My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Pengalaman di Klinik


__ADS_3

"Alma, kamu udah bangun?" tanya Dona.


Aku melihat keadaan sekelilingku. Langit-langit plafon berwarna putih dan cat pun dominan berwarna putih. Ada bau yang sangat aku kenal. Bau obat-obatan. Semua rekan kerja menungguku di ruangan ini. Termasuk Rian.


Selang infus sudah tertancap indah di lenganku. Hal yang baru kusadari, ternyata aku pingsan. Saat ini aku sudah terbaring lemah di atas ranjang.


"Maaf, Alma. Saya tidak tahu kalau kamu punya penyakit maag. Saya justru memaksa kamu minum kopi pagi ini."


Aku melirik beberapa rekan kerjaku berbisik sesama teman di sebelahnya. Dona hanya duduk di sampingku dengan tatapan memelas. Mungkin kasihan melihatku seperti ini.


"Saya juga salah, Pak. Sudah tau punya maag, bukan kabur saja, malah minum lagi kopi dari Bapak." Aku sedikit tersenyum memecah keadaan yang tak begitu mengenakkan ini.


"Kamu, akan dirawat beberapa waktu di sini. Mungkin besok baru boleh pulang. Jadi, sebagai gantinya, kamu tak usah ikut ke pabrik," tutur Rian.


Lagi-lagi rekan kerjaku berkasak-kusuk di sana. Beberapa di antaranya bahkan keluar ruangan ini. Aku bisa melihat wajah kesal mereka. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi, aku tak bisa berbuat banyak.


"Saya sudah sehat, Pak. Saya bisa ikut ke pabrik."


"Jangan. Kamu di sini saja. Saya menjadi sangat tidak enak hati kalau kamu memaksakan diri. Lain kali saya akan lebih berhati-hati."


"Perhatian sama semua karyawan, Pak," sahut Dona.


Aku sedikit tersenyum dan menutup mulutku. Rian juga tersenyum diikuti Dona dan gelak tawa beberapa rekan kerja yang bertahan di ruangan.


"Oke, yang lain. Kita segera berangkat ke pabrik."


"Siap, Bos."


"Don, nanti kasih aku foto-foto di sana, ya. Aku mau kirim ke Rey. Biar disangka aku ikutan."

__ADS_1


"Oke." Dona lantas keluar setelah Rian dan rekan yang lainnya kerja keluar.


Tinggallah aku sendiri di sini. Menatap langit-langit penuh kebosanan. Tak kusangka, dua cangkir kopi pagi ini bisa mengantarku ke tempat ini. Andai saja Rey ada di sini, aku pasti merasa lebih bahagia. Bisa bermanja dengannya, menyuruhnya ini dan itu.


Aku menghela nafas sembari memandang keluar jendela. Pegunungan nan hijau di kejauhan sana, paling tidak masih tampak dari tempatku saat ini. Tak lama aku melamun, ponselku berdering. Aku segera mengambilnya dari dalam tasku.


Tertera nama Ibu di sana. Sejenak, aku menelan ludah dan menarik nafas. Lalu, menggeser layarnya ke kanan.


"Almaaaaaa!" teriakan Ibu sangat memekikkan telinga ini. Aku menjauhkan layar ponsel sejenak dari daun telinga.


"Apa, Ibu," jawabku santai.


"Kamu kenapa ke luar kota tak bicara dengan Ibu? Ibu sudah tanya kepada dokter kandungan sahabat Ibu, katanya kamu baru buat janji dengannya minggu depan. Sekarang sudah jadwal kamu untuk ke sana Alma?"


"Maaf, Bu. Ini sudah ketentuan dari kantor. Alma tidak bisa menolak."


"Besok siang."


"Oke. Alma, bisa naik darah Ibu kalau kamu terus saja begini. Sudah berapa lama kamu menikah ... "


"Ibu, Ibu. Suara Ibu hilang timbul. Ibu."


Tut... Tut... Tut...


Aku terpaksa mematikan telepon. Aku sengaja melakukannya agar tak terlalu lama mendengarkan omelan Ibu.


Di atas meja, ada sebungkus roti. Aku membuka bungkusan roti itu, lalu memakannya. Miris sekali. Kunjungan ini tak mesti setahun sekali, tapi, aku malah terbaring di sini. Kasihan sekali diriku ini.


