
Setelah seharian mengurus Rey, aku beranjak ingin membasuh badan yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Beberapa langkah beranjak dari ranjang Rey, tiba-tiba bel berbunyi. Aku segera mempercepat kakiku menuju pintu depan.
"Assalamualaikum." Papa mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Masuk, Pa." Aku mempersiapkan Papa masuk.
Papa masuk ke dalam dan langsung masuk ke kamar Rey. Sontak saja aku merasa kikuk. Aku lupa bahwa Rey sedang tidur di kamarnya. Papa langsung duduk di kursi di mana aku duduk seharian ini.
Aku berjalan mendekat ke arah kedua pria itu.
"Bagaimana, Rey?"
"Sudah mendingan, Pa." Aku menggigit bibir.
"Maaf, Pa. Alma sudah berbohong sama Papa."
"Papa sudah tau, Alma."
Rambutnya yang mulai memutih, tetapi sifat sabarnya sangat luar biasa. Meski sudah dibohongi olehku dan anaknya.
"Walau bagaimanapun, 24 tahun Rey hidup dengan Papa. Dia masih belum menerima kamu. Papa juga paham."
Rasa sesal melanda. Menyesal karena orang tua sebaik Papa sudah kami bohongi. Aku menerima bagiamana sikap Rey terhadapku, tapi, melihat ekspresi wajah Papa yang sangat tidak nyaman, membuatku sedikit iba.
Aku juga tak bisa berkata apa-apa karena semua yang telah Papa ungkapkan adalah kebenaran.
"Alma akan sabar menunggu Rey, Pa." Papa memandangku.
"Betapa beruntung Rey mendapatkan wanita baik sepertimu, Alma."
"Hem, ya. Alma yang beruntung. Walaupun Rey belum bisa menerima Alma, Alma yakin cepat atau lambat, Rey akan bisa menyayangi Alma."
"Assalamualaikum."
Terdengar suara seseorang mengucap salam di depan.
"Waalaikumsalam," jawabku lirih sambil berjalan ke pintu depan.
"Ibu?"
"Alma. Mana Rey? Apa dia masih sakit?" Ibu menyela masuk ke dalam rumah. Sementara Ayah masih sibuk dengan beberapa barang bawaan.
Aku berinisiatif membantu barang bawaan Ibu.
"Rey. Kamu sudah enakan belum? Kasian kamu, Rey. Pasti Alma tak memperhatikanmu sehingga kamu sakit bagini."
__ADS_1
"Ibu."
"Pak, Gunawan. Sehat, Pak," sapa Ibu yang baru saja menyadari kalau ada Papa di dekat ranjang.
"Baik, Bu Mira."
"Alma, tolong buatkan Ayah kopi. Ayah pusing karena sepanjang perjalanan Ibu kamu terus saja mengomel."
"Iya, Yah."
Aku beranjak ke dapur setelah meletakkan barang bawaan. Segera aku membuatkan minum untuk ketiga orang tua di rumahku. Setelah selesai, aku meletakkan minum dan beberapa cilan di ruang tengah.
Aku pun masuk ke dalam kamar dan menyegerakan membasuh badan ini. Tak enak rasanya. Terlebih ada Ibu di sini. Bisa-bisa, aku juga akan terkena semprotannya.
Setelah merasa segar, aku melihat Rey sudah duduk menyandar di ranjangnya. Sementara Ibu, Ayah, dan Papa sedang mengobrol santai di ruang tengah. Aku berjalan menghampiri Rey.
"Kamu masih pusing?"
"Sedikit."
"Kamu, mau mandi? Kalau mau aku siapkan air panas."
Rey hanya menggeleng pelan. Matanya yang sayup membuatku iba. Kini, ia seperti anak kecil yang sedang bermanja kepada Mamanya.
Ketika aku berbalik hendak keluar, Rey memegang tanganku. Jantungku berdebar kencang seketika. Aku berbalik dan melihat Rey.
Satu kalimat yang membuatku terbang melayang. Rasa bahagia ini melebihi apapun.
"Aku mau ambil air dan lap. Sebentar saja." Aku meletakkan perlahan tangannya. Benar-benar seperti anak kecil saja.
Dengan cepat aku melangkah ke dapur dan mengambil air di baskom dan menambahkan air panas sedikit di sana. Tak lupa dengan handuk kecil.
