
"Kamu hanya takut mengecewakan Papa. Bukannya aku?" Aku melihatnya dengan pipi yang basah.
Rey tampak mengedipkan matanya cepat. Bibir itu seperti hendak berucap sesuatu, tapi ia masih diam hingga kini.
"Kalau memang aku tak baik menurutmu, lebih baik kita sudahi saja, Rey. Aku tak mau terus menyiksa batinmu bila terus memaksamu untuk bisa menerimaku."
"Bersabarlah."
Di tengah isak tangis. Aku mulai mengangkat kepalaku dan mendengarkan perkataan Rey dengan saksama.
"Bersabarlah terhadapku." Ia mengelus kepala bagian atas.
Aku terisak lebih keras dari sebelumnya. Namun, kini Rey menarik bahuku dan memelukku. Sedikit terobati rasa sakit ini.
Aroma khas parfum Rey benar-benar bisa membuatku berhenti terisak. Setelah ini, entah bisa atau tidak aku melepaskan diri darinya. Atau cintaku ini akan semakin dalam terhadapnya. Meski aku harus menerima kenyataan kadang sikap Rey yang acuh membuat hatiku terluka.
Aku segera meraih kotak tisu di dekat setir. Mengendalikan emosi yang meluap. Nafasku perlahan kembali seperti semula. Suami tampanku ini masih setia di dalam mobil walaupun beberapa kali kudengar perutnya bersuara beberapa kali.
"Jadi makan atau tidak?"
Aku menggeleng sambil mengelap semua air di wajahku. Rey tampak memegangi perutnya.
"Aku malu."
"Kenapa malu? Kamu, kan, pakai baju?"
"Mataku merah, Rey."
"Ya itu salah kamu sendiri."
Aku menatapnya tajam. Rey tampak gelagapan melihatku sampai ia beralih pandangan.
"Aku lapar," kata Rey.
"Aku enggak."
"Tadi yang bilang lapar duluan bukannya kamu?"
"Sekarang udah kenyang. Abis makan ati." Aku meliriknya.
Rey hanya tersenyum sebelah mendengar perkataanku.
"Apa kamu tahu, berapa lama Vina bertahan sampai aku bisa merasa nyaman dengannya?"
Lagi-lagi perempuan itu.
Aku hanya diam dan tak menjawab. Mendengar namanya saja sudah membuatku kesal.
"Tiga tahun lamanya dia menungguku."
Aku kembali tertunduk.
"Mungkin pernikahan kita adalah suatu kesalahan, Rey."
Rey terdengar menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tak pernah mempercayai cinta pada pandangan pertama. Bagiku merasa nyaman karena selalu bersama itu hal yang sangat penting."
__ADS_1
"Aku juga tak percaya, Rey. Cinta pada pandangan pertama bagiku adalah bulsyit. Tapi, begitu aku mengalaminya, aku baru mempercayainya." Aku menatap Rey dalam.
Untuk beberapa saat kami saling menatap tanp berkata apa-apa. Rasanya aku ingin mengatakan semua yang kurasakan. Bahwa dengannyalah aku mengalami hal itu. Cinta pada pandangan pertama.
Rey mendekat ke arahku. Ia kembali memelukku. Kali ini lebih erat dibanding yang pertama. Deru nafas yang masuk dan keluar juga terasa begitu dalam.
"Aku bukanlah tipe lelaki yang mudah mencintai siapa saja. Aku berharap, kamu mau bersabar menghadapiku dan tak menyerah."
Aku mengangguk sambil tersenyum dan mengeratkan tanganku dipelukannya. Tiba-tiba saja Rey melepaskan pelukannya. Ia menyambar bibirku dengan cepat.
Kruukkk...
Bunyi perut Rey kembali terdengar. Aku menarik diri darinya dan menutup mulutku sambil menahan tawa.
"Ah." Rey meletakkan satu tangannya di atas perut dan satu lagi di atas dahi lalu menyandarkan tubuhnya di punggung sofa mobil.
Kami diam dan tak berkata apa-apa. Aku hanya menahan tawa sampai air mataku kembali mengalir.
"Eh, kamu abis nangis terus ketawa. Benar-benar seperti anak kecil."
"Perut kamu ganggu, Rey." Aku kembali tertawa. Kali ini Rey ikut tersenyum dan tertawa kecil.
**
"Mang, bakso dua, ya. Gak pake lama."
"Siap, Neng."
Setelah puas menangis lalu tertawa bersama-sama, akhirnya malam ini kami makan di warung bakso pinggir jalan. Rey tampak melihat keadaan sekitar. Bisa kutebak, ia tak pernah makan di pinggir jalan seperti ini sebelumnya.
