My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Konflik 1


__ADS_3

Sejak kejadian tadi pagi, hingga menjelang siang ini, aku masih memikirkannya. Akhirnya aku bisa mandi keramas setelah satu bulan lamanya menikah dengan Rey. Waktu yang sempit itu benar-benar membuat bunga-bunga bermekaran di hatiku.


Setelah aku mencuci seprei yang telah ternoda itu, aku lantas membersihkan semua rumah, walaupun rumah ini tak terlalu kotor.


Setelah aku melirik jam dinding, tiba-tiba saja aku berkeinginan untuk mengantar makan siang Rey.


"Kenapa aku ingin ke kantor Rey sekarang? Tapi, sepertinya aneh kalo aku ke sana gak ada perlu apa-apa. Emm, apa aku bawain dia makan siang aja, ya. Oke deh."


Setelah asik bercakap-cakap sendiri, aku lantas berjalan menuju dapur dan memasak makanan kesukaan Rey.


Bisa kubayangkan saat dia memakan masakanku. Hihi..


Masakan matang dengan cepat. Aku bersiap-siap kembali dan berdandan untuk pergi ke kantor Rey. Dengan uang pemberian Rey, aku bisa membeli baju sesukaku. Meski begitu, aku tetap memikirkan untuk menabung sisa uang yang tak terpakai.


Sejak menikah, aku memutuskan untuk memakai hijab. Karenanya, saat aku menikah dengan Rey, aku sudah menutup auratku. Kali ini aku akan berdandan ala Nisa Sabyan. Pipi yang cabi ini menambah kesan yang hampir mirip dengan penyanyi gambus itu.


Gaya hijab dan sedikit perona pipi agar terlihat manis. Maklum saja, aku jarang berdandan kalau di rumah.


"Hemm, bismillah." Aku melangkahkan kaki menuju gerbang dan sudah ada taksi online yang telah menungguku di depan.


"Lama, ya, Mas?" tanyaku basa-basi.


"Enggak kok, Mbak. Baru lima menitan."


Aku akan buat kejutan untuk Rey. Aku akan buktikan, aku bisa dapetin hatinya Rey.


"Mbaknya udah nikah?" tanya sopir.


"Udah, Mas. Baru satu bulan."


"Wah, pengantin baru. Kelihatan, sih dari raut muka, Mbaknya." Dia melirikku dari kaca kecil di atas stir.


Tak lama, mobil pun berhenti di tempat tujuan.


"Sampai, Mbak."


"Aku memberikan uang ongkos dan segera turun." Aku melirik arloji kecil berwarna hitam di lengan kiri. Tepat jam 12. Aku berjalan masuk sambil berharap Rey belum makan siang.


"Selama siang, bisa dibantu, Mbak?" tanya resepsionis saat aku mendekat.


"Saya mau nyari Rey," jawabku.


"Rey, siapa?"


"Oh, maksudku Reyhan," jelasku.


"Dengan siapa?" tanya wanita cantik di depanku.


"Ee, istrinya Reyhan, Alma."

__ADS_1


"Wah, Pak Reyhan baru saja keluar, Mbak. Kelihatannya akan makan siang."


Aku menatap rantang bunga-bunga ini dengan lesu. Ternyata aku terlambat.


"Ya sudah, tak apa-apa, Mbak. Biar saya pulang saja," kataku sambil berlalu.


Wajahku pasti sangat kacau saat ini.


Aku berjalan keluar gedung puluhan lantai ini dan menatap lekat gedung di belakangku. Aku duduk di tangga yang tak jauh dari kantor. Tiba-tiba saja, mataku menangkap sosok Rey di seberang jalan.


Aku berjalan dan mengikutinya, dia nampak dengan seorang wanita.


Dia Vina? Sedang apa dia di sini?


Aku mengikuti mereka masuk ke dalam cafe. Namun, aku urungkan mengikuti mereka hingga ke dalam.


Untuk apa aku ke sana? Rey mau mengajak Vina ke cafe ini, berarti Rey masih ada rasa dengan gadis itu. Jadi, mungkin nggak ada gunanya aku masuk ke dalam.


Aku melangkah pergi dengan air mata yang kutahan. Aku hendak menyeberang jalan di depan cafe dan memesan taksi online di depan kantor Rey saja.


