My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Kesal Namun Sayang


__ADS_3

Hari ini pun berlalu. Karena aku terus memaksa kepada perawat, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang ke penginapan. Namun, tentu saja dengan syarat aku hanya boleh beristirahat tanpa boleh kemana-mana.


Cukup lega meski aku hanya boleh berdiam diri di kamar penginapan. Setidaknya aku tak merasa bosan dan mual karena terus menerus mencium bau obat-obatan yang ada di sama.


**


Waktu pun berjalan cepat. Kini, aku dan juga rekan kerja lainnya tengah bersiap untuk segera pulang. Masing-masing orang membereskan barang-barang mereka. Termasuk aku. Dengan perasaan riang gembira karena hendak melihat wajah pria tampan pemilik hatiku.


Sepanjang perjalanan aku hanya tidur. Ingin rasanya empat jam perjalanan ini berlalu dalam sekejap saja.


Setelah berlama-lama diperjalanan, bus pun sampai di halaman kantor. Melihat rekan yang lain lemas dan tak bersemangat, dengan cepat aku melangkahkan kaki keluar dan mengambil barang-barangku. Berharap Rey segera datang karena hari mulai petang.


Kenyataan tak sesuai ekspektasi. Itulah yang tengah aku alami. Aku menunggu Rey sejak satu jam yang lalu. Sudah kelima kalinya aku meneleponnya. Dan jawabannya tetap sama. Sebentar lagi. Karena lelah berdiri, akhirnya aku duduk di pos satpam yang tak jauh dari halaman kantor.


Khayalan ingin segera menjatuhkan diri di ranjang empuk pun musnah. Semua rekan telah terlebih dulu meninggalkan kantor sejak tadi. Karena bosan menunggu Rey, aku memutuskan untuk berjalan kaki sambil melihat bila ada taksi yang lewat.


Rasa marah, kesal, beradu di dalam hati ini. Wajahku pasti sangat kusut sekarang. Bak cucian kering yang telah seminggu lamanya di dalam keranjang. Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku dapat satu taksi.


Saat diperjalanan, mata ini tak sengaja menangkap pemandangan yang cukup tidak mengenakkan. Rey tengah bersama Vina. Di tepi jalan di depan restoran. Air tertahan di pelupuk mataku. Aku sibuk mengamati mereka hingga mereka tak tampak dari penglihatan.


Aku lantas membuka ponsel. Tak kudapati apapun di sana. Pesan atau telepon dari Rey tak ada sama sekali. Hati ini merasa dikhianati. Sakit rasanya. Aku tak menyangka Rey bisa berbuat seperti ini terhadapku. Membiarkanku begitu saja sejam lamanya sendirian di kantor tanpa memberitahu bahwa sekarang ia tengah sibuk dengan Vina.


Hujan datang saat taksi masuk ke dalam komplek perumahan. Aku juga tengah terisak di dalam sini. Merasakan sakit ini sendirian. Hingga detik ini, Rey tak kunjung menghubungiku. Karena kesal yang benar-benar tak terbendung, aku pun mematikan ponsel dan memisah bagian-bagiannya, lalu kumasukkan ke dalam tas selempang miliku.


Aku turun setelah memberikan uang kepada sopir. Setelah turun dari taksi, aku mendapati pintu gerbang masih terkunci. Kesalku semakin menuncak. Tubuh ini sudah basah kuyup dibarengi tangisan yang semakin keras. Menunggu Rey di sini. Di depan pagar yang masih terkunci.


Entah sudah berapa lama aku di sini. Badan semakin menggigil karena air hujan malam ini. Mataku semakin sayup saat ini. Aku sedikit tersentak ketika sorot lampu mobil yang amat terang menyinari wajahku.


Seseorang keluar dari sana.


"Alma, sejak kapan kau di sini?" Ia membuka kunci pagar lalu menghampiriku karena aku masih diam terpaku di mana aku berdiri sekarang.


"Alma, Alma!" Rey berteriak ketika aku tak sadarkan diri.


Hangat, hangat sekali. Aku merasa hangat. Kenapa tiba-tiba ada bau teh. Wangi sekali. Ada bau roti yang hangat. Enak, aku lapar.


"Hah!"


"Rey?" Aku melihat Rey duduk dengan sebuah buku ditangannya. Di sampingnya ada dua cangkir minuman panas. Terlihat masih mengepul. Juga ada roti di atas piring.

__ADS_1


Aku menelan ludah.


