
Saat aku pastikan Rey sudah tak terlihat batang hidungnya, aku segera menghubungi Dara. Rasanya kebosanan ini benar-benar sudah tak bisa dibendung. Aku masih saja berfikir tentang Rey. Bagaimana keadaannya di kantor. Kalau dia terus menerus dekat dengan Vina, bukan tidak mungkin ia akan jatuh cinta dengan gadis yang pernah ada di hati Rey.
[Bisa kita ketemu?] isi pesan yang ku kirim kepada Dara.
[Bisa. Kamu ke sini aja, ya] balas Dara cepat.
Setelah itu, ia mengirimkan alamat rumahnya kepadaku. Sembari memakai baju, aku memesan taksi online yang akan mengantarku ke rumah Dara.
Aku berdiri di depan pagar garasi sambil melirik arloji di tangan. Sesekali melihat ke arah jalan. Sudah cukup siang dan matahari juga sudah lumayan tinggi. Mungkin taksi online yang kupesan sedang terkena macet.
Beberapa puluh menit kemudian, taksi itu muncul. Sopir itu langsung membuka kaca depan.
"Maaf, Mbak. Macet."
Aku hanya tersenyum sedikit lalu masuk ke dalam mobil.
"Maaf, ya, Mbak. Jalanan macet. Padet banget," katanya masih membela diri.
"Iya, Mas. Nggak papa. Kota besar emang setiap hari macet, kan," jawabku segera agar dia bisa berhenti berbicara.
Mobil meluncur ke tempat tujuan. Aku masih membuka ponsel dan menonton drakor favorit. Kata sopir taksi ini, alamat yang kutuju lumayan jauh. Sekitar 45 menit. Untuk mengusir bosan, menonton drakor adalah pilihanku.
Mobil pun masuk ke dalam sebuah gang. Rupanya alamat yang dituju sudah dekat. Gang di sini lumayan berisik. Terdengar suara anak-anak di mana-mana. Lalu, sedang asiknya melamun, mobil pun berhenti.
Seorang wanita berhijab hitam yang menutupi setengah lengannya terlihat sedang menjemur pakaian bayi di depan rumah. Pandangan kami bertemu saat selesai menaruh celana bayi di hanger pakaian bayi berwarna merah.
Raut wajahnya berubah saat melihatku turun dari mobil.
"Alma," sapanya.
Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ia membuka pintu pagar dan kami pun bersalaman.
Dara memegang lenganku. Dari raut wajahnya ia cukup bahagia karena kedatanganku.
"Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Kamu tambah cantik, deh," puji Dara.
__ADS_1
"Iya cantik gara-gara polesan make up, ya." Kami sama-sama tertawa.
"Ayo masuk rumahku. Maaf, ya, rumah ku kecil. Tapi, aku bersyukur suami bisa kerja dan beli rumah ini," ujarnya sambil membawaku masuk.
"Iya. Nggak papa. Yang penting layak huni, kan."
Saat aku melangkah masuk alangkah terkejutnya aku, rumah Dara cukup berantakan. Ada mainan anak-anak di mana-mana. Bedak bayi yang bertaburan. Dara terlihat mengambil keranjang dan membereskannya dengan cepat.
"Maaf, ya, berantakan. Aku belum sempet beberes. Anak aku yang kecil suka nangis kalau emaknya sebentar nggak keliatan ama dia," tuturnya yang fokus dengan segala macam bentuk mainan.
"Iya. Terus anak kamu mana?" tanyaku sambil melihat-lihat.
"Dia lagi tidur. Tadi abis mandi terus makan, terus tidur."
Aku duduk di sofa berwarna coklat di ruang tamu. Sementara Dara masih sibuk dengan menyapu bekas bedak bayi yang tercecer di lantai.
"Ehh, gimana-gimana. Katanya kamu nikah sama Reyhan, ya?" tanya Dara sambil menyapu.
"Iya," jawabku singkat.
"Kok bisa? Kita dulu, kan suka banget tuh kalau dia lewat di depan kelas. Sampe dibela-belain dimarah sama guru Matematika gara-gara enggak mau ketinggalan ngeliat sang ketua OSIS itu lewat."
