My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Dukun Beranak 1


__ADS_3

Kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari wajah ini. Meski Rey mengaku ia sendiri yang berinisiatif dengan hotel dan semacamnya, aku tak mempermasalahkannya. Berbohong atau tidak, mungkin hanya Rey dan Yang Maha Kuasa yang tahu.


"Rey."


"Hem."


"Lain kali, kita liburan, ya."


"Gak janji."


Ngelunjak. Baru saja, dimanjakan menginap di hotel dan makan malam romantis, sudah minta yang lebih. Begitulah perempuan. Bagi beberapa orang yang mau mengaku bahwa diri mereka tak pernah merasa puas dalam hal apapun.


Meski petang Minggu ini kami harus pulang, setidaknya Rey dan aku jadi semakin intim. Semoga saja, ini adalah awal yang baik untuk kami berdua.


"Kapan kita nginap di hotel lagi, ya," kataku berbasa-basi.


Rey tersenyum tipis. Ia hanya berfokus kepada kemudinya.


"Rey, besok jadwal kita ke dokter kandungan."


"Iya. Terus?"


"Gimana, ya. Apa kita mundur aja?"


"Sudah nyemplung kok mau naik gitu aja. Nikmati dulu airnya."


"Kamu ngomong apa, sih."


"Sudah terlanjur basah. Berenang aja dulu."


Aku menghela napas. Rasanya meski baru dua kali disuntik hormon, tapi panta*ku sudah terasa panas. Mungkin beginilah rasanya perjuangan wanita yang ingin menjadi ibu.


"Kenapa?"


"Bosan, Rey. Pasti besok di suntik lagi."


"Kalo disuntik aku gak bosan."


Aku melirik lelaki mesum ini dan mencubit perutnya. Tentu saja ia merasa kesakitan.


"Jari kamu benar-benar seperti jarum."


"Sukurin."


**


Aku masih bernapas lega karena suntik hormon ditunda. Tapi, kabar yang tak enak lainnya datang dari Ibu. Beliau menyuruhku untuk ikut dengannya ke tukang urut.


"Apa, Bu? Ke dukun beranak? Alma, kan, belum mau beranak," sahutku di telepon pagi ini.


"Iya. Dulu, ibu juga ikut diurut supaya cepat hamil."


"Haduh Ibu. Alam capek. Udah ke dokter, ke dukun beranak pula."


"Alma. Kamu nurut aja sama ibu."


Begitulah Ibuku. Mau tidak mau, aku harus menurut. Dari dulu, aku tak bisa melawan Ibu. Sebagai anak memang harus begitu menurutku.


"Iya."

__ADS_1


"Nanti malam, ya."


"Ibu. Alma kan, harus siapin mental dulu."


"Halah. Sok-sokan. Orang cuma diurut aja."


Lagi-lagi aku tak bisa melawannya.


**


Aku berjalan dengan memegang ponsel di depan dada. Menghampiri Rey yang tengah sarapan di dapur. Aku menggigit bibir dan berhenti tepat di sampingnya.


"Rey."


"Ya."


"Nanti nanti sore Ibu mau ke sini. Dia mau ajakin aku ke dukun beranak."


"Terus."


"Bisa gak kamu anterin?"


"Oke." Ia bangkit dan mengambil tas kerjanya.


Rey bilang ada meeting pagi ini. Karena itulah ia berangkat pagi sekali. Setelah selesai bersiap-siap, aku pun juga berangkat ke kantor. Terbayang betapa sakitnya jika perut ini dipijat. Atau justru akan geli sekali.


"Bu. Saya akan ke bengkel sebentar. Aki mobil ini, kelihatannya sedikit bermasalah."


"Iya, Pak Joni. Langsung ke sini lagi, ya. Ini uangnya." Aku memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu padanya.


"Pak Joni nanti kalau uangnya kurang, telepon saya, ya."


Aku masuk ke kantor dengan semangat. Saat aku menaiki lift, aku bertemu dengan Rian. Kami masuk ke sana bersama-sama. Ada dua orang lainnya juga bersama kami. Disela-sela kami menunggu lift naik, diam-diam aku meliriknya.


Gaya cool dan keren melekat erat dengan dirinya. Tatapan mata yang fokus, membuat diri ini diam-diam mengaguminya.


Astaugfirullah...


Aku tersadar dari lamunan ini. Sekeren atau setampan apapun dia, aku tak boleh menyimpan hati untuknya. Setan selalu berbisik lembut. Menjanjikan syurga yang indah, tapi nyatanya hanya neraka jahanam yang akan didapat.


