
Aku masuk dengan menggandeng lengan kiri Rey. Dengan langkah yang beriringan, mata ini sibuk memandang mewahnya hotel yang akan kami masuki.
Kami berjalan dan menaiki lift untuk naik ke lantai 20 hotel tersebut. Aku melirik ke samping dan melihat diriku di pantulan dinding lift. Samar-samar memang, tapi, lumayan juga untuk mengobati rasan gerogiku.
Di depan pintu, ada dua orang pelayan yang menyambut kami. Ia menunjuk ke arah dalam dengan genggaman dan hanya tersisa jempolnya saja yang mengarah ke dalam sebuah gedung. Sambil tersenyum pelayan itu menyambut tamu yang baru saja datang.
Aku dan Rey masuk bersamaan dengan beberapa tamu lainnya. Saat pintu dibuka, nampaklah pemandangan cantik nan indah di dalam ruangan itu. Ruangannya ternyata besar dan luas. Pencahayaan sangat terang. Serta ada dua buket bunga yang menyambut kami di depan pintu masuk. Ketika kaki melangkah satu demi satu, hampir semua mata memandang kami.
Meja bundar dan kursi berlapiskan kain di mana-mana. Kami diantar oleh pelayan yang ada di dalam untuk duduk di salah satu kursi. Meja urutan kedua dari depan adalah tempat yang dipilih oleh pelayan.
Pelayan itu pergi setelah kami berdua duduk. Sesaat kemudian ada pelayan lainnya meletakkan minuman dan makanan di atas meja. Di dalam sini, dingin karena pendingin ruangan yang cukup banyak.
Aku menyeruput minuman setelah pelayan itu pergi. Aku berharap kalau ini adalah teh hangat seperti sekitar rumah Ibu. Apa daya, aku tadi tak sempat sarapan karena berdandan yang cukup menyita waktu.
Seorang wanita cantik berambut panjang tergerai berjalan setengah berlari menghampiri kami. Siapa lagi kalau bukan Vina. Sialnya, dia juga memakai baju coklat muda yang hampir sama dengan Rey dan yang aku kenakan.
Ia tersenyum lebar sekali kepada Rey. Sampai nyaris semua gigi itu terlihat.
"Hai, Rey," sapa Vina. Aku hanya melihatnya dari tempat dudukku sambil sesekali menyipitkan mata.
Vina melirik padaku. "Rey, ada temen aku. Katanya dia juga mau inves di perusahaan kamu. Mau, ya, kamu temuin dia," pinta Vina dengan manja.
Sejenak bibir sebelah kiriku naik ke atas mendengar tingkahnya. Sementara Rey tak berekspresi terhadapnya. Lalu, ia berdiri dan mengikuti Vina. Aku melihat mereka dengan setengah emosi. Bagaimana bisa Rey meninggalkanku sendiri tanpa berkata apa-apa.
Nafasku sesak seketika. Aku meraih minuman di atas meja dan meneguknya hingga habis. Vina yang membuntuti Rey, tiba-tiba saja berbalik badan dan menghampiriku. Ia tersenyum jahat dan berkata, "Jagain suami kamu dengan baik, ya, sebelum dia diambil orang."
Dia bahkan tersenyum lagi lalu berjalan pergi. Wajahnya manis, tapi, aku merasa ada maksud tersendiri kenapa ia mau bekerja sama dengan Rey. Bisa jadi wanita itu masih mengharapkan Rey. Kali ini nafas kecewa keluar begitu saja dari mulutku. Mungkin memang seharusnya pernikahan kami tak pernah ada.
Ngiiikkk. Dep.. Dep..
Suara mikrofon sedang diketuk. Ternyata, Vina sudah ada di atas panggung.
"Halo, selamat siang. Sebelumnya kepada kedua pengantin, yaitu sahabat saya. Saya ucapkan selamat berbahagia. Mudah-mudahan cepat diberi momongan yang ganteng dan cantik. Sebelumnya, saya ingin menyanyikan sebuah lagu, tapi, ehem. Tenggorokan saya sedikit kurang enak. Jadi, saya akan memanggil sahabat saya. Dia ini juga baru menikah kurang lebih dua bulan yang lalu, suaranya indah sekali. Dia adalah Alma, beri tepuk tangan."
