My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Belanja Perlangkapan Bayi


__ADS_3

Mulai malam itu, rasanya suami tampanku tak ingin melewatkan gerakan demi gerakan yang diluncurkan manusia kecil di dalam alam kandungan ini. Meski belum bisa melihat dan menyentuhnya langsung, rasa bahagia karena sudah merasakan keberadaannya selalu menyelimuti kami.


Di masa kehamilan yang menginjak enam bulan ini, aku sengaja mengurangi menghibah, bersedih dan menangis. Sebisa mungkin aku membawa diriku untuk selalu merasa bahagia, meski ada saja kesalahan-kesalahan kecil yang tak sengaja dilakukan suami tercintaku. Seperti menarik baju sampai membuat yang lainnya berantakan. Lupa membereskan buku atau lupa mematikan laptop.


**


"Alma, jangan angkat berat-berat, ya," kata Ibu diseberang telepon.


"Iya, Bu. Alma suruh Bi Ning atau Pak Joni yang angkat kalo berat."


"Kamu harus siapin mental mulai dari sekarang. Berdoa terus supaya kelahiranmu nanti bisa lancar."


"Iya, Bu. Rey juga sering tahajud sekarang."


**


Tak akan cukup waktu dua jam untuk mengobrol dengan Ibu. Nasihat dan saran yang baik selalu ia ucapkan. Tak lupa dengan sedikit omelan atau siraman rohani. Mungkin memang begitulah sifat seorang ibu. Begitu perhatian dan sayang ke pada anaknya.


"Bunda. Tadi Papa telepon kalau kita disuruh ikut kelas ibu hamil besok siang."


"Oke. Apa tempatnya jauh?"


"Besok Papa kirim alamatnya."


"Kalau gitu siap pergi hari ini?" tanya Rey.


"Pergi? Pergi ke mana?"


"Siap-siap aja, nanti aku kasih tahu."


Aku sama sekali tak tahu ke mana suami tercintaku ini akan membawaku pergi hari ini. Begitu pun saat aku bertanya ke pada Bi Ningsih atau Pak Joni. Mereka berdua kompak menggelengkan kepala. Penasaran adalah rasa yang menyelimuti pikiranku saat ini.


"Kita ke mana, Yah?"


"Nanti, Bunda juga tahu, kok."


Sekian puluh menit mobil berjalan, aku masih belum mengetahui ke mana akan berhenti. Sementara lelaki tampan yang tengah menyetir saat ini hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresiku yang begitu penasaran.


"Bunda. Bangun. Kita udah sampai."


Aku membuka mataku perlahan. Menguceknya dan melihat di mana mobil ini berhenti. Betapa terkejutnya diri ini saat melihat ke arah kanan. Toko besar dengan foto peralatan bayi terpampang indah dihadapan.

__ADS_1


Senyum merekah bak bunga yang tengah mekar. Begitulah pujian yang dilontarkan suamiku. Ia tahu benar bahwa datang ke tempat inilah yang aku nanti selama ini. Perkataan Ibukulah yang menjadi sebab kami tak datang pada saat masa kehamilan kurang dari tujuh bulan.


"Ayo, masuk." Dengan hati-hati, Rey menuntunku masuk ke dalam. Menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa aku aman.


"Silakan Bunda," sapa seorang wanita di pintu masuk.


Aku dan suamiku hanya tersenyum melihatnya. Wanita lain di dalam langsung menyambut kami dan mengantar kami untuk duduk di sofa. Tak berapa lama, secangkir teh dan beberapa toples cemilan juga tersaji dengan indah.


"Kita ke sini mau belanja kan, bukan mau bertamu, Yah," ujarku pada Rey.


Rupanya pegawai toko mendengar ucapanku. Ia spontan menahan tawa.


Apa dia pikir aku sedang melucu?


"Maaf, Bunda. Kami akan menyiapkan segala kebutuhan Anda. Anda tidak perlu repot-repot berjalan dan berkeliling mencari apa yang Anda butuhkan."


Benar juga. Toko sebesar ini, pasti butuh waktu seharian aku mencari keperluan bayi.


Plak... Plak...


Dua tepuk tangan oleh wanita yang berdiri di samping kami, membuat beberapa pegawai lainnya berlari menghampirinya.


"Bawakan semua peralatan bayi dan perlengkapan ibu menyusui," titahnya.


