
Ting tung. Ting tung.
Aku berjalan dan melihat lewat kaca kecil yang menempel di pintu. Setelah melihat seorang di luar, aku lantas membuka pintu.
"Ini." Rian memberiku plastik putih.
"Apa ini?" tanyaku.
"Itu makan malam untukmu. Kamu belum makan malam, kan?"
Aku menggeleng. "Belum, Pak. Saya tidak berselera."
"Boleh saya masuk?"
Aku tetap berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan dia masuk. Dengan wajah datar dan hanya diam saja, Rian menyadari kalau aku tidak ingin dia masuk ke dalam.
Dia tersenyum sambil berkata, "Baiklah kalau saya tidak boleh masuk. Tapi, bisakah kita mengobrol di luar saja?"
Aku mengangguk pelan. "Baiklah."
Aku membuntutinya berjalan keluar apartemen. Hingga turun dari lift dan berjalan keluar. Udara malam ini cukup dingin. Siang hari yang cukup panas, menjadikan udara malam terasa lebih dingin.
Kami sampai di taman kecil yang berada di depan apartemen. Rian berhenti tepat di bawah lampu. Di sana ada kursi besi dengan ornamen yang indah. Dia duduk di sana.
"Sebenarnya, sejak hari itu aku ingin bertanya. Tapi, sepertinya keadaanmu cukup buruk waktu itu."
"Karena aku lihat keadaanmu sudah lumayan membaik, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya. Masalah apa yang membuatmu sampai pergi dari rumah suamimu?"
Aku diam sejenak. Menata kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rian.
"Rey, dia selingkuh."
"Dengan Vina?"
"Hem."
Aku duduk dan membuang napas panjang. Sudah satu minggu lamanya aku menangisi kejadian ini. Mungkin, karena terlampau lelah, aku jadi malas menangis.
"Sebenarnya aku tak terkejut mendengar hal ini," timpal Rian.
__ADS_1
"Reyhan yang bekerja sama dengan Vina, mustahil apabila mereka tak berbuat apa-apa."
"Ya. Bapak memang benar. Mingkin, saya yang terlalu berharap banyak terhadap Rey."
Harapan bahwa Rey bisa mencintai Alma. Harapan bahwa hidup kami akan bahagia selamanya. Dan sampai detik ini, semua itu masih dan akan tetap menjadi harapan.
"Pernikahan saya. Mungkin suatu kesalahan."
"Apa kamu memergoki mereka?"
"Tidak. Aku menemukan bukti bahwa Rey berselingkuh. Kerah bajunya ada bekas noda lipstik yang tertinggal. Asisten rumah tangga kami berkata, pakaian itu yang Rey gunakan saat ia bekerja minggu malam. Dan pada saat itu, Vina juga di sana."
"Kamu sudah bertanya kepada Reyhan?"
"Tidak. Bukti kedua ialah. Aku menemukan nota pembelian perhiasan dan beberapa tas wanita. Beberapa saat sebelumnya, Vina memamerkan tas-tas itu lewat sosial media. Ia berkata 'calon suami yang membelikanku ini'. Dari bukti-bukti itu, aku tak harus bertanya lagi dengannya."
Kami diam menatap langit malam ini. Bintang yang terang turut menemani obrolan. Cuaca yang cerah, menjadikan bulan tampak jelas dan indah. Namun, sayang. Suasana hatiku tak seindah bulan itu.
"Saya tahu. Saya datang ke Bapak adalah suatu yang salah. Karena meski begini saya masih punya orang tua."
"Kamu datang pada orang yang tepat," sahut Rian. Kalimat itu sejenak menenangkan kegundahan ini.
"Pertanyaan selanjutnya adalah. Kenapa begitu kamu mengalami masalah yang menurut kamu besar. Kamu berpikiran untuk datang kepada saya?"
"Maaf, Pak. Saya tak punya sanak saudara. Teman dekat saya memiliki banyak anak. Dan teman yang lain, hidupnya juga pas-pasan. Akan merepotkan bila saya tinggal satu dengan mereka."
Alasan yang bagus.
Rian tersenyum.
