My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Hari-Hari Menjadi Ibu


__ADS_3

Tak terasa sudah lima hari anakku lahir ke dunia. Hari ini juga hari pertama suamiku pergi bekerja. Kemungkinan rekan kantor hari ini akan datang ke sini. Itulah yang diucapkan suamiku pagi ini.


"Mungkin nanti rekan dan beberapa pegawai akan ke sini," katanya sambil memakai dasi.


Aku hanya melihatnya dengan anakku yang sedang menyusu.


"Jadi, Bi Ningsih nanti akan masak banyak."


"Ya. Mungkin nanti kami ke sini sekitar jam lima."


"Oke. Aku mau suruh Iyem belanja dengan Pak Joni. Gak mungkin mereka cuma dikasih makan sayuran." Aku terseyum.


"Yang menurutmu baik aja."


Ia mencium keningku dan berangkat. Kali ini kejutan apalagi yang akan terjadi di rumah ini setelah dua hari satu malam rumahku dibuat bising oleh Tanteku. Untungnya ia hanya menginap satu malam karena sudah mendapat panggilan perkerjaan penting. Kalaulah ia berada di sini lebih lama, aku tak tahu apa yang akan terjadi kepada kami.


Tak hanya aku. Ibu, Ayah, Rey, Bi Ningsih bahkan Pak Joni yang tidur di dekat garasi saja merasa terganggu dengan nada tinggi suaranya. Anakku bahkan beberapa kali terbangun karena terkejut saat ia mulai memanggilku.


Hari ini Ibu dan Ayah pulang. Katanya mereka akan kembali lagi ke sini. Mereka pulang hanya melihat keadaan rumah dan membeli kado kecil untuk cucu pertama mereka.


"Bi Ning, tolong masak banyak. Nanti ada tamu yang akan datang. Kata Bapak sore nanti beberapa karyawan akan ke sini."


"Baik, Bu."


"Apa daging di kulkas masih?"


"Masih, Bu. Tapi, saya nggak yakin kalau cukup. Berapa orang yang akan datang, Bu?"


"Saya belum tahu, Bi. Nanti saya akan tanya Bapak."


Setelah memastikan berapa orang yang datang, aku lantas kembali lagi ke dapur dan memberi Iyem uang untuk membeli daging dan ikan.


Bi Ningsih cukup kewalahan bila tak ada Iyem. Saat aku sarapan ia harus bolak-balik ke kamar dan ke dapur untuk melihat anakku. Sementara aku sudah tak bisa menahan rasa lapar ini.


Terkadang saat Ibu tak menyadari aku bangun saat tengah malam, aku diam-diam makan. Walau hanya sepotong roti tawar dan selai. Aku baru merasakan bagaimana menjadi ibu menyusui. Ini benar-benar menguras tenaga.

__ADS_1


"Bi, nanti masak yang enak, ya."


"Siap, Bu. Saya nanti akan masak yang enak."


Selepas selesai sarapan, aku kembali melihat anakku. Hidung mancung dan kulit putih ini benar-benar seperti Ayahnya.


Menggendong dan mengajaknya berbicara adalah hal yang tak pernah aku lewatkan.


"Nama anaknya nanti siapa, Bu?"


"Belum tahu, Bi."


"Ibu ini gimana. Apa waktu hamil kemarin belum siapin nama?"


Sebenarnya sudah ada nama. Tapi, aku tak tahu suamiku akan setuju atau tidak. Dan entah kenapa aku dan Rey tak membicarakan ini sama sekali. Payah.


**


Tidur siang di atas jam 12. Itulah yang dikatakan Ibu. Meski orangnya sedang tak ada di rumah, aku selalu ingat pesannya yang satu itu. Meski semalam aku harus bangun paling tidak lima kali untuk menyusui, aku tak boleh sembarangan tidur. Apalagi sebelum jam 12. Kantuk melanda, tapi aku tetap harus menahannya. Katanya agar sel darah putih tak naik. Aku tak tahu sebenarnya hal itu benar atau tidak.


