My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Masalah Bagian 1


__ADS_3

Buah hati adalah hal yang paling dinanti setiap pasangan yang telah menikah. Sejauh sudah lama atau sebentar pasangan tersebut belum diberi kepercayaan memiliki momongan, nyatanya menjadi masalah tersendiri untuk masing-masing pasangan.


Kini, aku mengalaminya. Pernah suatu kali, Rey mengajakku untuk makan malam dengan teman sekantornya. Ketika istri temannya itu bertanya tentang anak, seketika aku menjadi murung. Menjawab pertanyaan itu lidahku seperti tengah tergantung berkilo-kilo besi. Berat.


Sudah sebulan lamanya, aku menjalani program kehamilan. Kini, berat badanku sudah naik sebanyak empat kilo dalam waktu tiga minggu. Sungguh pencapaian yang luar biasa menurutku. Karena, meski sebelumnya aku memang cukup gendut, tapi, aku tak pernah mengalami kenaikan berat badan sebanyak dan secepat itu. Berat badanku akan kembali jika bulan ramadan tiba.


"Ini," kata Rian. Ia memberiku segelas minuman. Warnanya putih agak kental. Aku mengira itu adalah susu.


Tanpa ragu aku meminumnya. Saat seteguk melewati kerongkongan, aku merasa mual. Rasanya sungguh tidak enak.


"Apa ini, Pak?" tanyaku.


"Itu jus toge dicampur susu."


Mendengarnya aku semakin mual.


"Jangan dimuntahkan. Itu bagus untuk kesuburan."


Mendengar perkataan Rian, hatiku menjadi tersentuh. Dia hanya Bosku di kantor. Tapi, ia perhatian kepadaku. Sementara Rey. Meski ia suamiku, tak pernah ia begitu perhatian seperti Rian.


Rian juga tau rupanya, kalau aku sedang menjalani program kehamilan. Entah dari mana ia mengetahuinya. Bahkan aku tak pernah berkata apa-apa selama di kantor. Juga dengan Dona. Meski kami sama-sama perempuan.


"Makasih, Pak." Aku menutup hidungku dan menghabiskan segelas kecil jus toge pemberian Rian.


Sebagai pengobat lidah yang tak enak ini, ia juga memberiku air putih.


Sudah kelima kalinya kami makan siang bersama. Lebih tepatnya bersama karyawan yang lain. Tapi, mereka sudah kembali ke kantor. Aku tak menyadari, Rian begitu memperhatikanku. Pernah suatu ketika, aku sedang terburu-buru membawa berkas yang akan di foto copy. Beberapa berkas terjatuh. Ketika aku hendak mengambilnya, tiba-tiba saja aku terpeleset. Tanpa diduga, Rian ada di belakangku. Bisa ditebak kalau aku jatuh dengan menindih badannya.


"Biarkan saja kertas-kertas itu berjatuhan. Keselamatan itu yang utama," pesannya saat itu.


Mungkin sejak saat itu, aku menjadi cukup dekat dengannya.


"Alma."


"Ya?"


"Bisakah sepulang dari kantor kamu temaniku membeli sesuatu? Ini, untuk perempuan. Aku tak mengerti selera perempuan."


"Baiklah. Hanya sebentar saja kan, Pak?"


"Hem."

__ADS_1


**


Sepulang dari kantor aku dan Rian menemaninya ke sebuah toko perhiasan. Aku tak banyak bertanya untuk siapa perhiasan itu akan ia berikan.


"Permisi," sapa Rian kepada pegawai toko.


"Iya, Bapak. Bisa dibantu?" tanya wanita berambut sebahu itu.


"Saya mau membeli cincin."


"Iya, silakan di sebelah sini, Bapak."


Kami bergeser ke sebelah kanan etalase yang cukup besar ini.


"Alma. Coba kamu pilih yang mana yang menurutmu bagus."


"Bagus semua, Pak," kataku sambil tersenyum.


Memang, tujuannya ia mengajakku kemari adalah untuk memilihkan cincin yang bagus. Dan pilihanku jatuh kepada sebuah cincin bertatakan permata lima di tengahnya. Bila dilihat-lihat, hampir sama seperti bunga. Begitu manis dan mewah. Juga tidak norak. Aku tak tau Rian akan memberikannya kepada siapa, tapi, ia justru menyuruhku mencoba cincin mana yang pas dengan jari manisku.


