
Mungkin aku masih seperti anak kecil yang suka minta coklat, tapi, dengan memakan coklat, suasana hatiku bisa membaik. Sebisa mungkin aku memegang perkataanku, akan mengenal Rey lebih dalam dan membuatnya cinta denganku.
Aku yang menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Dan bukan gadis yang di luar itu.
Drrt. Drrt. Ponselku bergetar. Aku berjalan dan duduk di atas ranjang untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
[Ada, nih, lowongan. Kamu mau nggak?] begitu isi pesan yang sedang kubaca. Pastilah ini dari Dara.
[Boleh, deh, coba-coba. Siapa tau berhasil]
[Oke, mantan bosku minta ketemu. Kapan kamu bisa ketemu?]
[Nanti aku hubungi lagi, ya, Ra]
Begitulah aku mengakhiri pesan. Aku hanya berharap, dengan bekerja, aku bisa sedikit terhibur karena akan mendapat teman baru. Mudah-mudahan saja, mereka nanti akan berbagi kisah denganku tentang rumah tangga. Aku masih berharap dengan Rey.
Walau bagaimanapun, hatiku ini sudah terlanjur nyangkut di hatinya. Walau masih bertepuk sebelah tangan. Sebagai istri yang baik dan anak yang baik juga, aku harus patuh kepada Ibuku. Mungkin keadaan yang mendesak ini, membuat Rey belum siap sebenarnya untuk memiliki istri. Terlebih dengan seorang yang sama sekali tak dicintainya.
Ting.. Tung.. Bel rumah berbunyi. Mungkin saja Rey yang menekan bel. Aku bergegas bangkit dan keluar kamar untuk membuka pintu.
Aku menyambutnya dengan senyum termanisku. Dengan biasa dia hanya diam dan memandangki sejenak dan berjalan masuk. Aku meminta tas jinjingnya dan menutup pintu.
"Mau langsung makan malam, Rey?" tanyaku.
"Aku mandi dulu," jawabnya.
Aku letakkan tas di kamarnya dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam sembari menunggunya selesai membersihkan diri.
Tak lama, ia keluar dengan aroma khas parfum yang setiap hari aku cium. Matanya langsung tertuju ke tudung makan di atas meja. Dengan antusias dia membuka tudung itu sementara aku masih sibuk dengan membereskan peralatan yang tadi ku pakai memasak.
Dengan cepat aku berjalan dan menyidukkan nasi di piring Rey. Mataku tak lepas dari raut wajahnya yang cukup lelah.
"Rey, coklatku mana?" tanyaku.
Mata Rey langsung melihatku. Sendok yang berisi nasi ingin ia lahap, diurungkan sejenak. Matanya melihat ke arah kanan.
"Aku lupa," jawabnya.
Aku mendengus kesal mendengar ia menjawab pertanyaan itu. Senyum ini berubah menjadi cemberut bahkan melebihi marmut. Wajahku mungkin benar-benar tak enak dipandang saat ini.
"Kamu pesan online aja, nanti aku yang bayar." Dia menimpali dengan santai dan menyuapkan nasi ke mulutnya.
__ADS_1
"Jam segini emang masih ada yang mau anter?" kataku menahan emosi.
"Apa kamu benar-benar ingin makan sekarang?"
Tanpa berkata-kata, aku langsung bangkit dan berjalan masuk ke kamarku. Entah mengapa, mungkin ini masalah sepele, tapi, tiba-tiba aja, aku merasa tak dihargai oleh Rey. Terlepas entah dia benar-benar lupa atau sengaja melupakannya.
Aku hanya bisa menumpahkan air di mataku karena sikap Rey. Tanpa berpikir panjang, aku ambil baju panjang dan hijab. Aku segera memakainya dan berjalan kaluar.
"Mau kemana?" tanya Rey mengejutkanku. Aku tak menyadari bahwa ia tengah menonton tivi di ruang tengah.
"Aku mau ke mini market depan." Aku berjalan kembali keluar.
"Ini sudah malam. Besok saja ke mini marketnya."
Aku tak menjawab Rey dan tetap melanjutkan jalanku.
Sampai sekarang, jujur saja, aku tak pernah keluar malam sendirian. Namun, entah dedemit apa yang sedang menghinggapi badanku ini, aku nekat keluar sendiri hanya demi beberapa batang coklat.