Akhirnya aku keluar dari lift. Berjalan cepat meninggalkan Rian dan beberapa karyawan lainnya. Sungguh sial, saat aku ingin berjalan cepat dan sampai di meja kerja, sepatu ini tersandung. Aku nyaris saja terjatuh ke depan. Namun, lengan kiriku dipegang oleh seseorang.


Jantung ini sempat bergejolak sekejap karena terkejut. Tak kalah terkejut lagi saat lenganku dipegang oleh Rian.


Rian? Iya, dia di belakangku tadi.


"Maaf, Pak."


"Lain kali hati-hati. Tak ada yang sedang mengejarmu."


Baru saja, aku ber-istigfar karena mencuri perhatian darinya. Sekarang ia datang dan menolongku. Sungguh.


Aku hanya tersenyum kaku membalas perkataannya dan berlalu masuk ke dalam ruangan.


Bagaimana ini? Bila terus begini, mana aku bisa menjauh darinya?


Kretek... Kretek... Kretek...


Suara kuku menggeretak di atas meja, dan tangan satunya menopang dagu. Menatap layar komputer, namun, pikiran ini sama sekali tak fokus dengan pekerjaanku.

__ADS_1


**


"Asaalamualaikum." Ibu mengucapkan salam dari luar pintu.


"Waalaikumsalam."


Bik Ning membuka pintu. Sementara aku menyiapkan makan malam.


"Alma. Ayo kita berangkat."


"Ibu. Tunggu magrib dulu."


"Iya." Ibu duduk di kursi makan dan meminum segelas air putih.


"Ibu mau minum apa?"


"Telat. Ibu udah minum. Nanti kamu nginap di rumah ibu, ya."


"Terus kenapa Ibu ke sini? Alma sama Rey kan, bisa ke rumah Ibu. Alma pikir, rumah dukun urut itu dekat dari sini."


"Enggak papa. Ibu kan, mau jalan-jalan. Sebenarnya gak deket juga sih, dari rumah Ibu. Tapi, kalau kamu gak nginap juga gak papa. Nanti ibu ganggu acara kalian lagi."


Ha, lega. Ibu tau aja.


Selepas makan malam bersama. Aku, Rey, dan Ibu berangkat ke tempat tujuan. Bik Ning pulang sementara Pak Joni menunggu rumah.


Sepanjang perjalanan, Ibu tampak tenang duduk sendiri di kursi belakang. Rey juga tengah fokus dengan kemudinya. Tersisa aku yang gelisah sambil beradu tangan.


Setelah satu jam berkendara, sampailah kami di tempat tujuan. Keadaan di sini cukup tenang. Lampu juga tak terlalu banyak seperti di kota. Mungkin kami tengah berada di plosok kota.


"Assalamualaikum, Mpok. Mpok Romlah."


Tok. Tok. Tok.


Ibu masih mengetuk pintu beberapa kali. Aku dan Rey berdiri di depan teras. Berharap sang penghuni rumah sudah terlelap.


Keadaan cukup seram di sini. Lampu yang remang-remang dengan teras yang lebar mengingatkanku akan rumah Si Doel Anak Betawi. Meski sedikit kuno, namun, arsitektur masih sangat terjaga.


"Waalaikumsalam."


Mendengar seseorang menjawab salah dari dalam rumah, jantung ini kembali berdetak lebih kencang. Aku memegang erat lengan Rey yang sedari tadi berada di sampingku.


"Masuk-masuk." Ia menyuruh kami masuk saat ia membuka pintu.


"Maap, yak. Mpok baru aje selesai ngaji."


Dari postur tubuhnya, jelas ia sudah tak muda lagi. Tetapi ia masih rajin mengaji. Aku sedikit malu dengan wanita paruh baya ini.


"Gak apa-apa, Mpok. Ini, saya bawa anak saya buat diurut."


Aku tersenyum.


"Mpok." Aku mengajaknya bersalaman.


"Ini anak lu? Udah gede bener, yak. Kagak kerasa gue udah tua ternyata. Hahahaha."


Mpok Romlah dan Ibu tertawa bersama. Sedangkan aku masih cukup tegang dengan apa yang akan terjadi sesat lagi.


Bersambung....

__ADS_1


Yuk bantu like dan vote. Ajak teman lainnya baca novel ini ya. 😊😊😊😊


__ADS_2