Tiiiiiin...


Klakson mobil mengejutkanku. Hampir saja aku tertabrak oleh mobil itu. Sopir di dalam mobil keluar begitu tau ia hampir menabrakku.


"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja. Mbaknya nggak papa?" tanya lelaki itu padaku. Wajahnya sontak sedikit berubah melihat pelupuk mataku yang berkaca-kaca.


"Iya nggak papa. Maaf, Mas. Saya nggak lihat jalan tadi."


"Saya pergi dulu, Mas. Assalamualaikum," pamitku lalu pergi dengan menundukkan kepala.


Aku berjalan menuju tempat sampah hendak membuang makanan ini, tapi, mataku tiba-tiba saja tersita dengan pemandangan seorang wanita paru baya bersama seorang anak balita.


Ia berpakaian lusuh dan memegang gelas plastik di tangannya.


Aku berjalan ke arah wanita itu. "Buk, ini makanan buat Ibu." Aku tersenyum dan memberikan rantang makanan itu padanya.


"Terima kasih, Nak." Ia mengambil rantang itu dengan wajah yang sumringah.


Aku juga menyelipkan beberapa uang berwarna merah di gelas plastik yang ia pegang. Aku menatap mata wanita itu yang mulai mengeluarkan bulir bening dari sana.


"Terima kasih, Nak. Semoga Allah memberimu umur panjang dan selalu bahagia," ucapnya.


"Terima kasih, Bu. Doanya."


Ia langsung membuka rantang yang kubawa dan melahapnya bersama anak kecil yang ia gendong. Di sela-sela kesedihanku, aku masih merasa beruntung dan masih bersyukur bisa makan dengan layak dan enak. Tempat tinggal yang layak dan nyaman.


Maafkan hambamu yang kufur ini ya Allah.


Aku menarik nafas dan berjalan menghampiri taksi online yang sudah datang.

__ADS_1


"Lo, Mbak. Kok cepet?" tanya supir taksi yang kunaiki tadi.


"Iya, Pak. Kita ke alamat ini, ya, Pak." Aku memberikan ponsel yang bertuliskan alamat rumah Ibu.


"Iya, Mbak."


Mobil melaju ke rumah Ibu. Aku memutuskan pergi ke sana bukan untuk mengadu dengan apa yang kulihat, tapi untuk melepas rindu.


Aku merogoh ponsel di tas dan mengirim pesan kepada Rey.


[Aku pergi ke rumah Ibu]


Pesan telah terkirim 15 menit yang lalu, tapi, tak ada jawaban dari Rey. Mungkin dia tengah sibuk dengan Vina atau dengan urusan kantornya.


Tak apa, yang penting aku sudah bilang pada Rey. Masa bodo kalau dia marah.


Perjalanan yang cukup lama membuatku mengantuk dan tertidur si kursi belakang.


**


"Mbak, Mbak. Bangun, Mbak. Kita udah sampai," panggil sopir dari tempat duduknya.


Aku terbangun di halaman rumah Ibu. Aku segera membayar tagihan dan turun.


"Makasih, ya, Mas."


Aku berjalan hingga sampai di depan pintu rumah Ibu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Ibu terdengar dari dalam.


"Alma. Kok sendirian? Rey mana?" tanya Ibu.


"Rey kerja, Bu," jawabku sambil berjalan masuk ke rumah Ibu.


"Bu, masak apa? Alma laper."


"Ibu masak sayur asam. Makan sana."


"Iya, Bu. Alma ganti baju dulu." Aku berjalan ke arah kamar. Aku melihat sudut kamarku. Kamar yang sudah aku tinggalkan satu bulan lebih.


Kamar yang sempit ini menjadi tempat terindahku. Di sini aku tersenyum, menangis, bahagia, kecewa. Aku membuka lemari dan mengambil selembar baju dan rok panjang.


Aku keluar dan segera mengambil nasi lalu makan dengan lahap. Nasi yang kubawa tadi, bermaksud akan kumakan bersama Rey di kantor, tapi dia nampaknya sedang sibuk.


"Ma, kamu udah telat, belum?" tanya Ibu.


"Uhug.. uhug.. uhug.." Aku terbatuk-batuk oleh pertanyaan Ibu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2