My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Terpaksa Sekamar


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak kami menikah, dan Rey belum ada kemajuan. Malah sejak peristiwa yang membuat dia salah tingkah itu, dia justru semakin cuek denganku. Tak pernah bertanya. Menjawab pertanyaanku bahkan cuma sekerdarnya saja.


Ting.. tung.. Bel rumah berbunyi. Aku segera mengambil rok panjang dan jilbab untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum."


"Papa, waalaikumsalam." Aku menjawab salam Papa mertua yang datang ke rumah.


"Papa tumben main ke sini?" tanyaku basa-basi.


"Papa bosan di rumah. Pak bawa masuk." Ia menyuruh sopirnya masuk ke dalam membawa kardus.


"Baik, Tuan."


Papa masuk bersama supirnya yang tengah membawa sebuah kardus sedang.


"Papa mau minum apa?"


"Air putih saja, Alma."


"Pak Kirno mau minum apa?" tanyaku lada supir Papa yang ada di ruang tengah setelah ia meletakkan kardus itu.


"Apa saja, Mbak Alma. Kopi, boleh. Teh, juga boleh. Cappucino juga boleh, Mbak."


Aku menciutkan kening.


"Jadi mau minum apa, nih?"


"Apa aja, Mbak."


Karena cukup bingung dengan jawaban Pak Kirno, aku membuatkan kopi hitam untuknya. Aku mengambil air putih untuk Papa dan berjalan ke depan.


"Ini, Pah. Minumnya." Aku meletakkan air minum di atas meja.


"Alma. Papa tadi beli buah untuk kamu. Kamu harus banyak makan buah. Biar nanti kamu cepet hamil."


"Iya, Pa." Aku tersenyum kaku mendengar perkataannya. Nafas berat keluar dari mulutku.


Aku berjalan ke dalam memeriksa apa yang Papa bawa. Aku membuka kardus dan memilah-milah buah dan kucuci semua.


"Papa, Alma buatkan jus, ya," tawarku.


"Tanpa gula, Alma," jawab Papa.


"Iya, Pa."


Aku mencuci jeruk dan mencucinya lantas membuat jus untuk Papa. Madu yang berada di lemari aku ambil dan menungkannya sedikit ke minuman Papa.


"Ini, Pa."


"Makasih, Alma."


"Bagaimana Rey selama ini? Apa dia masih saja acuh padamu?" tanya Papa.


Duhh, harus jawab apa ni?

__ADS_1


"Baik kok, Pa."


"Waktu dia masih kanak-kanak, Papa juga bersikap acuh padanya. Mungkin ia menurun dari Papa."


Tapi, Papa sekarang menjadi orang yang sangat perhatian.


"Papa mau ke toilet dulu." Ia berdiri dan berjalan ke belakang.


"Alma," panggil Papa mengejutkanku.


"Iya, Pa." Aku menghampirinya yang berhenti di depan kamar Rey.


"Ini kamar siapa? Kenapa barang-barangnya seperti milik Rey?" tanya Papa.


Mati kutu deh Alma. Kenapa pintu tadi nggak di tutup rapet. Sambil memukul jidatku.


"E.. itu barang-barang Rey, Pa. Kalau tidur dia tidur sama Alma, kok." Sekali lagi aku tersenyum kaku.


Papa lanjut berjalan menyusuri lorong kamar dan sampai di dapur.


Ya ampun, gimana kalau Papa curiga? Bodoh amat Alma. Aku menyatukan rahang dan menekannya karena merasa jengkel pada diriku sendiri.


"Papa, mengantuk, Ma. Papa akan tidur disini saja." Papa berjalan ke kamar Rey.


Aduh...


Aku mengigit bibirku karena merasa takut. Karena perasaan takut ini terus berlanjut, aku pergi ke kamar dan mengambil ponsel serta mengirim pesan kepada Rey.


[Rey. Papa ke rumah] lima menit kemudian pesan langsung dibalas.


[Haah, terus] jawabnya.


[Apa dia tau kalau kita nggak sekamar?]


[Tau Rey. Papa liat barang-barang kamu. Kamu bilang aja ya kalo di kamar itu cuma kamar tempat kerja dan barang-barang kamu aja. Soalnya tadi aku bilang gitu sama Papa]


[Oke]


Aku masih berjalan-jalan di kamar bolak-balik seperti setrika. Memikirkan bagaimana kebohongan selanjutnya dan berdoa Papa tidak tau bahwa kami di rumah ini hanya seperti adik kakak saja.