"Kanapa kamu tidak meneleponku? Sejak kapan kamu berdiri di depan pagar?"


"Aku udah telepon kamu berkali-kali Rey."


"Apa iya?"


Aku mengangguk. Rey melihat ponselnya. Matanya tersentak sejenak ketika melihat panggilan masuk sebanyak lima belas kali dariku.


"Kenapa aku tak mendengar kalau kamu menelpon?"


Aku merebut paksa ponselnya karena ia duduk di kursi.


"Ponsel kamu senyap, Rey."


Apa mungkin Vina yang membuat ponsel Rey menjadi senyap? Benar-benar dia.


"Ah mungkin sudah mulai rusak. Maaf, ya. Tadi aku sempat lupa untuk menjemput kamu. Tadi sore Vina mengajakku berbelanja oleh-oleh untuk keponakannya yang akan datang dari Singapur."


"Hem," jawabku singkat.


Mata ini tiba-tiba mengembun. Rey sama sekali tidak peka terhadapku. Aku yang tadinya duduk, kembali membenamkan diri di balik selimut.


"Kamu belum makan, Ma."


"Biarin," jawabku sambil terisak di dalam sini.


Rey mencoba membuka selimut, tapi aku tahan sekuat tenaga.


"Oke. Aku akan keluar. Teh dan roti itu akan aku tutup agar tak ada lalat yang memakannya."


Hati ini semakin perih. Rey kembali tak memperdulikanku. Bukan makanan atau minuman. Tapi, kepeduliannya terhadapkulah yang saat ini dibutuhkan. Dengan kesal yang menuncah, aku membuka selimut.


Aku terkejut ketika mendapati Rey di depanku.


"Katanya kamu mau keluar?" kataku sambil terisak. Bukan apa-apa, perkataan Rey beberapa menit yang lalu santai, namun sukses membuatku sakit hati.


Rey tersenyum sambil menatapku. Aku membuang pandangan darinya.

__ADS_1


"Kamu lucu, ya, kalau cemburu."


Dia sadar kalau aku tengah cemburu. Tapi, perasaan kini berubah menjadi tidak karuan.


Aku kembali menutup selimut tebal ini.


"Kamu nggak mau dapat cium dari aku?"


Sial. Perkataan Rey berhasil mengocok perutku. Aku tersenyum dibalik selimut.


"Gak mau, kamu nakal," sahutku dibalik selimut.


Seperti biasa. Dia bisa membalik keadaan seketika. Tepuk tangan yang gemuruh untuk suamiku.


Dengan merogoh selimut, Rey berhasil mendapatkan pinggangku dan menyeretnya semakin dekat dengannya. Seketika itu pula aku menghadapnya dan memeluknya. Sungguh hangat di sini. Hatiku luluh seketika. Perasaan kesal hilang. Aku akui, Rey memang lelaki yang paling hebat untuk meluluhkan hati ini. Pantas saja wanita centil itu begitu sulit melupakan Rey.


Sudah berkali-kali Rey mendaratkan bibirnya dengan lembut. Namun, untuk aksi berikutnya sengaja ia cegah.


"Kamu makan dulu, ya. Biar kuat," bisik Rey lembut di telingaku. Tak lupa senyum nakal ia sematkan sembari berjalan mengambil teh dan roti yang mulai dingin.


Aku segera menghabiskan roti dan teh itu. Malam yang indah kami lewati bersama. Suara gemericik air menemani kebersamaan kami. Melepas rindu meski hanya dua hari. Tapi, tak apa. Bisa membuat pasangan merasa bahagia, merupakan kebahagian tersendiri untuk seorang wanita.


Tak terasa, azan telah berkumandang. Aku yang biasanya bersemangat, kali ini sangat malas untuk bangun. Justru Rey yang sudah bangun. Aku membuka mata setelah tersadar mencium aroma wangi sampo miliknya. Ia sudah mandi ternyata.


Dengan tubuhnya yang atletis itu, ia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Aku tersenyum melihatnya dan berpura-pura masih tertidur.


"Bangun. Buat sarapan," kata Rey.


"Gendong," jawabku malas.


"Hem. Kaya anak kecil aja." Ternyata Rey menanggapiku dengan serius.


"Eh, nggak usah."


Terlambat, ia sudah menggendongku hingga depan toilet.


Bersambung....


Like, rate, vote ya. Nanti aku feedback

__ADS_1


__ADS_2