Aku masuk kembali ke kamar Rey. Dia masih duduk seperti beberapa saat yang lalu. Baskom kuletakkan di atas meja kecil di sebelah ranjang. Aku memeras handuk kecil dan mengusapkannya ke wajah Rey. Lalu ke beberapa bagian tubuhnya.
Wajah tampan yang berjarak sangat dekat denganku saat ini masih terlihat pucat. Sesekali matanya terpejam sedikit, lalu terbuka kembali.
"Kenapa, Rey?"
"Agak pusing." Ia bergerak turun dan menidurkan kepalanya. Sementara aku masih mengelap tangan dan kakinya.
"Ingin sesuatu, Rey?" tanyaku.
"Minum."
Handuk kecil kini berganti dengan segelas air putih. Perlahan aku mengarahkan sedotan ke arah bibir Rey. Beberapa teguk air sudah melewati rongga mulutnya.
__ADS_1
"Aku mau bereskan air ini, Rey."
Ia mengangguk pelan dengan mata tertutup.
"Alma, Papa mau pulang."
Tepat saat aku berjalan keluar kamar dan membawa baskom, Papa berpamitan di ruang tengah. Ia lantas berjalan ke arahku.
"Kamu yang sabar merawat, Rey. Dia kalau sedang sakit, memang seperti anak kecil. Maklum saja, ia besar tanpa seorang Mama."
Aku mengangguk. "Iya, Pa. Alma paham."
Papa berjalan ke arah luar setelah sebelumnya juga berpamitan kepada Ayah dan Ibu.
Rey, dibesarkan tanpa seorang Ibu. Mungkin itulah sebabnya, ia menjadi sosok lelaki yang sangat cuek bahkan setelah ia menikah. Papa sangat hafal betul dengan anan semata wayangnya ini. Kasian juga Rey. Mungkin, sedari ia kecil, sudah sangat membutuhkan perhatian dari orang yang ia panggil Mama.
Aku duduk di sini, di samping Rey. Setelah selesai salat magrib dan menyuapkan makan malam, aku duduk kembali dengan pergelangan tangan Rey yang sedang kupegang.
Menahan kantuk yang mulai melanda mata ini. Ibu dan Ayah tidur di kamarku. Mereka tak banyak bertanya. Mungkin mereka menghargai perasaanku. Terlebih Rey yang sedang sakit.
Mata sempat beberapa kali terpejam tak sadarkan diri. Namun, aku kembali bangun dan menatap Rey. Ia yang tengah tidur pulas karena obat yang ia minum beberap menit yang lalu. Pergelangan tangannya juga mulai melemas tanda bahwa ia sudah mulai terlelap.
Aku meletakkan perlahan tangan Rey di atas perutnya. Merapikan selimut yang berantakan dan bangkit dari kursi. Sangat perlahan bahkan seperti maling yang sedang beraksi.
Tanganku terasa dipegang. Siapa lagi kalau bukan Rey. Terkejut juga aku dibuatnya. Kali ini aku menoleh perlahan. Aku tersenyum sipu di bawah lampu tidur yang menyala.
"Mau kemana?" tanya Rey dengan nada sangat rendah. Suaranya lemas seperti ornag yang sangat mengantuk.
"Aku mau tidur di ruang tengah." Aku meringis.
"Apa kamu mau terkena omelan Ibu kalau dia tau kamu tidur di luar?"
Aku mengerutkan alis. Memang benar apa yang diucapkan Rey. Bisa kubayangkan omelan Ibu. Bukan ditelepon bahkan langsung dihadapanku.
Rey menepuk pelan kasur kosong di sebelahnya. Memberi isyarat agar aku beranjak ke sana. Cukup bingung pastinya. Namun, daripada ia segera berubah pikiran, dengan yakin aku naik ke atas ranjang.
Rey melihatku. Ia meraba mencari tanganku dan memegangnya. Ia meletakkan tanganku di atas dadanya. Tangan Rey kini berkeringat. Bajunya juga hangat. Menandakan ia tengah merasa gerah.
"Kamu gerah, ya?"
"Sedikit."
"Mau aku naikkan suhu AC-nya?"
"Tidak usah. Ini sudah cukup. Aku tak mau kamu juga sakit karena kedinginan."
__ADS_1
Senyum termanis yang aku punya, telah aku sematkan untuk suamiku tercinta ini. Meski hanya kata-kata sederhana dan perhatian kecil saja, sudah cukup membuat hati ini melayang bagaikan layang-layang.
Bersambung...