
Sebulan sudah acara empat bulanan telah berlalu. Kejutan indah dan perlakuan istimewa selalu diberikan untukku. Sampai kejadian di hari minggu.
"Au." Aku mengelus perut dan duduk di ranjang.
"Kenapa?" Suamiku yang baru saja keluar dari toilet terlihat khawatir.
"Kenapa perutku keras, ya?"
Tentu saja lelaki tampanku ini berjalan cepat menghampiriku. Ia lantas ikut mengelus perut yang tampak membuncit ini.
"Apa sakit?"
"Enggak. Cuma keras, aja."
"Apa perlu ke dokter?"
"Tolong kamu telepon dulu dokternya."
"Oke."
Rey bergegas mengambil ponsel di atas meja rias. Beberapa detik kemudian ia mengarahkan ponsel ke telinganya.
"Halo."
"Dok, saya mau bertanya. Barusan perut istri kenapa tiba-tiba keras?"
Rey menatapku. Terlihat bahwa ia tengah fokus mendengarkan dokter berbicara. Ia hanya diam sambil sesekali memperhatikan perut buncit ini.
"Oh, gitu. Saya kira, ada yang gawat." Senyum sipuhnya membuatku sedikit lega.
Suami tampanku ini lantas menutup telepon dan menghampiriku. Berlutut dan kembali mengelus perut yang sudah kembali seperti semula.
"Kata dokter gak papa, Bunda. Perut biasanya kadang-kadang terasa keras saat usia kandungan memasuki lima bulan. Dan sebentar lagi, Dedek bayi juga udah bisa gerak-gerak."
Aku tersenyum.
"Oh, untunglah. Aku udah takut, Yah. Tapi, seingatku, Dedek belum gerak. Mungkin sebentar lagi, ya?"
"Iya. Sabar aja."
**
Semenjak perutku terasa keras tadi pagi, menjelang sore ini terhitung sudah lima kali perut ini kembali mengencang dan mengendur sendiri. Bahagia sekali rasanya karena anak di dalam kandungan ini bisa menunjukkan perkembangannya. Entah seperti apa wajahnya kelak. Rasanya aku tak sabar menantikan kehadirannya.
"Sini, Bu. Biar saya saja," sahut Bi Ningsih.
"Ini tinggal bersihin meja aja, Bi. Saya gak mau kalau lagi enak-enak makan, meja berdebu."
"Wah, saya salut dengan Ibu. Walaupun hamil, tapi masih rajin. Beda sekali dengan saya dulu."
"Memang Bi Ningsih dulu gak rajin?"
"Malas, Bu. Sampai saya musti diingetin terus sama Ibu mertua saya. Kadang malu. Biasalah, Bu orang tua dulu cerewet. Gak boleh ini, gak boleh itu. Tapi, kadang omongan mereka itu baik untuk kita sendiri."
Aku tersenyum tipis.
"Orang tua itu pasti sayang dengan anaknya, Bi."
__ADS_1
"Betul, Bu."
"Setelah saya melahirkan, saya pasti akan lebih sibuk. Apa gak bisa, Bi Ning tinggal saja di sini?"
"Tidak bisa, Bu. Ibu tahu sendiri kalau suami saya sakit. Saya tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Walaupun sakitnya sudah hampir lima tahun. Saya harus tetap mengurusnya, Bu."
Ah, aku lupa tentang suami Bi Ningsih yang sakit stroke.
"Maaf, Bi. Saya lupa. Saya cuma mikirin urusan saya sediri."
"Gak apa-apa, Bu. Memang seharusnya asisten rumah tangga seperti saya baiknya memang tinggal dirumah majikan. Tapi, saya mohon maaf ke pada Bu Alma dan Pak Reyhan kalau saya tidak bisa tinggal di sini."
"Saya mengerti, Bi. Sayalah yang minta maaf."
Hebat. Seorang istri yang mengurus suaminya sendirian sambil membesarkan anak bungsu yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku mengagumi sosok Bi Ningsih. Satu kali aku mengunjungi rumahnya. Menengok suami yang terbaring lemah di ranjang. Saat Bi Ningsih berangkat bekerja, ia sudah selesai membereskan rumah, memasak, dan menyuapi suaminya makan.
Saat makan siang, giliran anak perempuannya yang menyuapinya. Saat itu, aku begitu kasihan melihat keluarga ini. Hingga suami tampanku ini memutuskan mengajak Bi Ningsih bekerja di rumah ini karena tak ada yang mau menerimanya sebagai asisten rumah tangga karena ia harus pulang saat malam tiba.