Tring... Tring...

__ADS_1


Ponsel kembali berbunyi. Kali ini panggilan video dari Rey. Sangkingkan terkejutnya, ponselku hingga terjatuh ke lantai. Aku hanya mendiamkannya saja. Bisa-bisa Rey marah besar bila ia melihatku terbaring di sini.


Sampai akhirnya panggilan itu berhenti, aku memungut ponsel yang sekarang sedikit retak di bagian layarnya. Aku pun mengirim pesan kepada Rey. Berkata bahwa aku tengah sibuk saat ini. Tentu saja ia langsung percaya. Selama ini, ia tak pernah mendapatiku berbohong.


Merasa bersalah pasti. Tapi, aku tak ingin ia tau peyebabku masuk ke klinik adalah meminum dua cangkir kopi pagi ini bersama Rian. Walau aku tak melakukan hal yang dilarang agama, aku tak bisa membayangkan Rey marah lebih dari saat ia mendapati Rian adalah bos di tempatku bekerja.


Aku turun dari ranjang dan mulai berjalan perlahan. Suntuk pun melanda karena hampir tiga jam aku hanya berleha-leha di atas ranjang. Aku berjalan perlahan keluar. Kantong infus bersama penyangga, turun kubawa berjalan.


Seorang perawat sempat menghawatirkanku, tapi, aku juga bosan bila terus saja menempati ranjang di kamar perawatan itu. Aku mencoba berkeliling klinik ini. Cukup besar untuk ukuran klinik di luar kota. Apalagi di sini bisa dibilang daerah pedesaan. Pusat kabupaten cukup jauh dari sini. Yakni 20 menit perjalanan menggunakan mobil.


Aku berhenti di sebuah ruangan karena mendengar suara jeritan seorang wanita. Tak terlalu keras memang, tapi hal ini membuatku penasaran mencari sumber suara tersebut. Aku berhenti di depan ruangan bersalin.


Pintunya tentu saja tertutup. Aku hanya bisa mengintip dari sela-sela gorden yang terbuka sedikit. Untunglah di dalam keadaan terang. Jadi, aku tak susah payah mencari tahu keadaan di dalam.


Hati ini terenyuh tatkala melihat pemandangan yang begitu indah menurutku. Wanita yang akan melahirkan, dengan suami di sampingnya. Suaminya itu terus mengelus kening istrinya yang tengah merasa kesakitan. Ia hanya diam saja ketika istrinya memukul-mukul wajah dan mencubitnya berulang kali.


Aku sempat bertanya-tanya. Kenapa wanita itu begitu kasar dengan suaminya? Sesaat bayangan Ibu menepi di mataku. Ia pernah berkata, bahwa ketika seorang Ibu tengah melahirkan anaknya, saat itu juga ia sedang berjuang antara hidup dan mati.


Baru kali ini, aku melihat wajah orang hendak melahirkan buah hati ke dunia secara langsung. Tak bisa kubayangkan rasa sakit yang sedang dialaminya. Hingga aku membuang pandanganku saat wanita itu mulai mengejan. Wajahnya berubah kemerahan. Ya Allah, apakah aku sudah siap mengalami hal itu?


Aku berjalan cepat untuk kembali ke kamar. Merasa sedih tiba-tiba. Mungkin begitulah pengorbanan Ibu saat ia melahirkanku. Rasa sakit yang entah seperti apa. Aku menangis kencang di sini. Sendirian. Bukan karena aku trauma karena melihat kejadian ini, aku hanya memikirkan Ibu ketika ia berjuang melahirkan anaknya. Aku. Anak yang belum bisa membahagiakan dia.


Karena hal ini, aku berjanji kepada diriku sendiri, aku akan berusaha membahagiakan Ibuku bagaimanapun caranya. Meski aku harus mengorbankan hati ini. Karena pengorbanannya untuk buah hatinya lahir ke dunia, bukanlah hal yang main-main.


Aku menatap foto Ibu di dalam ponselku. Rasa sesal sekaligus rindu berkecamuk di sini. Di relung hati yang paling dalam.


Bersambung...


Yuk Like, Rate n Vote selalu MHIC akan aku feedback yaa..

__ADS_1


__ADS_2