
Aku masih menatap Dara yang sibuk dengan anaknya. Anak itu begitu lucu, putih, dan pipinya seperti bakpau.
"Ra, aku bosen, nih, di rumah terus. Kamu ada lowongan nggak buat aku?" tanyaku pada Dara.
"Lowongan apa, sih?"
"Kerjalah."
"Mau kerjaan apa?" tanya Dara.
"Apa, ya, kasir boleh deh. Aku sebelum nikah kerja jadi kasir di mini market deket rumah."
Aku melihat Dara sedang memangku anaknya yang sudah tertidur kembali.
"Ada, sih, kerja. Tapi, aku nggak tau udah keisi atau belum. Soalnya udah beberapa bulan aku tinggal. Karen cuti melahirkan. Tapi, kata suami kalau anak aku udah dua gini kayanya susah kalau mau aku tinggal kerja. Jadi aku putusin berenti."
"Emang sebelum melahirkan kamu kerja apa?" tanyaku antusias.
"Admin."
"Wah, itu mah susah, Ra," jawabku pesimis.
"Aku kenalin dulu sama mantan atasan aku, ya. Siapa tau dia ada lowongan kerja lain di katornya."
"Oke."
Aku melirik arloji sejenak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan siang hari. Aku memutuskan untuk pulang.
"Ra, nanti chat aku aja, deh, ya. Aku mau pulang dulu."
"Kok buru-buru, Li. Masih jam sebelas."
"Iya. Rumahku ke sini lumayan jauh, Ra."
Saat aku masih berbincang-bincang, taksi online sudah datang. Aku bangkit dan berpamitan kepada Dara. Tak lupa aku mencium akannya yang terpejam. Aku selipkan amplop di dekat tangan anaknya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk.
"Kita ke mini market dulu, Mas," kataku pada supir taksi.
"Iya, Mbak."
Dalam perjalanan, otakku terus berfikir bagaimana bisa membuat Rey suka denganku. Berulang kali aku memandang luar jendela dan hanya duduk diam tanpa melakukan hal yang aku suka.
Kali ini aku memang tak banyak bicara dengan Dara, takut bila mulut ini tiba-tiba terbuka untuk membuka aibku sendiri. Lebih baik aku pulang secepatnya daripada harus merasakan rasa iri lebih dalam lagi.
Mobil sampai di depan mini market yang dituju. Aku segera turun dan membeli segala keperluan rumah yang habis.
Setelah dua jam di dalam mini market, aku berjalan keluar dengan tiga kantong plastik. Cukup banyak karena komplek rumah cukup jauh dari mini market.
Aku masuk ke dalam mobil. "Jalan, Mas."
__ADS_1
Mobil melaju sedang mengantarku pulang. Aku masih diam dan sesekali menghela nafas.
Krruuukkk...
Terdengar suara sesuatu, tapi aku tak tau suara apa.
Kruuukkk...
Sopir taksi terlihat sedang memegang perutnya. Rupanya, suara itu berasal dari perut supir. Aku memandangnya dari kursi belakang tanpa dia ketahui.
"Mas, lapar? Belum makan siang?" tanyaku.
"Iya, Mbak. Nggak sempet tadi mau makan siang. Takut kejebak macet kaya tadi pagi. Jam-jam tadi, kan, jam makan siang. Lumayan juga."
Aku menyodorkan sebungkus roti kepada supir taksi.
"Ini, buat, Mas."
"Enggak, Mbak. Nggak usah. Saya bisa makan di warteg aja nanti," jawabnya malu-malu. Mungkin dia merasa nggak enak.
"Ya udah kalau nggak mau."
Krruukkk...
"Perutnya, Mas yang mau."
"Hehe." Dia mengambil roti ini juga.
"Makasih, ya, Mbak."
Mataku dikejutkan dengan sesosok lelaki yang kukenal. Ia adalah Rey. Dan ia sedang bersama Vina. Walau hanya sekilas, dasi merah hati yang aku kenakan pagi tadi masih melekat di kerah bajunya.
Tak terasa air mataku menetes cukup deras. Supir taksi sampai memberhentikan laju mobilnya karena mendengarku menangis.
"Mbak, Mbaknya kenapa?" tanya supir sambil menoleh padaku.
