My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Dikerjai Rey


__ADS_3

Dengan perasaan yang entah bagaimana, aku melangkah membututi Ibu menuju ruang tengah. Mereka bertiga sedang mengobrol dan menonton tivi. Aku duduk di sebelah Ibu dan meletakkan piring berisi irisan buah dengan beberapa garpu di sana.


Rey tampak sudah kembali seperti sedia kala. Dingin, acuh, dan tanpa ekspresi. Dengan melihatnya seperti ini, kenapa aku berharap sikap Rey bisa seperti saat dia sakit. Atau akan lebih baik kalau dia sakit saja?


"Alma, kamu duduk di sana, dong. Di sebelah suami kamu. Ambilkan buahnya sekalian," titah Ibu.


Aku bengkit dan berpindah posisi menjadi tepat di sebelah Rey. Pandangan matanya masih di depan layar. Garpu dan seiring buah apel sudah di tangan. Saat aku bermaksud memberikan buah itu pada Rey, dia masih belum sadar dan masih berfokus kepada layar.


Aku menyenggol lengannya dengan lenganku. Lelaki ini menoleh dan melihat buah yang tertancap pada garpu yang sedang kupegang. Sementara Ibu dan Ayah sudah menikmati buah sejak tadi.


"Rey, bisakan kamu besok pergi ke dokter bersama Alma?"


"Saya sudah berobat kemarin, Bu," jawab Rey.


"Bukan itu. Kamu akan pergi ke dokter kandungan bersama Alma."


Aku dan Rey saling menatap. Mata Rey tiba-tiba tertuju pada perutku. Aku memegang perut dan menolehkan badanku. Rey tersadar dan kembali melihat Ibu.


"Dokter kandungan?"


"Iya. Alma, kan, belum hamil, jadi kalian nanti akan mengikuti program hamil."


Kami kembali saling menatap. Tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Ibu, aku dan Rey besok akan bekerja."


"Baiklah. Kalian akan ke dokter lusa saja."


"Ibu. Tak bisa begitu. Alma kan, punya cuti yang terbatas. Dan tidak sembarangan bisa mengambil seenaknya, Ibu."


"Kalau begitu, kalian akan ke sana, jam tujuh malam. Bagaimana, tak menganggu pekerjaan, kan?"


"Tapi, Alma dan Rey juga sering lembur, Ibu."


"Alma. Sampai kapan kalian akan sibuk dengan urusan masing-masing? Kalian ini menikah sudah hampir empat bulan, belum ada tanda-tanda hamil itu perlu dipertanyakan. Toh ini demi kebaikan kalian juga. Anak tetangga Ibu saja, belum menikah sudah hamil."


Aku terdiam seribu bahasa. Tak dapat kuelak ocehan Ibu. Sedikit penekanan membuatku tak mampu menyanggah perkataannya. Semua yang Ibu katakan memang benar adanya.


Aku tertunduk lesu di sini. Ingin sekali kepala ini kusandarkan di bahu Rey tepat di sebelahku.

__ADS_1


"Baiklah. Saya dan Alma akan pergi ke dokter," sahut Rey.


Sambil menahan air yang hendak tumpah, aku mengangkat kepala perlahan, lalu menatap wajah lelaki tampan ini. Meski ia bersikap acuh dan diam, tak dapat kupungkiri, wajah itu selalu membuatku jatuh cinta setiap hari dengannya.


"Makasih, Rey," busikku pelan di telinganya.


"Kamu akan bayar ini. Tidak ada yang geratis!" desis Rey sambil menolehkan sedikit kepalanya. Lirikannya begitu tajam hingga menusuk hatiku.


"Baiklah," jawabku lesu.


Sebisa mungkin aku mencari alasan untuk tak pergi ke dokter karena merasa tak enak hati dengan Rey, ternyata dia sendiri yang menyetujuinya.


**


"Ibu. Apa Ibu dan Ayah akan pulang sekarang?" tanyaku kepada Ibu yang tengah melipat beberapa pakaian.


"Iya. Besok ibu ada pesanan ketering dari Bu lurah. Tidak mungkin ibu tolak, Nak."


"Padahal Alma masih kangen."


"Kangennya kasihi Rey aja, ya."


"Beda dong, Bu."


