My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Hari Pertama Masuk Kerja Bagian 2


__ADS_3

Aku dan Dona beranjak meninggalkan meja kerja yang cukup memusingkan. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah makan sederhana karena menghemat uang. Aku sendiri cenderung tak terlalu suka makan di cafe atau restoran. Menu makanannya kadang tak sejalan dengan lidahku.


"Gak papa, ya, kita ke warteg aja," ucap Dona setelah kami duduk berjejer di warung.


"Gak papa, kok. Aku juga lebih suka makan di warung begini. Kalo mau nambah gak berasa malu." Kami terkekeh bersama.


"Kamu udah nikah?" tanya Dona.


"Udah."


"Nama suami kamu siapa?"


Kami berbincang ringan sambil memandang piring berisi nasi dan daging dihadapan.


"Reyhan Mahendra," jawabku singkat.


Dona terlihat mengerutkan alisnya setelah mendengar jawabanku.


"Kaya sering denger nama itu, deh, tapi di mana, ya?"


Televisi yang tak jauh dihadapan kami pun menyala. Hanya saja kami tak terlalu memperhatikan. Saat acaranya bersela dengan iklan, muncul iklan sebuah mobil keluaran terbaru.


Pandangan Dona berpindah saat nama suamiku disebut oleh pengisi suara.


"Pengusaha sekaligus penerus perusahaan ternama The King Car yang bekerja sama dengan merk mobil ternama asal Amerika bernama Reyhan Mahendra, memperkenalkan mobil terbaru dengan teknologi yang lebih canggih."


Mata wanita di sebelahku melotot dengan mulut menganga.


"Itu, suami kamu?" Ia bertanya sambil menunjuk televisi.


Sialnya aku tak dapat berbohong dengannya. Aku mengangguk pelan.


"Kamu punya suami sukses, kenapa masih mau kerja jadi karyawan?"


Aku menarik nafas dan membuangnya setelah sesendok nasi tertelan.


"Apa bedanya? Toh, perusahaan itu punya Papanya. Dia cuma numpang tenar aja."


"Tapi, kamu, kan, bisa kerja di kantornya."


"Nggak ada lowongan."


"Apa kamu ada masalah keluarga?"


Gila saja, aku baru beberapa jam kenal dengannya, tapi ia seakan bisa membaca pikiranku. Kali ini aku tak menjawab. Takut bila lidah ini tiba-tiba terpeleset dan menceritakan masalah rumah tangga kami.


"Wajar aja. Aku juga sering bertengkar dengan suamiku," tambah Dona.


Ternyata dia dulu yang memulai. Aku tak ingin melanjutkan acara mengkhibah ini, apalagi dihadapan makanan. Rasanya, tak nyaman membayangkan makan bangkai saudara sendiri sedangkan ada makanan dihadapan kami.


Selera makanku tiba-tiba memudar seiring berlalunya obrolan kami. Yang tadinya perut ini sangat bersemangat, sekarang tiba-tiba hilang. Apalagi setelah aku melirik beberapa video yang tak sengaja mengambil wajah wanita yang sangat aku benci, Vina. Ia tengah berada di samping Rey, dan bukannya aku.


"Hei," kajut Dona.


Aku menoleh ke arahnya setelah telapak tangan itu mengenai lenganku.


"Hem."

__ADS_1


"Jangan melamun, yuk balik. Entar kalo kelamaan dicari sama bos." Ia melirik arloji kecil berwarna hitam di lengan kanannya.


"Hem. Oke."


Setelah membayar, kami beranjak pergi dan kembali ke kantor. Sungguh hal tak terduga. Setelah aku berusaha menghindarinya agar bisa mendapat rindu, justru hatiku semakin perih ketika melihat kenyataan ini.


Aku tak mungkin menangis di sini. Bukan saat dan tempat yang tepat. Beberapa tepukan mengenai dada ini. Menahan sakit yang sedang menerpa diri. Beberapa tetes air keluar dari pelupuk mata sesaat kami memasuki kantor.


Saat beberapa teman menyematkan senyum, aku juga membalas senyum mereka. Dengan sekuat tenaga aku menahan sakit di dada.


"Haaa." Nafas penuh beban ini keluar berulang kali.


Sekarang, aku sedang berada di kantor. Harus bisa profesional dalam bekerja. Aku adalah wanita dewasa nan kuat. Aku tak mungkin kalah dengan wanita seperti Vina.


Tleeet...