Aku tersenyum kecil saat mengingat itu. Sekarang Rey jadi orang yang paling dekat denganku.
"La, iya. Kok bisa gitu lo kamu nikah sama dia?" Dara mengulang pertanyaannya agar aku menjawabnya. Sebenarnya masih agak males aku membahas Rey. Tapi, kelihatannya temenku satu ini cukup kepo bagaimana bisa aku berjodoh dengan idola SMA-ku itu.
"Aku dijodohin, Ra sama Ayah. Pertama, sih horor, ya jodoh-jodohin. Tapi, pas aku tau sama Rey. Aku langsung bilang, ya. Ayah aku sama Papanya Rey dulu temenan."
"Ohh gitu. Berarti Rey sial banget, dong, nikah sama kamu," ujarnya sambil melihatku saksama.
"Enak aja sial." Aku melempar bantal yang bersandar di sofa padanya.
Kami pun tertawa bersama-sama. Rasanya, keputusanku sangat tepat kalau datang ke sini. Karena teman satu ini benar-benar bisa mengusir kegundahan yang hampir menetap di dalam diriku.
Aku bisa saja bercerita tentangku, tapi, lebih baik aku tahan saja. Aku lebih baik mendengarkan cerita tumbuh kembang anaknya.
"Eh, Ra. Anak kamu berapa?"
"Dua, Ma," jawabnya di teras rumah.
__ADS_1
"Em. Udah dua aja kamu."
"Iya, dong. Aku, kan abis lulus langsung nikah. Iya kamu. Baru berapa bulan nikah," jawabnya. Untung saja dia tak menyinggung momongan. Kalau iya, tak mungkin aku berkata jujur.
"Jadi udah berapa tahun kamu nikah?" tanyaku.
"Em, tujuh tahunlah."
Aku mengangguk pelan. "Eh, Ra. Kayanya musim kemarau udah lewat, ya," kataku memberi isyarat. Aku ingin tau kalau dia ini peka atau tidak.
Aku masih melirik ke arah Dara yang sekali lagi masih sibuk dengan beberesnya.
"Ya ampun. Maaf, ya, temenku yang paling cantik sedunia akhirat. Aku lupa. Mau minum apa?" tanya Dara sambil mencubit pipiku.
"Gak usah lebay juga kali. Apa ja deh yang penting jangan air mentah," jawabku.
Ternyata dia masih cukup peka. Aku melirik dia berjalan ke dapur. Dengan wajah kuning langsat dan daster panjang itu, dia benar-benar sudah menjadi wanita dewasa. Emak-emak tepatnya.
Tak lama aku melihat-lihat sudht rumah dan beberapa hiasan dinding yang menempel, suara tangisan bayi terdengar nyaring.
Sontak aku berlari ke arah sumber suara dan meraih anak Dara yang terbangun dari tidurnya. Aku menggendongnya perlahan dan menggenjotkan kakiku saat bayi ini sudah di gendongan. Tangisannya berhenti saat aku memegang tangan mungilnya.
Mata kecil itu berkedip dan berusaha melihat siapa yang sedang menggendonganya. Ia menatapku sambil terdiam. Aku cukup bingung harus bagaimana. Dara yang tiba-tiba muncul dari arah dapur, segera masuk ke dalam kamar dan meminta bayi di gendonganku.
"Cup, cup. Sini sama Ibu, Sayang," katanya dengan lembut.
"Ayo itu diminum," titahnya menyuruhku keluar.
"Iya." Kami keluar bersama dan aku segera meraih minuman di atas meja.
"Nama anak kamu siapa, Ra?" tanyaku
"Askia." Dia duduk di lantai sambil menyusui anaknya.
Melihat ini, tiba-tiba hatiku merasa iri. Kesederhanaan Dara tak membuat ia mengeluh meski harus mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Bahkan ia terlihat bahagia. Aku menatap Dara yang sedang bercanda dengan bayinya.
Andai aku bisa seberuntung Dara..
Bersambung...
__ADS_1