring dibalik selimut.


"Aku akan ke kantor. Menyerahkan surat pengunduran diri."


"Apa aku perlu mengantarmu?"


"Tidak usah. Tapi, sebagai gantinya. Bisakah kamu putuskan kerja sama dengan Vina?"


Sebenarnya permintaanku ini sedikit sulit. Diingat Vina adalah rekan bisnis yang cukup penting untuk perusahaan Rey. Kalau ia tak menyetujui permintaanku, entah aku akan berbuat apa setelah ini.


"Hanya itu?"


Aku mengerutkan dahi dan menoleh. Melihat Rey dengan sedikit aneh.


"Hanya itu?"


"Hem. Sebenarnya aku bisa kapan aja ngelakuin itu. Karena aku pikir, Vina sudah merelakanku menikah dengan orang lain, ternyata, aku salah. Ia berulah."


Tak kusangka, ternyata semudah ini menyuruh Rey memutuskan hubungan pekerjaan dengan Vina. Mungkin, inilah hikmah dibalik kejadian ini.


**


Aku memandang keluar jendela mobil sambil memegang amplop berisi surat mengunduran diri. Tak bisa kubayangkan Rian setelah mengetahui ini. Kemarin, aku berkata padanya akan berpisah dengan Rey. Kini, aku justru kembali bersama Rey. Apa katanya nanti? Ia masti akan mengolok-olokku.


"Pak Jon, tunggu sebentar. Saya gak lama, kok."


"Siap, Bu."


Pintu kubuka dengan yakin. Meski sedikit gemetaran, aku tetap harus melakukan ini.


"Alma," sapa Dona. Ah, terpaksa aku harus melewati karyawan yang lain untuk bisa masuk ke ruangan Rian.


"Gimana, Al. Kamu udah gak marahan sama suami kamu, kan."


Aku tersenyum. "Enggak, kok."


"Cie, udah maafan."


"Lebaran kali, ah." Ia menyenggol lenganku dengan lengannya.


"Kamu masih kerja di sini, kan?" tanya Dona.


Pertanyaan itu berhasil membuat wajahku berubah seketika. Aku masih diam dan berfikir. Bagaimana aku akan menjelaskan ini kepada Dona.


"Enggak." Aku tersenyum dengan terpaksa.


"Aku mau jadi ibu rumah tangga yang baik aja, Don."


"Iya. Gak papa. Mungkin dengan keputusanmu ini, bisa membuat kalian lebih bahagia."


"Aamiin. Oh, ya. Rian ada di ruangannya gak?"


"Ada. Barusan aku dari sana."

__ADS_1


Aku melirik pintu sejenak. Pintu yang menghubungkan langsung ke ruangan Rian. Kutarik napas sejenak, lalu menghembuskannya. Aku berjalan perlahan sambil melihat ke sudut ruangan ini. Ketika tepat berada di depan milik meja kerjaku dulu, aku berhenti. Mengingat kenangan yang kulukis beberapa waktu yang lalu.


Bahkan kenangan kejutan yang terjadi di kantor ini, masih sangat terasa. Setelah sekian menit bernostalgia, aku akhirnya masuk ke ruangan Rian.


"Permisi, Pak."


Kursi besar nan tinggi itu berputar menghadapku saat aku menyapa.


"Alma. Silakan masuk."


Deg. Deg. Deg.


Jantung ini bahkan seperti bedug yang di pukul kala azan akan berkumandang.


"Bagaimana? Apa kamu bisa kembali bekerja?" Pertanyaan pertama membuatku menarik napas cukup dalam.


"Tidak, Pak." Bibir ini menjadi korban ketidak percayaan diriku. Gigitannya cukup kerasa saat ini.


Rian tersenyum tipis. "Jadi, kamu akan resign?"


Aku mengangguk pelan. "Iya, Pak."


Rian tampak membuka laci di meja sebelah samping yang tak jauh dari jangkauannya. Ia lantas memberikan amplop coklat kepadaku. Kini aku merogoh tas dan mengambil amplop berisi surat pengunduran diri.


"Ini, gaji terakhir kamu."


"Maaf, Pak," ucapku lirih.


"Maaf kenapa?"


Aku memandang Rian. Raut wajahnya kini sangat santai. Sangat berbeda denganku.


"Alma. Lain kali, kamu harus tanyakan dulu permasalahannya. Kamu bicarakan baik-baik. Bukan kabur seperti itu."