Telepon kantor berdering mengejutkanku. Aku mengambil gagang telepon dan mengarahkannya ke telingaku.


"Halo."


"Silakan ke ruangan saya."


Tut... Tut... Tut...


Suara bos yang terdengar serius menyuruhku ke ruangannya. Aku bangkit dan sedikit merapikan pakaianku.


Dona sontak beralih pandangan ke arahku. Ia menggerakkan kepalanya ke depan memberi isyarat bertanya kepadaku.


"Bos," jawabku lirih.


"Hati-hati." Telapak tangannya menutupi pipi agar tak ada yang melihat gerakan bibirnya.


Tuk... Tuk...


"Masuk," titah Rian.


Aku membuka pintu perlahan dan masuk ke sana.


"Bisa dibantu, Pak?"


"Tolong kerjakan itu." Ia menunjuk tumpukan berkas di atas meja.


Tingginya mencapai 20 senti. Hal itu tentu saja membuatku terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.


"I-i-tu, Pak?" Sambil menunjuk tumpukan berkas.


"Iya." Setelah itu dia membalik kursi hitam dan membelakangiku.


Semakin kesal saja hari ini. Pekerjaan yang aku kira bisa melupakan masalahku di rumah, justru malah membawa masalah baru.


Segera aku mengambil semua berkas dan membawanya keluar. Sungguh benar-benar gila. Apa aku sedang melewati masa orientasi?


Brakkk... Tumpukan berkas terbanting di meja. Suara itu membuat Dona menggeserkan kursi ke arahku dan melongok memperlihatkan kepalanya di balik bilik yang membatasi kami.


"Bbbbbh." Ia terkekeh.


"Ketawa?"

__ADS_1


"Kamu lagi dikerjain bos, ya?"


Nafas kesal keluar begitu saja melihat Dona menertawakanku.


"Puas, ya?"


"Jangan salah, ya. Kami hampir semua pernah dikerjain bos."


"Oh, ya?"


"Heem. Maaf, ya. Aku tadi nggak bilang sama kamu." Ia meringis dan memperlihatkan deretan gigi ratanya.


"Mau gimana lagi."


Tanpa menunggu lama, aku segera melihat dan memeriksa berkas ini. Hati yang cukup berantakan sedikit tersita dengan kesibukan ini. Mungkin aku harus bersyukur karena kepenatan di kantor saat hari pertama bekerja, bisa sedikit membantuku melupakan masalah di rumah.


Beberapa jam sudah berjalan. Mata masih saja sibuk memandang ke arah layar dan kertas yang memenuhi mejaku. Sesekali menggaruk kepala karena merasa kesulitan.


Azan ashar sudah terlewat. petang sudah menanti. Namun, tumpukan kertas ini masih menyita pikiranku.


Aku menoleh ke arah keluar jendela. Dari atas sini, matahari telihat mulai memerah. Sedikit mengistirahatkan mata karena beberapa jam tak berhenti memandang layar.


"Belum selesai, Al?"


"Belum, Don."


"Kasian. Aku pulang dulu, deh. Udah sore, nih. Anak aku pasti udah nunggu, deh." Dona berdiri dan merapikan beberapa berkas yang berantakan di atas mejanya.


Ia lalu meraih tas dan beranjak pergi.


"Lanjut besok aja, Al."


Aku hanya tersenyum kecut. Mungkin ini adalah konsekuensiku karena menginginkan pekerjaan. Walau bagaimanapun, aku harus menerimanya dengan sabar. Mungkin, ini bisa menjadi batu loncatan agar aku bisa wanita karir yang sukses. Agar tak malu bila berjejer dengan Rey.


"Kamu belum pulang?" tanya Rian yang berdiri di depan mejaku.


"Belum, Pak," jawabku segera.


"Loh yang lain sudah pulang. Kenapa kamu belum?"


Dia ini nanya nggak kira-kira. Jelas aja tumpukan berkas ini yang buat aku masih di sini.


Aku hanya meliriknya sejenak.


"Belum selesai, Pak."


"Loh, besok lagi saja."


Alis bertaut dan mata ini meliriknya.


"Besok?"


"Saya, kan, nggak minta kamu selesaikan hari ini?"


Mulut ini tiba-tiba menganga. Wajahku pasti sangat buruk saat ini.


Rian membalikkan badan dengan terkekeh geli. Meski tawa itu tertahan, aku bisa memastikan ia sangat puas mengerjaiku. Atau hanya aku saja yang benar-benar terbawa perasaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2