
Suara azan subuh membangunkanku. Suara yang tak terlalu jauh ini bisa menjadi jam weker otomatisku setiap pagi. Aku hendak mengucek mata yang masih mengantuk. Saat aku menarik tangan kanan, tiba-tiba tanganku terasa dipegang.
Aku lupa bahwa semalam aku tidur dengan Rey. Di kamar ini. Pipi ini merona seketika. Bahagia tiada terkira. Rey saat sakit tiba-tiba berubah menjadi anak kecil yang manja. Dengan perlahan aku menarik tanganku. Aku tak mau membangunkan Rey yang tengah tertidur pulas.
Aku melangkah perlahan turun dari kasur dan keluar dari kamar Rey. Perlahan, aku melihat Ibu dan Ayah sudah tak ada di kamar. Ibu terdengar berada di dapur, sedangkan Ayah, biasanya dia akan pergi ke musolah atau masjid saat waktu salat tiba.
Kesempatan yang bagus ini aku manfaatkan untuk mengambil handuk, baju, dan beberapa alat kecantikan. Segera kuusung ke kamar Rey. Aku mandi di toilet yang ada di kamar Rey dan segera menunaikan salat subuh.
Setelah selesai, aku masih sibuk mengeringkan rambut yang basah. Akan cepat bila dibantu dengan pengering rambut. Aku berdiri di dekat meja karena mencari sumber listrik. Mengepak-ngepakkan rambut yang basah.
Di tengah rutinitas pagi ini, aku baru menyadari kalau Rey sudah terbangun. Dia sedang menatapku.
"Sudah bangun, Rey," sapaku.
"Di sana ada colokan listrik. Kamu udah buat bantalku basah." Tanpa tersenyum sedikitpun, Rey beranjak dari tempat tidur menuju toilet.
Wajahnya sudah tampak lebih segar dari kemarin. Mungkin karena itulah sifat cuek dan juteknya datang kembali.
Tok. Tok. Tok.
"Alma. Ayo sarapan!" teriak Ibu dari luar kamar.
"Iya, Bu." Tanpa menunggu, Rey, aku segera menghampiri Ibu dan Ayah di dapur.
"Wah, pagi-pagi udh keramas." Ibu melirikku sambil menaikkan kedua alisnya. Tingkah Ibu sedikit membuatku bergidik seram.
Aku hanya tersenyum kaku membalas ocehan Ibu sambil menyidik nasi goreng.
"Ma, apa kamu udah isi?"
"Hah. Isi apa, Bu?"
Ibu menghadap samping dan membulat kan perut dengan kedua tangannya ke arah depan.
"Hamil?"
"Iyalah. Itulah yang ditunggu semua pasangan bila sudah menikah."
Aku tertunduk lesu. Aku tak mungkin menceritakan masalah rumah tangga kepada Ibu. Terlebih masalah ranjang, karena itu sebagian dari aib.
Aku hanya bisa membuang nafas panjang. Sementara Ibu masih menanti jawabanku.
"Ma, kenapa diam?" Ibu mulai menyelidik. Perasaannya benar-benar tak bisa dibohongi, apalagi setelah melihat keadaan anaknya ini.
__ADS_1
"Kalau Rey sedang sibuk atau lelah bekerja, jangan kamu paksa."
Aku termenung dengan mulut menganga. Tidak kusangka, Ibu masih membela Rey.
"Iya, Bu."
Sedikit rasa bahagia terbesit di hati ini. Ternyata, Ibu tak mencurigai menantunya sedikitpun. Justru dalam keadaan yang ia tak tau sama sekali, Ibu masih membela Rey. Tentu saja, sampai saat ini aku sangat menahan diri untuk tak menceritakan masalah ini kepada siapa pun, termasuk Ibuku sendiri. Biarlah ini menjadi urusanku dengan Rey. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab.
"Ibu akan hubungi teman ibu semasa sekolah dulu. Dia adalah dokter kandungan. Bila Rey sudah sembuh, kamu ajak dia menemui dokter itu. Kalian akan menjalani program hamil supaya cepat dapat momongan. Haa, ibu benar-benar sudah tak sabar menggendong cucu."