Jalanan nampak lengang malam ini. Sepanjang jalan, aku berharap banyak bertemu kendaraan karena aku cukup takut berjalan sejauh satu kilo meter ke persimpangan jalan.
Aku juga berharap, Rey mengikutiku, tapi, sepertinya tidak. Dia mungkin terlalu acuh untuk melakukan itu. Sambil melihat keadaan sekitar, aku benar-benar merasa was-was. Apa salah bila aku ingin menghargai keinginanku ini?
Akhirnya beberapa batang coklat sudah di tangan, aku beristirahat sejenak dan minum air mineral yang sengaja aku beli.
Benar-benar tega, Rey. Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya berjalan sendirian malam-malam begin? Apa jadinya kalau Papa sampai tau.
Sambil duduk di trotoar jalan aku memandangi kendaraan yang tengah melintas. Sejenak aku berfikir, apa pernikahanku ini adalah sebuah kesalahan?
Drrt. Drrt. Ponsel di kantung bergetar.
[Cepat pulang!] Aku bangkit dan bergegas pulang.
Perasaanku berubah seketika setelah melihat pesan pendek dari Rey. Seakan aku ini keluar tanpa izin darinya.
Ya, memang betul. Aku keluar tanpa izin darinya.
Aku mempercepat kakiku agar segera sampai ke rumah. Akan aku pastikan, maaf adalah kata pertamaku ketika melihat wajah suamiku di rumah nanti.
"Hai cantik," kata seseorang yang berada belakangku. Ia berada kurang lebih lima meter dariku.
Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Badannya gendut dengan rompi semacam levis. Rambutnya melebihi daun telinga dengan brewok yang cukup lebat. Aku bergidik ngeri karena hanya ada aku di jalan ini.
__ADS_1
Aku menelan air liur saat melihat tampangnya sedang mengusap-usap brewok itu. Jelas saja ia buka Rey.
Tanpa aba-aba, aku berlari sekencang mungkin untuk menghindarinya. Sialnya, jalan ini tak bercabang membuatku susah untuk menghindarinya.
"Hei tunggu, jangan lari."
Sesekali aku melihat ke belakang dan meliriknya. Ia nampak sedikit kuwalahan dengan badan tambunnya itu berlari mengejarku.
"Aaa..."
Braakk. Aku terjatuh karena tersandung kakiku sendiri. Nampak dari kejauhan lelaki itu merasa senang melihatku terjatuh. Dengan semangat ia teruskan larinya hingga nyaris sampai kepadaku.
Aku menutup wajah dengan lenganku karena takut ia sudah benar-benar dekat denganku.
Sudah cukup lama sebenarnya ia sudah sampai di sini, ketika aku hendak melihatnya, sebuah tangan menarik lengan kananku dan berlari bersama.
Rey, ternyata ia tadi sempat mendaratkan beberapa pukulan kepada lelaki berwajah seram itu. Sayangnya, aku tak melihat adegan cukup memukau itu karena, takut.
Wajahnya cukup tegang saat berlari bersamaku. Entah mengapa, rasa takut ini tiba-tiba hilang saat melihat wajahnya.
Ia melirik ke belakang dan tak melihat lelaki itu mengejar kami. Kami pun berhenti dengan nafas yang cukup berantakan.
"Sudah, aku panggil, keamanan," katanya dengan menunduk dan memegang lututnya.
Aku malah tersenyum memandanginya. Saat dia bangkit dan melihatku, tanpa berkata apa-apa, aku langsung mendekat dan mendekap dalam pelukannya. Nafas kami masih naik turun dan degup jantung itu begitu terasa di pipiku.
"Makasih, Rey," ucapku.
"Haa, jangan diulangi lagi."
Aku mengangguk mengerti. Ternyata masih ada secuil rasa peduli terhadap diriku ini.
"Kamu kenapa di sini, Rey." Aku bertanya dengan melihat wajahnya di bawah remang-remang lampu jalanan. Ia terlihat sedikit gugup mendengar pertanyaanku.
"Aku... Aku..."
"Sudah ayo pulang," titahnya sambil berjalan mendahuluiku.
"Kamu peduli sama aku, kan, Rey. Ayo ngaku, Rey."
Bersambung...
__ADS_1