"Kenapa?"
"Nyamuk itu naksir sama kamu, Rey. Karna kamu ganteeeeng banget. Buktinya cuma kamu aja yang digangguin."
Tak ada respon.
Plaaakkk... Rey menepuk satu nyamuk di tangannya.
"Tuh, kan."
"Gombal."
"Ih, siapa juga yang gombal. Nyamuk yang gigit manusia itu semua adalah nyamuk betina, Rey. Nyamuk jantan kerjanya cuma membuahi."
Rey menyenggol kakiku dengan kakinya.
"Apaan sih."
"Jangan bicara gituan di sini."
"Kanapa? Itu kan, ilmu. Hem, baru tahu aku kalau pikiran kamu itu sekali-kali perlu disapu, Rey."
Aku memalingkan wajah ke arah depan setelah sebelumnya melihat Rey. Dia lalu mencubit pipiku cukup keras.
"Aaaa, sakit, Rey." Aku mengelus pipi bekas cubitannya.
"Wah, wah. Kayaknya Mbak sama Masnya ini pengantin baru, ya." Kang bakso datang membawa dua mangkok berisi bakso yang masih panas.
__ADS_1
Ia lantas meletakkan dua mangkok dihadapan kami.
"Mang tau aja kalau kita belum lama nikah."
"Tau dong, Neng. Aura itu memancar di wajah kalian berdua." Ia berjalan dengan nampan di letakkan di depan dada.
"Dulu waktu saya baru nikah sama istri saya juga seperti kalian. Sedikit-sedikit berantem, sedikit-sedikit ketawa-tawa." Ia bercerita sambil mengelap mangkok bergambar ayam jago.
Aku dan Rey mendengarkan Kang bakso bercerita sembari me tuangkan kecap dan saos. Tak lupa beberapa sendok kecil sambal.
"Tapi, dibalik itu semua kata orang dulu, Neng. Itu adalah bumbunya rumah tangga."
"Emangnya bakso, Mang. Kalau nggak dibumbui nggak enak?"
"Itu cuma peribahasa, Neng."
"Kayaknya saya nggak pernah denger peribahasa itu, Mang."
Kang bakso membuka topinya dan menggaruk kepala botaknya sambil melihatku aneh. Tatapannya membuat aku dan Rey tertawa terlingkal-pingkal.
**
"Ahahahah, tukang bakso tadi diam aja pas kamu bilang gak pernah denger peribahasa itu," kata Rey di sela-sela menyetir.
Ia masih tertawa bahkan sejak tadi. Aku menatapnya. Perasaan ini benar-benar bahagia. Baru kali ini aku melihat Rey tertawa lepas setelah hampir empat bulan.
Rey melihatku yang tengah memperhatikan dia.
"Hei," kejutnya.
"Hah, hem, maaf aku nggak dengerin kamu, Rey?"
Mobil sampai depan rumah kami. Saat aku melepas sabuk pengaman dan membuka pintu, Rey memegang tanganku. Aku menoleh kembali dan melihatnya.
"Jangan pernah kamu menangis lagi di depanku," kata Rey. Kali ini ia terlihat benar-benar serius.
Aku mengangguk dengan cepat karena sedikit takut melihat ekspresinya. Entah apa alasannya melarangku menangis, tapi, aku akan berusaha menurutinya.
Sesaat kami berpandangan, Rey tiba-tiba mengelus kepalaku sambil tersenyum. Ia lalu turun dan membuka gerbang. Aku melihatnya dari dalam sini. Lelaki itu benar-benar membuat hatiku meleleh bagaikan es krim. Terkadang ia membuatku merasa kacau, tapi dengan cepat ia bisa membalikkan keadaan.
**
Rey masuk ke kamarku. Ia menutup pintu perlahan. Aku hanya melihatnya dari atas ranjang sembari mengusap layar terang yang ada di genggaman.
Rey meletakkan tubuhnya tepat di sebelahku.
"Kanapa?"
"Tolong pijitin punggungku, ya. Aku tak mau fertigoku kambuh lagi kalau aku terlalu lelah."
"Hem, oke. Tapi, nggak geratis, ya."
Rey yang tengkurap melirikku. Dengan cepat ia bangkit dan meraih bahuku lalu menjatuhkanku di ranjang.
"Ini bayarannya."
Bersambung.....
__ADS_1
Yuk like, rate dan vote juga. Nanti aku akan mampir ke novel kalian, jangan lupa tinggalkan komentar.