
Malam ini rasanya sedikit berbeda dari malam biasanya. Rey yang selalu bilang ia malas untuk bekerja, mendadak rajin. Bahkan ia juga lembur. Dalam keadaan yang sedikit khawatir, aku menunggunya di sofa depan. Berpindah tempat ke kamar dan juga ke ruang tengah.
Kegelisahan ini tak berhenti padahal suami tampanku sudah memberi pesan kalau ia akan pulang terlambat. Namun, entah kenapa aku mau menunggunya pulang. Hingga jam sepuluh malam, belum ada tanda-tanda Rey pulang.
Rasa curiga tiba-tiba saja terbesit dipikiranku. Namun, bila diingat hal-hal manis yang telah kami alami, rasanya tak mungkin bila dia berkhianat. Jangankan dengan orang yang belum lama ia kenal, dengan Vina yang sejatinya dekat bertahun-tahun saja ia bisa acuh.
Krieeettt...
Suara pintu kamar dibuka. Langkah kaki terdengar mendekat. Belum lama aku berbaring sehingga aku bisa mendengar itu semua.
Rey mendekat kepadaku dan mencium kening serta mengelus kepalaku.
"Baru pulang?" tanyaku tiba-tiba.
"Hem, ya. Kamu belum tidur?"
Aku bangun dan bersandar pada punggung ranjang.
"Baru aja mau tidur. Kamu berisik," ujarku.
Rey hanya tersenyum tipis lalu berjalan ke toilet. Mungkin ia membersihkan diri. Walaupun aku sangat lelah dan malas, tapi, aku memaksakan diri untuk bangun dan mengambilkan piyama untuknya. Aku tak ingin ia merusak kembali tatanan pakaian yang sudah susah payah aku susun.
"Itu bajumu."
"Makasih, ya, Bunda."
Setelah rambutnya dirasa telah kering, Rey lantas berbaring di sampingku. Hanya berselang beberapa menit saja, ia sudah terlelap.
Aku yang sedikit kesal, belum bisa memejamkan mata. Rasa kesal ini begitu memuncak saat aku melihatnya tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Kamar Rey yang kosong, membuatku ingin tidur di sana.
Kamar ini meski sudah lama tak dipakai tidur oleh Rey, tapi bau parfum khasnya masih bisa tercium olehku. Tak lama berselang, aku tertidur di sini sendiri.
**
Suara azan pagi ini membangunkanku. Sempat terkejut karena aku tidur di kamar Rey. Tak menunggu lama, aku lantas keluar dan mencari Rey. Betapa terkejutnya diri ini saat tak mendapati ia di kamar. Aku kebingungan. Toilet, dapur, ruang tamu, hingga teras bahkan kamar Pak Joni tak lepas dari pencarian. Namun, aku tak mendapatinya di mana-mana.
Kembali aku masuk ke kamar. Seluruh pakaian masih ada di lemari. Aku juga berlari ke garasi. Kedua mobil juga masih terparkir. Di mana sekiranya Rey berada?
Selepas salat subuh, aku menangis dengan masih mengenakan mukena. Pikiranku kacau. Hati tak karuan rasanya. Semalam aku tak tidur dengannya dan pagi ini ia tak ada di kamar. Rasa menyesal juga mengiringi tangisan yang memenuhi kamarku.
Di tengah tangisan ini tiba-tiba saja aku melihat sepintas seseorang yang melewati kamarku. Aku berhenti menangis dan melihatnya. Sambil sesegukan karena habis menangis, aku mendapati Rey membuka kulkas dan mengambil sesuatu dari sana.
Tanpa menunggu lama, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang dan menangis sekali lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Rey heran.
"Kamu, kamu dari mana?"
"Aku dari mushola." Ia berbalik badan.
"Kamu nangis? Jangan nangis, nanti anak kita ikut nangis," katanya sambil menghapus air mata.
"Huaaaa, maafin aku Ayah. Aku gak tidur di kamar tadi malam. Haaaaa." Aku terduduk di lantai.
__ADS_1
Rasanya benar-benar hancur.
"Kenapa kamu tidur di kamar lain?"
"Aku gak suka karna Ayah gak pamitan dulu sama aku dan Adek."
