
Kami sedang berhadapan di meja makan. Pendanaan Rey tertuju kepada makanan yang hitam legam dihadapan kami. Mata itu sedikit menyipit diikuti dengan alis yang sedikit bertaut. Sementara belum berpindah beberapa saat dari daging yang berwarna hitam tersebut.
Lehernya bergerak sedikit pertanda air liur turun ke bawah kerongkongannya. Aku segera meraih piring putih itu, namun, segera dicegah oleh Rey.
"Mau dibawa kemana?"
"Warnanya seperti ini, Rey. Apa benar akan kamu makan?" Aku menatap Rey. Sementara ia diam melihatku.
Melihatnya diam, aku beranjak dan membuang makanan ke tempat sampah. Lalu, membuka laci atas dan mengambil dua bungkus mie instan. Segera kuambil panci dan menghidupkan kompor.
Beberapa menit memasak mie, akhirnya matang dengan manis. Aku juga menambahkan telur mata sapi dan tomat di sana. Dengan cepat aku menyajikannya di meja agar cepat disantap oleh Rey.
"Makan, Rey." Tatap matanya masih datar seperti biasa.
Setelah satu suap sendok masuk ke mulut, beberapa detik kemudian, kelopak mata itu sedikit terbuka. Ia lantas mempercepat makannya dan terus menyuapkan sendok ke mulutnya. Sampai tanpa sadar, sepiring mie goreng instan sudah habis tak bersisa. Sementara milikku masih berkurang dua sendok saja.
"Enak, ya, Rey?" tanyaku padanya saat dia selesai menenggak air putih.
"Lumayan."
"Ini. Makan punyaku juga kalau masih kurang." Aku sedikit mengangkat piring dan meyakinkannya sembari tersenyum.
Tampak keraguan di sana. Di pandangan yang sesekali menatapku dan sesekali menatap sepiring mie instan yang masih utuh.
"Sudah kenyang," jawabnya datar sambil berdiri dan meninggalkanku sendiri di meja makan.
Tentu saja, bibirku yang tadinya tersenyum langsung berubah meruncing.
Dengan rasa kecewa, aku sedikit membanting piring. Lalu, menghabiskan mie goreng instan dengan segera.
Setelah menghabiskan mie dan mencuci piring, aku berjalan ke kamarku. Tak tampak batang hidung mancung suamiku di depan tivi. Pertanda bahwa ia pasti sudah di kamar mengurung diri.
Entah mengapa aku berjalan ke arah tivi dan menghidupkannya. Duduk sendiri sambil menatap layar datar di depan. Volume tivi sengaja aku besarkan, tentu saja aku sedang iseng mengerjai Rey. Kalau dia bermasa terganggu, pasti ia akan keluar dan mengecilkan volume tivi ini.
Sampai dua jam lamanya, Rey tak kunjung datang, sementara kantuk menyerang. Untuk beberapa saat, aku tak sadar karena jatuh tertidur di sofa.
**
Suara azan subuh membangunkanku. Aku membuka mata dengan malas dan berjalan ke arah toilet. Di pertengahan perjalanan, tiba-tiba saja aku menjerit.
"Waaaaaaaaa!"
__ADS_1
Brakkkkk...
"Ada apa?" Pintu kamar dibuka cepat oleh Rey.
"Rey, apa kamu yang gendong aku ke kamar?"
"Iya. Tidur seperti kerbau." Sambil berjalan kembali ke kamar.
"Rey." Aku mengejarnya.
"Kamu, kenapa tidak tidur di kamarku, Rey, hem, hem." Mata berkedip centil.
Dia menarik satu bibirnya dan menatapku sinis.
Brakkk... Pintu kamar Rey dibanting keras di depanku.
"Dasar kutub utara." Aku berjalan penuh kesal dan melanjutkan aktifitas. Tentu saja, pagi ini dibuka dengan moodboster yang hancur karena Rey.
Aku menyapukan spons bedak di pipi dengan perlahan. Menuliskan pensil di alisku agar terlihat lebih tegas. Serta melentikkan bulu mata dengan maskara super mahal di hadapan.
Hijab berwarna coklat muda sudah terpakai indah di kepala, sementara tas sudah di bahu. Aku segera mengambil sepatu dan berjalan ke depan. Namun, Rey tak tampak di depan. Aku berjalan ke kamarnya dan mencoba mengetuk pintu.