Dentingan jam menemani kecemasanku karena Papa masih tidur di kamar Rey hingga jam tiga sore. Aku harus ke dapur dan memasak untuk makan malam nanti.


Aku memotong-motong sayur sambil melirik sesekali ke pintu kamar Rey. Papa masih belum keluar dari sana. Rasa cemas ini semakin menghantuiku. Hatiku serasa diganjal batu sebesar.


Krek.. pintu kamar Rey dibuka. Aku memalingkan pandangan ke arah kompor dan penggorengan.


"Rey belum pulang?" tanya Papa sambil berjalan ke toilet.


"Belum, Pa," jawabku segera.


Kenapa Papa nggak pulang-pulang? Pak supir sampai tidur di ruang tamu.


Papa keluar dan berjalan ke depan. Aku hanya mengintipnya dari dapur saja. Suara mesin mobil Papa terdengar hidup dan berjalan kemudian menjauh. Sontak aku berlari keluar dan melihat Papa masih duduk di ruang tamu.


"Pa, Pak Kirno kok, pergi?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Dia Papa suruh pulang."


Aku sedikit mengangguk. "Pulang?"


"Ya."


"Papa akan menginap di sini."


Kata-kata itu tiba-tiba saja terdengar menakutkan di telingaku. Aku menelan ludah dan berjalan ke dapur. Tak lama, azan Ashar berkumandang. Aku segera meraih handuk dan mandi serta salat. Aku menangis bersimpuh karena sudah membohongi Papa.


Apa aku harus jujur saja kepada Papa? tapi, Papa punya riwayat jantung. Bagaimana kalau... pikiran rancau meracuni isi kepalaku. Serba salah karena sudah membohongi orang tua.


Jam dinding semakin turun, Papa makin asik dengan ponselnya. Sementara Rey belum juga pulang. Aku mulai salah tingkah dengan keadaan ini. Aku berinisiatif mengambil piama Rey di kamarnya. Berjaga-jaga bila dia datang nanti.


Ting.. tung..


"Assalamualaikum." Dering bel dan disusul salam pasti Rey yang sudah pulang.


Papa yang berada di ruang tamu membuka pintu untuk Rey. Rey masuk dan terlihat meregangkan dasinya lalu masuk ke kamarnya.


"Rey, Papa ingin bicara."


"Ada apa, Pa?" tanya Rey yang berbalik keluar dari kamarnya.


"Kamu tidur satu kamar dengan Alma, kan?"


"Iya, Pa."


Rey masuk ke kamarku dan beranjak me toilet. Aku berinisiatif memberinya handuk. Aku memandangi Rey penuh cemas. Namun, ia terlihat biasa saja. Sambil menunggu Rey, aku coba membuka ponsel, tapi gagal. Pikiran ini masih menggangguku.


Rey keluar dengan memakai handuk di di parutnya. Ia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Aku menatapnya penuh pesona. Walau tak terlalu berisi, rupanya perut yang cukup berotot itu mengganggu penglihatanku.


Dia mendekat dan berkata, "Mana piyamku?"


"Ini, Rey." Dia mengambil piyama dari tanganku dan berganti di toilet.


"Rey, gimana, nih?" tanyaku saat Rey keluar.


"Gimana apa?"


"Papa, kan mau nginap Rey."


"Biarin aja," jawabnya santai.


Bisa-bisanya dia santai sementara aku takut minta ampun.


Setelah isya, kami beranjak tidur. Entah kenapa malam ini cuaca sedikit panas. Aku mengambil remot AC untuk membesarkan kakuatannya. Saat berhasil, tiba-tiba saja lampu kamar mati. Aku memandang kesana kemari karena keadaan gelap gulita.


"Rey. Listriknya mati. Atau sikringnya turun pas aku naikkan AC-nya tadi?" tanyaku padanya yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Rey keluar untuk memeriksa listrik. Benar saja, saat dia keluar, semua rumah juga dalam keadaan gelap.


Aku semakin merasa panas karena AC mati. Piyama lengan panjang, kini kuganti dengan tengtop dan celana hot pants katun. Jendela aku buka untuk membiarkan anginnya masuk. Aku memakai lotion anti nyamuk untuk berjaga-jaga.


Rey masuk dan tidur di ranjang. Ia mulai merasa kegerahan. Kancing bajunya dibuka semua. Dirasa masih panas, ia melepas baju piyama yang dipakainya. Aku melihatnya sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1


Sisi baiknya, malam ini aku tak tidur sendiri. Akan bagaimana malam ini?


Besambung...


__ADS_2