
"Ibuuuu! Sakit, Ibu!" Aku berteriak saat dukun pijat ini mulai beraksi.
Mula-mula, ia meraba punggungku. Lalu tangan dan juga kaki. Karena aku nyaris tak pernah diurut, rasa ini benar-benar sakit bagiku. Apalagi, sejak minyak gosok itu dioleskan ke kulit. Kulit ini seperti di tarik hidup-hidup.
"Waaaa!"
"Neng. Udah malem ini. Pelanin dikit suaranya."
Malunya.
"Sakit, Mpok."
Mata sudah merem melek menahan sakit yang meradang di sekujur tubuh. Ibu jari Mpok Romlah benar-benar bagaikan jarum yang menusuk-nusuk otot-otot yang tegang.
"Lemesin aja, Neng ototnya. Kalo kaku lamaan entar mijitnya."
Ngomong mah enak.
Aku tak menghiraukan perkataan Mpok Romlah. Setelah beberapa puluh menit berlalu, kini bagian perutku yang akan ia pijat.
"Waaaaaaa!" Aku menjerit semakin keras.
"Alma, jangan keras-keras. Ini kan, sudah malam," ujar Ibu dari depan pintu kamar.
"Sakit."
"Neng. Ini kagak bisa diurut kalo perutnya tegang. Lemesin aja yak. Ha, lemesin. Ude kagak lama lagi dah."
Aku menarik napas saat tangan yang mulai dipenuhi kerutan itu menyusuri perut ini. Ketika wanita paruh baya ini mengambil minyak, pada saat itulah aku menarik napas. Ia kembali meraba-raba perut. Ia tampak sedikit membenahi sesuatu di sana.
"Dah. Neng."
Aku bangkit dengan tubuh yang luar biasa lemas. Sekujur tubuh terasa tiada daya. Setelah memakai pakaianku kembali dan memakai jilbab, aku kaluar setelah Mpok Romlah.
"Anak, lu persis kaya lu dulu, Mir. Perutnya dalem bener." Ia meminum air dari cangkir besar berwarna hijau tua dan putih.
"Ya mau bagaimana lagi, Mpok. Namanya juga anak saya. Ya sama kaya saya."
"Dulu, berapa taon lu nikah baru hamil dia?"
"Tiga tahun, Mpok."
Sangking lemasnya hingga aku duduk kembali di samping Rey, aku menyandarkan kepala di pundaknya.
"Sabar, ya, Neng. Berdoa dan selalu berusaha," kata Mpok Romlah padaku.
Aku hanya mengangguk.
"Kalo begitu kita pulang dulu ya, Mpok." Ibu berpamitan kepada Mpok Romlah.
"Iye. Ati-ati, yak. Neng, banyakin makan kecambah ama kacang ijo. Biar cepet bunting. Sayang noh suami, lu cakep. Cepet-cepet kasih anak dah."
"Iya, Mpok."
Meski bicaranya sedikit ceplas-ceplos, tapi wanita ini sebenarnya baik. Meski aku menjerit-jerit, ia tak marah sedikitpun.
__ADS_1
Aku, Ibu, dan Rey pun pulang. Karena aku merasa sangat lemas, aku meminta untuk duduk di belakang bersama Ibu. Hanya sepuluh menit berselang, aku pun tertidur.
Hingga aku terbangun saat Rey susah payah menggendongku dari mobil. Aku merasa kasihan dengannya. Bobot yang kini nyaris menyentuh 65 kilo, tak mungkin Rey mampu mengangkatku.
"Rey, aku jalan saja," kataku dengan mata sayup karena mengantuk.
Rey hanya menuntunku saja. Merangkul lengan kanan dan berjalan masuk. Ia meletakkanku perlahan di atas ranjang. Dengan sangat lemas, aku kembali meneruskan tidurku.
"Alma. Kamu belum ganti baju." Rey membuka lemari dan mengambil piyama untukku.
"Aku ngantuk," kataku dengan wajah terpejam.
Pijatan itu sakit rasanya. Namun, kini aku merasakan nyaman. Pegal-pegal karena bekerja di kantor maupun bekerjaan yang lain, hilang.
Hingga jam satu dini hari, aku merasa haus. Terpaksa sekali aku bangun. Rey sudah terlelap di sampingku. Ia juga mengganti pakaianku dengan piyama. Setelah membuka mata penuh, aku mengamati dia. Cinta pertama pada pandangan pertama.