"Rey, kamu sudah siap belum? Rey."
Brakkkkk.
"Rey."
Aku membuka pintu karena terdengar di dalam kamar suara riuh benda berjatuhan.
"Rey."
Aku melihat dia jatuh di lantai dengan barang yang berserakan pula.
"Rey. Kamu kenapa, Rey."
"Fertigkoku kambuh," jawabnya sambil menutup mata.
Entah kenapa dia berjalan cepat ke arah toilet dan mengeluarkan cairan dari mulutnya di sana. Keringat dingin membasahi kelapa hingga rambutnya.
Hampir saja ia jatuh, namun aku dengan sigap menangkapnya. Dengan sudah payah aku membopong badan tegap itu ke kasur. Segera aku ambil ponsel dan menelepon dokter.
__ADS_1
Tiga puluh menit menunggu, dokter datang dan langsung memeriksa Rey. Begitu cemas aku melihat keadaan Rey.
"Tidak apa-apa. Pak Reyhan sudah meminum obat." Dokter itu beranjak dan merapikan peralatannya.
"Memang sudah satu tahun, Pak Reyhan menderita penyakit ini."
"Penyakit ini penyebabnya apa, Dok?"
"Bermacam-macam. Bisa terlambat makan, lelehan, atau makan makanan tertentu. Ketika kambuh kepala akan terasa sangat pusing hingga muntah. Penglihatan terasa berputar."
Aku mengangguk pelan dan mengerti. Setelah beberapa waktu dokter itu pergi, tiba-tiba ponselku berdering.
"Halo, Pak." Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Terdengar omelan keras diseberang.
"Kanapa kamu belum datang. Sudah jam berapa ini?"
"Maaf, Pak. Suami saya sedang sakit. Saya izin dulu hari ini. Maaf, Pak saya tak meminta izin lebih awal."
Tut. Tut. Tut.
Telepon dimatikan.
"Gak sopan!" Aku mengumpat.
Setelah berganti baju kembali, aku berjalan k kamar Rey. Ia sedang tidur sekarang. Aku menarik beberapa lembar tisu dan mengusapkan keringat di dahinya. Wajah tampan nan rupawan ini begitu pucat sekarang.
"Minum," ucapnya lirih.
Dengan cepat aku mengambil sedotan di dapur. Dengan malas, Rey minum sambil tiduran. Aku bisa mengerti karena kepalanya terasa sangat pusing bila memaksakan diri untuk bangun.
Bibirnya dengan perlahan menyeruput air putih. Aku kembali merapikan selimut dan memijat kakinya.
"Aku pesan makanan dulu, Rey." Aku mengetik beberapa kata dan memesan makanan.
Rey kini tidur membelakangiku. Aku meraih lengan kanannya dan memijatnya perlahan. Bisa saja ia kelelahan dan aku tak menyadarinya. Istri macam apa aku ini. Bila saja Ibuku mengetahuinya, bisa kubayangkan omelan yang keluar pasti bisa sepanjang kereta Jakarta menuju Surabaya.
Beberapa saat, aku teringat kantor Rey. Karena ponsel ia tak bisa dibuka dengan tangan sembarangan, aku menelepon Papa untuk meminta izin cuti. Pria paruh baya bertubuh subur itu bilang akan datang sepulang kantor nanti.
Rasanya cukup bosan hanya duduk diam saja. Aku memutuskan untuk mencuci baju Rey dan membersihkan toilet. Rey juga sudah tertidur rupanya. Aku menaikkan selimut agar menutupi tubuhnya.
Dua jam lamanya bergulat dengan pakaian, akhirnya aku selesai. Aku kembali ke kamar Rey dan duduk di tempat semula. Mengupas apel dan memakannya. Hanya ponsel kini temanku yang setia menemani. Menonton drama favorit sambil menghayal adalah rutinitas baru bila aku berada di rumah. Sesekali tertawa atau menangis di depan layar pipih ini memang konyol. Setidaknya aku cukup ekspresif.
__ADS_1
Sebuah tangan menyenggol lututku. Aku melihat Rey yang sudah membuka mulutnya. Ternyata ia sudah bangun dan menginginkan apel yang aku pegang. Dengan tersenyum aku menyuapkan ke mulutnya.
Bersambung...