My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Merasa Bersalah


__ADS_3

Sepanjang jalan, Rey tak mau berkata apa-apa. Raut wajahnya biasa saja seperti biasanya. Juga saat masuk ke dalam rumah. Tapi, ketika aku santai berjalan, tiba-tiba aku mendengar ia berkata, "Jangan pernah kau ulangi lagi!" katanya saat dia duduk di depan tivi.


Aku menoleh sejenak dan menghampirinya karena aku hampir sampai di kamar.


"Apa, Rey?"


"Seandainya aku tak datang, apa yang akan terjadi sama kamu? Kalau seandainya ada apa-apa, aku yang akan dimarahi oleh Papa," tambahnya.


Nada bicaranya mulai naik satu tangga. Ternyata dia hanya takut dimarahi Papa bila ada apa-apa denganku. Bukan karena aku saja.


Bodohnya diri ini sudah berharap lebih kepada Rey. Aku berharap terlalu jauh, membayangkan ia seperti pemain lelaki di drama korea yang benar-benar mengkhawatirkan kekasihnya. Tapi, nyatanya aku salah. Dia tetap Rey yang acuh tak acuh kepadaku.


Tak terasa pipi ini mulai basah oleh titik-titik air yang berjatuhan. Aku mulai menyadari satu hal. Mungkin memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk benar-benar membuat Rey berkata aku sayang kamu Alma.


Perasaan sedih, kecewa tak bisa ku tutupi. Namun, bila diingat, aku memang tak meminta izin saat keluar rumah ini. Dan kalau ada apa-apa denganku, tetap suamiku yang bertanggung jawab.


Aku berjalan dengan cepat dan duduk mendekati Rey. Ku raih kotak tisu untuk menyapu air di hidung.


"Maaf," kataku lirih. Tentu saja aku tak dapat menahan isak tangis saat satu kata itu keluar dari mulutku.


Rey tetap tak bergeming menatap tivi. Aku menyandarkan kepala di pundaknya dan menangis di sana. Aku meraih lengan Rey dan aku memeluknya. Mungkin saat ini aku terlihat sangat manja seperti anak kecil, tapi, sesungguhnya aku sangat merasa bersalah kepada Rey.


"Jangan marah lagi, ya, Rey," kataku. Namun, ia tetap tak berkata apa-apa. Aku melirik wajahnya sesaat, matanya menatap tajam. Seperti ada sebuah emosi terpendam di sana.


Aku meraih tangan kanannya dan memegangnya di pipiku. Namun, ia juga masih menatap tivi.


"Jangan marah lagi, ya, Rey," kataku dengan sedikit terisak.


Entahlah, aku sama sekali tak mengerti Rey. Sama sekali tak mengerti dia. Mungkin satu bulan lebih ini masih kurang untuk bisa mengenalnya.


"Makasih, ya, kamu udah mau nyusulin aku."


Aku meraih pinggangnya dan memeluknya dari samping. Memutar kejadian pada saat aku dikejar oleh preman itu. Seandainya Rey tak datang, aku tak tau apa yang akan terjadi padaku.


Rey hanya mengusap kepalaku sekali.


"Makan sana coklatnya," ujar Rey.


Aku mengangguk mengerti. Mencium pipinya dan berlari ke kamarku. Di dalam sini, aku memakan sebatang coklat, tentu saja dengan menangis. Ingin aku banting saja semua coklat-coklat ini. Karenalah aku bisa senekat tadi. Namun, setelah kejadian ini, aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.


**


Azan subuh membangunkanku. Aku mengingat kejadian kemarin malam. Rasanya, baru sekali ini melihat Rey berkata-kata sedikit bernada tinggi seperti itu dan ternyata, aku tak mampu. Mungkin aku juga harus beradaptasi jikalau dia marah dan hatiku ini sudah harus siap menghadapinya.

__ADS_1


Nafas kesal dan marah kepada diriku sendiri keluar bersama bangkitnya aku dari ranjang. Tiba-tiba rasa malas melanda, tapi, aku harus bangun dan menyiapkan makan untuk Rey.


Setelah hampir sampai di toilet, tiba-tiba saja perutku sakit. Sangat sakit hingga aku menunduk menahannya. Aku memegang dinding dan terduduk di lantai menahan sakitnya.


