
Aku tersadar saat sudah ada di rumah. Dan tergeletak sendirian di ranjang. Dengan kepala yang masih sedikit pusing aku mencoba duduk.
"Kamu udah bangun?"
Suami tampanku mucul dari luar kamar dengan membawa cangkir.
"Aku kenapa, Rey?"
"Kamu pingsan." Ia duduk didekatku dan meletakkan cangkir di atas laci.
"Kepalaku masih pusing."
"Mau aku ambilkan obat?" tanya Rey.
"Jangan." Aku memegang tangannya saat ia hendak beranjak.
"Kalau aku beneran hamil, kan, bahaya."
"Terus?"
"Kamu bisa gak beliin aku tespek? Besok pagi biar aku cek."
"Oke."
Tanpa bertanya, Rey pergi keluar membeli apa yang aku minta. Memang sedikit aneh, karena maag yang aku miliki tidak kambuh. Aku masih makan dengan teratur dan mengurangi pikiran berlebih.
Dua jam sudah aku menunggu Rey. Tiba-tiba aku kesal dibuatnya. Karena hanya membeli tespek saja, bisa sampai dua jam.
Rey membuka pintu setelah aku merasa bosan.
"Ini. Aku beli di super market 24 jam. Karena mini market terdekat udah tutup."
"Kenapa sampai dua jam?"
"Maaf, aku jalan kaki."
Aku memandangnya dengan aneh dan rasa kesal yang memuncak.
"Kamu kan, ada mobil, Rey. Lagian kamu bisa naik taksi atau ojol."
"Aku gak bawa ponsel. Aku pikir super market itu gak terlalu jauh, ternyata jauh juga. Kaki aku pegel nih."
"Kamu tu aneh, ya, Rey."
Aku memandangnya dengan hati yang sedikit iba. Keringat itu tampak mengalir di dahi mulusnya.
"Maaf, ya. Aku pikir mini market dekat masih buka," jelas Rey.
Ia masih saja menjelaskan apa yang terjadi. Tak habis pikir terkadang. Entah apa yang dia pikirkan. Bisa-bisanya dia jalan kaki.
"Pulangnya juga jalan kaki, Rey?"
"Naik ojek. Tapi, pas mau masuk gang, bensinnya habis. Jadi, aku jalan kaki lagi."
Aku tersenyum. Sungguh kasihan betul lelakiku ini.
"Lai kali, kalau disuruh belanja malam, langsung aja bawa mobil."
"Iya, Tuan Putri."
"Najis. Hahahah."
Kami tertawa bersama. Rasanya, tak sabar menunggu esok. Bukan kali pertama sebenarnya aku iseng mencoba tespek ini. Lebih tepatnya sudah dua kali dan ini yang ketiga. Mudah-mudahan aja, yang ketiga ini adalah kabar baik.
__ADS_1
Seperti biasa, aku tak bisa tidur dengan mudah malam ini. Tiap ingat esok hari, aku pasti terjaga hingga berjam-jam.
**
Aku terbangun jam empat pagi. Dengan semangat aku bangun perlahan-lahan menuju toilet. Dengan membawa tespek tentunya. Aku menarik napas dan membuka bungkus kecil. Mengambil perlahan benda kecil dan meletakkannya di dekat westafel. Sementara menampung urin, aku lantas mencelupkan benda itu sampai tulisan maksimal.
Belum lama aku berada di sini, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
Dengan tergesa-gesa aku berjalan dan membuka pintu toilet. Tespek masih aku pegang dan kini berada di balik badanku.
"Kenapa, Rey?"
"Aku mau pipis," sahutnya dengan rambut berantakan dan mata yang setengah terpejam.
"Ja-ja-jangan di sini, ya. Di kamar kamu aja. Atau di toilet belakang."
"Kenapa? Ini kan, kamarku juga."
Aku masih sedikit khawatir. Aku sama sekali belum siap menunjukkan ini kepada Rey. Aku takut bila ia kecewa.
"Udah, kamu keluar aja." Aku masih meyakinkan dia.
Dengan wajah yang sedikit heran, Rey berjalan berlalu. Aku melihatnya berjalan keluar dari kamar. Perlahan, aku melihat hasil tespek dengan mata satu terpejam.
Mulutku menganga tak percaya.
"Dua garis."
"Rey. Sejak kapan kamu di situ? Bukannya kamu ke toilet?"
