My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Hari Pertama Masuk Kerja


__ADS_3

Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Menyiapkan keperluan Rey dan keperluanku sendiri. Memasak untuk sarapan kami berdua. Rumah ini cukup besar untuk dihuni kami berdua. Kadang, rasa ingin memiliki momongan, tiba-tiba saja muncul. Rasa bosan menghadapi Rey juga ikut muncul. Tapi, walau bagaimanapun aku tetap harus berjuang untuk mendapatkan hatinya.


Aku sudah selesai dengan segala keperluan dan kudapan pagi. Rey hanya ingin makan roti bakar saja hari ini. Mungkin ia tau, kini aku akan lebih sibuk di kantor.


Baju yang licin sudah terpakai indah. Hijab berwarna senada juga sudah selesai aku pakai. Sejenak, aku melirik arloji di lengan kiri. Sudah jam 06.30. Waktunya bersiap untuk pergi ke kantor. Aku meraih tas dan menggantungnya di lengan kiri. Mengambil sepatu berhak tiga senti di lemari serta membawanya keluar.


Rey rupanya sudah ada di meja makan. Memakan selembar roti bakar yang bersanding dengan jus jeruk. Aku berjalan ke dapur dan tersenyum saat mata kami bertemu.


"Aku antar," kata Rey saat aku mencuci tangan di westafel dapur.


Aku mengibaskan jemari dan mengelapnya di kain lap yang bergantung di dekat westafel.


"Apa tak merepotkan?"


"Ini, kan, masih cukup pagi."


Aku mengangguk pelan.


"Kamu sudah sarapan?"


Cie perhatian.


"Sudah Rey." Geli sendiri sebenarnya mendengar pertanyaan itu. Tak biasanya dia perhatian.


"Aku tak mau lagi menggendongmu ke klinik kalau sampai ada apa-apa."


Terjawab sudah. Memang sepertinya untuk ikhlas membantuku itu dirasa sulit untuk Rey. Dia memang pandai sekali membuatku merasa bahagia sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan.


Aku hanya menyipitkan mata dan meninggalkannya di meja makan. Kulangkahkan kaki ke depan dan memakai sepatu. Sepatu yang baru kubeli kemarin. Bersamaan dengan seragam kantor ini. Rey menyarankanku untuk beli di butik langganan, tapi aku langsung menolak. Jelas saja, aku membeli ini dengan uang tabunganku sendiri.


Rey bukan tak memberiku uang, hanya saja, aku tak mau keperluan kantor ini bercampur dengan uangnya.


Rey keluar dan mengunci pintu. Aku berjalan dan masuk ke dalam mobil di susul Rey. Mesin dihidupkan segera dan meninggalkan garasi.


"Apa kamu tak bisa menyetir?"


Aku menggeleng dengan wajah memelas. Rasanya, menyetir mobil cukup penting saat ini.

__ADS_1


"Papa menyuruhku memberikanmu mobil. Agar lebih mudah ke kantor." Aku memandang wajah itu. Wajah datar seperti tembok.


Aku tarik nafas cukup dalam dan mengalihkan pandangan keluar mobil. Sebenarnya mau saja mempunyai mobil sendiri, hanya saja, aku belum mencoba memegang kemudi sendiri.


"Aku akan membawa mobil setelah mendapatkan SIM, Rey."


"Tentu saja."


Rey menambah kecepatan laju mobilnya. Pagi ini, kota belum menunjukkan kemacetan. Beberapa kali berhenti karena lampu merah dan macet ringan. Setelah itu, mobil kembali melaju hingga sampai di kantorku. Kantorku tak searah sebenarnya dengan kantor Rey, tapi sengaja aku mengiyakan kala ia menawariku tumpangan. Lumayan, bisa menghemat uang taksi online.


Mobil perlahan berhenti. Dari luar gerbang, aku memandang gedung yang cukup tinggi di depan sana. Setelah aku mencium tangan Rey, aku turun dan memakai tasku kembali.


Nafas kutarik perlahan dan berjalan masuk ke kantor. Aku melihat beberapa orang berlalu lalang di sini. Sudah cukup ramai rupanya.


"Hai, Alma," sapa lelaki dari arah samping.


Senyum yang selalu aku kenal terpampang nyata di depanku. Rasa kesal mulai datang setiap aku melihat wajahnya.


