
Pagi ini aku bangun agak siang. Setelah jam dua belas malam aku baru tertidur. Saat aku keluar dari kamar, aku tak mendapati Rey. Kamarnya juga sudah tertutup.
"Pagi, Bu," sapa Bik Ningsih. Asisten rumah tangga yang baru bekerja dua minggu di rumahku.
"Pagi, Bik. Bapak kemana, Bik?" tanyaku pelan.
"Bapak sudah pergi pagi-pagi sekali, Bu. Setelah saya baru sampai di sini."
Mungkin Rey masih sangat marah karena kejadian kemarin. Aku tak mengerti dia. Apa dia belum mau bertemu denganku.
Aku menuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya.
"Bu. Apa, Ibu dengan Bapak sedang ada masalah?" tanya Bik Ning sambil memotong beberapa sayuran.
"Sedikit, Bik."
"Kemarin, Bu. Sekitar jam setengah tujuh Bapak pulang. Dia ngamuk-ngamuk. Semua barang-barang di kamarnya berantakan. Laptop-nya hancur, Buk."
Kelopak mata ini melebar mendengar penuturan Bik Ning. Aku sampai berjalan mendekat dengannya untuk memastikan apa yang aku dengar.
"Apa, Bik? Bapak ngamuk?"
"Iya, Buk. Saya sampai takut. Cepat-cepat saya bereskan pas Bapak kaluar kamar. Saya sampai terlambat pulang ke rumah," tambahnya.
Aku tak menyangka Rey bisa seperti itu. Aku bahkan tak pernah berbuat sampai begitu saat mendapati ia bersama Vina pertama kali. Sifat Rey benar-benar tak terduga.
"Makasih, ya, Bik. Udah kasih tau saya."
"Iya, Buk."
Aku berjalan perlahan menuju kamar, Rey. Memang sudah rapi setelah dibereskan oleh Bik Ning. Tapi, aku hanya ingin melihat keadaannya saja.
Setelah gagang pintu aku pegang. Aku melihat kamar Rey. Laptop itu memang tak ada di mejanya. Apa sampai seperti itu dia marah denganku?
**
"Bik. Nanti saya akan lembur. Sebelum Bibi pulang, tolong letakkan kunci di bawah pintu, ya. Supaya saya nggak bangunkan Bapak."
"Iya, Buk."
Aku duduk dan menikmati sarapan. Tak lupa dengan salad sayur dan beberapa buah agar tubuhku tetap bugar. Sebenarnya, aku sengaja memperbanyak makan sayur dan buah agar aku lebih cepat kenyang. Dan sedikit memakan karbohidrat. Berharap agar berat badan ini tidak naik begitu banyak.
"Jalan, Pak." Aku masuk ke dalam mobil. Pak Joni yang membawa mobil yang kini aku naiki. Ia juga baru bekerja selama dua minggu. Bersamaan dengan Bik Ningsih.
**
"Alma," sapa Dona.
"Ya."
__ADS_1
"Kamu kemarin ribut, ya, sama suami kamu dan Pak Rian?"
"Kamu tau dari mana? Udah ngalah-ngalahin wartawan aja kamu."
"Eh, sekantor udah tau kali. Kemarin ada karyawan yang gak jauh dari TKP. Gimana, gimana?"
Sebenarnya, tak ada niat aku bercerita dengan Dona. Meski sepelik apapun masalah rumah tangga kami.
"Jadi, kamu itu dijodohin sama Reyhan Mahendra itu?"
Aku mengangguk.
"Dan dia kerja sama dengan mantan pacarnya dulu?"
Aku kembali mengangguk.
"Udah aja masalah. Dari pertama suami kamu itu udah mematik api, Alma. Kenapa kamu nggak larang suami kamu kerja sama sama mantan pacarnya itu?"
"Aku merasa nggak ada hak, Don. Aku siapa? Cuma remahan rengginang di dalam toples gong kuan."
Dona terlihat membuang napas.
"Pelakor itu cantik nggak?"
"Dia bukan pelakor. Namanya Vina."
"Don. Aku cerita sama kamu berharap solusi. Bukan bikin aku tambah pusing."
"Oh. Oke, maaf, maaf."
"Terus dia marah pas lihat kamu sama Pak Rian?"
Aku mengangguk. Kali ini dengan kepala tergeletak di atas meja.
