My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Dibujuk


__ADS_3

Azan subuh pagi ini membangunkanku. Sebenarnya aku berharap bisa mandi keramas pagi ini, tapi, nyatanya tidak. Mungkin Rey merasa tidak nyaman tidur di kamar sempit dan ranjang kecil ini. Entahlah.


Aku melangkahkan kaki ke toilet. Kulihat Ibu sudah bangun dan sedang di dapur. Aku berjalan santai tanpa menyapanya.


"Mau langsung pulang, Ma?" tanya Ibu saat melihatku.


"Iya, Bu. Rey, kan, mau ke kantor. Dia nggak bawa ganti juga," jawabku.


"Ini udah Ibu masakin. Jadi, nanti kalau di rumah kamu nggak usah masak."


"Iya, Bu. Makasih," sahutku pelan.


Entah kenapa pagi ini aku tak bersemangat. Rasanya setiba di rumah aku ingin langsung menangis keras dan memukul-mukul Rey.


Aku membuka pintu kamar dan masuk. Nampak di sana Rey masih terpejam. Aku biarkan saja ia dan langsung mengambil mukena dan menggelar sajadah.


"Rey, bangun," sapaku setelah selesai salat.


"Kita harus pulang sekarang, Rey." Aku menggoyang-goyangkan badannya. Ia menggeliat dan membuka matanya. Menguap sebentar dan duduk.


Matanya dikucek dan tangan itu segera meraih ponsel di atas meja. Melihat sekarang jam berapa. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah ke toilet dan salat juga di kamarku.


Aku ke dapur untuk membantu Ibu menyiapkan sarapan. Kesedihanku kemarin sungguh tak dapat kututupi walau aku sedang di depan Ibu. Aku hanya diam saja tak bertanya apalagi bercanda dengan Ibu.


"Ini. Ingat, ya, Ma. Kamu harus nurut sama suami kamu. Sekarang dia yang harus kamu hormati nomer satu. Baru Ibu dan Ayah."


"Iya, Bu."


Ibu ini nggak peka. Nggak tau apa kalau anaknya ini lagi galau tingkat akut. Masih aja ngomongin Rey. Aku melirik Ibuku yang sedang menyiduk sayur.


"Alma pulang, ya, Bu," pamitku.


"Iya, hati-hati."


Rey keluar dan meraih tangan Ibu dan Ayah.


Disusul denganku tentunya.


"Iya. Assalamualaikum."

__ADS_1


Kami berjalan bersama ke mobil. Pagi ini masih cukup gelap. Sang fajar mulai tampak sedikit demi sedikit.


Di dalam mobil, aku asik memandang keluar jendela tanpa berkata apa-apa dengan Rey. Entah mengapa tak biasanya aku seperti ini. Kalau di rumah, Rey marah atau acuh saja, dengan mudah aku memafkannya dan kembali bertegur sapa dan bercanda. Tapi, entah mengapa kali ini berbeda.


Kali ini, aku merasa begitu dipermainkan olehnya. Baru saja beberapa waktu ia mau menyentuhku, tapi, kemarin ia malah menggandeng gadis lain di depan mataku. Kadang, aku tak habis pikir dengan Rey. Apa aku ini hanyalah mainan untuknya.


Mobil berhenti di depan gerbang, aku turun untuk membuka pintu. Masih dengan wajah yang masam, semasam asam jawa. Tanpa senyum atau tangisan.


Setelah mobil masuk ke dalam garasi, aku langsung meninggalkan Rey dan masuk ke dalam rumah. Aku meletakkan makanan yang dibawakan Ibu dan berganti baju. Tanpa berkata apa-apa, aku merebahkan badan ini ke atas ranjangku. Tak kufikirkan lagi Rey. Suasana hatiku benar-benar kacau saat ini.


Terdengar pintu kamarku dibuka. Aku masih sibuk dengan ponselku dan mengirim pesan kepada Dara.


"Kamu ini kenapa? Kamu kemarin biasa saja. Kenapa sekarang seperti ini?" tanya Rey. Rupanya dia melihat ada yang aneh denganku. Namun, aku tetap tak bergeming. Aku tak terlalu mendengar ucapannya.


"Nggak kenapa-napa. Aku cuma capek," jawabku asal. Aku berharap, jawabanku ini bisa membuatnya pergi. Namun, aku salah. Dia malah duduk di ranjang dan semakin mendekat.


