
"Apa itu?" tanya Rey saat aku baru saja masuk ke dalam mobil. Matanya tertuju kepada kotak yang aku bawa.
"Mau tau aja." Aku masih melihatnya yang merasa penasaran.
Rey tampak cuek dan menghidupkan mesin mobilnya. Mobil pun melaju perlahan.
"Vina itu ternyata tak sejahat dugaanku." Aku melihat suamiku yang tengah fokus menyetir.
"Dia itu sebenarnya memang baik. Makanya, saat dia sengaja nglakuin hal buruk untuk merusak rumah tangga kita, aku tak percaya."
Aku mengangkat kotak dan melihatnya dengan penuh senyuman. Membayangkan anakku nanti memakai sepatu ini, pasti akan sangat lucu.
"Rey, aku mau beli jus jeruk."
"Kata Pak Joni kamu sering beli jus jeruk. Apa perut kamu gak sakit?"
Cie perhatian.
"Enggak. Minumnya harus makan dulu dong. Jangan waktu perut kosong."
Lelaki tampanku ini hanya mengangguk kecil. Entah kenapa saat matahari naik, rasanya aku ingin sekali minum jus jeruk. Sudah berkali-kali, tapi aku tak merasa bosan.
"Ah enak."
"Rey. Kata Bi Ning, kalau biasanya aku gak suka sesuatu terus jadi suka, kemungkinan aku hamil, Rey."
"Apa iya. Kamu udah tes?"
"Belum. Tanggal datang tamu bulan kemarin masih kurang satu minggu lagi. Aku mau lihat dulu, Rey tamu bulan ini masih datang atau enggak."
Aku gak mau memberi harapan. Karena aku jadi murung kalau tamuku tiba. Otomatis, aku belum diberi kepercayaan untuk punya momongan.
"Kamu seneng gak, Rey kalau aku hamil?"
Iseng aja sih. Masa iya kaya begitu musti ditanya lagi.
"Ya, senenglah. Pake ditanya."
"Nanti malam, bisa kita makan malam?"
"Di hotel?" tanyaku antusias.
"Is. Bukan. Dasar cabul." Rey mencibir. Tapi, dia sedikit menahan tawa saat melihat ekspresiku.
"Makan malam di resto hotel mewah itu maksudnya, bukan nginapnya."
Dia mengelus kepala yang berbalut hijab sambil tersenyum.
"Aku tahu, Sayang."
"Hah, apa, Rey. Coba lagi."
"Nggak ah."
Dia tersenyum lagi saat melihat bibir ini maju beberapa inci.
**
__ADS_1
Hah, kenapa Rey pake berangkat duluan segala. Kenapa dia gak nungguin aku, sih. Dasar konyol. Mau apa coba dia berangkat duluan.
Aku bergumam sendiri saat pesan masuk sore ini. Rey bilang akan berangkat terlebih dulu dan menungguku di sana. Kadang, aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran lelaki tampanku itu. Apa dia sedang belajar bersikap romantis atau apa aku juga tak mengerti.
Sejam sudah aku menghadap cermin. Memakai bedak dan teman-temannya. Cukup berdandan natural karena bukan apa-apa. Badan ini kadang membuatku merasa sedih. Pakaian yang belum lama dibeli sudah harus rehat sejenak karena berat badan yang naik-naik ke puncak gunung.
"Wah, Ibu cantik," kata Bi Ning dengan serbet di bahunya.
"Ibu mau pulang?"
"Nanti, Bu. Saya mau beberes dapur dulu."
"Iya, deh."
Tiba-tiba aku merasa pusing. Reflek aku memegang dahi kiri dan bersandar pada dinding.
"Bu, kenapa?" tanya Bi Ning. Dengan sigap ia memegangi lenganku.
"Agak pusing, Bi. Mungkin migren."
"Ibu mungkin telat makan, ya?"
"Mungkin, iya, Bi. Ya, udah. Saya mau ngusulin Bapak. Nanti dia nunggu lama."
"Iya, Bu. Hati-hati."
Bi Ning menuntunku sampai masuk ke mobil. Karena bahagia memikirkan akan makan malam bersama, sakit kepala ini tak terlalu aku hiraukan. Dengan sedikit pijatan, akan membuat kepala merasa rileks. Dalam beberapa menit, sudah terasa agak mendingan.
Aku tak mungkin menggagalkan acara malam ini dan mengecewakan Rey. Bagaimanapun, ia sudah mempersiapkan ini sejak sore. Bahkan mengajakku sejak pagi tadi.
