
Mata ini berkaca-kaca saat mendengar dokter menjelaskan gambar saat kami USG untuk pertama kalinya. Ia juga mendengarkan detak jantung si bayi kecil di dalam rahimku dengan saksama. Rey yang duduk di kursi tepat di sebelahku juga tak kalah bahagia. Tak lupa ia juga menggenggam tanganku erat.
"Masih dua bulan. Masih kecil. Tolong Ibu makan makanan sehat dan bergizi. Kurangi makan makanan cepat saji dan minuman soda. Hentikan bila perlu." Begitu kata dokter kandungan sambil menulis resep vitamin yang akan diberikan kepadaku.
"Silakan kembali lagi bulan depan."
Setelah selesai, kami berpamitan pulang. Di dalam mobil, aku masih sibuk memandangi foto USG anakku. Meski aku tak begitu mengerti dengan foto ini.
"Rey." Aku melihatnya.
"Ya."
"Aku mau makan lobster."
"Kita cari sekarang. Mumpung lagi di luar."
"Tapi, aku mau dibungkus. Aku mau makan di rumah. Malu kalau harus makan di resto."
"Oke."
**
Tak lama kemudian, kami selesai membeli lobster. Beberapa bungkus untukku dan satu bungkus untuk Rey.
"Wah, enak, Bu," kata Bi Ningsih saat melihatku duduk di kursi makan. Makanan laut ini sudah terhidang indah di depanku.
Ditemani suami tercinta, setelah beberapa menit berlalu, aku sudah menghabiskan tiga porsi makanan enak ini. Rasanya yang pedas manis serta bumbu yang begitu kuat, membuatku tak berhenti memakannya hingga habis.
"Enak?" tanya Rey yang sedari tadi mengamatiku.
"Hem, iya," jawabku malu-malu. Bagaimana tidak. Satu porsi saja aku tak pernah habis. Kali ini tiga porsi sekaligus.
"Mau punyaku juga?" tawar Rey.
"Apa boleh." Bukannya menolak, aku justru menghabiskan satu porsi miliknya juga.
"Maaf, ya. Aku habisin juga punya Ayah."
__ADS_1
"Gak papa. Kamu kan, berdua. Wajar aja kalo makannya banyak."
Untunglah suamiku ini mengerti. Karena pesan dokter juga, setiap hari aku hanya boleh ngemil buah. Dari buah yang mudah ditemui sampai buah musiman hampir semua aku makan.
Kali ini aku sangat ingin buah rambutan. Buah khas Indonesia itu hanya bisa ditemui saat musimnya saja. Aku tak berani sebenarnya minta dengan suamiku, oleh sebab itu aku minta dengan Ibu. Untunglah Ibu bisa menemukan buah idamanku. Meski dengan harga yang tak murah.
"Itu rambutannya udah Ibu cariin. Jangan makan banyak-banyak. Dikit-dikit aja. Buat besok lagi. Susah tuh nyarinya," kata Ibu diseberang telepon.
"Iya, Bu. Makasih, ya, udah mau nyariin buah ini. Sampai harus ke kampung segala."
"Iya, gak papa. Eh, tadi ibu juga titip sama Pak Joni buah nangka. Katanya enak. Di kampung kemarin ibu juga beli itu. Lumayan murah sama petaninya."
"Iya, Bu. Ibu kapan ke sini? Kenapa gak ikut Pak Joni aja tadi?"
"Besok-besok, ya. Ibu lagi banyak pesenan ketring. Banyak acara di sini. Ulang tahun kecamatan pesanan ketring sama ibu semua."
"Alhamdulillah, mudah-mudahan Ibu sehat, ya. Rejeki lancar."
"Aamiin."
**
Selain ngemil, hobi baruku kini adalah menonton video mukbang. Entah kenapa melihat wanita-wanita cantik makan dengan lahap itu membuatku merasa senang. Dan bisa ditebak, setelah itu aku pasti juga menginginkan apa yang mereka makan. Tak semua. Hanya beberapa makanan laut yang aku kenal saja.