Perkataanku rupanya membuat Rey terkekeh. Ia juga duduk sambil menahan tawa.
"Aku pikir kamu pergi dari rumah karna aku gak tidur sama kamu." Sambil terisak.
"Ya enggaklah. Kemarin aku udah janjian sama Pak Imam. Gak enak kalo gak hadir. Maaf, ya, aku gak bilang dulu sama kamu."
"Kamu udah lama salat di mushola?"
"Baru beberapa kali."
Aku memeluk Rey. Jujur aku bahagia karena ia berubah semenjak aku hamil. Mungkin suamiku ini ingin memberi contoh yang baik untuk anaknya kelak.
"Udah, ayo bangun. Masa duduk di lantai gini. Entar masuk angin lagi."
Aku mengangguk dan menuruti perkataan Rey.
Konyol. Kejadian pagi ini benar-benar konyol. Aku saja sampai tertawa sendiri saat sarapan pagi. Apa bagini perasaan yang dirasakan ibu hamil? Sebentar bisa merasa sedih, sebentar bisa tertawa bahagia. Benar-benar aneh.
"Ayah kerja dulu, ya. Jangan nangis lagi." Begitu kata Rey saat kami selesai sarapan bersama. Aku hanya bisa menyambut dengan senyuman dan sedikit cubitan di perut sampingnya.
Aku juga mengantar suamiku hingga ke depan pintu.
"Ibu nangis?" Pertanyaan Bi Ningsih mengejutkanku.
"Hehe. Eh, Ibu katanya nangis. Apa Bapak main belakang lagi?"
"Lagi?"
"Eh, maksudnya. E-e-e, seperti kemerin?"
"Bapak gak pernah main belakang, Bi. Cuma salah paham aja."
Dia mengangguk. "Alhamdulillah."
**
Tling. Tling. Tling.
Ponselku berbunyi. Aku segera mengambilnya dari dalam kamarku.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaukumsalam. Lagi apa, Nak?"
"Mau nonton tivi, Bu."
"Jangan nonton aja. Nyapu-nyapu, bersih-bersih. Biar gak males."
Emang lagi males.
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Nak, ibu sama Ayah udah rencanain empat bulanannya kamu. Nanti kalau udah waktunya, kamu ke sini, ya. Masih jalan tiga bulan, kan?"
"Iya, Bu. Kenapa repot-repot, Bu. Ini, kan di kota. Gak gitu-gitu juga gak papa, kan?"
"Iya. Tapi, Ayah kamu yang mau. Katanya biar samaan dulu kaya ibu hamil kamu."
Aku membuang napas. Seperti biasa, aku tak bisa mencegah keinginannya.
"Alma transfer berapa, Bu uangnya?"
"Tau aja kalau ibu juga mau minta uang."
"Ya, gimana. Ini, kan buat Alam juga."
"Hem. Iya. Tiga aja cukup kok. Tapi, kalau mau lebih juga gak papa."
"Iya, nanti aku transfer."
"Oke. Ibu tunggu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ibuku satu ini kalau soal uang benar-benar jujur.
**
"Ayah," sapaku malam ini. Kami duduk bersama menatap layar tivi.
"Apa?"
"Ibu mau ngadain empat bulanan di rumahnya."
"Kenapa gak di sini aja?"
Kalau di sini, Ibu gak bisa minta uang.
"Gak papa. Lagian di sana, kan, ada tetangga dari aku kecil. Udah kaya sodara. Sedangkan di sini, tetangga sebelah aja aku gak kenal."
"Hem. Iya, gak papa."
"Aku boleh kasih uang, Ibu, kan?"
"Kenapa tanya sama aku? Apa uang di ATM kamu habis?"
"Masih. Aku cuma iseng. Hehe."
"Kasih aja. Dia, kan, perlu belanja."
"Makasih, Ayah." Aku mencium pipi suamiku hingga berbunyi keras.
Begitu sempurna hidupku kini. Tak ada lagi orang yang menggangu kami. Suamiku juga menjadi sosok lelaki yang begitu baik dan perhatian. Aku masih terus berdoa, mudah-mudahan hidup kami kelak dipenuhi kebahagiaan.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu like dan vote yaa.. 😊😊😊