My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Hati yang Akhirnya Luluh


__ADS_3

Aku kalut luar biasa. Bingung, bimbang bercampur menjadi satu. Karena rasa inilah aku memutuskan untuk membaringkan diri di ranjang dan bersembunyi dibalik selimut.


"Ini." Rey menyibak selimut dan memberiku ponselnya. Ia lantas duduk di sampingku.


Aku melihatnya aneh dan mengambil ponsel yang ia berikan. Aku masih mengamati ponsel dengan saksama.


"Apa kau tak mau melihat isinya?" tanya lelaki yang kini memakai piyama sama denganku.


Aku membuang napas.


"Kunci."


"Coba ditekan dulu," sahutnya.


Aku menekan tombol samping. Sekilas terlihat foto perempuan di sana. Saat aku terfokus kepada tulisan geser, aku pun menggeser layar.


Terkejut adalah kata yang tepat untuk menggambarkan wajah dan perasaan ini. Foto di layar depan adalah fotoku. Sejenak aku melihat Rey. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang.


Apa maksudnya ini? Apa dia hanya menyenangkan hatiku saja?


Aku memberikan ponselnya kembali.


"Kenapa? Bukannya ada yang kau tanyakan?"


Dia seperti bisa membaca pikiranku.


"Tidak ada. Wallpaper itu tidak menyentuh hatiku sama sekali."


Ia tersenyum. Entah kenapa, Rey kini seperti sok kecakepan di mataku.


"Apa kamu gak penasaran sama isinya?"


Tunggu dulu. Benar juga.


Aku merebut ponselnya kembali dari tangannya. Pikiranku saat ini tentu saja ingin mengintip galery foto. Ada apa saja di sana. Sebelum itu dilakukan, aku baru menyadari bahwa ponsel Rey tak terlalu aku pahami.


Sekeras kumencoba, aku tetap tak memahami isi ponsel Rey. Sama sekali.


Aku tertunduk lesu dan menyerahkan kembali ponsel yang tengah mengamatiku.


"Aku gak bisa utak-atik ponselmu, Rey," kataku dengan tertunduk lesu.


"Mau lihat apa?"


"Foto dan teman-temannya."


Rey menggeser layar dan memekan beberapa tombol. Setelah ia temukan yang kucari, ia lantas memberikan kembali ponsel itu padaku.


Aku terkejut untuk kedua kalinya. Kali ini dengan mulut menganga dan kelopak mata yang melebar.


Foto ini ...


"Kamu ingat semua foto itu? Foto pada saat kita bertunangan. Menikah, sampai kejadian ajaib di rumah ini," jelas Rey.


Aku menggeser layar ke bawa untuk melihat semua isinya. Ajaib. Foto di sana tertera angka 200 foto. Namun, hampir semua fotoku. Mulai dari kami bertunangan, menikah, sampai foto-foto konyol yang Rey tangkap secara sembunyi-sembunyi.


Tentu saja hal ini membuatku tak percaya. Aku melihat Rey dengan alis nyaris menyatu.

__ADS_1


"Foto yang kamu ambil ini jelek, Rey," sahutku.


Bisa-bisanya dia ambil foto saat aku mengerjakan tugas kantornya waktu itu. Foto saat aku memasak, bahkan foto saat aku tidur.


"Tapi, aku suka." Dia menghadapkan badannya kepadaku.


Tatapan mata itu mematikan. Andai saja ia lakukan sebelum masalah muncul. Aku pasti langsung tenggelam di dalam pelukannya. Seuntai senyum tak lupa ia sematkan. Sejujurnya, desiran ini mulai mewarnai hatiku.


Rey mendekat ke arahku. Tentu saja aku sama sekali belum siap dengan ini. Dengan perasaan yang tak karuan, bahkan aku tak tersenyum sama sekali. Namun, Rey semakin dekat dengan wajahku.


"Berhenti, Rey."


"Kenapa?"


Aku bingung akan menjawab apa. Rey lantas mengambil ponselnya dan menyentuh layar beberapa saat.


Mulia indah cantik berseri


Kulit putih bersih merahnya pipimu ...


Tunggu, aku hapal betul suara itu. Itu, suaraku. Dengan cepat aku merebut ponsel itu kembali dan melihat layarnya. Video saat aku bernyanyi di acara pernikahan teman Rey. Kali ini, hatiku mulai mencair. Sangat mudah bukan.


"Kamu dapat video ini."


"Ya. Tak sulit untukku mendapatkan itu. Kamu tahu, video itu aku putar semalam suntuk saat kamu berada di luar kota." Rey tersenyum.


"Sampai batrinya habis. Lumayan, bisa mengobati rin ... ." Belum habis ia bicara, aku sudah menyambar bibirnya.