Aku tak menghiraukannya dan tetap menangis.
"Hiks, hiks, hiks, haaa... Huaaa."
"Mbak, kalau mau nangis, jangan di mobil saya. Bahaya."
"Hiks... Kalau bahaya, cepet anter pulang!" teriakku.
"Iya-iya." Supir menancap gas dan segera mengantarku pulang.
Sampai di rumah, aku hanya membawa satu kantong plastik. Kantong yang kedua dibawa oleh supir taksi. Ia meletakkannya di ruang tamu dan segera pergi setelah aku selesai membayar.
Aku masuk kamar dan mengangis sekencang-kencangnya, di bawah bantal. Agar tak ada orang yang tau. Aku pun tertidur karena lelah menangis. Aku terbangun karena mendengar azan ashar.
Sangat malas sebenarnya menggerakkan badan ini turun dari ranjang, tapi, aku ingin mencurahkan isi hatiku kepada Yang Maha Kuasa.
Setelah puas menagis, aku merasa sangat lapar. Aku hanya membuat mi instan isi satu keping, dua bungkus dan langsung aku makan habis. Aku tak perduli Rey akan makan malam dengan apa. Setelah selesai, aku masuk kamar kembali.
Aku putar musik kencang-kencang memakai ertphone. Tentu aku memutar musik favoridku, salawat. Ini cukup membuat hatiku dingin dan tenang.
__ADS_1
Ting.. Tung..
Bel berbunyi. Namun, aku masih sibuk dengan musik yang sengaja aku keraskan ini hingga membuatku tak mendengar suara bel pintu sedang ditekan.
Mungkin karena lama aku tak kunjung datang, Rey mengintip dari jendela dan mengetuk-ngetuk jendela. Aku bergegas keluar kamar dan membuka pintu depan.
Sudah sedikit lupa dengan masalahku. Rasanya, ketika aku ingin acuh kepada Rey, dia bisa saja merayuku kembali, walau hanya dengan beberapa kata saja.
Aku mengambil tas jinjing Rey dan berjalan masuk.
"Sudah makan malam, Rey?" tanyaku.
"Sudah," jawabnya singkat.
Untung aja udah. Soalnya aku nggak masak.
Dia berjalan masuk ke kamarnya dan mandi. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. Rebahan di atas ranjang dan mendengarkan lagu. Sebisa mungkin aku menghibur diriku. Setidaknya aku sudah bertemu dengan teman.
Mungkin sebagai manusia, aku kurang bersyukur. Melihat Rey bersama rekan kerjanya saja, aku terbakar api cemburu. Padahal ia hanya rekan kerja.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar Rey.
Tuk. Tuk. Tuk.
Aku mengetuk pintu kamar Rey. Tapi, setelah cukup lama menunggu, ia tak juga membuka pintu kamarnya. Aku menghela nafas dan berbalik menuju kamarku.
"Kenapa?" Ia membuka pintu.
"Aku tadi lagi pakai baju."
Aku tadi ngapain ya jalan ke sini. Aduuhh.
Aku berbalik dan menatapnya yang sedang berdiri sambil memegangi gagang pintu.
"Em, bisa nggak besok aku beliin coklat," pintaku.
"Kamu bukannya baru belanja? Kenapa nggak beli sendiri?"
Seketika bibirku mengerucut mendengarkan kata-katanya.
"Ya udah kalau nggak mau." Aku berbalik badan kembali.
"Berapa?"
Aku meringis bahagia hanya dengan satu kata terakhir itu.
"Lima," jawabku cepat.
"Kenapa banyak banget?"
"Ya buat besok-besok kalau aku lagi nggak mood." Aku sejenak menoleh menatap matanya dan berbalik kembali berjalan ke kamarku.
Mungkin memang harus aku yang mengalah. Sejauh ini, Rey masih pulang ke rumah ini. Tidak ada hal yang mencurigakan juga. Walau ponselnya dikunci dengan foto wajahnya.
Aku harus lebih bersabar lagi menghadapinya. Walau bagaimanapun, aku belum mengenalnya. Aku akan mulai mengenalnya lebih dalam lagi mulai dari sekarang. Supaya aku bisa merebut hati Rey.
__ADS_1