"Mungkin saya harus mencari teman buat, Bibi."
"Teman?"
"Iya. Supaya Bi Ningsih tak repot apabila anak saya sudah lahir."
"Maaf sekali lagi, Bu. Saya tidak bisa tinggal di sini."
"Saya mengerti, Bi. Keluarga Bibi adalah yang paling utama buat Bibi. Saya tadi lupa dan terlanjur senang membayangkan, Bibi bisa tinggal bersama kami di rumah ini."
Bi Ningsih menunduk. Raut wajahnya terlihat lesu. Berulang kali ia meminta maaf, berulang kali juga aku mengucapkan kata itu. Aku tak tahu ia akan mengerti atau tidak. Tapi, mudah-mudahan ia bisa mengerti.
"Sebagai gantinya, saya akan mencari teman saya bekerja di sini."
**
Setelah makan malam selesai, aku dan suami tampanku duduk bersama di depan layar tivi. Sambil memakan apel dan anggur. Tak terasa, hal ini sudah berjalan lima bulan lamanya semenjak aku mulai hamil. Rey kini jarang sekali lembur dan bisa meluangkan waktu untukku. Ia bahkan akan memulai menatap kembali layar laptopnya saat aku sudah terlelap. Mungkin ia ingin menghargaiku.
"Hah?"
"Apa?" tanya Rey. Ia menatapku aneh.
"Ada yang gerak." Aku melihat ke arah perutku.
"Mana?" tanya Rey antusias. Ia langsung mengelus semua bagian perut ini.
"Gak ada."
"Barusan ada."
Kami kembali menonton.
"Ha, ada lagi." Aku sedikit berteriak hingga membuat suamiku terkejut.
"Mana, mana?" Ia kembali mengelus perut. Tapi, raut wajah yang berharap merasakan gerak lambutnya perlahan luntur karena tak mendapati apa-apa.
"Beneran ada, Bunda?"
"Iya, ada."
__ADS_1
"Wah, Dedek bayi ngerjain ayah, nih."
Aku menahan tawa sambil menutup mulutku dengan beberapa jari.
"Yah, ajak ngobrol dong Dedek bayinya. Jangan sibuk sendiri."
"Biar apa?"
"Lupa apa kata dokter minggu kemarin?"
Rey terdiam dan mencoba mengingat sesuatu. Lalu, tak berapa lama ia tersenyum dengan memperlihatkan gigi ratanya. Seperti kuda.
"Ayah lupa. Oke, ayah akan ajak ngobrol, deh."
"Dedek, kapan kamu lahir?"
"Empat bulan lagi, Yah," jawabku.
Ia melihatku. Sedangkan aku menahan tawa karena pertanyaannya.
"Ayah kan, tanya Dedek."
"Lagian pertanyaannya aneh-aneh. Udah tahu masih lima bulan."
Aku iseng mendekatkan kepala lelaki tampanku ini ke perut. Merasa bahagia yang tak terkira saat ia menunjukkan perhatiannya padaku dan anaknya.
"Hah. Dia barusan gerak, Bunda."
"Apa, iya?"
"Iya. Wah, anak Ayah pinter." Begitu bahagianya saat Rey tak sengaja merasakan gerakan anaknya.
"Lagi, dong. Lagi." Beberapa saat ia menunggu.
"Ih, dia gerak lagi. Dia paham lho yang ayah bilang."
"Iyalah. Itu kan, anak Ayah. Dia punya ikatan batin. Makanya, walaupun kita masih beda dunia, kita juga musti sering ajak dia ngobrol, Yah."
"Anak ayah pinter."
Rey tampak sangat senang hingga ia berulang kali mengucapkan kata itu. Rasa bahagianya itu bahkan melebihi saat aku merasakan gerakan pertama anakku beberapa saat yang lalu.
"Yah."
"Hem." Rey masih sibuk mengalus. Mungkin ia masih menunggu gerakan-gerakan halus lainnya.
"Kalau anak kita udah lahir. Apa Ayah masih sayang dan perhatian gini sama bunda?"
Rey mengangkat kelapalanya dan melihatku lekat.
"Iya, dong. Sebelum Bunda hamil pun, ayah udah sayang kan, sama Bunda."
"Bunda takut kalau Ayah nanti cuma sayang sama Dedek aja. Karna beberapa pengalaman ibu-ibu di sosmed ada yang sampai kena baby blouse gara-gara stres. Serem, Yah."
"Enggaklah. Ayah pasti sayang sama kalian, kok."
Bersambung....
__ADS_1
Bantu like dan vote yaa.. 😊😊😊