My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Sampai di Luar Kota yang Indah


__ADS_3

Setelah kurang lebih empat jam menempuh perjalanan, akhirnya bus pun sampai di sebuah penginapan. Rian membangunkan kami semua. Satu demi satu tubuh mulai menggeliat meregangkan otot. Sementara mata mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Saat aku menyadari akulah orang terakhir yang bangun, tak sengaja aku mendengar teman-teman sekantor riuh di depan pintu bus. Perlahan aku membuka kain penutup jendela bus. Alis ini berkerut seketika. Aku seperti melihat lukisan pemandangan di depanku. Saat salah satu teman berucap, "Indahnya." Baru kusadari bahwa yang kulihat adalah nyata dan bukan lukisan.


Secepat mungkin aku berlari keluar. Benar saja, pemandangannya benar-benar indah. Ada pegunungan menjulang di depan sebuah penginapan. Juga ada taman bunga yang luas yang tak begitu jauh dari tempat kami berdiri sekarang.


Aku sampai terdiam sesaat dengan mulut menganga melihat keadaan ini. Tak pernah sekali pun aku melihat pemandangan sebagus ini secara langsung sebelumnya. Mungkin aku amat beruntung bisa ikut ke sini.


"Alma!" teriak Dona sambil melambaikan tangannya.


Sejenak aku mencari sumber suara. Aku melihatnya dan teman-teman yang lain sudah ada di taman bunga. Beberapa diantaranya bahkan sudah berselfi ria.


Aku berlari sekencang mungkin menghampirnya. Kami senang sekali berada di sini. Apalagi Dona. Berulang kali ia berkata di sini adalah surga dunia. Wajar saja pasti ia selama ini sangat penat setiap hari hanya menatap layar komputer saja.


"Alma. Fotoin, ya."


"Oke, siap." Kami berfoto bersama. Sesekali juga dengan teman-teman yang lain.


Melihat bunga yang berwarna-warni tertata rapi, juga ada air mancur di tengah taman, tak membuat kami bosan untuk menghabiskan waktu di sini. Sampai kami tak menyadari hari mulai petang.


"Don, yuk ke penginapan. Kita udah tiga kali bolak balik ke sini."


"Bentaran. Aku masih pingin di sini."


"Iya. Tapi, makin sore makin dingin. Hakcing." Aku mulai kedinginan sampai bersin beberapa kali.


"Ya, udah ayo."


Kami berjalan beriringan ke penginapan. Rian berpesan kalau sepanjang hari ini kami bebas menghabiskan waktu. Tapi, besok kami mulai mengunjungi pabrik yang tak begitu jauh dari penginapan.


Setelah puas bermain-main di taman dan selesai membersihkan badan, kini kami berjalan ke aula untuk rapat membicarakan agenda besok sekaligus makan malam bersama.


"Dona. Kamu cantik." Aku memuji penampilan Dona yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Kamu bisa aja."


Kami sampai di aula yang dituju. Semua rekan sudah duduk di kursi yang telah disediakan. Terlihat dihadapan kami Rian yang tampan dengan jas dan kaus yang ia pakai. Sedikit memperlihatkan dadanya membuat Dona tak berkedip sesaat.


"Heh, kamu lihatin apaan?" sapaku rupanya mengejutkannya.


"Pemandangan indah yang langka, Al," sahutnya yang masih memandangi Rian.


"Awas netes tuh air liur. Ingat anak suami, Don."


"Astagfirullah." Dengan cepat ia tersadar.


"Ingat kok."


"Baiklah, besok kita akan mulai mengunjungi pabrik pembuatan kain batik yang tak jauh dari sini. Kita akan melihat bagaimana pegawai di sana bekerja dengan alat modern, bagimana dengan kualitas kain yang dihasilkan, bagaimana pemasarannya. Bagaimana keadaan keuangannya, serta bagaimana selera masyarakat dengan kain batik yang ada. Kita akan melihatnya secara langsung. Mengerti semua?"


"Mengerti, Pak," jawab kami serentak.


"Baiklah. Sekarang mari kita makan malam bersama."


Plak... Plak...

__ADS_1


Rian lantas menepuk tangannya dua kali. Pintu yang berada di samping lantas terbuka. Terlihat beberapa pelayan membawa makanan.


Mereka mulai menyajikan makanan di atas meja bundar yang ada di depan kami.


"Wah, kalau begini gagal diet, nih," kata Dona. Hal ini rupanya membuat pelayan yang menyajikan makanan di meja kami tersenyum.


"Kamu diet, Don?"


