
Mungkin andai kata Rey ada di sebelahku, tulang rusuknya bisa saja remuk karena terlalu erat aku memeluknya. Tak ada rasa yang paling bahagia, saat Rey berucap dua kata tersebut. Seharusnya bisa kubayangkan, saat ia acuh, pasti tak lama ia bisa membuat bunga-bunga bermekaran di hatiku.
"Aku juga, Rey."
Rey tersenyum kembali. Senyumnya kini semakin manis.
"Aku rindu saat kamu ribut. Nyanyi-nyanyi gak jelas dan suka ngerecokin aku."
Aku cemberut seketika.
"Kamu paling bisa, ya, Rey, ngebolak balikin hati aku. Padahal aku seneng banget pas kamu bilang rindu." Diiringi dengan bibir yang mengerucut.
Rey tertawa kecil. Ia tampak sedikit puas karena berhasil membuatku terbawa perasaan.
"Kamu hati-hati di sana. Jangan macam-macam. Kirim aku SMS saat kamu kunjungi tempat tertentu. Sertakan fotonya, ya."
"Oke."
"Huaem. Aku ngantuk. Udah malam juga. Sambung besok, ya."
Aku mengangguk. "Selamat tidur suamiku."
Rey mematikan ponsel terlebih dulu lalu diikuti denganku.
Terngiang dua kata yang berhasil membuatku spot jantung untuk beberapa detik. Senyum di wajahku tak henti-hentinya terpancar indah. Aku merasa perpisahan yang sementara ini adalah awal yang baik buatku dan Rey. Setidaknya setelah beberapa bulan berlalu, Rey akhirnya bisa merasakan rindu terhadapku. Seorang gadis yang tiba-tiba datang dan menodongnya untuk dinikahi.
**
Setelah beberapa saat lelah menghayal, akhirnya mataku terpejam kembali. Namun, berkali-kali terbangun. Entah kenapa. Sampai jam setengah lima pagi, aku benar-benar bangun. Aku mengingat apa yang telah terjadi. Mungkinkah mimpi? Tapi, setelah aku membuka ponsel, masih ada panggilan video call dari Rey.
Kewajiban sudah selesai aku tunaikan. Bingung mau melakukan apa, aku lantas berjalan ke kamar Dona. Ingin menceritakan kejadian tadi malam yang berhasil membuat jantung ini berzumba ria. Namun, kamar teman sekantorku ini masih terkunci.
Aku juga berusaha mengetuk beberapa pintu kamar milik temanku yang lain, tapi nihil. Semua tak memberi jawaban. Akhirnya, setelah lelah mencari teman, aku keluar penginapan dengan menggunakan sweter tebal. Lengkap dengan hijab dan kaos kaki. Bukan apa-apa, pagi di sini sangatlah dingin.
Aku berjalan santai sambil menggerakkan tanganku ke samping dan ke atas. Menikmati fajar yang mulai menampakkan diri. Begitu indah di sini. Aku juga tak lupa mengabadikan momen-momen langka ini dengan ponselku.
"Alma?" Suara nyaring mengejutkanku. Aku segera menoleh melihatnya.
"Dona? Ngagetin aja."
"Huaem. Ngapain pagi-pagi di sini? Dingin," katanya sambil menggesekkan lengan dengan telapak tangannya.
"Jalan-jalan. Sambil menikmati fajar."
"Eh, kamu tau nggak, Al."
__ADS_1
"Tau apa?"
"Ada orang yang lagi ngintipin kamu, lho."
"Hah? Mana?" Aku mencari di sekelilingku. Namun, tak kudapati siapapun kecuali aku dan Dona di sini.
"Mana? Nggak ada. Jangan nakut-nakutin dong."
"Bukan di sini, tapi di atas sana." Dona melempar pandangan ke arah penginapan. Tampak samar-samar di sana ada seseorang yang tengah duduk santai dengan memegang sebuah cangkir. Ia juga tengah memandang ke arah kami.
"Itu siapa, Don?"
"Itu Pak Rianlah. Siapa lagi."
"Emang kursinya yang menghadap ke sini kali. Bukan sengaja lihatin aku." Aku melanjutkan memotret air mancur yang ada di tengah kolam.
"Kamu aja yang nggak tau. Dari tadi aku terus amati dia. Malahan bos kita itu sempet ambil foto kamu."