"Kamu marah denganku? Kenapa semalam kamu nangis?" Pertanyaan itu membuat air di dalam mata ini tak bisa kubendung.


"Hiks..." Aku membelakanginya sambil terisak.


"Sebenarnya kamu ini kenapa?"


"Kamu denger aku nggak. Aku nggak kenapa-napa. Cuma males aja sama kamu. Pergi kerja sana."


"Terus kamu nangis kenapa?" tanya Rey. Kali ini dia memegang pergelangan tanganku dan ingin aku menghadap kepadanya.


"Cukup aku saja yang acuh di rumah ini. Kamu jangan," ucapanya pelan.


Entah kenapa kata-kata itu justru membuatku menangis kencang. Aku tak mengerti dengan Rey. Bahkan tak mengerti dengan hatiku sendiri.


Dia berdiri dan hendak meninggalkanku. Aku memegang tanganya saat dia hendak pergi.


Masih dengan tangis yang belum berhenti. Namun, aku tak melihat wajahnya.


"Aku nggak suka kamu dekat dengannya, Rey," kataku sambil menunduk. Tangan ini sesekali mengusap air yang turun seperti hujan.


Dia diam dan belum menjawab. Rey berjalan mendekat dan jongjok di dekatku.


"Dia rekan kerjaku. Dia sudah ber-investasi di perusahaan. Apakah aku akan menolak ajakannya." Perkataan itu seakan mengerti apa yang aku maksud. Mungkin Rey tau alasan kenapa aku bersikap seperti ini.

__ADS_1


Aku mengusap air yang mulai berhenti keluar.


"Maaf. Aku kekanak-kanakan, Rey. Nggak seharusnya aku curiga denganmu."


"Tugas kamu adalah, bagaimana caranya supaya aku bisa benar-benar cinta dan sayang sama kamu. Bersimpati dan merasa memiliki seorang yang pantas menemaniku," ujar Rey.


Berarti Rey belum sepenuhnya cinta sama aku.


Setetes air jatuh kembali. Namun, yang lain masih bisa aku tahan. Aku mengangguk mengerti. Tapi, aku hargai usaha Rey. Di saat ia masih belum menyukaiku, dia masih mau membelai gadis yang kini menjadi istrinya ini.


Aku melihat Rey tersenyum kepadaku. Lalu, ia berdiri dan mengusap kepalaku. Dengan cepat kuraih pinggangnya dan kupeluk ia. Menumpahkan air mata ini lagi. Sambil berdiri, ia masih mengusap kepala atas.


**


Rey melangkah keluar dan terdengar ia sedang mandi. Perasaan ini sudah mulai membaik. Mudah-mudahan saja Rey benar-benar sadar bahwa ia kini sudah menikah dan tak berbuat di luar norma. Dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa pasrah saja mengingat perlakuan Ibu terhadap Rey bahkan melebihi kepada anaknya sendiri.


Entah apa yang terjadi kalau aku benar-benar menyerah dengan Rey. Mungkin aku yang akan menjadi bulan-bulanan Ibu.


Kreekk... Derit pintu mengejutkanku. Aku menoleh ke arah pintu. Rey berjalan masuk dengan pakaian kantornya. Namun, ia belum memakai dasi. Ia duduk di ranjang dan meletakkan tas jinjingnya di lantai.


"Bisa kau pakaikan dasi ini?" pinta Rey.


Aku berbalik dan menghadap ke arahnya. Aku sudah cuci muka saat selesai menumpahkan beberapa mangkuk air yang tersimpan di mata ini.


Aku meraih dasi yang sudah berada di lorong kerah kemeja Rey dan mengikatnya dengan rapi.


"Kamu udah sembuh?" tanya Rei sambil memperhatikanku.


"Emangnya aku sakit," jawabku cepat sambil melirik Rey.


Dia menarik nafasnya. "Rasanya sepi banget kalau sehari aja nggak denger kamu nyanyi-nyanyi nggak jelas dan teriak-teriak."


Aku menatapnya tajam. Ia hanya tersenyum sebelah seperti meremehkanku. Aku menaikkan dasi hingga sampai di lehernya.


"Uhug... Uhuk..." Ia terbatuk-batuk karena tingkahku.


"Kamu mau bunuh aku?" Ia melonggarkan dasinya.


Aku hanya tertawa kecil melihat dia yang tadinya tersenyum remeh tiba-tiba melotot serius.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2