
"Selamat pagi, Suamiku," sapaku pagi ini. Ia masih mengenakan piyama dengan rambut acak-acakan dan duduk di kursi makan.
Sedangkan aku, sudah wangi karena harus bangun lebih pagi untuk mandi.
"Huaaam." Rey menguap dengan mata yang masih sayup. Ia tampak seperti anak kecil yang dipaksa bangun.
"Masih ngantuk?" tanyaku dengan menyematkan senyum.
"Hem. Aku kan, belum jadi kamu pijitin."
Aku menahan tawa. "Salah siapa."
Rey bangkit dan pergi menuju kamarnya setelah menenggak segelas air putih. Sambil menggaruk kepala ia berjalan sambil memegangi dinding. Mungkin takut apabila terjatuh tiba-tiba.
Aku masih di sini. Setia dengan kompor dan panci untuk memasak pagi ini. Rasa senang membuatku sangat bersemangat. Disela-sela memasak, aku mengingat kembali semua kejadian yang terjadi malam tadi. Walau kami tak pernah berbulan madu seperti layaknya pengantin baru lainnya, aku sudah sangat bahagia bila melihat dan mendengar tawa Rey.
Beberapa puluh menit berlalu, sarapan sudah siap dihidangkan. Ada sup ayam, dan beberapa lauk lainnya. Aku tengah menyiapkan seluruh sarapan di meja makan dibarengi Rey yang keluar dari kamarnya. Semerbak harum parfum kesukaanku menandakan ia akan segera sampai di sini.
Benar saja, dalam lima menit, Rey sudah duduk dengan indah di kursi makan yang ia duduki tadi. Kini ia tampak mengenakan jas hitam dan kemeja hitam. Dasinya kini berwarna merah menyala. Sangat cocok sekali dengannya. Meski setiap hari aku melihatnya, aku tak pernah bosan untuk terkesima memandangnya.
"Sarapannya banyak."
"Iya, Rey. Biar kamu kuat dan sehat." tiga kata terakhir terdengar centil. Namun, pandangan Rey hanya datar saja.
Ia memakan sarapan yang aku buat dengan lahap. Mungkin memang benar-benar kelaparan.
"Oh, iya, Rey. Aku udah siapin makan siang buat kamu. Kamu makan nanti, ya."
Rey hanya mengangguk 0elan disela sarapannya.
Karena kau sudah selesai terlebih dulu, aku pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Mengenakan hijab dusty pink dan baju berwarna navi. Make up natural tapi menawan. Tak lupa beberapa jentik markara agar menegaskan bulu mata.
Aku keluar dengan tas dan sepatu yang sudah ada di tangan. Melihat Rey sudah tak ada lagi di dapur membuatku mempercepat langkah agar segera sampai di depan. Ternyata ia tengah mengelap mobil kesayangannya sambil memanaskan mesinnya.
"Tumben kamu bersihin mobil ini sendiri?"
"Sambil nunggu kamu. Nunggu perempuan pake make up, mungkin seribu mobil bisa aku lap."
"Lebay," sahutku cepat.
Setelah mengenakan sepatu berwarna cream, kami lantas masuk mobil bersama-sama. Di dalam mobil, aku bercermin u tuk melihat make up-ku atau sekedar melihat apakah hijab ini benar-benar rapi atau tidak.
"Udah tebel," kata Rey. Aku meliriknya.
Aku membuang nafas sambil merapikan baju.
"Gimana, ya, kalau aku bawa mobil sendiri."
Rey diam.
"Ih, diajak ngomong. Diem aja. Emangnya ngomong itu berbayar, ya, Rey."
"Ya gimana. Gak gimana-gimana."
Aku menyipitkan mata dan beralih pandangan keluar mobil.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, sampai di kantorku. Saat mobil berhenti, tak sengaja Rian lewat ketika ia baru turun dari mobilnya. Aku dan Rey melihatnya dari luar. Rey tampak melihat Rian dengan menciutkan alisnya.
"Kenapa, Rey?"
"Rian kerja di sini?"
"Iya. Dia Bos aku." Sontak mata Rey kini beralih melihatku.
"Kamu kerja dengan Rian?"
"I-iya. Aku pikir kamu tau."
Rey mundur dan menyandarkan diri di punggung sofa.
"Lebih baik kamu segera resign."
"Kenapa?" Aku sedikit terkejut mendengarnya.
