
Aku berjalan dengan penuh keraguan sore ini. Menapaki jalan lalu menaiki bus. Sepanjang jalan, hanya memikirkan Rey. Tiba-tiba saja, keraguan melanda diri. Desah napas panjang berulang kali keluar dari mulutku. Gesekan tangan satu ke tangan lainnya menandai bahwa aku sangat gugup dan tak percaya diri.
Menghadapi Rey setelah delapan hari lamanya aku pergi tanpa pamit. Sungguh istri durhaka. Tapi, dibalik itu semua aku sudah mengambil keputusan. Keputusan yang akan membuat hidup kami akan berbeda kedepannya.
Aku sudah sampai di depan pagar rumah. Rumah ini delapan hari yang lalu aku masih tinggal di sana. Rumah saat delapan hari yang lalu, dipenuhi kebahagiaan. Aku benar-benar tak menyangka, delapan hari kemudian, aku akan berdiri di sini. Di luar pagar dan tidak akan tinggal lagi di sana.
Aku disambut oleh Pak Joni yang tengah duduk santai di dekat garasi mobil.
"Bu. Saya sangat senang Ibu sudah pulang," kata Pak Joni saat ia membukakan gerbang untukku.
"Bapak ada?"
"Ada, Bu. Baru pulang dari kantor."
Aku merogoh tas dan mengambil selembar uang pecahan seratus ribu. Aku menyerahkan uang itu kepada Pak Joni.
"Ini, Pak. Ada sedikit uang. Bisa Bapak pakai untuk membeli kopi di warung depan gang."
Tanpa ragu, Pak Joni lantas mengambil uang itu. Ia tampak sedikit sumringah.
"Terima kasih, Bu."
"Apa, Bik Ning sudah pulang?"
"Sudah sejak siang, Bu. Anaknya sedang sakit. Jadi, ia meminta izin supaya pulang lebih cepat," tutur Pak Joni.
Waktu yang sangat tepat.
"Pak. Jangan pulang dulu sebelum saya telepon."
"Siap, Bu."
Pak Joni keluar gerbang dengan cepat. Sementara aku memegang erat tas selempang. Berjalan perlahan menuju rumah itu.
Tuk.
Aku berhenti mengetuk pintu. Teringat bahwa kini rumah ini masih rumahku juga. Aku membuka pintu perlahan. Canggung sekali rasanya. Aku berjalan perlahan sambil memandang keadaan sekitar. Tak kudapati Rey.
Kreek.
Suara pintu dibuka. Jantung ini berdegup sangat cepat. Aku melihat Rey keluar dari kamarnya. Saat ia mendapatiku berdiri di sini, ia terdiam sejenak. Kami saling menatap.
"Alma, kamu dari mana saja?" tanya Rey sambil berjalan cepat ke arahku.
"Stop, Rey." Aku menyuruhnya berhenti saat ia hampir sampai.
Rey terkejut dan memberhentikan langkahnya.
"Aku ingin bicara denganmu." Aku duduk di ruang tamu.
Masih dengan keadaan canggung luar biasa. Dengan hati yang juga bercampur rasanya.
Rey juga duduk menghadapku. Perlahan aku membuka tas dan mengambil map.
"Aku ke sini untuk menyerahkan ini." Aku menyerahkan map itu kepadanya.
Rey membuka map itu. Matanya terlihat sedikit terkejut. Sementara biji mata itu terlihat berjalan membaca isi tulisan yang ada.
"Kamu tinggal tanda tangan saja. Tak perlu repot-repot datang ke pengadilan, itu akan membuat sidang perceraian kita berjalan cepat."
Rey meletakkan kembali map itu. Ia tampak tenang.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba?" Rey menatapku.
"Ini tidak tiba-tiba. Bukannya hubunganmu dengan Vina bukan tiba-tiba?"
Ia membuang napas panjang.
"Sampai kapan kamu akan percaya kalau aku dan Vina tak ada hubungan apa-apa?"
Perdebatan dimulai.
"Nota pembelian make up dan tas. Juga bekas lipstik di kerah bajumu. Vina juga mengaku ia dibelikan cincin oleh calon suaminya. Bagaimana kamu akan menjelaskan itu?"
"Nota pembelian. Benar aku yang membelikan make up dan tas, bahkan cincin untuknya. Tapi, atas dasar hutang. Vina sudah membayarnya."
"Bagaimana aku akan percaya?"
"Kamu bisa tanya kepada karyawan toko emas yang aku datangi bersama Vina. Ia mendengar sendiri percakapan kami."
"Bekas lipstik. Aku tak tau kapan itu ada di sana. Yang jelas, saat minggu malam aku bertemu tamu dari Singapura itu, aku memang sempat berganti baju di kantor. Kemeja ganti juga Vina yang menyiapkan."
Apa mungkin Vina sengaja melakukan ini untuk merusak hubungan kami?
"Apa lagi yang kau tanyakan?" tanya Rey.
Aku tak berhenti menatapnya. Kini, mata ini mulai berkaca-kaca. Aku tak tahu yang ia katakan itu kebenaran atau kebohongan.
