
Sampai jam tiga sore, aku dan teman lainnya masih bergulat dengan tumpukan berkas yang kian membosankan. Sesekali aku melirik jendela. Berharap bisa melihat Pak Joni dari atas sini. Kasihan juga ia pasti merasakan hal yang sama denganku kini.
Tepat jam empat sore, aku dan Dona beranjak untuk membersihkan diri serta berganti pakaian. Di dalam toilet wanita ini, aku bercermin sembari memegangi perutku. Membalik ke kanan dan ke kiri. Melihat jemari yang mulai mengembang. Perkataan Vina masih membekas di dalam ingatan. Menyebutkan bahwa badan ini tak enak dipandang. Sungguh kejam sekali menurutku.
"Al, jangan dipikirin perkataan si Vina itu," kata Dona saat mendapatiku di depan cermin.
"Mana bisa. Tapi, dia benar juga, ya, Don."
"Kamu seksi kok. Empuk." Kali ini Dona menyenggol pinggulku sambil tersenyum dan melirik di pantulan cermin.
Aku ikut tersenyum. Beruntunglah aku mempunyai teman seperti Dona. Setidaknya, ia masih membelaku.
Saat kami sampai di ruangan kembali, teman-teman membeli pasta dan pizza untuk makan malam. Kami hanya tinggal makan saja. Sambil sesekali bercanda dan membicarakan pekerjaan, kami bersama-sama menikmati makan malam ini.
Pak Rian tak terlihat dari kami selesai makan siang tadi. Aku tak melihatnya keluar ataupun masuk ke dalam ruangannya.
"Don, kamu lihat Pak Rian, gak?"
"Enggak. Cie, nyariin," ledeknya.
"Ih, enggak gitu. Dari makan siang tadi dia sama sekali gak kelihatan."
"Udah makan aja dulu. Nanti kalo udah kenyang, baru kita cariin dia di mana."
Aku menyenggol lengan Dona. Rasanya sedikit aneh ketika aku tak mendapatinya beberapa jam ini. Biasanya, meski dalam waktu yang sedikit lama, aku masih melihatnya keluar masuk ruangannya.
"Al, ayo kita selesaikan kerjaan ini. Aku udah rindu dama bantal dan guling."
"Hem."
__ADS_1
Mata ini sesekali melirik pintu ruangan Rian. Begitu sepi di sana. Sementara hari semakin petang. Apa mungkin ia pulang terlebih dulu? Tapi, kenapa semenjak kejadian kemarin, aku merasa tak enak hati dengannya.
"Nyariin siapa, sih?" Tiba-tiba Dona muncul di samping meja dengan kursi kerja berodanya itu.
Aku cukup terkejut dengan kedatangannya. Pipiku juga menghangat ketika ia mendapatiku beberapa kali melirik pintu ruangan Bos tampan itu.
"Enggak kok. Cuma kepalaku agak capek aja," ujarku membela diri.
"Aku mendukung kamu sama Pak Rian, kok, Al. Kalau seandainya suami kamu itu tetap mempertahankan perempuan bermulut silet itu."
"Kamu ngomong apa, sih. Ibu aku ngajarin waktu aku baru lulus SMA. Kalo aku udah nikah nanti, cukup satu kali aja seumur hidup. Hanya maut yang memisahkan, gitu."
"Maunya, ya, Al. Tapi, kalo keadaan kaya kamu gini, gimana? Kamu bilang suami kamu sampai tadi pagi berangkat duluan ke kantor. Kenapa dia yang marah banget sama kamu? Sebetulnya kamu berhak marah juga dong sama dia."
"Udah. Aku gak mau ngomongi dia lagi. Kita lagi berhadapan dengan tumpukan kertas, nih. Yuk, selesaikan ini dulu. Katanya siapa tadi yang rindu sama bantal dan guling."
Perkataan Dona jadi mengingatkanku pada Rey. Aku iseng-iseng mengambil ponsel. Berharap ada satu pesan iseng yang Rey kirim kepadaku. Namun, tidak. Mungkin Rey terlalu sibuk untuk mengirim barang satu pesan kepadaku. Aku bisa mengerti pekerjaan seorang Bos yang terkadang hanya untuk ke kamar kecil saja tidak sempat.