Malu. Kata itulah yang kini aku rasakan. Wajahku memanas saat ini. Seperti setrika yang siap untuk digunakan.


"Iya, Pak."


"Saya mendoakan kamu agar kamu selalu bahagia."


Baik sekali. Sungguh tega diriku ini yang telah memberi harapan kepada orang yang benar-benar baik seperti dia.


"Terima kasih, Pak," ujarku dengan suara bergetar.


"Ambil ini. Aku membayar gaji bulan ini secara penuh."


Semoga Allah memberimu jodoh yang baik pula, Rian.


Aku mengambil amplop coklat itu dan berjalan keluar. Sudah menetes beberapa air dari pelupuk mata ini. Aku memang sangat cengeng dalam hal seperti ini.


Kesibukan rekan-rekan yang lain, membuatku terfokus kepada mereka. Setelah ini, aku tak bisa lagi bekerja, tertawa dan bercanda lagi bersama mereka. Mungkin aku akan merindukan saat-saat kesibukan mengerjakan tumpukan kertas.


"Ini, Don." Aku memberikan beberapa uang pecahan seratus ribu untuknya."


"Uang apa ini?"

__ADS_1


"Gajiku bulan ini. Aku akan memberimu sedikit. Kebutuhanmu cukup banyak. Jadi, aku pikir ini bisa meringankan sedikit."


Dona tampak sumringah menerima uang dariku.


"Makasih, ya, Al. Lumayan banget buat bayar listrik dan lain-lain. Kamu tahu aja aku lagi bokek."


"Iya, sama-sama."


Rasa bahagia karena bisa membantu sesama itu terpancar. Meski yang kita beri itu tak terlalu banyak, setidaknya bisa membuat orang lain tersenyum sudah merupakan kebahagian tersendiri.


"Aku pulang, ya. Maafin aku kalau selama ini aku banyak salah sama kamu, ya, Don." Aku mencium kedua pipi Dona.


Tak disangka, rekan kerja yang lain mendengarkan kami berbincang-bincang, turut berbicara.


"Alma resign?" tanya Suci.


"Iya."


"Yah, kenapa? Gak betah di sini, ya?"


Aku tersenyum melihatnya yang mulai berjalan ke arahku.


"Enggak, kok."


Suci pun ikut bersalaman dan mencium pipi. Mengucapkan permintaan maaf, begitu juga denganku. Suasana menjadi sedih seketika. Karena tak ingin berlama-lama di sini, akhirnya aku memutuskan pulang.


Meski hanya beberapa bulan di sini, aku merasakan kekeluargaan yang hangat. Bertemu dengan rekan kerja yang begitu baik. Tak ada alasan untuk tidak betah bekerja di sini sebenarnya. Apalagi selalu bertatap muka dengan duda keren dan baik itu. Semoga saja, ada gadis yang bisa mengobati hati dan bersedia mengisi kekosongan relung hatinya.


Aku berbalik badan dan menatap gedung yang menjulang tinggi dari halaman. Menatap di setiap jendela. Aku berharap, Rian sekarang sedang melihatku. Lelaki itu benar-benar memiliki hati yang besar.


"Jalan, Pak," titahku saat memasuki mobil.


"Kita langsung pulang, Bu?" tanya Pak Joni sambil melihatku dari pantulan kaca di atas kemudi.


"Kita beli jus jeruk dulu, Pak."


"Baik, Bu."


Rasa senang masih menyelimuti hati. Senyuman ini, tak henti-hentinya muncul saat ingat hal-hal aneh yang Rey lakukan bahkan di luar dugaanku. Aku tak pernah mengira, dia bisa mencuri fotoku dalam beberapa kesempatan. Dia memang sengaja mengunci ponsel dengan wajahnya agar aku tak bisa melihat isi ponselnya sedikit pun. Terkadang, dia itu gampang membuat orang merasa curiga.


Drrrttt. Drrrttt.


Ponselku bergetar. Tertera nama suamiku di sana. Aku segera angkat telepon darinya.


"Assalamualaikum, suamiku."


"Waalaikumsalam. Kamu di mana?"


"Lagi di jalan. Kenapa?"


"Bisa kita makan siang bersama?"


Aku tersenyum. "Baiklah. Aku jalan ke sana."


Niat hati ingin pulang, tapi suami tersayang menelepon. Tak apalah, bagus juga kalau aku mkan siang bersamanya.

__ADS_1


Bersambung...


Yuk like dan vote. Ajak teman lainnya baca novel ini ya.. 😊😊


__ADS_2