Hujan tiba-tiba turun sangat deras.
"Lalu, kenapa kau pulang larut malam itu? Sudahlah Rey, tak usah mengelak. Semua bukti sudah jelas." Aku berdiri memegang erat tasku. Menahan air mata yang hendak tumpah.
"Tamu dari Singapura mengajakku makan malam. Ia juga mengajakku ke tempat karaoke karena Minggu malam itu hari terakhir dia di Jakarta."
Sial, aku lupa membawa payung saat di apartemen tadi. Padahal aku sudah menyiapkannya.
"Alma, tunggu." Rey mengejarku dan menarik tanganku. Ia lantas memelukku.
Deg. Deg. Deg.
Apa aku harus bahagia atau sedih saat ini?
"Kamu tak tahu, betapa khawatirnya aku menunggumu."
Aku terisak di bawah guyuran hujan bersama Rey. Rey lantas melepaskan pelukannya.
"Apa kamu mau berpisah? Aku tak akan mengabulkannya." Ia menyobek map berserta isinya di hadapanku. Lalu, memelukku kembali.
"Haaaaaaaa." Isak tangis ini semakin kencang.
**
Kini aku duduk di bibir ranjang. Kamar ini terasa sepi. Sambil mengeringkan rambut aku masih melihat lekat sudut kamar ini.
"Hacing." Aku menggaruk hidung yang gatal.
"Ini." Rey masuk membawa teh. Ia juga sudah berganti pakaian.
Aku mengambil teh itu dan melingkarkan telapak tangan yang dingin di pinggir gelas ini.
Rey duduk di sebelahku. Ia lantas memegang dahi. Dahi yang mulai menghangat.
"Kamu demam," kata Rey.
__ADS_1
"Akan aku ambilkan parasetamol," tambahnya.
Aku hanya diam saja sambil menyeruput teh hangat ini. Rey pun kembali ke kamarku dengan membawa kotak obat. Ia mengambil dan membuka bungkus obat dan menyerahkannya padaku.
"Payah. Baru kehujanan sebentar sudah demam."
"Aku akan mengambil kertas itu lagi ke Pengadilan besok." Aku berdiri. Namun, Rey kembali menahanku dengan memegang pergelangan tangan.
"Bukti apa yang kau minta? Aku akan membuktikan padamu. Sampai sekarang, aku tak pernah menghianatimu," ujar Rey.
Air mataku kembali jatuh. Aku menunduk. Entah harus berkata apa dengan Rey. Ia menarikku untuk duduk kembali di ranjang.
"Mana katamu kau cinta denganku, Alma?"
Aku terisak sambil menunduk dan menelangkupkan telapak tangan di wajah.
Apa ini? Ini tak sesuai harapanku. Aku berharap Rey senang dan bahagia karena mendapat surat perceraian lalu menandatanganinya. Ia bisa bahagia dengan Vina. Dan aku tak perlu merasakan sakit ini lagi.
Kenyataan tak sesuai harapan. Rey malah memelukku dengan erat. Membuatku tak bisa menolaknya.
Satu kotak tisu nyaris habis untuk mengelap air dari wajahku. Mata ini terasa bengkak arena menangis berulang kali.
"Ini." Rey memberiku hijab.
"Pakai."
Aku memakai hijab itu. Sebelumnya, Rey menyuruhku mencuci muka agar terlihat lebih segar.
Rey membuka laptopnya dan mengutak atik sebentar. Tak lama kemudian, ada suara di sana.
"Hello Mr. Reyhan. How are you?" (Halo Pak Reyhan, apa kabarmu?).
Wajah seorang yang aku tahu. Orang yang berfoto dengan Rey Minggu malam itu.
"I'm fine, Mr. Feng." (Aku baik, Pak Feng).
"Anything I can help you? Oh, there is Mrs. Reyhan." (Ada yang bisa dibantu? Oh, ada Nyonya Reyhan).
Aku tersenyum.
"Mr. When we can sing together again?" (Pak kapan kita bisa bernyanyi bersama lagi?).
"Mrs. Reyhan's voice is also good." (Suara Nyonya Reyhan juga bagus).
"Apa katanya Rey?" tanyaku disela-sela obrolan mereka.
"Suara kamu bagus."
"I wish i could hear it myself." (Aku berharap bisa mendengarnya sendiri).
"Yes. When the time comes we will surely meet again." (Ya. Bila waktunya tiba kita pasti akan bertemu kembali).
"OK. Mr. Rey, i'm quite busy right now. I will contact you next time. When i am in Jakarta. See you next time." (Oke. Pak Rey, saya cukup sibuk sekarang. Saya akan menghubungimu lain kali bila saya sudah ada di Jakarta. Sampai jumpa lain waktu).
Setelah mereka selesai bercakap-cakap, aku sudah menyiapkan pertanyaan untuk Rey.
Bagaimana rekan bisnis Rey bisa menilai suaraku? Padahal kami belum pernah bertemu.
Bersambung...
Yuk, author MHI-C gak bosan-bosan ngingetin kalian buat like dan vote ya. Ajak teman untuk baca novel ini juga. 😊😊😊
__ADS_1