Tiga puluh menit perjalanan terasa lama bagiku. Namun, dengan melihat foto sepatu bayi pemberian Vina aku bisa sedikit melupakan perjalanan ini. Agak berlebihan memang.
"Iya, Pak."
Aku turun dengan bahagia. Berjalan dengan sedikit terburu-buru. Memasuki resto mewah. Tak perlu mencari di mana suamiku berada karena pelayan wanita dengan senang hati menuntunku berjalan menuju Rey.
Suasana indah terpancar. Seseorang tengah duduk di seberang kolam yang dipenuhi lilin. Di sana ada sebuah meja cantik yang dihiasi kain berwarna merah marun. Melambai-lambai indah tersapu angin sepoi. Tanpa berbasa-basi, aku berjalan menghampiri lelakiku.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Rey berdiri dan menarik kursi untukku. Aku melihatnya dengan perasaan yang bahagia sembari ia kembali duduk kembali.
"Dasar receh," ucapnya.
"Apa?"
"Baru kayak gini aja, udah senyum-senyum."
Aku menggigit bibir.
"Gak receh kok. Dolar."
Rey tersenyum. Tak berapa lama, ia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Ia langsung menyerahkan amplop putih dengan pita merah muda itu kepadaku.
"Ini."
"Apa ini?"
"Hadiahnya. Vina udah kasih kamu hadiah. Sekarang giliranku."
__ADS_1
Aku mengerutkan kening sesaat. Setelah amplop ada di tangan, aku langsung membukanya. Sebuah kertas dan buku kecil di dalamnya. Saat aku berhasil mengambil kertas kecil, aku terkejut.
"Tiket ke Bali?" tanyaku dengan raut wajah sangat terkejut.
"Iya. Maaf, aku baru bisa ambil cuti. Jadi, baru sekarang kita bisa pergi berbulan madu."
Mulutku menganga karena merasa tak percaya dengan perkataan Rey.
"Aku seneng, Rey. Tapi, sebenarnya aku gak terlalu mikirin ini. Enggak pergi juga gak papa."
"Oh. Kalau menurut kamu gitu, aku batalin aja cutinya."
Brukk. Rasanya hatiku jatuh.
"Jangan. Jarang-jarang kan, kamu bisa cuti lama."
"Gak lama cuma tiga hari. Jadi, pergi atau enggak?"
Laki-laki memang gak ada basa-basinya. Padahal kan aku mau. Cuma pura-pura nolak aja biar dia maksa.
"Iya, mau."
Hari ini mungkin termasuk hari paling menggembirakan dalam hidupku. Selain mendapat kado yang teramat manis dari orang yang sempat aku benci, aku juga mendapat kado yang tak kalah manis dari suami tercinta.
Karena rasa bahagia inilah, makan malam spesial ini begitu terasa sempurna.
Aku masih tersenyum dan terpisu bahkan setelah makan malam selesai. Amplop indah ini masih kudekap di dada.
Rey menutup pintu mobil saat ia menyuruh Pak Joni pulang terlebih dulu. Kali ini, aku akan pulang bersama lelaki tampan ini.
"Gampang banget, ya, buat kamu senyum." Aku melihat Rey saat ia beralih pandangan setelah melihatku.
"Iya, emang aku receh. Mudah banget kan, buat aku seneng dan senyum-senyum."
"Rey. Sebenarnya, untuk membuat wanita merasa bahagia itu sederhana, kok. Cukup beri dia perhatian, pengertian, kasih sayang, dan kartu ATM. Cuma itu, kok, cara nyenengin wanita."
"Kamu pikir kalau ATM itu kosong, masih bisa seneng?"
"Iya, masih seneng, kok. Seneng gamparin suaminya, Rey." Aku menutup mulut menahan tawa. Namun, lelaki tampanku ini diam tanpa ekspresi.
"Rey. Kamu itu gimana, sih. Gak ngerasa lucu apa?"
"Enggak. Tandanya, buat ngisi ATM, suami-suami, kan, juga harus kerja."
"Iya, iya. Kamu bener."
Rey menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya perlahan.
"Rey, matikan AC-nya. Aku dingin." Tiba-tiba saja aku menggigil kedinginan saat pendingin mobil ini menyala.
"Kamu gak papa?" tanya Rey saat ia mematikan pendingin mobil.
"Aku pusing."
Tak lama merasakan pusing yang cukup menyiksa kepala dan dingin yang menusuk tulang, aku tak sadarkan diri.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk like dan vote. Kasih aku poin ya. 😊😊😊😉