"Iya, Pak," jawabku seramah mungkin.


"Silakan ke ruanganku sebentar."


Untung ada beberapa orang bersama kami. Setidaknya aku tak merasa kikuk membayangkan berdua saja bersama lelaki genit ini. Sedikit bergidik ngeri membayangkan hal aneh itu.


Panah lift terus berjalan sampai angkanya berhenti di angka 15. Seluruh orang yang berada di lift pun keluar. Bosku yang bernama Rian ini terus berjalan melewati ruangan karyawan di lantai ini. Ia lalu berjalan terus hingga masuk ke sebuah ruangan.


Rian duduk di kursi hitam yang cukup tinggi. Kursi bos mungkin. Di meja ada sebuah tatakan tulisan bertuliskan Direktur Utama. Rian Sanjaya.


"Jadi, kamu akan bekerja bersama mereka di luar. Jadilah karyawan yang rajin dan berdedikasi tinggi."


"Baik, Pak." Aku segera membalik badan dan meninggalkan ruangan ini.


Pertanyaan yang timbul setelah ini adalah, sampai kapan aku bertahan di sini, bila seandainya dia terus saja bersikap aneh meski sejauh ini, dia masih bersikap biasa saja.


Aku duduk di kursi karyawan yang kosong. Sudah ada komputer di sini. Untunglah, aku sempat belajar kursus komputer walau hanya sebentar. Ibuku memang wanita paling peduli dengan anaknya. Meski aku menikah dengan pria yang mapan, ia seakan tau masa depan yang akan dialami anaknya ini.


Aku meregangkan otot tangan dan menarik nafas. Menghidupkan komputer. Tetap saja, aku harus banyak belajar lagi.

__ADS_1


Plak. plak. Suara tepuk tangan mengejutkanku. Aku melihat ke arah sumber suara. Rian berdiri di depan pintu ruangannya.


"Perhatian, kita mempunyai karyawan baru bernama Alma." Rian menunjukku. Sontak saja aku berdiri dan beberapa orang memandang ke arahku.


Senyum perkenalan aku tampilkan. Senyum itu dibalas oleh masing-masing orang di ruangan ini.


"Perkenalkan nama saya Almaira Syafitri, mohon kerja samanya."


"Hai, Alma," sapa beberapa orang.


"Oke, sudah kembali bekerja."


Aku duduk kembali dan melihat layar datar komputer di hadapanku. Seorang wanita di sebelahku mengirimkan catatan kecil. Hanya tangannya yang terlihat.


Aku membukanya dan membaca catatan itu.


[Hai, kenalin aku Dona. Kamu bisa ya kerja di sini. Hebat] Sontak saja alis bertaut seketika. Kalimat kedua sebuah pertanyaan atau peryataan.


[Aku Alma. Iya, alhamdulillah kawan merekomendasikanku kepada bos] Setelah selesai kutulis, aku memberikan kepadanya.


Sekat yang memisahkan antar karyawan lain membuatku tak bisa melihat wajahnya secara jelas. Bagimana ekspresinya terhapaku.


[Setauku, Pak Rian itu sangat tegas terhadap karyawan. Jadi berhati-hatilah dengannya!] Ia kembali memberikanku catatan kecil dengan kertas berwarna kuning.


Sempat tak percaya dengan ocehan satu karyawan ini, tapi berkat dia setidaknya aku bisa berhati-hati. Sempat menahan tertawa karena manusia bernama Rian itu cukup genit saat pertama kali bertemu denganku.


Setelah usai membalas catatan kecil Dona, aku kembali mengutak-atik layar datar di depanku.


**


Jam begitu cepat berputar, tak terasa, jarum pendek pada jam dinding sudah menunjukkan tepat jam 12 siang. Perutku sudah bergejolak memberi tanda meminta haknya.


Sempat kuelus perlahan. Tapi, setelah melihat beberapa orang di ruangan ini belum ada yang beranjak, aku urungkan untuk bangkit dari sini.


"Ayo, kita makan siang." Rian keluar dari ruangannya dan menyuruh kami untuk meninggalkan pekerjaan dan mengisi perut.


"Hei, ayo kita makan," ajak Dona padaku. Ia tersenyum setelah berdiri dan memandangku.

__ADS_1


Aku membalas senyum manisnya.


Besambung...


__ADS_2