"Terima kasih manager," kata Rey.


"Sama-sama, Tuan."


Oh, jadi dia ini manager. Tapi, kenapa panggil aku bunda? Apa dia mau lebih akrab denganku?


Tak berapa lama, beberapa karyawan datang dengan membawa peralatan bayi. Mulai dari pakaian, popok kain, popok instan, kain bedong, kain-kain yang lain, sampai bra menyusui sudah ada dihadapan.


Dua wanita terakhir yang datang juga membawa kereta bayi dan kasur. Tanpa banyak berpikir, Rey langsung saja membeli semua perlengkapan. Ia sengaja tak memberi tahuku harga masing-masing barang. Mungkin ia sengaja melakukan ini karena khawatir aku akan terkejut dengan harganya. Bukan apa-apa, sampai sekarang aku masih ingat dengan gamis pesta yang dibeli dari butik. Harganya bahkan lebih mahal dari motor butut Ayahku.


"Ayo kita pulang," ajak Rey.


"Iya." Aku bangkit setelah meyeruput teh yang telah disediakan manager toko. Tak enak hati bila kami tak menyentuhnya barang sedikit saja.


Rey dan beberapa pegawai toko memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Bagasi dan kursi belakang telah dipenuhi perlengkapan bayi. Meski tak puas karna tak memilih sendiri, tapi, aku masih bersyukur suamiku mau menemaniku berbelanja kebutuhan anakknya kelak.


"Hem senyum-senyum aja dari tadi," ujar Rey.

__ADS_1


"Iya. Lega banget karna udah dapet semua barang-barang itu. Kamu tahu gak, udah dari lima bulan yang lalu aku pengen banget beli semua ini."


"Semua itu ada waktunya, kan."


Sepanjang perjalanan kami hanya berbincang dan bercanda. Suami tampanku ini juga telah bercerita bahwa ia sudah menyiapkan nama anaknya kelak. Baik nama anak laki-laki maupun anak perempuan. Meski harapannya besar ia memiliki anak perempuan.


**


Pagi ini, aku dan Bi Ningsih mencuci segala perlengkapan bayi yang aku dan Rey beli kemarin. Membayangkan anakku akan memakai baju berwarna lembut ini membuatku tersenyum sipuh. Gerakan halus makhluk kecil di dalam rahimku ini seakan memberi jawaban bahwa ia juga bahagia dan merasa tak sabar ingin bertemu dengan kami.


"Bunda. Ayo siap-siap. Kita akan pergi, kan?" ajak suamiku.


"Iya. Ini mau udahan kok." Aku menggantung sarung tangan mungil di gantungan baju. Menatapnya lekat sebelum aku beranjak pergi.


"Capek?" tanyanya singkat.


"Enggak. Kan, dibantuin sama Bi Ningsih."


Beberapa menit berlalu, aku sudah selesai membersihkan diri dan berdandan. Beberapa hari ini kami sering bepergian. Walau hanya untuk kontrol ke dokter, berbelanja, dan sekarang kami harus menghadiri kelas ibu hamil. Hal ini cukup membuat badan ini pegal.


Rey menyadari saat aku mengelus pinggang yang sedikit nyeri.


"Apa sakit?" tanyanya sambil sedikit memutar setir mobil.


"Agak pegal, ya. Katanya biasa, sih. Karna kan, yang di depan bawa beban." Aku tersenyum dan berusaha membuat Rey tak khawatir.


"Apa kita batalin aja? Sejak beberapa hari kemarin kita memang sering pergi."


"Jangan. Udah gak papa. Aku kuat kok. Jangan berlebihan, deh. Nyeri ini belum ada apa-apanya lho dibanding melahirkan nanti, hem."


"Oke. Nanti setelah sampai rumah aku elusin pinggangnya, ya."


"Ayah janji?"


"Heem."


Untunglah tempat yang dituju tak terlalu jauh. Hanya berjalan beberapa puluh menit dengan kecepatan mobil yang luar biasa pelan. Seandainya kami berkendara bersamaan dengan pelari, sudah pasti ia yang akan sampai duluan.


Mata ini sibuk mengamati sekitar. Cukup banyak memang ibu hamil yang berjalan masuk maupun keluar. Ada yang didampingi suami, atau hanya dengan anak pertamanya.


Bersambung...

__ADS_1


Bantu like dan vote yaa..😊😊😊😊


__ADS_2