"Itu dia namanya egois. Kamu selama ini sabar lihat suami kamu jalan sama Vina. Tapi, dia marah pas lihat kamu sama Pak Rian. Udah sih, kalau aku jadi kamu aku pilih Pak Rian aja. Dia itu nggak kalah ganteng sama suami kamu. Udah tu dia, kan, duda keren." Dona menaikkan alisnya sesaat.
Aku kini hanya menyesali nasibku. Sabarku ini masih tersedia luas untuk Rey. Tapi, entah sampai kapan aku kan seperti ini. Rian. Dia pria baik, perhatian, hangat. Tapi, aku tak boleh ambil kaputusan cepat. Aku juga tak terlalu mengenalnya. Akan lebih buruk untukku, bila sifatnya lebih buruk daripada Rey.
"Ibuku menganggap Rey seperti anaknya, Don."
"Tapi, kalau dia tau sikap Rey sama kamu seperti apa? Aku yakin Ibu kamu juga akan benci sama Rey."
Aku kembali menghela napas. Sedikit keluar beban berat di hatiku. Namun, sejauh ini aku belum mendapatkan solusi untuk rumah tanggaku. Apakah aku akan menyerah?
"Jadi, gimana? Aku musti gimana, Don?"
Aku melihat Dona yang tengah memegang pena. Tangannya begitu lihai memainkan pena seperti sedang menjelaskan materi di depan rekan yang lain.
"Kamu coba, deh ngomong baik-baik sama suami kamu. Kamu juga kasih saran supaya dia putus kontrak dengam si pelakor itu. Ya, itu pun kalau dia bener-bener mengerti sama perasaan kamu."
__ADS_1
Berat. Aku meyakini bahwa syarat yang akan aku berikan atas saran Dona itu berat. Entah bagaimana, tapi aku benar-benar yakin.
"Rey juga pernah menyinggungku supaya resign dari pekerjaan ini ... "
Belum selesai aku berbicara, Dona lantas menggeser kursi kerja berodanya itu ke tepatnya. Pertanda ada Bos di dekat kami.
"Baiklah. Seperti kata saya kemarin, malam ini kita akan lembur bekerja mengejar deadline. Saya berharap, teman-teman semua bisa bekerja dengan baik diingat tenaga kita sangat dibutuhkan untuk perusahaan kita. Semangat!"
"Semangat!" sahut kami.
Aku tiba-tiba merasa takut bila Pak Rian mendengarkan pembicaraanku dengan Dona tadi.
"Alma. Bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya Rian. Ia sedikit mengejutkanku.
"Baik, Pak." Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Tak enak hati rasanya mengingat hal kemarin.
"Maaf tentang kejadian kemarin," kata Rian setelah duduk di kursi besar miliknya.
"Tidak apa-apa, Pak. Memang saya yang salah. Kalau saja saya menolak ajakan Bapak, mungkin saya tidak akan bertemu dia di sana." Aku tersenyum. Sebisa mungkin aku membuatnya tak merasa bersalah. Karena walau bagaimanapun, ini juga campur tanganku juga.
"Kamu tak marah melihat Rey dengan Vina?"
Aku terdiam sejenak. Cukup bingung juga akan menjawab apa.
"Ehm, maaf. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kamu."
"Baik, Pak. Saya permisi keluar." Tanpa menunggu jawaban dari Rian, aku melangkah keluar dari ruangan ini.
Setitik air mata ini jatuh tanpa kuduga. Aku segera menarik tisu setelah aku duduk kembali. Menangis sejenak meratapi apa yang terjadi kepadaku. Mencoba menguatkan diri ini menghadapi cobaan yang datang menimpa rumah tanggaku.
**
"Al. Ayo kita makan siang. Cacing-cacing di perut udah pada triak-triak, nih," ajak Dona.
"Aku malas. Kamu aja, ya." Aku masih sibuk dengan beberapa berkas.
"Jangan gitu. Ingat gak kalau kamu punya maag? Entar kamu pingsan siapa yang gendong. Kamu sekarang, kan, bohay."
"Bilang aja gendut."
"Bukan aku, lho yang bilang."
Meski dengan sangat terpaksa, akhirnya aku menuruti Dona. Kadang perkataan temanku yang satu ini ada benarnya. Aku cukup beruntung bekerja di sini. Karena mendapatkan teman dan Bos yang juga baik.
Bersambung...
Mohon bersabar untuk para readers. Kehidupan rumah tangga tak selalu berjalan mulus, kan. Semua rekues ditampung author. Ambil pelajaran setiap kejadian yang ada.
Jangan lupa beri Vote banyak-banyak supaya author semangat up, ya. Salam sayang dari Mimi dhava.
__ADS_1