Aku memaksakan diri menyetok sabar yang luar biasa banyak untuk Rey. Bila dirasa ia cukup keterlaluan, hanya air mata yang mewakili perasaanku. Toh, sejauh aku menikah dengan Rey beberapa bulan ini, ia selalu menguji kesabaranku.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Hari semakin larut. Namun, belum ada tanda-tanda pekerjaan ini akan selesai. Tak kusadari, ruangan ini cukup sepi sekarang. Ocehan beberapa rekan, tak terdengar setelah menit-menit berlalu.
Lampu ruangan ini, tiba-tiba saja padam dan hidup lagi. Keadaan menjadi cukup seram di sini.
"Don, Don." Aku memanggil Dona. Namun, tak ada jawaban.
Dalan keadaan lampu ruangan yang padam dan menyala, aku memberanikan diri untuk berjalan ke meja Dona. Perlahan sambil memegangi bilik penutup meja.
Tak ada. Dona tak ada di sana. Napas ini mulai keluar masuk dengan cepat. Setelah aku melihat semua bilik milik rekan juga kosong, aku semakin takut. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Rasa takut ini semakin kencang karena lampu di pojok ruangan benar-benar padam.
__ADS_1
Aku berlari cukup kencang kembali ke mejaku semula. Mengambil ponsel dan menelepon Dona. Tapi, ponselnya tak aktif. Aku semakin kacau saja. Lampu di ruangan ini mulai padam satu persatu. Membuat bulu kudukku berdiri. Jantung ini juga berdetak cepat. Aku tak bisa berpikir jernih sekarang.
Aku merasa takut sekali. Tak pernah aku setakut ini. Aku mencoba menelopon siapa saja, termasuk Rey, tapi ponselnya juga tidak aktif. Aku merasa malam ini aku sungguh sial sekali. Malam-malam sendirian di ruangan ini. Dengan lampu yang mulai padam satu persatu.
Saat aku berpikir untuk keluar dari ruangan, tiba-tiba saja terdengar suara sayup-sayup tawa seorang wanita. Suaranya sedikit menggema. Semakin takut aku dibuatnya. Aku urungkan niatku untuk keluar ruangan ini. Pilihan terakhir adalah, aku menyembunyikan kepalaku di dalam bilik. Menutup mata dan menutup telinga karena lampu di sini, sudah tak ada yang menyala.
Dalam ketakutanku, tiba-tiba saja terdengar langkah kaki yang cukup banyak mendekat. Aku tak berani melihat sedikitpun. Justru aku semakin takut. Kaki juga bergetar hebat.
"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Alma, selamat ulang tahun."
Aku memberanikan diri menoleh ke kanan. Ternyata Dona bersama rekan yang lainnya. Dona membawa kue tart di tangannya dengan beberapa lilin di sana. Sontak saja aku bernapas lega, telah bertemu sengan rekan kerjaku.
Seseorang juga menghidupkan lampu runagan, dan ruangan kembali terang seperti tadi.
"Maaf, ya, Al. Kami udah ngerjain kamu."
Aku tersenyum bahagia. Aku sama sekali tak marah karena mereka sengaja mengerjaiku.
"Hem. Gak papa, kok. Aku malah lupa kalau sekarang aku berulang tahun," balasku.
"Tiup dulu, dong lilinnya," seru Dona.
Aku sedikit menarik napas dan meniup lilin satu persatu. Riuh tepuk tangan mengiringi kebahagiaanku malam ini. Dona lantas meletakkan kue di atas meja dan memotongnya. Potongan pertama tentu saja untukku. Kami kembali tertawa riang saat ia juga mencolek krim di wajahku.
Suasana kembali riuh saat aku berusaha membalas Dona. Namun, gagal. Tentu saja dengan tubuh tambun ini aku kesulitan mengejar Dona.
Bersambung....
Beri like dan vote ya. Yuk, ajak teman lainnya baca novel ini. Bagi author yang lain, jangan sungkan memberi komentar. Nanti saya akan Feedback ke novel kamu. 😊😊
__ADS_1