"Aaa, sakiiittt," kataku sambil meremas perutku yang amat sakit.


Tok. Tok. Tok.


"Alma, bajuku belum disetrika," kata Rey di luar kamaku.


Aku berusaha mengesot bermaksud membuka pintu, tapi tak bisa. Perut ini sangat sakit sekali.


"Alam." Pintu dibuka oleh Rey. Pintu kamarku memang tak pernah aku kunci jadi ia tak kesulitan membukanya.


Dia melihatku tergeletak di lantai dan menghampiriku.


"Alma, kamu kenapa?" tanya Rey sambil memegang lenganku.


"Sakiitt," jawabku singkat.


Rey menggendongku ke ranjang dengan segera.


"Kita ke rumah sakit," tawar Rey.


"Nggak. Nanti sembuh sendiri," kataku lirih.


"Kamu kebanyakan coklat, ya?" tanya Rey.


Entah mengapa pertanyaan Rey membuatku ingin tertawa. Sambil menahan sakit aku tertawa kecil.


"Ini tamu bulanan mau dateng, Rey. Bukan kebanyakan coklat," kataku sambil menahan sakit. Sebenarnya malas sekali berbicara panjang kali lebar sambil menahan sakit, tapi, bila tak dijelaskan, Rey akan salah paham.


"Tamu bulanan?" Sontak raut wajahnya berubah setelah pertanyaan itu keluar. Sepertinya dia mengerti.


"Kenapa nggak bilang? Ngagetin aja."


"Emang kamu keget?" tanyaku.


Dia menyipitkan matanya sedikit.


"Rey, belikan aku minuman untuk datang bulan, ya."


"Hahh, emang ada?"

__ADS_1


"Ada. Di mini market."


Tanpa bertanya lagi, ia keluar menuju mini market. Aku memanfaatkan waktu saat dia keluar untuk ke toilet dengan membawa pembalut.


Jangan sampai dia terkejut melihat darah yang cukup banyak di sini.


Masih sakit, dan sampai jam setengah tujuh, Rey belum juga kembali.


Apa dia nyasar? Ya ampun, ternyata ribet banget nyuruh laki-laki belanja.


Tak lama setelah itu, suara mobil masuk ke garasi. Itu pasti Rey. Aku berniat ingin marah saat dia kembali. Bisa-bisanya dari jam lima lebih sampai setengah tujuh baru dia pulang.


"Kenapa lama, Rey?" tanyaku ketika dia masuk.


"Tadi mini market deket sini belum buka. Terus aku lanjut jalan dan nyari super market yang buka 24 jam. Makanya lama," jawabnya sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja.


Ya Allah, aku lupa kalau mini market deket sini nggak 24 jam.


"Maaf, ya, Rey. Aku repotin kamu."


"Iya. Ngerepotin banget."


Aku meruncingkan bibir saat sia berkata seperti itu.


"Nih, minum. Aku juga beli sarapan tadi. Kamu nggak bisa masak, kan?"


"Iya. Suapin, ya, Rey."


"Kaya anak kecil aja."


Rey keluar. Dari suaranya, dia mungkin mengambil piring dan sendok di dapur. Setelah itu dia masuk kembali ke kamarku.


Aku masih menahan sakit di perut ini. Rasanya seperti baju yang sedang diperas. Agak lebay, sih, tapi biasanya kalau aku sedang sakit begini, Ibu selalu sigap merawatku. Mungkin, kali ini aku akan belajar merawat diri sendiri karena Rey tak mungkin bersikap sama seperti Ibuku.


"Ini, makan." Rey menyuapiku. Rasanya, hatiku ini sedang ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Sakit di perut ini mereda ketika sendok itu masuk ke mulutku melalui tangan Rey.


"Aku mau berangkat bekerja. Ada meeting nanti jam satu siang. Aku nggak bisa tinggalin gitu aja. Kamu nggak papa, ya, aku tinggal," katanya yang juga sedang memakan nasi bungkus.


"Nggak papa, Rey," jawabku.


Pagi ini ternyata lebih indah dari dugaanku. Meski harus merasakan sakit, tapi, aku bisa lebih dekat dan mendapat sedikit perhatian dari Rey. Andai saja dia tak ada janji dengan kliennya, bisa saja, kan, dia menungguiku di sini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2