"Iya. Tapi, gagal buat malam ini."


"Kenapa diet-diet? Kalau aku mau makan, makan aja."


"Suami kamu nggak komen badan kamu?" Satu pertanyaan yang cukup kena di hati.


"Pernah. Katanya aku berat. Tapi, bodo amat, ah. Abis gimana kalo nggak makan laper. Telat makan aja maag-ku bisa kambuh. Gak mungkin, dong, Rey suruh aku diet."


"Iya juga, sih. Kadang kepingin loh punya badan kaya artis-artis gitu. Perut rada dengan dada yang menjulang."


"Ngayal. Hahaha." Kami tertawa bersama, lalu memakan hidangan yang ada di depan mata.


Memang aku tak terlalu memikirkan berat badan. Entah kenapa berat badanku dari dulu pun tak bagitu cepat naik, walaupun aku banyak makan dan banyak ngemil. Kalau pun naik, nanti juga akan turun lagi ketika bulan ramadan tiba.


"Ha, kenyang." Dona menyandarkan badannya di punggung kursi. Ia tampak puas dengan makan malam kali ini.


"Beruntung, ya, Al. Kita bisa ikut ke sini. Padahal karyawan di kantor kan, ratusan. Cuma delapan orang dan termasuk kita yang beruntung bisa ikut."


Aku terdiam sejenak. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat Rey. Sedang apa dia saat ini?


"Eh, malah ngelamun?"


Aku mengedipkan mata.


"Dia emang kenapa?"


"Nggak papa, sih. Udahan yuk kita ke kamar." Aku mengajak Dona kembali ke kamar.


Selepas sampai di kamar, aku segera mengambil ponsel di dalam tas. Aku mengusap layar biru ini. Tidak ada pesan atau panggilan dari Rey. Seperti biasa aku yang memulai duluan untuk menghubunginya.


Tuut... Tuut...


"Halo," katanya diseberang telepon.


"Assalamualaikum, Rey."


"Waalaikumsalam."


"Kamu lagi ngapain, Rey?"


"Lagi ngerjain tugas, nih."


"Aku ganggu, ya?"


"Lumayan."


Katanya dia ini khawatir, cemas. Tapi, nggak ada kata khawatir sedikitpun. Bahkan dia tetap cuek seperti biasa.

__ADS_1


"Ya, udah Rey. Kalau aku ganggu kamu. Aku juga mau tidur. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Telepon aku matikan. Desah nafas kesal melanda. Kenapa tiba-tiba aku meragukan kalau Rey itu khawatir? Bahkan nada bicaranya seperti biasa. Tak ada berucap rindu atau semacamnya. Dia benar-benar susah sekali untuk ditebak.


Karena menempuh perjalanan yang cukup panjang dan lelah, akhirnya tepat pukul delapan, aku sudah tertidur pulas di atas ranjang.


Tling... Tling... Tling...


Ponselku berdering. Saat aku tersadar, aku meraihnya dan menggeser gambar telepon berwarna hijau.


"Nggak kelihatan," kata suara diseberang.


Aku lantas menjauhkan ponsel dari telinga.


"Rey?" Aku cukup terkejut melihat wajahnya di layar ponsel.


Aku lantas duduk dan merapikan rambutku.


"Jam segini udah tidur?"


"Udah. Ngantuk, huaem."


"Aku baru selesai. Maaf, ya, tadi nggak konsen."


Apa aku mimpi? Rey minta maaf?


"Iya, gak papa, Rey."


"Gimana di sana?"


"Indah, Rey. Aku tadi udah selfi-selfi di taman. Indah banget banyak bunga warna-warbi di sana."


Rey tampak antusias mendengarkan ceritaku.


"Sepi nggak ada kamu di rumah."


Sontak aku menggigit bibirku. Aku melihat pandangan mata Rey yang tiba-tiba memelas. Tak dapat kupungkiri, jarak yang memisahkan kami saat ini, memunculkan rindu yang menggebu di dada ini.


Aku menutup mulutku karena mulai terisak.


"Kamu kenapa?"


"Nggak papa, Rey. Ya, kalau mau rame, setel musik kenceng-kenceng aja."


Rey tersenyum.


Mungkin ada baiknya sekali-kali aku dan Rey terpisah seperti ini. Mungkin juga hal inilah yang bisa memunculkan rasa rindu Rey terhadapku.


"Alma."


"Ya."


"Aku rindu ... "

__ADS_1


Deg...


Dua kata yang membuat jantung ini semakin cepat berdetak.


__ADS_2