"Kamu, bisa maafin aku?" tanya Rey perlahan. Jemarinya menyusuri pipi ini dengan lembut.


Rey tersenyum untuk kesekian kalinya dan memelukku erat. Dibandingkan Rey, tentu hatiku sebagai perempuan, jauh lebih lembut dan cepat meleleh.


"Kenapa kamu nyuri-nyuri buat fotoin aku?"


"Kan, aku udah bilang. Aku suka."


Alasan yang kurang logis sebenarnya. Foto-foto konyol dan cenderung tidak bagus tetap ia simpan. Sedangkan aku yang suka dan cinta dengan Rey, hanya memiliki beberapa foto saat pertunangan dan pernikahan saja yang jumlahnya tak sampai 100. Aku cukup payah ternyata.


"Jadi, kamu udah suka aku sejak lama?"


"Bisa dibilang gitu. Aku mulai tertarik sejak kita menikah."


Jahat. lantas kenapa dia acuh dan tak mau sekamar.


Bug...


"Ahh, sakit," kata Rey setelah lengan atasnya aku pukul.


"Jahat. Kalo udah suka kenapa masih cuek." Aku melipat tangan di depan dada dengan bibir yang meruncing.


"Jangan manyun gitu. Jadi pingin cium."


Perkataan Rey berhasil membuatku tersenyum dan menghangatkan pipi.


**


"Bu. Ibu sudah pulang. Syukurlah saya senang kalau Ibu sudah pulang."

__ADS_1


"Hem, iya, Bi. Kemarin sore."


"Bapak belum bangun, wah kecapean ditinggal satu minggu lebih." Ia menutupi mulutnya dengan jari karena menahan tawa. Apalagi setelah melihat gulungan handuk di atas kepalaku.


"Bisa aja, Bibi."


Memang benar adanya. Rasanya, malu sekaligus merasa bersalah. Aku belum membuktikan tuduhan terhadap Rey, bisa-bisanya aku minggat dari rumah. Untung saja, delapan hari aku di luar sana, bisa menahan diri. Andai aku terlalu terbawa emosi, bisa saja aku berbuat di luar batas.


"Rey. Ini kopinya, Rey." Aku duduk di ranjang setelah meletakkan kopi di atas meja.


Aku juga melepas gulungan rambut dan menggosok-gosokannya. Tanpa aku tahu, Rey mendekat dan melingkarkan tangannya di perutku.


"Jangan tiggalin aku lagi, ya."


Aku terhenyak dan berhenti. Menoleh dan melihat wajah itu. Wajah tampan yang kusayang. Aku mengelus pipi teposnya.


Andai waktu bisa diputar, aku pasti memilih tak pernah melakukan ini. Penyesalan memang datang diakhir. Kalau diawal, namanya pendaftaran.


Aku masih mengelus pipinya. Rey masih terpejam. Saat ia bergerak sedikit, aku mencubit pipi itu cukup keras.


"Banguuuuun, nanti kopinya dingin."


Rey bangun dengan cepat sambil mengelus pipi belas cubitanku. Aku menahan tawa dan mengambil cangkir berisi kopi hitam.


"Ini."


"Cubitanmu itu makin sakit aja." Ia lantas menyeruput kopi.


Aku tersenyum. "Rey."


"Ya." Ia melihatku.


"Aku mau cerita sama kamu. Tapi, kamu jangan marah, ya."


"Oke." Ia kembali menyeruput kopinya.


Aku sengaja menunggu ia selesai, karena takut apabila tiba-tiba ia tersedak. Setelah kopi itu habis dan Rey memberiku kembali cangkir itu, barulah aku memulai percakapan kambali.


"Sebenarnya, saat aku pergi, aku menemui Rian." Aku menggigit bibir karena takut apabila dia marah.


"Kamu serumah sama Rian?"


"Enggak. Aku nginap sendirian di apartemennya. Tau gak Rey. Dia selalu nyuruh aku buat pulang. Tapi, aku selalu nolak."


Rey diam. Raut wajahnya sontak berubah saat nama Rian aku sebut. Entah dia akan percaya atau tidak.


"Kamu tidak berbohong, kan?"


Aku memeluknya. Berharap supaya ia tak emosi terhadapku.


"Enggak, Rey. Kalau kamu tak percaya, kita bisa lihay CCTV di apartemen."


Rey menarikku dari pelukkannya. Ia lantas mencium keningku. Senyumannya membuat hatiku tenang. Menandakan bahwa ia percaya padaku.


Bersambung....


Yuk like dan vote. Maafkan karena lama up-nya ya. Author lagi nyidam season 2. Jadi kadang suka mager. Maklumi ya, 😊😊😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2