"Enggak. Aku tahu yang kamu lakuin di toilet." Ia lantas merebut tespek itu dariku.
"Beneran kan, ini dua garis?"
"Iya, sepertinya."
"Akhirnya perjuangan kamu gak sia-sia."
Pagi ini kami hanyut dalam kebahagiaan. Dua garis ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Rasanya bahkan seperti mimpi.
**
"Kamu mau ngapain?" tanya Rey saat ia selesai meminum air putih.
"Masak."
"Jangan masak. Biar Bi Ning aja. Nanti kamu capek gimana?"
Aku berjalan menghampiri dia yang tengah duduk.
"Jangan lebay, ya. Aku kan, cuma masak biasa. Bukan nguli."
Raut wajahnya tak menampakkan kepuasan. Namun, dengan posisiku yang berdiri sedangkan ia yang duduk, menjadikan ia berhasil meraih pinggangku. Mengelus perutku perlahan.
"Sehat, ya, Dek. Sabar sama Bunda yang suka ngeyel." Kepala Rey mendongak dan melihatku dengan lirikan yang cukup tajam.
"Bunda?"
"Iya. Aku suka. Lebih terdengar keibuan."
Aku mengerutkan kening sambil tersenyum.
"Nanti kita ke dokter, ya."
__ADS_1
"Siap, Ayah."
Selepas bermanja-manja ria, aku dan Rey memutuskan untuk pergi ke dokter. Dokter spesialis langganan kami.
"Ayah. Bisa nggak agak ngebut dikit?"
"Segini aja, kan, kasian adek kalo ngebut-ngebut."
Lelaki tampan ini bisa lebay juga. Entah berapa kecepatan mobil saat ini hingga terasa seperti siput yang tengah berlari. Waktu tempuh normal hanya berkisar 30 menit, kini menjadi 60 menit. Dua kali lipat lamanya hingga aku tertidur di dalam mobil.
"Huaem. Udah sampai toh." Aku menggeliat karena terbangun.
"Eh, jangan angkat lengan tinggi-tinggi, nanti perutnya naik."
"Ya ampun, Rey. Kok kamu jadi lebay parah, sih."
"Ayah. Biasain panggil ayah."
Ya salam, ini cowok lebay ampun. Regangin badan bangun tidur aja gak boleh. Untuk ganteng, kalo gak udah aku lempar nih pake sendal.
"Hem, ya."
Sedikit kesal juga dengan tingkah lelaki satu ini. Bahkan sepanjang jalan kami masuk ke dalam, Rey menuntunku dengan perlahan. Aku hanya bisa menurut dan melihatnya dengan kesal.
**
"Apa dibawa tespek hasil tes pagi ini?"
"Dibawa, Pak." Aku mengambil terspek dari dalam tas dan memberikannya kepada dokter. Ia tersenyum sumringah saat melihat hasilnya.
"Alhamdulillah, Ibu positif hamil."
Dokter lantas memeriksa tekanan darah, dan hemoglobin. Semua bagus. Tak ada masalah. Tak lupa dokter juga mencatat data yang penting di bukunya. Ia juga memberiku buku dan meresepkan vitamin.
"Pak. Apa boleh saya tetap memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya?" tanyaku.
"Boleh. Asalkan Ibu tidak membawa beban berat dan tidak terlalu lelah."
Aku melihat Rey dengan bibir yang sudah maju beberapa inci. Tak lupa dengan mata yang menyipit.
"Satu lagi, Pak. Apa saya tidak boleh naik mobil dengan kecepatan sedang?"
"Boleh saja, Bu."
Aku kembali melihat ke arah Rey. Ia mengangguk dan meringis membalas tatapanku.
**
Di dalam mobil, aku duduk dengan kesal. Tak lupa aku melipat lengan di depan dada.
"Bibir kamu tambah seksi," rayunya.
Ternyata rayuan itu tak membuatku berbicara.
"Kamu kenapa? Kok diem aja?"
"Kamu udah denger kan, dari dokter. Jadi, kamu gak perlu lebay sekarang."
"Iya. Udah, ya, jangan manyun lagi. Aku gak tahan liat kamu mangun gitu."
Aku melihat Rey.
"Gak tahan mau nyium."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan vote ya. Yuk ajak teman lainnya baca novel ini. 😊😊😊