Di depan, taksi online yang sengaja kupesan baru saja tiba. Dan klakson mobil itu berbunyi sesaat sebelum kami muncul. Aku, Ibu, dan Ayah berjalan ke arah mobil dan me adukkan semua barang.


"Mas, tumben gak telat. Giliran ama saya aja, telat mulu," kataku basa-basi.


"Maaf, ya, Mbak. Ini kan, jam pulang pekerja. Jadi, saya gak terlalu sibuk."


"Ngeles aja kaya bajaj. Nih Ibu sama Ayah saya anterin sampai rumah dengan aman, ya. Kalau ada apa-apa, awas."


"Wah, Mbaknya main ancam-ancam saya jadi serem."


Aku tertawa diikuti dengan Ibu dan Ayah.


"Ya, udah jalan. Ngobrol aja."


"Siap, Mbak."

__ADS_1


"Hati-hati, Bu."


"Iya, ingat pesan Ibu, ya, Alma!" teriak Ibu dari dalam mobil yang mulai jalan menjauh.


Aku masih melambaikan tangan hingga mobil sudah tak tampak dari pandangan. Setelah menutup pintu gerbang, aku berjalan perlahan ke dalam rumah. Kini, rumah ini kembali sunyi. Tak ada ocehan Ibu yang memenuhi lorong telingaku. Namun, melihat Rey sudah kembali sehat, merupakan kebahagiaan tersendiri buatku.


"Hei. Sini. Waktunya kamu bayar!" teriak Rey dari depan pintu.


Sambil mengerutkan kedua alis, aku membuntutinya hingga sampai ke kamarnya. Saat saku baru saja masuk, tiba-tiba Rey menutup pintu dan menguncinya. Kunci ia kantongi di saku celana.


Dalam keadaan begini, aku bingung harus merasa bahagia atau sedih.


Rey berjalan mendekat dan membuka kausnya. Tatapan matanya tiba-tiba menjadi tajam seperti harimau hendak menerkam mangsanya.


"Kam-kam-kamu mau apa, Rey." Aku mundur menjauh darinya. Sungguh Rey kini sama sekali tak enak dipandang.


Ia masih saja berjalan mendekat ke arahku. Aku bingung sampai akhirnya kaki sudah sampai di meja kerja Rey. Sementara wajahnya semakin dekat denganku.


Aku benar-benar belum siap menghadapi ini. Namun, dalam ketidak siapanku ini sepertinya Rey sangat menikmatinya.


Mataku terpejam karena tak mampu melihat wajah Rey yang hampir tak berjarak denganku.


"Nih. Kerjain." Suara Rey sedikit menjauh membuatku membuka mata.


Ia memberiku beberapa berkas. Lantas Rey pun merebahkan tubuhnya di ranjang dengan bertelanjang dada. Aku menggigit bibirku karena merasa hampa.


"Itu berkas kantor yang dikirim tadi pagi. Tolong kerjakan. Aku mau istirahat." Rey mulai menutup matanya.


Rasa kesal memenuhi lorong kepalaku. Jadi, berkas ini yang ia maksud aku harus 'membayar'. Namun, mengapa ia harus menutup pintu dan membuka baju? Dia betul-betul mampu membuat jantungku senam aerobik seketika.


Dengan langkah kesal sambil menghentakkan kaki ke lantai, aku duduk mengambil leptop yang ada di meja kecil sebelah ranjang dan kemudian kembali lagi ke meja kerja Rey. Perlahan membuka berkas-berkas, lalu mulai mengerjakannya.


Aku melirik Rey setelah dua berkas selesai. Ia masih terpejam dengan manis. Kedua tangannya menjadi tumpuan kepala belakang. Dadanya kembang kempis terlihat jelas dari sini. Perutnya masih terbentuk beberapa kotak di sana. Begitu mulus dan seksi. Membuatku benar-benar ingin meneken tombol kotak itu.


"Sudah selesai?"


Suara Rey sontak membuyarkan lamunanku. Kelopak mata ini melebar saat mendengar suaranya. Ia tersenyum dan masih menutup matanya.


Apa aku sedang dipermainkan olehnya? Awas kamu, Rey. Aku akan membalasmu, gumamku dalam hati. Mata ini menyipit, lalu kembali menatap layar datar dihadapan.

__ADS_1


Bersambung...


Hai reader. Jangan lupa like, rate n vote ya. Nanti aku feedback, jangan lupa tinggalkan jejak komentar.


__ADS_2