Dagup.
__ADS_1
Jantungku seakan mau jatuh dari tempatnya mendengar perkataan Vina. Dia memanggil namaku dari atas panggung. Tentu saja ini membuat semua mata memandangku.
"Silakan, Mbak menuju panggung," kata pelayan yang tiba-tiba ada di belakangku.
Aku menelan ludah sambil berdiri. Aku melirik Rey sejenak. Seperti ada sesuatu di wajahnya, tapi aku tak tau apa. Aku berjalan sambil melihat Rey, juga ke empat teman di sebelah kanan dan kirinya.
Hingga aku sampai tepat di depan anak tangga yang mengarah langsung ke panggung, aku melihat Vina. Dia tersenyum remeh dengan sorot mata itu. Rasanya ingin aku jambak rambut panjang itu.
Kaki kulangkahkan menaiki anak tangga. Di sana terlihat ke dua pengantin yang nampak antusias memandangku. Rasanya, bila waktu ini berhenti beberapa detik saja, aku ingin berlari secepatnya dan keluar dari gedung ini.
Akhirnya aku sampai di atas panggung. Vina memberikan microfon-nya kepadaku. Lalu, ia turun dari panggung. Aku menarik nafas panjang dan perlahan.
"Sebelumnya, saya ucapkan selamat menempuh hidup yang baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah," ucapku sedikit bergetar.
Di bawah sana, terlihat Vina sedang menahan tertawa di sebelah Rey. Wajah Rey, entahlah. Sulit untuk dijelaskan. Aku menoleh ke belakang dan menyebutkan judul lagu kepada pemusik. Pemegang keyboard hanya mengangguk. Ia mulai memainkan alat musiknya.
Mulia, indah, cantik, berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum dibekas bibirmu
Bila marah Nabi kan bermanja mencubit hidungmu
Aisyah
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah
Aisyah
__ADS_1
Sungguh manis oh sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta, ya Aisyah ya Khumairah
Rasul sayang Rasul cintamu
Satu tepuk tangan membuka keheningan. Pelayan yang menyuruhku agar naik ke panggung itu orangnya. Wajahnya tersenyum dan durasi berkedip yang berkurang. Disusul riuhan tepuk tangan para tamu yang ada. Bahkan pengantin pun berdiri dengan senyum yang nampak tulus.
Wajah Vina berubah menjadi sedikit kesal. Matanya menyipit memandngku. Ekspresi itu terlihat jelas dibanding saat dia tersenyum jahat saat menyuruhku naik ke atas panggung.
Aku menyerahkan mikrofon kepada pembawa acara yang berdiri menghampiriku. Ia memaksa untuk lagu ke dua. Namun, aku menolak karena perut bawahku terasa penuh dengan air.
Aku turun panggung dan berjalan ke arah kursi. Aku berjalan mendekat ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri di belakang kursi.
"Maaf, toilet di mana, ya?" tanyaku.
"Di sini, Nyonya, silakan." Ia menunjukkan jalan dan berjalan ke arah dalam gedung itu.
Aku bahkan tak menyadari ada toilet di dalam gedung ini. Aku langsung masuk ke sana dengan cukup tergesa-gesa. Membuka pintu toilet.
Ha, lega sekali setelah sekumpulan air ini keluar dari perutku. Aku bercermin dan mencuci tangan di westafel. Sesosok wanita masuk dan mataku langsung menuju ke arahnya. Ia berjalan sangat centil sekali.
"Ternyata, suaramu bagus juga," kata suara yang menyentil telingaku.
Aku memandanginya saksama.
"Tapi, asal kamu tau. Rey hanya mencintaiku seorang," bisiknya seraya mendekatiku. Kelopak matanya sedikit melebar saat ia menjauh. Setelah mempertebal lipstiknya, ia pun keluar dengan sangat percaya diri.
Bersambung...
sumber ; Google
Judul lagu ; Aisyah Istri Rasulullah
__ADS_1