"Beruntung aku punya apartemen ini. Jadi, kamu tak harus serumah denganku."
Tapi ketidak beruntunganku ialah, aku telah memberimu harapan yang aku sendiri tak tahu. Aki bisa memenuhinya atau tidak.
"Tadi pagi Reyhan menemuiku," ujar Rian.
"Aku tak terkejut."
"Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu. Katanya hari ini ia takkan membiarkanku hidup apabila ketahuan menyembunyikanmu."
__ADS_1
"Iyakah? Terlalu berlebihan," timpalku. Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan Rian.
"Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah. Rasanya aku bosan dengan ini semua. Bosan karena merasa ditipu oleh lelaki yang sedari aku SMA telah aku kagumi."
"Kamu masih mencintainya?" Pertanyaan Rian kali ini membuatku menatapnya.
Jujur saja, meski aku telah tersakiti berkali-kali, rasa cinta ini terlalu besar untuk Rey. Aku belum bisa menjawab pertanyaan Rian kali ini. Karena itulah aku kembali ke kamarku dan meninggalkan Rian sendiri di sana.
Aku perlu waktu sendiri. Aku adalah orang yang ceria, tapi sering kali mengambil keputusan yang tiba-tiba seperti sekarang. Menyesal, pasti ada walaupun sedikit. Tapi, penyesalanku yang mendalam adalah, mengapa aku menikahi lelaki yang begitu dicintai wanita seperti Vina.
Kali ini, aku harus mengambil keputusan. Seminggu ini, kurasa waktu yang cukup untuk mengambil keputusan.
[Kembalilah kepada suami kamu, sebelum kamu menyesal] Sebuah pesan masuk ke ponsel yang layarnya telah dipenuhi retakan.
[Apa kau menyuruhku kembali ke sana untuk kembali tersakiti?] balasku cepat.
Aku duduk di pinggir jendela sambil memandang ke arah luar. Rian masih di sana. Dia tampak sedikit lama membalas pesanku.
[Aku tak bisa menyuruhmu hal lain. Karena, saat ini kau masih istrinya Rey. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu]
Aku menghentakkan napas. Sangat benar apa yang dikatakan Rian. Saat ini, tiba-tiba saja aku merasa sedang memikul beban berat di bahuku. Keputusan yang aku ambil haruslah keputusan yang bijak. Rian sama sekali tak menyuruhku berpisah dengan Rey. Bahkan saat ini, aku merasa ia tak lagi menyukaiku. Atau mungkin, ia tak ingin aku menyesali keputusan yang aku ambil.
[Aku akan pikirkan besok]
Pesan terakhir yang aku kirim kepada Rian malam ini.
Aku sengaja memasukkan nomor telepon Rey, Bik Ningsih, Pak Joni, Ibu, dan Papa ke kotak hitam. Agar mereka tak bisa menghubungiku. Namun, hingga hari ke tujuh terhitung sudah 70 kali Rey mencoba meneleponku.
Bisa dibilang aku tengah frustasi saat ini. Perasaan yang baru saja kami bangun, tiba-tiba rusak karena orang ketiga. Hatiku tak bisa kujelaskan bagaimana keadaannya sekarang. Aku juga harus dilarikan ke klinik saat malam pertama aku di sini. Apalagi kalau bukan maag-ku yang kambuh.
Terlalu banyak pikiran menjadi penyebab utamanya.
**
Hari ini, aku harus memutuskan segalanya. Keputusan besar yang akan aku ambil sebisa mungkin tak akan aku sesali.
Pakaian dan hijab sudah melekat indah. Tak lupa aku memakai masker penutup wajah dan kaca mata hitam untuk bersembunyi. Meski tempat yang akan aku datangi cukup jauh dari rumah dan kantor Rey, aku tetap harus berhati-hati.
__ADS_1
Tak lupa aku juga membawa payung lipat di dalam tas. Berjaga-jaga bila cuaca tiba-tiba berubah. Dirasa persiapan sudah siap, aku melangkah keluar.
Wah, kira-kira Alma akan kemana ya??? Yuk simak terus kisah Alma. Jangan lupa like dan vote-nya yaa... Salam sayang.. 😚😚😚