"Bu. Kenapa nggak pakai popok aja? Kan, lumayan kalo pipis gak harus ganti celana."


"Enggak, Bi. Kasihan Adek kalo pakai popok terus. Panas."


"Iya juga. Malahan banyak bayi yang iritasi gara-gara setiap hari pakai popok."


"Iya itu juga alasannya, Bi. Mungkin nanti kalau Adek udah agak besar."


**


Saat Iyem pulang, ia langsung membersihkan rumah agar tak ada kotoran di ruang mana pun. Kamar juga tak luput dari pembersihan. Pak Joni juga membersihkan halaman. Selepas itu ia harus menjemput suamiku di kantor. Sedangkan Bi Ningsih memasak. Jadilah aku sendiri mengurus anakku yang tampan ini.


Aku mencuri waktu saat ia tidur. Membaringkan badan, atau sekedar bermain gadget. Beberapa hari ini aku melihat status Vina. Keasikannya travel di negara paman sam itu membuatku iri. Bahkan beberapa foto sangat indah. Namun, ada satu foto yang membuatku sedikit berdecak heran. Satu foto diambil ketika ia memegang sebuah tangan. Orang itu memegang kamera dan memegang tangan Vina. Foto yang diambil dari arah belakang membuatnya semakin epik.


Siapa ini? Dilihat dari tangannya, ini laki-laki.

__ADS_1


Sayangnya, saat aku ingin bertanya siapa laki-laki itu, tangisan putra kecilku menggagalkannya. Benda pipih itu aku letakkan kembali di atas laci. Sementara aku melihat keadaan anakku.


"Bu, anaknya kenapa?" tanya Bi Ningsih yang baru datang.


"Ngompol, Bi."


"Biar saya yang gantiin celananya."


Bi Ningsih mengganti pakaian anakku. Setelah itu ia berikan kepadaku untuk disusui. Mungkin inilah yang akan aku jalani bila Ibu sudah benar-benar pulang ke rumahnya. Sehari tanpa Ibu saja rasanya aku benar-benar repot. Padahal ada dua asisten yang setia.


"Punya anak itu harus sabar, Bu."


Rupanya Bi Ningsih menyadari bahwa aku sedikit lelah.


"Capek, ya, Bi. Tiap malam bangun, nyusuin. Jadi gampang lapar."


"Begitulah kalau jadi ibu. Saya dulu anak pertama dan kedua beda umurnya gak sampai dua tahun. Maklumlah, dulu belum kenal KB."


"Repot banget pasti, Bi."


"Ya, begitulah, Bu. Dulu saya tinggal di kampung. Jadi, pas selesai makan siang, saya sama suami tukar pekerjaan. Saya yang ke sawah, dan suami yang jagain anak."


"Wah, bisa gitu?"


"Anak bayi dulu saya gendong di belakang, Bu. Yang besar ditinggal sama Bapaknya di rumah. Kadang dikasih air tajin kalau dia haus. Maklumlah, belum kuat beli susu."


Aku tak tahu kalau orang jaman dulu hidupnya lebih sulit. Bekerja dengan menggendong anak yang masih bayi pula. Bagaimana lelahnya.


"Anak sekarang gak ada apa-apanya, ya, Bi. Daripada Bibi dulu."


"Iya begitulah, Bu. Tapi, walaupun begitu Bibi nggak pernah ngeluh. Lelahnya bekerja di sawah, melihat senyum anak-anak, rasanya semua capek jadi hilang."


Aku salut dengan Bi Ningsih. Dengan ceritanya itu aku jadi lebih bersyukur dengan hidupku. Setidaknya aku lebih bersemangat menghadapi tantangan demi tantangan yang datang. Setidaknya aku masih lebih beruntung daripada dia.


Bersambung...

__ADS_1


Like dan voteny ya temans. 😊😊😊


__ADS_2