Aku semakin lemas mendengar perkataan Ibu. Badan ini bagai tak bertulang. Di tengah kegundahan hati ini, Rey datang dan langsung menarik kursi dari kolong meja. Ibu dengan cepat menyiduk nasi untuk menantu kesayangannya itu.
Penuh senyum Ibu memperhatikan Rey hingga kini. Ayah yang ada di sebelah Rey hingga berdehem saat Ibu belum juga mengalihkan pandangannya.
"Ehem ... "
Aku menahan tawa melihat Ayah. Bisa-bisanya ia cemburu kepada Rey.
"Alma, kamu ini bagaimana. Kenapa tak mengambilkan nasi untuk suamimu."
Alis ini berkerut dengan nasi di dalam mulutku. Terkadang aku tak mengerti dengan sikap dan sifat wanita yang aku panggil Ibu.
**
"Alma, apa Rey masih cuek seperti dulu?" tanya Ibu sambil membersihkan meja.
"Hem, nggak juga, Bu. Sudah lumayan perhatian, kok."
"Kamu itu harus lebih perhatian kepada suami kamu."
Ha, lagi-lagi harus aku.
"Iya, Bu."
"Laki-laki itu kalau kitanya perhatian dengan dia, dia juga akan perhatian. Kalau kita bersikap biasa saja saat dia sekantor atau sering menelpon teman wanitanya, dia juga akan biasa saja. Tidak cemburuan."
Entah mengapa, hatiku bagaikan luka yang tersiram air lemon, perih saat Ibu berucap teman wanitanya. Mungkin aku akan biasa saja kalau wanita itu bukan Vina.
"Iya, Bu."
"Jadi, kalau sama laki-laki bernama suami itu, kita harus ngemong. Seperti sama anak kecil. Kalau kita baik, dia juga akan baik. Kalau kita suka berkata kasar, ya, jangan berharap dia akan baik."
Mungkin benar juga apa kata Ibu. Tapi, rasanya semua hal itu tak terpengaruh pada Rey. Aku merasa sudah memberi perhatian dengannya. Namun, tetap saja ia acuh padaku.
__ADS_1
"Kalau suami lelah, kita harus siaga memijatnya setiap hari."
"Tapi, Alma, kan, juga kerja, Bu. Capek."
"Ya, itu risiko sebagai istri. Salah siapa kamu bekerja."
Jadi, salah aku lagi?
Aku mendesah lemas mendengar ocehan Ibu. Seakan semua ini adalah salahku. Tapi, walau bagaimanapun, aku tak bisa menyalahkan Ibu. Karena ia tak tau keadaanku yang sebenarnya.
"Kalau suami baru pulang bekerja, tawari ia air minum, beri senyum termanis." Ibu tersenyum lebar sekali hingga nyaris semua gigi depannya terlihat jelas.
"Alma. Kenapa diam? Mengerti tidak?"
"Iya, Bu. Alma ngerti."
Oh, kenapa cucian piring ini terasa sangat banyak.
"Kalau di rumah itu, kita harus berdandan. Pakai pakaian seseksi mungkin."
Kata yang sedikit sensual itu, Ibu sengaja mendekatkan bibirnya di telingaku sambil berbisik.
"Pakai bedak dan lipstik yang merah, sampai Rey itu betah di rumah."
"Iya, Ibu."
"Kamu mengerti tidak. Ya, ya, aja dari tadi."
Astaga, apa semua Ibu-ibu seperti dia? Untung saja aku tak serumah dengan Ibu. Atau, aku tak bisa membayangkan bila setiap hari aku mendapat siraman rohani sepeti ini.
"Ha, selesai." Aku berjalan meraih lap yang tergantung tak jauh dari westafel.
"Eh, Alma tunggu," cegah Ibu saat ku berjalan menjauh darinya.
"Apalagi, Ibu." Rasa ingin menangis aku.
"Kupas buah, ya, untuk Rey dan Ayah."
"Haa!" Aku membuang nafas kesal dan berjalan menuju lemari es. Mengambil beberapa apel dan pepaya.
Aku mengupas buah sementara Ibu berjalan centil dengan membawa dua toples camilan menuju depan.
Haa, kenapa aku memiliki Ibu seperti dia?
__ADS_1
Bersambung...
Yukk, like, rate n vote. Nanti aku feedback. Makasiihh