Aneh memang. Dara bahkan pernah bercerita saat ia nyidam, ia tak pernah sepertiku. Mualnya cukup parah saat hamil anak perempuan. Sampai ia harus mengalami radang tenggorokan yang cukup parah karena setiap hari harus mengeluarkan kembali makanan yang telah ia makan.
Ia juga tak mau mandi. Sungguh terkejut saat aku mendengarnya. Saat ia mandi pasti setelahnya ia masuk angin dan meriang. Bisa tiga atau empat hari baru ia mandi. Itu pun dengan air hangat dan di siang hari yang panas. Sungguh terlalu.
Beruntunglah anak di kandunganku tak begitu manja. Setidaknya aku masih rajin mengerjakan sendiri pekerjaan rumah. Andai aku seperti Dara, betapa kasihan suami tampanku itu bila harus mencium bau asam setiap malam.
Tok. Tok. Tok.
"Bu. Makan siang sudah siap." Rupanya Bi Ningsih yang mengetuk pintu kamarku.
Terpaksa aku harus menyudahi pesta makan buat berambut ini sekarang juga. Sebelum keluar, jiwa isengku muncul. Aku mengambil timbangan digital yang ada di bawah meja rias dan berdiri di atasnya. Tertera angka 65,75. Hampir 66 bobot badan ini.
Tidak begitu sedih memang. Karena aku tak bisa menghindari kenaikan badan ini dengan porsi makan yang kian banyak dan sering. Untung saja setiap jam aku selingi dengan makan buah, jadi meski berat badan naik, tapi tak terlalu banyak kalori di dalam tubuh ini.
__ADS_1
Porsi nasi pun ikut dijaga oleh Bi Ningsih. Ia senantiasa menunggu ketika aku makan supaya aku tak mencuri-curi waktu untuk kembali menyiduk nasi.
"Masih laper, Bi."
"Sudah, Bu. Makan buah saja, ya. Biar bibi siapkan."
Itulah jawaban yang setiap hari aku dengar.
"Kan, gak ada Bapak, Bi. Sedikit aja, ya. Dua sendok." Aku masih memohon padanya dan berharap hatinya luluh mendengar aku memelas.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa melanggar perintah Bapak. Karena pesannya begitu. Lagian cuma nasi aja yang harus pas. Ibu dengar sendiri kalau dokter bilang gak boleh makan nasi dan manis yang berlebihan. Karena akan membuat bobot bayi di kandungan akan cepat membesar."
Dan bla, bla, bla. Aku tak begitu menghiraukan ocehan selanjutnya dan memilih pergi ke depan. Aku iseng mengambil sapu dan menyapu teras.
Baru dua bulan saja perut ini sudah tampak membuncit, aku tak bisa membayangkan kalau sudah menginjak tujuh sampai sembilan bulan.
"Bu," sapa Pak Joni yang hendak masuk ke rumah.
"Pak." Aku memanggilnya.
"Iya, Bu."
"Tadi kata Ibu saya, Pak Joni dititipin buah nangka. Mana?"
"Eh, iya, Bu. Ada di dalam mobil. Saya belum sempat ambil tadi. Buru-buru mau ke WC," jawabnya. Tentu saja sambil meringis kuda.
Pak Joni lantas mengambil buah nangka dari dalam mobil. Ia lalu memberikannya kepadaku. Bau buah ini begitu cepat menusuk hidung. Tapi, lagi-lagi tak ada penolakan sama sekali. Bahkan irisan yang cukup besar berisi sepuluh daging buah nangka, sudah habis aku makan.
"Maaf, ya, Bu. Tadi saya lupa. Saya ingetnya cuma titipan Ibu aja. Jadi, saya biarkan dulu nangka itu di dalam mobil. Tadinya mau saya makan."
Pak Joni ini meski begitu, tapi, ia orang yang jujur.
"Iya, gak papa, Pak."
Bersambung...
Yuk like dan votenya ya. Jangan lupa. 😊😊
__ADS_1