"Pak. Jari saya tidak bisa jadi patokan. Soalnya, Bapak tau sendiri sekarang saya gendut begini. Ya, mana tau kalau orang yang akan bapak beri cincin ini lebih kurus dibanding saya," ujarku.


"Tidak apa-apa. Kalau tidak pas, kan, bisa ditukar lagi."


"Alma?" Sontak seseorang terdengar memanggil namaku. Suara yang tak asing di telingaku.


Aku menoleh dan melihat Rey bersama Vina. Vina tampak tersenyum sinis meremehkan. Ia memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Rey.


"A-a-aku, lagi ..."


"Aku yang memintanya menemaniku," sahut Rian.


Mereka saling berpandangan tajam.


"Rian, Rian. Kamu nggak tahu, kalo perempuan yang kamu bawa itu istri orang?" kata Vina.


"Lalu, kamu bagaimana? Bukannya kamu juga tahu kalau Reyhan juga suami orang?" sanggah Rian.


Vina tampak kesal karena perkataannya diputar oleh Rian. Mata dan bibirnya jelas terlihat ia benar-benar sangat kesal.

__ADS_1


"Pulang sekarang!" kata Rey dengan nada sedikit tinggi.


"Pulang!" Ia berteriak.


Aku sedikit tersentak dengan ucapannya. Air mataku mulai menetas, namun, Rey tetap membentakku di depan umum. Seketika aku berlari sekencang mungkin menghindari mereka. Aku malu sekaligus marah. Aku sangat lemah sehingga tak mampu membalas suamiku. Jelas saja ia pergi bersama Vina. Namun, ia marah besar karena mendapatiku tengah bersama Rian.


Tak adil menurutku. Kami sama-sama rekan kerja. Tapi, kenapa hanya Rey yang bebas pergi berdua dengan Vina?


Setelah menaiki taksi, tibalah aku di rumah. Baru kali ini, aku sangat malas sekali untuk pulang ke rumah.


"Kenapa pulangnya lama?" tanya Rey. Rupanya ia sampai terlebih dulu di rumah dibanding aku. Ia berdiri di ambang pintu kamarku dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Aku capek, Rey. Ingin istirahat." Aku berusaha masuk. Namun, Rey menahanku agar aku tak masuk.


"Kamu belum jawab pertanyaanku."


Aku manarik napas dan melihat matanya. Mata yang sejak tadi dipenuhi amarah.


"Aku hanya naik taksi biasa Rey. Aku juga perlu beberapa menit untuk mendapatkan taksi itu. Bukan naik mobil sport." Aku berusaha masuk. Lagi-lagi, Rey menghalangiku.


"Apalagi?"


"Kenapa kamu pergi dengannya? Bukankah aku sudah pernah memberitahumu sebelumnya?"


"Aku hanya menemaninya membeli cincin. Itu aja, Rey." Aku menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang.


Rey masih menjadi api saat ini. Aku harus menjadi air yang dingin dan menyejukkan. Bila kami berdua sama-sama menjadi api, rumah tangga kamilah yang akan terbakar.


"Sudah sedekat apa kalian berdua?"


"Kami rekan kerja, Rey. Sama sepertimu dan Vina. Itu aja."


Kini Rey diam. Perlahan, aku bisa menerobos masuk ke dalam kamarku. Untunglah aku sedang berhalangan. Jadi, aku tak merasa bersalah bila tak sekamar dengannya. Sejujurnya, baru kali ini Rey membentakku. Di depan Vina pula. Semakin sakit rasanya hatiku dibuatnya.


Berjam-jam aku menangisi kejadian malam ini. Kejadian yang tak pernah aku duga sebelumnya. Rey berbicara dengan nada tinggi dan mata penuh kemarahan. Entah ia akan percaya lagi atau tidak denganku.


Aku sangat terpukul. Sebisa mungkin aku memotivasi diri dan memupuk rasa percaya diri, namun, sikap Rey sama sekali tak mendukung. Justru ia semakin dekat saja dengan Vina. Kadang aku merasa hal yang aku lakukan ini hanyalah sia-sia semata.


Suatu malam, aku memergoki Rey tengah menelepon dengan seseorang. Sesekali ia terdengar seperti sedang bercanda. Aku sama sekali tak ingin menganggunya. Karena, disela-sela candaannya, ia masih membicarakan pekerjaan. Sejujurnya aku cemburu. Namun, bila aku menanyakan hal itu kembali, pastilah Rey berkilah dan membela diri.


Bersambung....

__ADS_1


Bantu vote, ya temans... Makasiih


__ADS_2