"Ngaco. Udah ah. Aku mau mandi terus dandan. Biar Rian beneran suka sama aku." Aku sedikit tersenyum menggoda Dona sambil berjalan masuk ke penginapan.
"Kalo nanti beneran suka gimana?"
"Suka aja, kan. Nggak papa dong. Nggak dilarang juga. Yang dilarang itu kalau rasa sukanya diungkapkan."
**
Perlahan aku memcoba membuka pintu dengan perlahan. Ternyata, pintunya tak dikunci. Aku segera ingin melihat pria berkulit sawo matang itu dan memergokinya.
Mata ini sibuk mengamati dari sudut ke sudut ruangan dengan saksama.
Kreekk...
Aku terkejut saat suara mendengar suara pintu dibuka lalu ditutup. Dengan wajah yang cukup kacau, aku menegapkan badanku. Berfikir secepat ninja alasan apa yang akan aku ucapkan apabila Rian memergokiku masuk ke sini.
"Sedang apa kamu?" tanya seorang lelaki. Tak salah lagi, itu pasti Rian. Aku hafal betul nada bicaranya.
"Maaf, Pak. Saya sengaja mau menemui Bapak. Ehm, nanti kita berangkat jam berapa, ya? Perlengkapan apa yang harus dibawa?" Sambil tersenyum kikuk.
Bukan segera menjawab pertanyaanku, Rian kini justru berjalan mendekat ke arahku.
"Bukan sudah aku jelaskan tadi malam di ruang pertemuan?" Masih berjalan mendekat.
Aku hanya bisa berjalan mundur untuk menghindarinya tanpa menatap matanya.
"Iya, Pak. Maaf, saya lupa. Mungkin karena saya terlalu lelah kemarin." Hingga alasan kedua ini, dia tak lantas menghentikan langkahnya untuk terus membuatku terpojok.
__ADS_1
"Apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?"
"I-i-iya, Pak."
Terpaksa aku duduk di kursi karena sudah sangat terpojok dengan kelakuan Rian pagi ini.
"Cantik sekali," ucapnya.
Tentu saja kata itu membuat kedua kelopak mata ini melebar seketika.
"Hah?"
Wajah Rian kini semakin dekat dengan wajahku. Aku ingin sekali berontak atau meminta tolong. Tapi, aku sengaja menunggu dia benar-benar berbuat lebih dari ini.
"Pemandangan itu sungguh cantik sekali." Ia lantas menjauhkan diri dariku. Setelah detik-detik jantung ini dibuat maraton olehnya.
Aku membuka mata yang sedari tadi tertutup karena kelakuan bosku ini.
"Wah." Terkesima melihat pemandangan yag indah dari atas sini. Taman bunga tampak berimbang dengan latar belakang pegunungan yang masih diselimuti sedikit kabut.
"Karena kamu sudah duduk. Ayo temani saya mengopi," ajaknya.
Rian lantas menuang kopi dari teko ke cangkir mungil yang ada di atas meja.
"Tapi ... "
Sebelum aku selesai bicara, Rian sudah memegang cangkir itu dan hendak memberikannya kepadaku.
"Saya ... "
"Sudah, minum saja. Toh, jam delapan pagi masih cukup lama. Kamu bukan tipe wanita yang bisa menghabiskan separuh hidupnya untuk berdandan, kan?"
Aku menggeleng ragu. Dengan penuh keragu-raguan, aku menyeruput sedikit kopi itu. Mulanya hanya ingin mencicipi sedikit untuk menghormati lelaki ini sebagai bosku, tetapi, pikiranku berubah setelah tau rasanya.
Hanya dengan tiga tegukan saja, secangkir kopi kuminum. Rian menuang kembali ke cangkir yang masih kupegang ini. Bak terkena hipnotis, aku kembali menghabiskan secangkir kopi hanya dengan sekali minum saja.
Karena hari semakin siang, aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri.
Aku bangkit dan berjalan keluar setelah pamit kepada Rian. Di luar. Rupanya ada beberapa orang yang tengah berjalan di lorong penginapan. Tiba-tiba kepalaku mulai terasa pusing Pusing sekali. Perut juga terasa perih. Keringat dingin mengucur deras di wajahku.
Pandangan mata yang mulai buram membuatku sulit berjalan. Aku merayap memegangi dinding utuk bisa terus berjalan.
Bluk...
Badan ini jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung....
like, rate, and vote. Jan lupa komen agar aku mampir di novel kamu. 😊😊