"Kamu nggak tau siapa Rian sebenarnya. Kalau memang kamu ingin benar-benar bekerja. Bisa di kantor aku aja."
"Nggak bisa, Rey. aku baru beberapa hari kerja di sini. Paling nggak tunggu satu bulan. Hargai temen aku yang kenalin sama Rian dong."
"Lagian si Rian itu kenapa coba. Kamu nggak jelasin kan, dia kenapa?"
Rey diam mendengar pertanyaanku.
"Rey?"
"Hargai aku dikit aja, ya."
"Oke. Aku tunggu satu bulan."
Aku tersenyum dan meraih tangannya. Aku lalu mencium punggung tangan wanginya dan segera keluar dari mobil. Tatapan Rey berbeda dari pagi ini. Ia seperti tak rela aku masuk ke sana. Sebenarnya tak enak juga melihat ekspresi wajah itu, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mungkin merelakan kerja kerasku beberapa hari yang lalu tanpa mendapatkannya gaji pertamaku.
"Hai, Alma," sapa Dona.
"Hai," jawabku lemas.
Aku duduk dan menaruh tasku. Tatapan mataku penuh kekhawatiran. Memikirkan Rey.
"Eh, kenapa lemes gitu?" Dona menggeret kursinya hingga masuk ke bilikk milikku.
Aku diam sesaat.
"Hem. Aku mau tanya sama kamu. Sebenarnya Rian itu orangnya seperti apa?"
"Pak Rian, ya. Dia itu duren," jawab Dona.
"Duren?"
"Duda keren."
"Jadi Rian itu duda." Sontak mulutku dibungkam oleh Dona karena nada bicaraku yang meninggi.
Aku melepaskan paksa tangannya dari mulutku.
__ADS_1
"Jangan bicara keras-keras. Nanti orangnya denger."
"Dia itu udah kehilangan istrinya dua tahun yang lalu. Selama itu dia belum kelihatan menggandeng wanita lagi."
Dona mendekat di telingaku.
"Ada yang bilang kalau dia sekarang nggak suka lagi sama cewek."
"A-a-ahahahaha." Aku tertawa sekuat tenaga. Namun, lagi-lagi Dona membungkam mulutku.
"Ehem." Suara dehem Rian mengejutkanku dan Dona. Sontak ia kembali menggeser kursi kerjanya dan menjauh dariku.
Untung saja. Ada bilik yang menutupi kami. Jadi, tak terlalu terlihat dari sana.
"Perhatian semuanya. Minggu depan kita akan mengadakan kunjungan kerja ke luar kota."
Suara riuh memenuhi ruangan termasuk Dona. Tapi, tidak denganku.
"Tapi, tidak semuanya bisa ikut."
"Yah." Disusul suara itu selanjutnya.
"Saya sudah menentukan nama-nama siapa saja yang akan ikut."
Lelaki itu membuka buku berwarna hitam. Para karyawan berdiri karena merasa ingin tau. Sementara aku justru bersembunyi di bilik karena berharap tak ikut.
"Suci Amelia."
"Yes."
Suara yang terdengar.
"Angga Syaputra, Reni Pamela, Ikwan Nur, Rangga Mualfin, Dona Arnila dan Almaira Syafitri. Nama-nama yang saya sebutkan bisa maju ke depan."
Semua maju ke depan termasuk aku. Tak kusangka karyawan baru ini akan ikut kunjungan kerja. Agak takut juga sebenarnya.
Kenapa aku dipilih?
Kami berbaris rapi tepat di sebelah Rian.
"Kalian semua akan mewakili kantor ini." Kami pun bertepuk tangan bersama-sama.
"Pak," sapa seseorang.
"Kenapa Alma ikut? Dia kan, karyawan baru. Bukankah itu tidak adil?" sanggahnya.
Dengan protes salah satu teman karyawan, aku berharap namaku berganti oleh nama siapa saja. Bukan apa-apa. Aku bekerja di sini, Rey terlihat marah dan khawatir. Nanti apa yang akan terjadi bila dia tau aku ikut ke luar kota. Aku belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Keputusan saya, tidak bisa diganggu gugat!"
Haah. Pupus sudah harapanku.
Bersambung...
Like, rate n vote ya. Nanti saya feedback. Jangan lupa tinggalkan komentar anda.
__ADS_1