Aku sering terbangun tengah malam hanya ingin melihat wajahnya. Kadang aku masih tak percaya, Reyhan Mahendra tidur bersamaku. Menjadi teman hidup yang sah.
Aku mengusap rambut yang sedikit berantakan. Mengusap pipi kuning langsatnya yang mulus. Merasakan hembusan udara yang keluar dan masuk dari hidung mancungnya.
Aku mendekat kepadanya untuk mencium pipinya. Tak lupa aku juga memegang tangannya. Tangan yang bekerja keras mencari nafkah untukku. Orang yang baru ia kenal. Namun, menjadi tanggung jawabnya kini.
"Maafin aku, Rey. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu."
"Jangan macem-macem, ya," sahut Rey.
"Hah? Kamu bangun?"
"Kenapa kamu pegang-pegang pipi, rambut, dan tanganku?"
"Kenapa masih pura-pura tidur?"
"Karena kalau aku bangun, kamu harus kasih aku sesuatu."
"Apa. Apa aja aku mau, kok," kataku menantang.
"Gak jadi. Aku tidur aja."
"Oke. Aku mau ambil minum."
Aku tersenyum sambil berjalan ke dapur. Rey memakaikan lingerie untukku.
Dasar. Bukannya ia tadi mengambilkan piyaman?
Aku meneguk setengah gelas air putih. Namun, aku terkejut saat sebuah lengan melingkar di pinggangku. Desah napasnya terasa di bahu ini.
"Kenapa kamu lama?" bisikan itu menggelitik telingaku.
"Kamu mau apa, Rey?"
"Aku mau permen."
"Aku gak punya permen." Aku berbalik perlahan.
"Ini dia permen."
__ADS_1
Rey lantas menyambar bibirku. Lelaki ini tiba-tiba menjadi sangat manis dan sangat menyebalkan di saat waktu yang bersamaan. Perlakuan baik dan lembutnya semakin membuatku merasa spesial di matanya.
**
"Rey?"
"Hem."
"Bangun."
"Nanti kamu kewalahan lagi kalau aku bangun."
"Rey. Kamu manis banget, ya, kalau lagi di sini. Coba nanti kalau kamu udah rapi, wangi, dan pakai jas. Pasti mulai, cuek dan sangat cuek."
Ia tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
"Mau kamu gimana? Apa setiap saat harus manis?"
"Enggak. Malah aneh. Jadi dirimu seperti biasa aja."
Rey berganti posisi menjadi miring ke kiri. Kini ia menatapku sangat dekat.
"Apa kamu bahagia?" tanya Rey.
Deg. Deg. Deg.
Jantung ini seperti hendak lari dari tempatnya. Aku mengangguk cepat menanggapi pertanyaan Rey.
"Walaupun aku bekerja dengan wanita cantik, tapi, hanya kamu yang benar-benar bisa mengerti aku." Ia menarik tanganku dan meletakkannya di dada itu.
"Kamu mau gak janji sama aku?" tanyaku.
"Janji apa?"
"Apapun yang terjadi, jangan pernah khianatin aku, ya. Kalau kamu bisa terus bersikap manis kepadaku, aku tak akan bisa dengan mudah merubah perasaan ini. Dan menempatkan orang lain di hati aku."
Rey menatap dalam mata ini. Aku berharap, ia benar-benar memahami isi hatiku. Sebagai layaknya wanita pada umumnya yang sangat mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari orang tersayang, aku juga membutuhkan keseriusan dan janji.
Bayangan Vina hilang seketika saat ini. Kini dunia bagaikan milik kami berdua. Walau Rey belum pernah berkata sayang, tapi dengan sikap dan perilakunya, aku sedikit memahami, sudah ada benih-benih cinta di hatinya.
"Kamu adalah wanita yang sabar. Aku tak akan membiarkanmu merasakan rasa ini sendirian. Karena baru aku menyadari dirimu seperti Almarhum Mamaku yang sangat sabar dan sayang terhadap Papa dan juga aku."
"Alma."
"Ya."
"Aku harap kamu tetap bisa dan akan terus menyayangiku."
"Hem. Aku janji, Rey. Asalkan kamu juga mau berjanji."
"Oke."
Aku memeluk Rey. Pagi ini menjadi spesial untukku. Rey pasti memahami, kalau aku sama sekali tak suka bila ia terlibat jauh dengan wanita yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Semoga saja, meski kami sedang tak bersama, ia benar-benar bisa menahan diri.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk bantu like dan vote. Ajak teman lainnya baca novel ini ya. 😉😊